
Berita MATH GRUP yang akan melangsungkan pertunangan membuat Jordan harus bergerak cepat agar ia tidak kehilangan gadis yang di cintainya.
Jordan telah melakukan serangan pertamanya kepada MATH GRUP sebagai peringatan tak tersirat, ia akan terus merengsak masuk ke dalam hubungan Mateen dan Rossalia, hingga mendapatkan apa yang ia inginkan.
Mateen memperingatkan Amber untuk selalu waspada dan berjaga, agar MATH GRUP sebagai Induk perusahaan tetap kokoh, dan anak-anak perusahaan MATH GRUP tetap dalam kendali yang aman.
"Aku akan ke kantor mengurus semuanya."
Amber bergegas menuju kantor, ia setengah berlari tak ingin mengulur waktu, dengan gerakan cepat tangannya mengambil kunci mobil dan keluar Luxury.
Selang beberapa menit sepeninggalnya Amber, ada suasana canggung disana, seorang gadis yang tidak tahu harus melakukan apa dan berbicara apa, dengan disampingnya seorang pria yang hanya duduk diam menyilangkan kakinya dan menyedekapkan tangannya, pandangannya menatap lurus ke depan.
"Sa-saya akan ke kamar Tuan..."
Rossalia berdiri namun Mateen menarik tangan Rossalia dengan cepat, hingga gadis itu terjatuh di pelukan Mateen.
Mateen mengapit gadis itu dengan pahanya.
Mendekapnya dengan erat.
"Bukankah seharus nya panggilan Tuan sudah tidak berlaku disini?"
"Kenapa aku lebih merasa menjadi majikanmu daripada pria yang akan menikahimu?"
"Me-menikah??"
"Bukankah kita baru akan bertunangan Tu-Tuan?"
Rossalia menundukkan wajahnya, ia benar-benar gugup, merasa masih asing dengan perlakuan Mateen.
Biasannya Mateen tidak pernah seperti ini, bahkan memperlakukannya dengan hati-hati.
"Apa kau tidak mau menikah denganku setelah kita bertunangan?"
Mateen mendekatkan hidungnya, mencium kepala Rosssalia yang menunduk hampir membenamkan wajahnya di dada Mateen karena malu.
"Tu-tuan..."
Sebelum Rossalia melanjutkan, Mateen memotong kalimatnya.
"Aku akan menciummu jika kau masih memanggilku Tuan, dan berbicara formal..."
Rossalia sontak berdiri, mendorong dada Mateen dengan tumpuan kedua tangannya untuk melepaskan pelukan Mateen, dan menundukkan kepalanya, kemudian menutup mulutnya.
"Ma-maf Tu,,, Ehmm..."
Rossalia menggigit bibirnya.
"Ma-Mateen saya,,, aku,,, aku harus ke kamar ada hal sesuatu yang harus,,, aku lakukan..."
Rossalia berlari menuju kamarnya, ia tidak habis pikir kenapa Mateen berubah menjadi seperti ini.
Mateen tertawa melihat tingkah Rossalia, yang ketakutan serta malu.
Kemudian menghela nafas panjangnya seakan membuang gumpalan di dadanya.
"Sepertinya hatimu masih belum menerimaku."
Mateen bergumam dengan dirinya sendiri.
.
.
.
.
-Bluesky meeting room -
Bluesky adalah cafe terkenal, sekaligus hotel berbintang 5 yang selalu di gunakan para pebisnis elite untuk melakukan pertemuan.
Ruangan meeting itu luas, mewah dan memiliki pemandangan kolam serta restoran terbuka yang mewah.
Disana Mateen, Rossalia, Amber dan 3 orang pengacara hebat MATH GRUP sudah duduk selama 10 menit.
Akhirnya yang di tunggu sudah tiba dengan tubuh tinggi, serta mantel jas nya yang berada di kedua pundak Jordan, tatapan yang dingin, dan wajah tampan, membuat Rossalia bergetar.
( "Inikah Jordan yang ku kenal dulu sewaktu kami masih senang bermain lumpur?" )
Rossalia meremas kedua tangannya yang berkeringan dan lembab, ada rasa takut di sana.
__ADS_1
Mateen menenangkan Rossalia, tangan kirinya meraih tangan gadis itu dan menyimpannya di depan perutnya menggengangam dengan kedua tangan Mateen.
Jordan melirik dan tersenyum getir, ia membeo pelan dengan kata singkat.
"Tukang Pamer."
Namun Amber yang melihat Jordan justru geli, karena Jordan sangat terlihat bahwa ia mulai terprovokasi hingga kecemburuannya terpampang jelas.
Amber hanya membalas dengan singkat dan lirih tanpa seseorang pun mendengar kalimatnya.
"Lelaki arogan, dingin, egois, keras kepala, bisa juga patah hati."
"Dasar Kekanakan."
Jordan duduk tanpa melihat Rossalia, bukan karena ia membencinya namun ia tidak ingin pesona gadis itu membuatnya gila hingga tak bisa menahan diri.
Freya memberikan dokumen-dokumen salinan yang berisi gugatan-gugatan untuk Rossalia dan untuk Mateen.
Bahkan dokumen itu sangat terperinci.
Para pengacara Mateen berusaha dengan cepat mempelajarinya.
Freya mulai menjelaskan,
"Saya akan menjelaskan point-point pentingnya saja."
"Sebelumnya Tuan Jordan berterimakasih karena Tuan Mateen sudah memberikan perawatan di rumah sakitnya untuk Nona Luna yang sebenarnya adalah Nona Rossalia."
"Namun berdasarkan informasi yang kami terima, setelah Nona Rossalia sembuh alih-alih Tuan Mateen memulangkan Nona Rossalia namun justru membawa Nona Rossalia kekediamannya dan membuat pengumuman pertunangan, yang kita semua tahu Nona Rossalia telah terikat perjanjian dengan Tuan Jordan, dimana saat menandatangani kontrak tidak ada unsur pemaksaan."
"Kemudian point selanjutnya, untuk Nona Rossalia, anda telah memalsukan identitas diri anda kepada Tuan Jordan, itu adalah tindak kriminal yang sangat fatal, namun dengan kemurahan hati Tuan Jordan kasus ini tidak pernah sampai di kepolisian."
Mateen tertawa mengejek.
"Sebegitu berusahannya kah?"
Hingga masalah sekecil ini kau jadikan bahan, benar-benar..."
Jordan mengacuhkan ledekan Mateen, ia justru melihat Rossalia.
Kemudian Jordan berdiri dan merobek perjanjian-perjanjian mereka, membuangnya dengan kasar.
Jordan memandangi Rossalia.
Amber terkejut dengan pernyataan Jordan, namun ia masih mencoba menerka rencana apa yang sedang Jordan mainkan.
Amber berfikir lagi, 1 menit yang lalu ia baru saja mengecek saham mereka masih baik-baik saja.
Amber kemudian mengambil dan membuka ipad nya lagi dan ia tak percaya.
Banyak pesan masuk di didalamnya bahwa para staff terbaik sudah sangat berusaha mempertahankan semuanya.
"Mateen semua saham MATH GRUP berada pada titik terendah, bahkan para Investor Asing mulai melepaskan saham-saham kita, kini 50% perusahaan serta anak perusahaan sudah di akuisisi Jordan dan berada dibawah kendalinya."
Amber terkejut, hingga membelalakkan matanya.
Melihat Jordan dengan tatapan tak percaya.
"Kapan kau melakukannya, aku baru saja mengeceknya 1 menit yang lalu masih baik-baik saja."
Amber berdiri dari tempat duduknya, tangannya gemetar badannya lunglai dan terduduk dengan keras di kursinya.
Banyak panggilan masuk di ponselnya, bahkan ayah Mateen sudah berulang kali menghubungi.
Mateen memberikan kode agar para pengacara pergi, karena ia tahu sekarang topik telah berubah dan rencana Jordan bukanlah terarah pada perjanjian itu.
Sepertinya ia ingin memberitahukan pada semua orang siapa "Jordan" dan siapa musuhnya saat ini, atau tepatnya siapa yang sedang ia lawan saat ini.
Jordan masih berdiri menyelipkan kedua tangannya di dalam saku celana.
"Aku melepaskanmu Rossalia, aku memberikanmu kebebasan, sekarang tidak ada lagi yang membelenggumu dari ku."
Mateen masih terdiam, dan masih menggengam tangan Rossalia dengan erat, ia tak mau melepaskannya.
Rossalia berusaha menarik tangannya dari genggaman Mateen, namun Mateen tak mengijinkannya.
"Kita lihat, tidak ada yang akan tahu 1 menit ke depan."
Mateen masih duduk dengan tenang, masih dengan menyenderkan punggungnya di kursinya.
Setelah 1 menit Amber mengecek dan semua saham kembali dengan normal lagi.
__ADS_1
"What the hell !!"
"Kalian punya ilmu hitam?"
"Kalian pemuja setan?!
Amber benar-benar jantungnya merasa dipermainkan.
Jordan tertawa dengan dingin namun ia justru semakin berjalan mendekat.
Menyedekapkan tangannya.
"Aku tidak benar-benar menghabisi kalian, bahkan menyisakan 50% untuk kalian, tapi sepertinya itu tidak cukup sebagai peringatan."
Jordan mengeluarkan ponselnya entah siapa yang ia hubungi.
"Lakukan sekarang."
Hanya kata-kata itu dari mulut Jordan.
Amber tak percaya orang ini begitu dingin, tak berperasaan, bahkan dia menghancurkan segalanya yang ada di depan matanya.
"Semuanya sudah habis Mateen !!!"
"MATH GRUP sepenuhnya ada dibawah kendali Jordan !!!"
Amber memberitahukan pada Mateen.
"Sebenarnya aku tidak menginginkan perusahaan kalian."
Jordan berbalik dan melangkahkan kakinya, ia kini membelakangi Rossalia dan Mateen serta Amber.
Punggung Jordan terlihat besar, kokoh, dan dingin serta.... terlihat kesepian.
"Lorez hancurkan semuanya, aku tidak menginginkannya."
Jordan memberikan kode pada assistennya.
"Aku akan kembali..."
Rossalia berdiri dari tempat duduknya.
Mateen masih dalam keadaan bimbang, dan terus menerus berfikir.
Dalam 1 sisi dia mencintai gadis itu namun di sisi lain ini adalah perusahaan yang dirintis ayahnya dengan kerja keras.
Bahkan ibu nya dengan rela tidak pernah tidur hanya karena menunggu ayahnya pulang.
Kini ia merasa sebagai pecundang, yang tak bisa melindungi keduanya.
Jordan membalikkan badannya.
"Sayang aku sudah melepaskanmu, namun sekarang kau sendiri yang ingin kembali padaku."
Jordan menyelipkan kedua tangannya di saku celananya, menyenderkan badannya setengah duduk di atas meja, dan menyilangkan kakinya yang panjang.
"A-aku akan kembali, tapi aku mohon jangan rusak perusahaan MATH GRUP."
"Kembalikan seperti semula dan jangan pernah mengganggunya lagi."
"Baiklah jika itu maumu..."
Jordan tersenyum, dan berjalan mendekati Rossalia, kemudian menarik tangan Rossalia mendekat ke arahnya.
Memeluk pinggul Rossalia dan mendekapnya.
"Aku sudah selesai bermain-main."
"Jangan mencoba mengambil apa yang ku miliki, kau harus tahu."
Jordan menekankan kalimatnya pada Mateen.
Mateen meremas tangannya tak berdaya, ia benar-benar mengutuki dirinya sendiri sebagai laki-laki payah, pecundang, bodoh, dan tak berguna, ia merasa benar-benar lemah.
.
.
.
-Bersambung-
__ADS_1