CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 39- = JUS JERUK


__ADS_3

Pagi yang cerah, sinar mentari menelusup masuk dari celah-celah tirai kamar Jordan, atap kaca diatas ranjangnya pun sudah bersinar terang, pria itu mendengus pelan karena nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, dan kedua matanya masih tertutup, merasa ada yang hilang dari pelukannya, Jordan meraba-raba ranjang di dekatnya menggunakan tangan kiri, bergantian dengan tangan kanannya.


Kemudian pria itu duduk dengan cepat, nyawanya dipaksa terkumpul penuh, ia meloncat turun dari ranjang menyambar piyama dan keluar, ia setengah berlari menuruni tangga, instingnya langsung menuju dapur.


Jordan melihat Rossalia sedang memasak, ia menyatu dengan para pelayan, gadis itu terlihat segar dengan dress warna peach membuat badan langsing yang berisi mengundang gairah kejantananya.


Apalagi Rossalia memakai celemek, menggulung rambutnya ke atas, rambut-rambut itu terlepas sebagian mengenai wajahnya, memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus, ramping dan putih.


Jordan berjalan pelan mendekati Rossalia, memeluk lembut pinggul gadis itu, dan menariknya ke dalam tubuhnya yang berotot.


Gadis itu terkejut saat ke dua tangannya sedang sibuk mengiris wortel.


"Ada banyak orang, apa kau tidak malu."


Rossalia reflek menggerakkan bahunya memberikan kode pada Jordan untuk melepaskannya.


Padahal saat itu para pelayan fokus pada pekerjaan mereka, bahkan melirik saja tidak berani, sikap para pelayan seperti tidak ada sesuatu yang terjadi.


"Kau sexy dan cantik, aku suka penampilanmu yang seperti ini."


Jordan mengecup tengkuk polos Rossalia yang telanjang karena rambut yang di gulung ke atas, ia membuat tanda dengan lembut di tengkuk itu.


Rossalia mencoba sekuat mungkin menahan suaranya, ia gugup, tangannya gemetar.


Sialnya Jordan masih saja meneruskan aksinya, kini ia menggigit lembut kuping Rossalia yang sedang mengiris sayur, dan masih bertahan dengan semua godaan Jordan.


Tangan Jordan membelai lembut pinggul Rossalia naik dan kurun, pria itu mencium i tengkuk Rossalia kembali, menelusuri hingga turun ke bahu.


"BRAKK !!!"


Rossalia yang ingin mencincang sayur dengan pisau besarnya , justru menghentakkan pisau besar itu dengan kasar di atas telenan kayu. Membuat semua pelayan kaget, betapa beraninya gadis itu melawan tuan mereka.


Padahal yang sebenarnya Rossalia hampir saja mendesahkan suaranya, kemudian ia melampiaskannya dengan menghentakkan pisau di atas telenan.


Jordan yang melihat benar-benar geli, bagaimana Rossalia menahan dirinya agar tidak mendesah.


"Aku mandi dulu."


Jordan membisikkan kalimat itu di telinga Rossalia, para pelayan masih keheranan kenapa tuan mereka tidak memiliki raut wajah murka sedikitpun justru tersenyum saat berjalan keluar dari dapur.


"Lolita tolong gantikan aku, sup ini tinggal menunggu masak saja."


"Jangan lupa jus jeruk yang tadi ku buat, sajikan ke meja makan untuk Tuan."


"Baik Nona."


Rossalia melepaskan celemeknya dan menggantungnya di gantungan khusus, sejak melewati berbagai drama dengan Jordan serta seringnya ia berkeliaran di dapur, gadis itu sudah semakin akrab dengan para pelayan di Mansion.


Rossalia berjalan menuju kamar Jordan, masuk tanpa permisi dan menunggu pria itu selesai mandi, ia berdiri menyedekapkan tangannya, saat Jordan keluar dari kamar mandi pria itu terkejut Rossalia ada di dalam kamar nya, Jordan hanya memakai handuk yang ia lilitkan sembarang di pinggulnya.


Serta handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut yang basah.


"Sayang !!!"


"Kau mengagetkanku, kenapa kau berdiri di sana, ku kira kau hantu yang ingin menerkam dan memperkosaku."


Jordan memegangi dadanya dan menggosoknya naik turun dengan tangan kanannya, karena terkejut

__ADS_1


"Apa menurutmu itu lucu?"


"Kau ingin mempermainkanku lagi, sekarang bahkan di depan banyak orang."


Rossalia mengernyitkan dahinya, ia terlihat kesal.


Jordan tersenyum dan berjalan mendekati Rossalia.


"Lalu sekarang kau akan membalas dendam padaku?"


"Kau terlihat seperti serigala betina yang siap menerkamku."


Jordan menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi dadanya.


"Bu-bukan begitu..."


"Ku peringatkan kau jangan macam-macam."


Rossalia kesal, dan ia berjalan meninggalkan Jordan, secepat mungkin Jordan menarik pinggul Rossalia dan memeluknya dari belakang, hanya butuh 1 tangan kekar berototnya untuk meraih gadis itu, kemudian ia memeluknya erat dan mendekapnya.


"Kau masuk sendiri kesini, saat aku mandi, jangan harap bisa keluar dengan mudah."


Jordan membisikkan di telinga Rossalia dan kemudian menciumi leher jenjang yang mulus itu, tangan Jordan membelai lembut paha gadis itu hingga dress lembutnya sedikit terangkat.


"A-aku harus turun, a-aku kesini hanya ingin memperingatkanmu."


"A-aku tidak mau..."


Rossalia menjelaskannya dengan terbata-bata antara dia harus tetap sadar namun tubuhnya tenggelam menikmati sentuhan lembut Jordan.


"Aku hanya ingin kau membantuku menyiapkan pakaian, aku harus ke kantor."


Jordan masih mempermainkan leher jenjang putih itu dengan mulut dan lidahnya.


Pelan namun pasti tangan pria itu mulai berani lebih naik lagi di paha Rossalia.


"Ak.. Aku akan membantumu."


Suara Rossalia tercekat.


Jordan melepaskan pelukannya dan membiarkan Rossalia masuk ke dalam kamar ganti menyiapkan pakaian Jordan.


"Kau lolos kali ini sayang, karena aku harus ke kantor."


Jordan tertawa dan menggelengkan kepalannya.


Lorez menunggu di halaman mengecek mobil yang akan di gunakan Jordan, kini keamanan semakin di perketat.


Sedangkan Freya sedang menunggu Jordan turun untuk sarapan.


Akhirnya Jordan menuruni tangga dengan Rossalia, pria itu bangun sangat terlambat, dulu Jordan tak pernah bisa tidur tanpa meminum alkohol atau mengonsumsi obat, tapi kali ini mungkin akan berbeda cerita.


Freya berdiri ketika Jordan tiba, saat Jordan sudah duduk di kursinya, Freya kembali duduk dan ikut sarapan.


Rossalia mengambilkan sarapan dengan sigap, menaruh jus jeruk buatannya di depan Jordan, pria itu mengernyitkan dahinya, mengambil jus jeruk buatan Rossalia, mengangkat gelas itu dan melihat nya dengan memicingkan mata.


"Kurangilah alkohol, perbanyak jus buah, itu baik untuk tubuhmu."

__ADS_1


Rossalia masih sibuk menyajikan sarapan untuk Jordan, ia menaruh nya di depan Jordan.


"Baiklah sayang, sering-seringlah membuatkan ku jus buah."


Freya tersedak oleh roti nya sendiri, Freya lebih suka sarapan dengan makanan yang ringan, Paman Lee memberikan air putih untuk keponakannya.


"Tidak apa-apa Paman, aku kurang hati-hati."


Freya meminum nya dengan cepat, Rossalia yang melihatnya menjadi khawatir.


"Pelan-pelan Nona Freya, kau akan tersedak lagi."


Rossalia mengingatkan Freya.


"Sayang, cukup panggil Freya."


Jordan memberikan peringatan tanpa menoleh pada siapapun, ia menikmati sarapan paginya, kemudian pria itu menghabiskan jus jeruk buatan Rossalia sampai tak tersisa.


"Sayang, aku menyukai jus jeruk buatanmu, sering-serringlah membuatkan ku itu."


"Baiklah aku akan ke kantor."


Jordan melap mulutnya dan berdiri, Rossalia dan Freya mengekor di belakang, hingga di depan pintu Jordan berhenti untuk mencium kening Rossalia dan berpesan untuk menjaga diri dengan baik.


Lorez membukakan pintu untuk Jordan, Freya duduk di depan dan Lorez bertugas menyetir, mobil pun melaju perlahan meninggalkan mansion serta Rossalia yang masih berdiri menunggu hingga mobil Jordan benar-benar tak terlihat lagi.


Sampai di kantor Jordan harus menghadiri rapat penting dari perancang asing swedia, rapat tidak terlalu lama namun membuat suasana hati Jordan cukup baik, bagaimana tidak, perancang asing itu memiliki desain yang cocok dengan keinginannya untuk proyek Mega Rossalia, namun ia mengajukan syarat bahwa ia harus ikut memonitor dalam pembangunannya karena bangunan asli harus sesuai dengan desainnya dan bagi Jordan itu tidak masalah.


Secara keseluruhan proyek sudah hampir selesai, hanya saja galery khusus belum tersentuh sedikitpun, Jordan sangat rewel untuk hal yang ini, sedangkan perancang asing dari swedia inilah yang dipilih Jordan.


Seusai rapat Jordan duduk termenung di kursi besarnya, membelakangi meja memandangi hamparan gedung-gedung, melalui kaca yang sungguh lebih besar dari sebuah dinding.


"Tuan..."


Lorez memanggil Jordan. Inilah kali pertama Jordan melamun dalam hidupnya, Lorez masih tak mengerti hal apa yang membuat tuannya sampai tak waspada.


"Tuan....!"


Lorez memanggil dengan nada yang cukup tinggi.


Jordan tersentak kaget.


"Maaf Tuan, saya memanggil namun anda tidak mendengar."


"Tidak apa."


"Ada perkembangan apa."


"Ini adalah foto-foto anak dari Tuan Raiford dan Nyonya Ashby, hanya sedikit karena banyak organisasi menutupu kasus ini."


"Dan anak kecil itu juga memiliki kalung yang mirip dengan Nona Rossalia."


Jordan menelan ludahnya kali ini tangannya bergetar, bagaimana ia harus memberitahu Rossalia, atau ia akan diam dan menyembunyikan hal ini dari Rossalia selamannya.


.


.

__ADS_1


.


-Bersambung-


__ADS_2