CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 70- = BERTEMU EDGAR


__ADS_3

-Mansion Beverly Hills-


"Apa Tuan Jordan masih belum bangun?"


Lorez bertanya pada Paman Lee.


Pria tua itu hanya menggelengkan kepala, raut wajahnya berubah masam dan iba.


"Sepertinya semalam Tuan Jordan meminum lebih banyak obat, saat ku periksa botol obat itu belum tertutup dan beberapa pil juga berserakan di sampingnya."


"Apakah masalah di perusahaan sangat besar hingga Tuan Jordan seperti ini?"


"Bisa dikatakan masalah perusahaan membuat Tuan Jordan kuwalahan, ia harus menahan diri untuk tidak menggunakan kekuatan mafia nya, karena sedang di awasi oleh pemerintah, sedangkan para media yang dulu pernah di hancurkan kini semakin banyak bermunculan, mereka bersama-sama mengajukan penggugatan."


Kata Lorez menjelaskan.


"Ditambah Nona Rossalia sampai hari ini masih menghindari Tuan Jordan."


"Apa kita perlu memanggil dokter Imanuel?"


Paman Lee bertanya, ia semakin cemas.


"Tidak perlu Paman, mungkin Tuan Jorda sedang ingin tidur sebentar melupakan semua masalahnya, biarlah hari ini cukup Freya yang ada di kantor."


"Saya permisi."


Kata Lorez sembari berpamitan pergi.


Hari semakin siang, matahari semakin terlihat meski cuaca tak terlalu cerah namun sinar yang cukup terik menembus dari awan kelabu membuat Rossalia mengeluarkan keringat di pelipisnya, ia sedang menanam bibit-bibit mawarnya yang kemarin ia bawa dari toko Lisa.


"Nona ada yang menghubungi anda."


Brida menyerahkan ponselnya.


"Siapa?"


Rossalia heran, nomor ponselnya hanya diketahui beberapa orang terdekat, dan itupun hanya ruang lingkup Mansion.


"Nomor tidak di kenal Nona apa perlu saya yang mengangkatnya?"


Kata Brida.


"Biar aku saja."


Kemudian Rossalia melepaskan sarung tangan berwarna orange dan mengambil ponsel dari tangan Brida.


"Ya Rossalia di sini."


Jawabnya.


"Apa kau ingat denganku?"


Kata seseorang di ujung ponselnya.


"Siapa?"


Rossalia bertanya.


"Your Knight."


Sahutnya lagi.


"Aku akan menutup ponselnya."


Rossalia mulai kesal.


"Kesatriamu, penolongmu, dan pria yang membantumu mengganti baju."


Kemudian terdengar pria itu terkekeh.


"Bagaimana kau bisa mengetahui nomor ponselku."


Geram Rossalia.


"Jika kau ingin merendahkan dan melecehkanku silahkan saja, aku tidak peduli."

__ADS_1


"Tenanglah, aku hanya merindukanmu, bagaimana jika kita bertemu, ada sesuatu yang ingin ku sampaikan."


Kata Edgar.


"Aku tidak punya waktu."


Rossalia ingin mengakhiri perbincangan itu namun pria diujung ponsel tiba-tiba melontarkan kalimat yang membuatnya terkejut.


"Jordan memiliki seorang anak."


Kalimat yang mengejutkan, membuat dunia Rossalia seakan berhenti berputar, dadanya panas berdesir, seakan memaksa jantungnya berhenti berdetak.


"Aku akan menutup telfon, jangan pernah membual."


Rossalia menutup ponselnya.


Namun beberapa detik kemudian pria yang menghubunginya mengirimkan foto anak laki-laki, disampingnya berdiri seorang wanita cantik berambut panjang.


Tak berapa lama di susul sebuah pesan menyebutkan tentang tempat, dan waktu bertemu, tanpa seorang pengawal pun.


"Apakah ada sesuatu yang salah Nona, biar saya lacak nomor ponselnya, akan saya berikan pada Lorez, kebetulan hari ini Tuan Jordan tidak pergi ke perusahaan."


Brida menangkap raut cemas dari wajah Rossalia.


"Ah tidak, hanya salah sambung, mungkin orang salah memencet nomor."


Kata Rossalia berbohong.


"Kenapa Jordan tidak pergi ke kantor?"


Rossalia mengalihkan pembicaraan.


"Sepertinya semalam Tuan Jordan meminum lebih banyak pil tidur, sampai hari ini belum bangun."


"Ahh aku istrinya dan aku tidak tahu."


Katanya dalam hati.


"Ohh... biarkan dia tidur semaunya."


Rossalia merasa canggung.


"Tapi..."


Brida ragu dengan permintaan Rossalia.


"Jordan tidak akan marah, mulai sekarang ia membebaskanku melakukan apa saja."


Rossalia tersenyum meyakinkan pengawalnya.


"Baik Nona."


Brida tak dapat menolak permintaan majikannya.


Rossalia bersiap pergi, ia mengemudikan mobilnya melajukan dengan kecepatan normal melewati taman-taman Mansion yang tertata rapi, banyak pepohonan yang tumbuh beriringan di pinggiran jalan Mansion menuju pintu gerbang besar, pohon-pohon yang berjajar itu membuat bayang-bayang di atas kaca mobilnya.


Jordan mengamati dengan mata elangnya dari balik jendela kamar, melihat Rossalia pergi mengendarai mobilnya sendirian ia hanya berdiri membisu tanpa sepatah kata, kedua tangannya terselip di dalam saku celana, beberapa kali ia menelan ludahnya dengan kasar, rahangnya sesekali bergerak, entah apa yang sedang ia fikirkan, pria itu menarik nafas panjang dan berjalan mengambil ponsel yang berada di atas mejanya.


"Apa kau sudah memasang pelacak di mobil istriku?"


Tanya Jordan.


"Sudah Tuan, kami juga sudah melacak seseorang yang baru saja menghubungi Nona Rossalia ."


Jawab seorang pria di ujung ponselnya.


"Siapa."


Tubuh Jordan mulai kaku.


"Gregorius Edgar."


Kata pria di ujung ponselnya lagi.


Jordan mengakhiri panggilannya, dadanya naik dan turun menahan amarah. Pria itu keluar dengan langkah cepat nyaris seperti berlari saat menuruni tangga menuju halaman Mansion.

__ADS_1


"Lorez pergi ke ruang kendali keamanan, bantu para pengawal Delta E melacak istriku."


Kata Jordan berbicara pada Lorez sembari tergesa-gesa masuk ke dalam mobil sport nya.


"Baik Tuan."


Jawab Lorez sembari menutup pintu mobil.


Jordan melajukan mobil dengan cepat, ia memakai headset yang tersambung dengan para pengawal yang sedang melacak Rossalia.


"Nona Rossalia menuju perbatasan bagian selatan Tuan."


Terdengar pengawal memberikan arahan pada Jordan melalui headsetnya, kemudian ia melajukan mobilnya lebih cepat, menekan gas lebih dalam, ingin sesegera mungkin menyusul istrinya.


Jordan yang masih dalam perjalanan, merasakan hati dan perasaannya tidak nyaman. Ketakutannya kembali merajai tubuhnya, mengingatkannya pada kebakaran Mansion yang membuatnya kehilangan Rossalia sesaat bahkan ia harus rela kehilangan anak-anaknya.


"Ya Tuhan jangan terjadi lagi..."


"Tuan mobil Nona Rossalia berhenti, tidak ada pergerakan."


Kata pengawalnya lagi.


Jordan menambah kecepatan mobilnya, ia semakin dalam menginjak gas dan berharap Rossalia baik-baik saja. Tak berapa lama Jordan sampai di titik mobil Rossalia berhenti, ia keluar dari mobil dengan cepat.


"Sayang?"


Jordan membuka pintu mobil Rossalia namun tak ada seorangpun, hanya ponsel, kalung zamrud dan beberapa benda lainnya yang diletakkan di atas kursi kemudi.


Pria itu kebingungan kenapa istrinya tidak ada, ia menghubungi para pengawal untuk datang dan menyisir semua bangunan yang terbengkalai hingga malam tiba para pengawal belum juga menemukan dimana Rossalia.


"Ya Tuhan... Jangan lagi..."


Jordan mulai ketakutan.


.


.


.


.


-Beberapa jam sebelum Jordan tiba-


Rossalia masih berusaha mengikuti maps dan arahan dari Edgar melalui ponsel nya.


Mobil berhenti tepat di depan gedung terbengkalai, gedung yang menyeramkan.


"Apa kau menjebakku?"


Kata Rossalia.


"Turunlah, akan ada pengawal menjemputmu, tinggalkan mobil, ponsel serta kalung mu di sana. Jangan bawa apapun."


Kata Edgar dari ujung ponsel dan mengakhirinya.


Rossalia melepaskan kalung dan menaruh ponsel itu bersamaan di dalam kursi kemudinya. Tak berapa lama dua orang pengawal pria dengan kacamata hitam dan baju serta jas berwarna hitam datang menjemput.


Rossalia mengikuti para pengawal menerobos bangunan yang terbengkalai.


"Nona ijinkan kami menutup mata anda, ini adalah peraturannya."


Kata sang pengawal.


"Untuk apa?"


Kata Rossalia mulai panik.


"Tenanglah Nona setelah sampai kami akan membuka kembali penutup mata anda."


Para pengawal mulai menutup mata Rossalia dengan kain hitam, membuat Rossalia tak dapat melihat apapun, ia hanya mengikuti kemana para pengawal membawanya.


.


.

__ADS_1


.


-Bersambung-


__ADS_2