
"Lolita bantu aku mengganti vas-vas bunga lainnya."
"Baik Nona."
Rossalia sedang merangkai bunga lagi, vas-vas yang bunganya telah layu mulai di ganti, 5 hari sudah cukup membuat sebagian bunga-bunga harus di ganti yang baru.
Terdengar mobil Jordan terparkir di halaman dan Paman Lee menyambutnya.
"Apakah dia pulang untuk makan siang?"
Rossalia bertanya dalam hatinya, kemudian ia beranjak pergi membawa vas yang sudah dirangkai menuju kamarnya, ketika kamar itu hendak di tutup Jordan menahan dengan tangan kiri nya.
"Biarkan aku masuk."
Jordan menatap Rossalia tajam, gadis itu tak punya pilihan karena tangan kanannya memeluk vas yang cukup besar sedang tangan kirinya tak memiliki banyak tenaga.
Jordan masuk dan menutup pintu kamar Rossalia, ia melepaskan jasnya, kemudian melonggarkan dasi dan membuka kancing kemejanya.
Pria itu berdiri melihat istrinya yang masih sibuk meletakkan vas bunga sembari menata rangkaiannya lagi.
"Aku akan menyiapkan makanan untukmu."
Rossalia hendak pergi.
"Apa kau sedang bermain kucing dan tikus denganku?!"
Jordan menarik tangan Rossalia dan memeluknya.
"Apa maksudmu, aku tidak mengerti."
Rossalia menjawab dengan datar.
"Kau mengerti maksudku !"
Jordan melepaskan pelukannya, ia menatap istrinya yang memalingkan pandangan ke arah lain.
"Aku tidak mengerti."
"Kau pasti lapar, aku akan ambil kan sesuatu."
"Tatap aku saat kita sedang bicara."
Suara Jordan datar tapi terdengar menekan.
"Apa yang kau harapkan?"
"Kau meributkan masalah kecil?"
"Apa karena hari ini aku tidak membuatkan bekal jadi kau marah?"
Kini tatapan Rossalia seakan mengiris hati Jordan. Hingga membuatnya terkejut bagaimana bisa istri polosnya memiliki tatapan seperti itu.
"Ini bukan tentang bekal, meski beberapa hari kau tidak mengantar langsung padaku, dan menitipkannya pada Freya, aku masih bisa menahan kekesalanku."
"Tapi perubahan sikapmu ini pasti ada alasannya."
"Aku sedang tidak ingin berdebat."
"Kalau begitu katakanlah ada apa sebenarnya."
"Atau aku yang menebaknya."
"Lepaskan dulu, aku tidak bisa bernafas."
Jordan melepaskan pelukannya dan memperhatikan istrinya yang duduk di tepi ranjang.
"Aku tidak tahu kau akan bertunangan."
"Jika aku tahu...."
Belum sempat Rossalia melanjutkan kalimatnya.
"Jika kau tahu lalu kau akan apa?!"
"Apa kau tidak mau menikah denganku?!"
"Apa kau juga tidak mau memberikan tubuhmu padaku?!"
"Lalu kau tidak akan kembali padaku dan justru menikah dengan pria itu !!!"
__ADS_1
Nafas Jordan mulai memburu berlomba dengan emosinya. Dadanya naik dan turun karena menahan amarah.
Rossalia berdiri dan mengambil paper bag yang ada di atas meja riasnya kemudian memberikan pada Jordan dengan kasar, tepat di depan dada suaminya.
Pria itu melihat isi paper bag, ada kumpulan foto-foto Jordan dengan Angela, kemudian foto-foto keluarga besar Angela dengan keluarga Peter yang terlihat akrab, foto itu di ambil ketika Angela berulang tahun yang ke 17 tahun.
Ada juga boneka cantik bertuliskan,
" I Love You Angela"
Terdapat nama pemberinya, tulisan yang mengatakan bahwa hadiah itu dari Jordan, puisi romantis yang membuat hati Rossalia terluka, yang dalam benak dan pikirannya bahkan seorang paranoid bisa membuat puisi demi Angela.
Jordan kemudian tertawa.
"Ha.. ha.. ha.. haa.... !!!"
"Sayang kau marah hanya karena benda-benda ini?"
Jordan menggangkat paper bag itu ke atas dan melemparnya ke tempat sampah.
Rossalia menatap Jordan ketus ketika pria itu tidak berhenti tertawa.
"Sayang, kau tidak lihat wajahku di foto-foto itu?"
"Apakah aku terlihat senang?"
"Boneka itu bahkan bukan aku yang membeli, Lorez membeli kan nya dan pegawai toko yang menulisnya."
"Apa perlu Lorez ku panggil untuk bersaksi."
"Tetap saja, kenapa kau merahasiakannya dariku bahwa kau akan bertunangan, wanita itu datang mengolok-ngolokku, seakan ia ingin menunjukkan asal usulku, dan memperlihatkan posisiku yang sesungguhnya, dia sudah mengganggapku saudari ipar, betapa baik nya wanita itu."
"Kenapa kau tidak menarik rambutnya, jika kau kesal padanya?"
"Kau Nyonya rumah di sini, apa yang harus kau takutkan, bahkan jika rumah ini kau bakar tidak akan ada yang memarahimu."
Jordan masih tertawa tak percaya istrinya cemburu hingga berhari-hari hanya karena barang-barang tak jelas.
Rossalia masih tidak senang, ia menatap Jordan dengan dingin.
"Baiklah-baiklah sekarang aku tahu kenapa istriku menolakku dan mendiamkanku selama berhari-hari."
"Aku berharap kau tidak akan percaya semua yang dikatakan wanita itu."
"Tapi.."
Rossalia ingin menyela namun kalimatnya terputus.
Jordan dengan cepat mencium istrinya.
"Sayang, tadi saat kau bilang jika kau tahu aku akan bertunangan, kau akan apa?"
Jordan menatap Rossalia dengan tajam dan wajahnya berubah serius.
"Aku akan mengabdi kan diriku di panti asuhan, merawat Suster Kepala, bermain dengan anak-anak, dan tidak ingin bertemu kau untuk selamanya."
Jordan kemudian memeluk Rossalia, ia tahu istrinya masih merasa gelisah.
"Aku akan menolak pertunangan itu."
"Apapun yang akan ku lakukan kedepannya, ku harap kau selalu percaya padaku."
"Dengarkan, kau istri Jordan sekarang, jangan pernah takut melawan siapapun."
"Apa kau mengerti sayang?"
Jordan menangkupkan kedua tangannya yang besar di pipi istrinya, dan Rossalia menggangguk kan kepala, tanda ia mengerti.
"Apakah sekarang kita bisa melakukan itu lagi sayang?"
Jordan mulai menggoda Rossalia.
"Kau mesum lagi."
"Ayo turun, kau harus makan, ini sudah lewat jam makan siang, lagi pula kenapa kau pulang, apa karena aku tidak membuatkan bekal untukmu?"
"Aku pulang karena rindu padamu, kau menyiksaku selama 5 hari sayang, hingga aku tidur di ruang baca, sekarang giliranku yang menyiksamu untuk beberapa hari ke depan."
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
Rossalia masih tak mengerti.
"Maksudnya adalah, kau harus bertanggung jawab, karena sudah membuatku tidur di ruang baca setiap malam."
Jordan menciumi leher Rossalia dengan lembut, perlahan tubuh mereka bergumul mesra di atas ranjang.
"Mengapa kau tidak tidur di kamarmu?"
Rossalia melingkarkan tangannya di leher Jordan yang kini sudah berada di atasnya, memainkan perannya sebagai seorang suami.
"Lalu kau ingin kita terlihat seperti suami-istri yang benar-benar telah saling tak peduli?"
"Aku lebih memilih tidur di ruang baca daripada harus tidur sendiri di atas ranjang yang empuk dan hangat namun aku tak merasakan itu."
Tangan Jordan sibuk membelai paha Rossalia, lalu naik dan terus naik.
"Aku benar-benar telah menelantarkanmu ya?"
Bisik Rossalia yang mulai membuka kemeja Jordan.
Nafas dan sentuhan Rossalia membuat pria itu makin bergairah.
"Jangan lagi menolak dan mendiamkanku."
"Aku merindukanmu..."
Jordan membenamkan mulutnya di leher Rossalia.
Dalam sekejap, mereka telah saling berpagut dalam kemesraan.
Seperti pelaut-pelaut yang telah lama terombang-ambing di samudra lepas tanpa pernah tersentuh oleh cinta dan hasrat.
Suami-istri itu saling menekan satu sama lain, hingga tidak ada ruang tersisa.
Tubuh Rossalia bergetar hebat, ia mendekap erat suaminya.
Tak berapa lama di susul Jordan yang mencapai puncaknya.
Rossalia menangkup wajah Jordan dan berbisik "aku mencintaimu."
Jordan menyambut kalimat Rossalia "aku tak akan meninggalkanmu."
Angin masuk dari jendela yang terbuka di kamar Rossalia, membuatnya terbangun, ia menatap Jordan yang sedang berada di balkon entah berbicara dengan siapa melalui ponsel.
Kemudian ia turun meraih piyama berjalan mendekati suaminya.
"Kau sudah bangun, kemarilah sayang, aku punya sesuatu untukmu."
Jordan menutup ponsel nya dengan cepat.
"Bukalah."
Pria itu memberikan sebuah kotak kecil dengan pita yang indah.
Rossalia membuka nya perlahan, jemari lentiknya membuat suara pita yang di tarik semakin merdu dan indah, gadis itu memang mempunyai daya tarik tersendiri. Semua yang di sentuh olehnya terlihat lebih indah.
Rossalia terkejut melihatnya, mulutnya menganga tak percaya.
"Benarkah ini untukku,."
"Ponsel ini untukku?"
"Bukankah ini terlalu mewah."
"Nanti Freya akan mengajarimu cara menggunakannya."
"Ponsel ini diproduksi khusus, sudah di modifikasi khusus untukmu."
"Lorez sudah menaruh chip di dalamnya, jangan pernah meninggalkan ponselmu sembarangan."
Jordan membelai kepala istrinya dengan lembut.
.
.
.
-Bersambung-
__ADS_1