
Jordan sampai di kastil besar Negara J, kastil itu berada di pinggir laut, diatas daratan yang lebih tinggi dan sisi-sisi nya terdapat tebing-tebing curam yang menjadi benteng pertahanan kastil, serta di kelilingi oleh pos-pos keamanan.
Bangunan yang di desain oleh Mayeto Van Der, serta Jordan yang mengarahkan seperti apa kastil yang ia mau dan sesuai keinginannya.
Kastil itu sebagai tempat untuk berlindung jika suatu hari Jordan terdesak, Jordan memberikannya nama Kastil Alkambra.
Pria itu sudah lama membangun kerajaan nya sendiri karena ia tahu, Peter bukan lah orang yang dengan mudah mengangkat anak kecil menjadi putranya, ia akan meminta imbal balik, sedangkan Jordan adalah orang yang tidak pernah suka di jadikan boneka.
Terlihat Jordan serta Lorez sedang menyusun rencana untuk melemahkan pertahanan keamananan Kastil Royal Palace milik Peter.
"Aku sudah mempelajari seluruh ruangan, dari masih kecil dengan hati-hati, tapi aku tidak bisa menemukan jalan menuju penjara bawah tanah."
Kata Jordan sambil terus berusaha mengingat.
"Tuan Jordan, kita butuh Tuan Nicholas memberikan petunjuk dimana letak penjara bawah tanah itu."
Lorez masih berdiri sambil melihat setiap inci gambar peta Kastil Royal Palace.
"Para pengawal Delta A akan maju lebih dulu, dari segala arah di ikuti delta B, mereka akan membuka jalan untuk kita masuk ke dalam Kastil."
Kata Jordan mulai menyusun rencana.
"Baik Tuan."
Kata Lorez sambil sesekali menatap Jordan.
"Lalu aku akan mencari Rossalia, kau dan Nicholas bebaskan para tahanan, ingat sebagian pelayan mahir bela diri dan dilengkapi persenjataan yang tersembunyi di balik seragam mereka, pertama harus membiusnya, atau membunuhnya untuk para pelayan yang melawan."
Jordan selesai menjelaskan.
"Kapan Nicholas akan tiba."
"Seharus nya sudah tiba lebih awal Tuan."
Kata Lorez.
Selang beberapa menit Nicholas tiba, tubuhnya kekar, tinggi, kulitnya sawo matang, rambut-rambut pendek perpaduan warna antara hitam dan putih bercampur menjadi satu tumbuh di sekitar dagu serta rahangnya.
Ini adalah pertama kalinya Nicholas dan Jordan bertemu.
Laki-laki itu berjalan mendekati Jordan, dengan cepat tangan kekar yang besar melayang memukul wajah Jordan. Sangat keras, dan bertenaga, serta penuh emosi sehingga Jordan terjungkal ke lantai, darah mengalir di mulutnya, membuatnya harus meludah.
"Itu untuk kebodohanmu."
Kata Nicholas, kemudian pria itu mengulurkan tangan kirinya untuk menolong Jordan berdiri, dan mereka berpelukan.
"Pelukan ini untuk ucapan terimakasih karena kau tidak pernah berhenti mencari Rossalia."
Mata Nicholas berkaca-kaca kemudian terlihat air seperti embun ada di sudut matanya.
Para pria duduk di sofa sedangkan Lorez masih berdiri di samping Jordan, entah kaki nya terbuat dari apa, besi atau baja tak ada yang tahu dan selalu jadi pertanyaan untuk para wanita di sekitar,
"Apa ia tak pernah mengeluh lelah."
__ADS_1
"Aku terlalu sibuk mengurus perusahaan serta Lily, saat para pengawal yang mengkudeta Peter di Negara J menyelamatkan Lily, ia sudah koma, Peter selalu memberikan obat penghilang ingatan untuknya, menyiksa nya hingga dia menjadi orang setengah gila, kemudian saat tiba di negara K aku merawatnya, aku yakin Lily akan bangun dari komanya."
Nicholas menghela nafasnya sesaat, dan menyadarkan punggung kekarnya di bantalan sofa.
Kemudian ia melanjutkan ceritanya lagi,
"Aku sudah tidak mempunyai ruang gerak dan waktu untuk mencari Rossalia, apalagi koneksiku di batasi oleh pergerakan Peter yang masih saja memburu kami.
"Aku hanya sekedar mengutus pengawal mengawasi Rossalia di panti asuhan, setelah ia terseret ombak, aku merasa semua sudah benar-benar berakhir, namun beruntung saat malam pembantaian itu aku sudah mengenskripsi semua data-data Rossalia."
"Entah nanti nya Rossalia masih hidup atau tidak, datanya akan tetap aman."
"Jadi kau yang mengenskripsi semua data Rossalia, bahkan intelijen pun tak bisa mengaksesnya."
Jordan mulai mengerti.
"Ya, itu demi keamanan Rossalia."
"Tapi akhir-akhir ini ada banyak sekali virus masuk, mencoba membobol sistem data, ada 3 virus yang berhasil masuk mengcopy semua datanya, salah 1 nya pasti milik Peter."
"Ya, Rossalia sudah mendapartkan 1 kali serangan saat pulang dari Panti Asuhan bersamaku, bahkan saat kami berada di Roma pun penyerangan hampir terulang, hanya saja di sana kekuatan kami jauh lebih besar."
Kata Jordan menjelaskan.
"Peter tidak akan pernah puas, ia akan selalu menjadi orang yang ingin mengambil lebih banyak lagi." Geram Nicholas.
"Jadi kapan kita akan bergerak?"
"Malam ini."
Pemandangan pantai yang sangat indah, dalam benaknya ia memikirkan istrinya,
"Rossalia pasti akan sangat menyukai tempat ini."
Namun Jordan tak akan tenang berada di Negara J, selama Peter masih mengusik ketenangan mereka.
Baru kali ini Jordan merasa tak bisa memahami keadaan yang menimpanya, tentang alasan Peter membantai keluarga Rossalia, dan mengapa Rosaalia masih di buru.
Jordan masih di penuhi kekhawatiran apakah Rossalia akan membencinya jika ia tahu bahwa suaminyalah yang menyelamatkan pembunuh keluarganya.
Apalagi kini Jordan sedikit demi sedikit telah merasakan kebahagiaannya, bahwa ia akan mendapatkan gelar baru sebagai seorang ayah.
Nicholas berdiri mendekati Jordan, kemudian menepuk punggung nya, melihat Jordan dengan iba,
"Tenanglah, kita berjuang bersama demi orang yang kita cintai dan sayangi."
"Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini."
Jordan melihat Nicholas dan tersenyum kecut, seakan ia tak kuat mengangkat bibirnya lebih lebar lagi.
Malam kian larut dan seluruh pengawal telah bersiap untuk menyerang.
Butuh beberapa jam untuk sampai di Kastil Royal Palace.
__ADS_1
Negara J sangat besar, Royal Palace terletak di atas bukit yang luas, dan di lindungi hutan yang lebat.
Banyak jebakan serta pos-pos tersembunyi, ini adalah tugas penyelamatan yang tidak mudah bahkan dalam kata lain menjemput kematian mereka sendiri.
Pasukan Jordan mengendap-endap memakai baju serba hitam membawa seluruh senjata di tubuh mereka, pistol, granat, serta perlengkapan pedang di punggung-punggung mereka.
Wajah para pengawal tertutup, begitu juga Jordan serta, Lorez dan Nicholas, mereka membaur seperti pengawal yang lainnya.
Jam telah menunjukkan pukul 1 malam.
Jordan menggunakan isyarat tangan kanannya untuk memberikan perintah.
Ketika tangan kanan Jordan naik ke atas dan turun memberikan arah secara bergantian ia memberikan komando kemana kelompok-kelompok pengawal harus menyerang.
Dari sisi belakang kastil ada Lorez serta Nicholas yang juga sudah siap menyerang, Lorez mengarahkan pengawal Delta A untuk masuk lebih dulu, di susul Delta B dan yang terkahir Delta E untuk menjaga Lorez serta Nicholas saat mereka mulai merangsek masuk.
Jordan menggunakan teknik bergerilya, mengendap-endap, tak bersuara, seperti ninja.
Pengawal-pengawal membungkam pos demi pos jaga, memutar kepala para penjaga, menusuk dengan pedang, atau membius mereka, setiap pos yang sudah kosong di gantikan pengawal Jordan untuk berjaga.
"Hutan sangat lebat, dan seharusnya ada banyak radar ataupun ranjau terpasang di sini, namun ini sangat mudah untuk dimasuki."
Jordan mulai mempunya firasat buruk.
Jordan memberi perintah melalui sambungan headphone nya.
"Semuanya kita mundur, cepat !!!"
"Lorez, Nicholas, bawa semua pengawal keluar dari Kastil."
"Lorez!!!"
"Nicholas!!!"
Tidak ada yang menjawab panggilan Jordan, pria itu marah dan melepaskan headphone di telinganya kemudian melemparkan headphone itu ke tanah.
Seketika pagar besi naik menjulang tinggi, melingkari hutan, para pengawal yang menaiki pagar itu tersetrum kejang.
"Bangs*t !!!"
"Kita masuk dalam jebakan !!!"
Ranjau yang tak terlihat tiba-tiba aktif di bawah kaki-kaki pengawal Jordan.
"DUARR-DUAARR!!!"
Jordan mengeluarkan pedang serta pistol nya, para pengawal Peter mulai keluar menyerbu Jordan, pria itu maju dengan tangkas menembaki serta menusuk mereka semua dengan pedangnya.
Tangkas, cepat, serta akurat, para pengawal Jordan mulai membentuk formasi perlindungan untuk Jordan, sedikit demi sedikit mereka tiba di depan Kastil.
.
.
__ADS_1
.
-Bersambung-