CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 33- = PELUKAN MATEEN


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Jordan sudah pergi meninggalkan Rossalia yang masih tertidur dikamarnya, sepanjang malam Jordan tidur di sofa sehingga membuat badan serta lehernya pegal, meski dalam benak Jordan sangat menginginkan Rossalia, gadis yang saat ini sedang tidur di ranjangnya memakai kimono mini tipis membuat tubuh gadis itu sangat sexy, namun ia tidak berani menyentuhnya.


Di dalam kamar besar yang dingin karena temperature ac dibuat agar ruangan itu sesejuk mungkin namun tidak dengan Jordan, ia benar-benar menahan gairahnya, panas di tubuhnya yang membara akan kerinduannya pada Rossalia gadis yang sudah mengisi hatinya sejak p1 kali bertemu di usia masih anak-anak, sekarang ia tidak boleh membuat kesalahan yang sama lagi, atau dia akan benar-benar kehilangan Rossalia.


Jordan pergi menemui Lorez yang sedang mengintrograsi para penguntit, ketika Jordan sampai di markas pelatihan ia disambut oleh banyaknya pengawal yang memberikan hormat padanya, markas yang sangat besar dan luas itu berada di pulau sebelah utara Negara K bernama Pulau JR diambil dari namannya.


Jordan harus memakai kapal pribadinya ataupun helikopter untuk sampai di pulau itu.


Ada sekiar 1500 pengawal yang melakukan pelatihan di sana, semua terbagi dalam beberapa kelompok, 1 kelompok beranggotakan 300 orang.


Kelompok-kelompok pengawal itu di beri nama sesuai dengan tingkat level nya, level terendah kelompok Delta A, di susul kelompok Delta B dan seterusnya hingga level paling tinggi Delta E dimana biasanya Delta E diperuntukkan tugas-tugas berbahaya.


Jordan memandangi para penguntit yang sudah tidak berdaya karena siksaan yang Lorez berikan.


Pria itu kemudian memberikan instruksinya pada Lorez.


"Bunuh semuanya."


"Baik Tuan."


Lorez menundukkan kepalanya.


Pembunuh bayaran yang kemarin ketakutan mulai meracau.


"Tidak Tuan ampuni lah saya, anda berjanji akan membebaskan saya jika saya berbicara jujur, saya janji tidak akan membuka mulut saya untuk siapapun tentang keberadaan kalian."


Penguntit itu memegangi kaki Jordan.


"Yang pertama kau sudah menyebabkan kekasihku terluka."


"Yang kedua aku hanya mempercayai orang mati."


Jordan menendang penguntit itu.


Lorez menghabisi para penguntit dengan cepat, dan menyuruh para pengawal membereskan serta membersihkan semua jasad mereka.


"Lorez aku akan ke toko bunga menyusul Rossalia, katakan Freya dan Sean, aku tidak akan kekantor beberapa hari."


Jordan melangkah pergi meninggalkan pulau yang sudah menjadi milik pribadinya, pria itu membeli beberapa pulau bahkan sebagian pulau-pulau itu sudah dia jadikan tempat wisata untuk umum, ada beberapa pulau juga yang sudah Jordan jadikan tempat perjudian, Jordan membangun kasino yang mewah tempat perjudian paling terkenal yang di kunjungi para bangsawan elit.


Namun Jordan tidak pernah mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri dari kasino-kasino itu, semua pendapatan dari kasino ia sumbangkan pada orang-orang miskin dan memberikan gaji bulanan untuk para pengawal-pengawalnya, tak tanggung-tanggung setiap 1 pengawal akan mendapat gaji luar biasa belum termasuk bonus dan rumah mewah yang gratis serta masih banyak yang lainnya.


Setelah menempuh perjalanan yang tidak memakan banyak waktu karena ia memilih memakai helikopter, sampai dilandasan Jordan sudah ada sopir dan pengawalnya yang menjemput, kemudian mereka menuju toko tanaman, karena ia berjanji akan membawa Rossalia belanja bibit-bibit tanaman, namun ternyata gadis itu sudah pergi lebih dulu tanpa menunggu Jordan.


Jordan sampai di depan toko bunga langganan Rossalia, ia melihat adegan yang membakar hatinya dan cemburunya hingga mungkin saking panasnya api cemburu di dadanya, mobil Jordan bisa terbakar, dan ia hanya akan memperhatikan lebih dulu apa yang akan Mateen lakukan pada Rossalianya.

__ADS_1


Di depan toko bibit tanaman, Mateen setengah berlari karena kerinduannya yang sudah tak terbendung lagi, ia ingin sekali menyentuh dan memeluk gadis itu.


Mateen menarik lengan Rossalia dengan cepat dan memeluknya dalam-dalam.


"Aku merindukanmu..."


Entah apa yang ada dalam pikiran Mateen, mungkin karena kegilaan yang sangat mencintai gadis itu serta kerinduan dan hasrat nya yang tidak dapat ia salurkan pada Rossalia, hingga ia tak peduli sedang dimana dan siapa saja yang memperhatikan mereka.


"Tuan..."


Rossalia menahan pelukan Mateen namun kekuatannya tak cukup untuk melepaskan diri.


"Aku mohon panggil namaku sekali saja."


Mateen masih memeluk Rossalia dan membenamkan wajahnya di bahu gadis itu.


"Mateen..."


Rossalia menurut, agar pria itu cepat melepaskan dirinya.


"Sekali lagi..."


Mateen masih tidak puas, ia ingin terus mendengar Rossalia memanggil namanya.


"Bagaimana kabar dan keadaanmu?"


"Aku baik, aku ingin membeli bibit tanaman disini, dan mencari peralatan menanam."


"Tolong lepaskan, banyak orang melihat kita, dan aku sulit bernafas."


Mateen melepaskan Rossalia, namun masih memegangi tangan Rossalia ia tidak rela untuk berpisah.


"Sepertinya kau sangat suka dengan gadis ku, apa kau memang suka mengganggu milik orang lain?"


Jordan berjalan menyelipkan kedua tangannya di saku celana, jas yang menggantung di kedua pundaknya, ia pakaikan pada Rossalia.


"Maaf sayang, pagi-pagi aku sudah pergi tanpa pamit, aku tidak tega membangunkanmu, tadi pagi aku harus mengurus sesuatu, aku memintamu menunggu dirumah dan kita bisa pergi bersama membeli bibit, kenapa kau pergi tanpa menungguku?"


Jordan mengecup lembut kepala Rossalia dan melingkarkan tangannya di pinggul gadis itu dengan lembut, mendekapnya erat menempelkan di tubuh besar nya yang berotot.


"Rossalia jaga dirimu, kau bisa memanggilku kapan saja saat kau butuh bantuan."


Mateen bersiap untuk pergi namun Jordan menyela nya.


"Dia akan baik-baik saja, sebaiknya kau fokus mengurus perusahaan dan karirmu dengan baik."

__ADS_1


Jordan menatap Mateen dingin.


Kemudian Mateen berbalik dan kembali menatap Jordan.


"Aku penasaran siapa yang telah menyebarkan berita-berita yang menyudutkan kami hingga perusahaan MATH GRUP berada pada kegaduhan seperti ini."


"Aku juga penasaran bagaimana jika Rossalia mengetahuinya?"


"Apakah kau mau bersembunyi di balik punggung kekasihku?"


Jordan menjawab dengan santai.


"Cih, setidaknya aku selalu menepati janjiku pada Rossalia."


Mateen memasukkan tangannya ke dalam saku celana, dan tertawa santai seolah mengejek Jordan.


"Apa yang sudah kau lakukan, apakah kau menyebabkan perusahaan Tuan Mateen kacau?"


"Kau sudah berjanji padaku."


Rossalia melepaskan diri dari pelukan Jordan, ia mengerutkan alisnya, dan menatap Jordan dengan dingin.


"Jordan mengakuisisi semua media dan membuat MATH GRUP goyah."


Sebelum Jordan menjelaskan Mateen sudah menyela mereka.


"Kita sudah buat kesepakatan, kenapa kau melanggarnya bahkan kau melakukannya di belakangku !!!"


Rossalia melepaskan jas yang menggantung di bahunya dan melemparkan kepada Jordan kembali, gadis itu masuk ke dalam mobil di susul Brida, mobil melaju perlahan meningalkan para pria yang bersitegang.


"Kau puas?"


Jordan menenteng jasnya, meninggalkan Mateen untuk mengejar Rossalia.


Mobil Rossalia tidak terlihat di Mansion, Jordan dengan cepat keluar dari mobilnya, ia setengah berlari kesana dan kesini mencari Rossalia, takut Rossalia pergi meninggalkannya, jantungnya mulai berdetak tak beraturan, dadanya mulai sakit dan berdesir, panas dingin menjalar di seluruh tubuhnya.


Kaki Jordan mulai terasa lemas, badannya pun terasa tak berdaya, kepalanya kian pusing nafasnya beradu dengan akalnya yang makin tak terarah, apa yang harus ia lakukan jika Rossalia benar-benar meninggalkannya.


Jordan berteriak-teriak membuat semua pelayan takut.


.


.


.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2