
Dreams Hospital -
Luna masih mendapatkan perawatan intensif di sebuah rumah sakit terbesar di Negara K. Rumah sakit itu di bawah naungan Perusahaan MATH GRUP.
Saat dimana Jordan pingsan karena obat penenang dosis tinggi, Brida dan Freya dengan inisiatif nya langsung mengangkat Luna untuk membawanya pergi kerumah sakit, dan yang paling dekat adalah Dreams Hospital, saat itulah mereka bertemu dengan Mateen yang sedang mengadakan audit dengan para Manager dan Pimpinan dokter rumah sakit.
Mateen yang melihat Luna penuh Luka, darah, bahkan lebam dimana-mana, dengan cepat memerintahkan para dokter terbaiknya untuk segera bertindak, sedangkan para manager bingung dan bertanya siapakah gadis itu hingga membuat Mateen sangat khawatir.
Mateen menunggu di luar sembari mendengarkan Brida bercerita, bahwa Luna masuk ke ruangan terlarang Jordan tanpa ijin dan segala kronologi yang terjadi.
Mateen mendengar itu, merasa sesuatu yang tidak masuk akal, kenapa harus sampai memukul Luna hingga seperti itu.
Mateen meninju dinding hingga tangannya berdarah, Amarah dan emosi nya hanya bisa tertahan karena dia memilih untuk terus menunggu perkembangan kondisi Luna.
"Jika saja sekarang Jordan di sini, pasti sudah ku bunuh dia."
"Aku sudah memperingatkannya."
Lagi-lagi Mateen meninju dinding,untuk melepaskan dan melampiaskan amarahnya.
.
.
.
.
- Dreams Hospital 3 Hari kemudian setelah Luna sadar -
Luna menjadi seseorang yang sering melamun, entah apa yang dia pikirkan.
Namun Dokter menjelaskan pada Mateen kini yang di butuhkan Luna hanyalah seseorang yang bisa menenangkan hatinya, psikisnya mengalami trauma hebat.
Ketika Mateen sedang mengupaskan buah apel untuk Luna tiba-tiba pertama kalinya Luna membuka suaranya lagi, setelah ia menangis di depan Mateen beberapa hari yang lalu.
"Tuan Mateen..."
Luna menatap Mateen.
"Iya Luna..."
Mateen menggengam tangan Luna.
"Saya tidak ingin menggunakan nama Luna lagi."
"Saya ingin kembali menjadi Rossalia.."
"Dan saya ingin memiliki kehidupan saya sendiri..."
"Baiklah, kita harus membuat pengumuman yang besar."
"Amber akan mengurus segala dokumen-dokumennya, dan acara pengumumannya."
"Kau akan menjadi Rossalia, karena kau memang Rossalia."
"Tapi..."
"Saya tidak ingin bertemu dengan Jordan lagi."
"Bahkan, jika dia adalah Jordan masa kecil saya dulu."
Mateen terkejut Rossalia mengetahui bahwa Jordan adalah teman masa kecilnya.
"Sejak kapan kau tahu Jordan adalah teman masa kecilmu?"
"Ketika saya masuk ke dalam ruangan terlarang pria itu, saya menemukan begitu banyak foto anak kecil, dan semua foto anak kecil itu adalah saya."
Luna menjawabnya dengan datar, tanpa ekspresi sedikitpun di wajahnya. Seperti jiwanya sudah kosong.
"Baiklah, namun hanya dengan 1 cara, agar semua bisa mengenalimu sebagai Rossalia."
"Kita harus bertunangan dan mengumumkan secara besar-besaran."
"Baiklah Tuan..."
Luna menjawab dengan cepat
__ADS_1
Membuat Mateen terkejut karena gadis itu menyetujui usulannya, namun entah kenapa Mateen merasa bingung antara harus bahagia ataukah mengutuki dirinya yang seakan mengambil keuntungan dari kemalangan gadis itu.
"Kau percaya padaku bukan?"
"Aku ingin melindungi mu."
"Iya Tuan..."
.
.
.
.
-Mansion Pearl-
-"Prrannggggg!!!"-
"Sampah !!!"
Jordan berlalu pergi dari meja makan kembali ke kamarnya.
"Apa yang terjadi?"
Paman Lee berjalan dengan cepat menuju meja makan, bertanya pada salah 1 pelayan, ketika pelayan yang lainnya membersihkan makanan yang di lemparkan Jordan.
"Maaf Paman Lee, Tuan Jordan tidak mau makan lagi."
Pelayan itu menundukkan kepalanya.
"Sepertinya Tuan Jordan sudah terbiasa dengan rasa masakan Nona Luna."
"Sebelumnya Nona Luna lah yang selalu memasakkan makanan untuk Tuan Jordan, maafkan kami Paman Lee."
"Itu karena Nona Luna selalu bersikeras ingin membantu kami."
"Baiklah, bereskan semuanya."
Paman Lee berlalu.
Jordan meminum alkoholnya lagi, setelah kejadian itu Jordan tidak mencari tahu dimana gadis itu berada.
Lorez datang membawa dokumen-dokumen untuk di tanda tangani.
"Tuan Jordan kita harus ke negara J."
" Kesehatan Tuan Besar Peter sedang tidak baik, ada pesan anda harus kembali."
"Baiklah, siapkan semuanya, sekarang juga kita berangkat, dan hubungi Dokter Imanuel untuk ikut bersama kita."
"Baik Tuan..."
Setelah semua siap, Jordan menaiki helikopter bersama Lorez dan Dokter Imanuel, helikopter itu mengantar mereka menuju landasan pribadi, disana pesawat Jet sudah di siapkan.
"Freya urus dengan baik proyek mega Rossalia, aku tidak ingin ada kesalahan sedikitpun."
"Baik Tuan..."
Jordan yang ditemani Lorez dan dokternya menaiki pesawat Jet, untuk pergi ke Negara J. Pesawat mulai lepas landas, kemudian Freya meninggalkan Landasan.
.
.
.
.
- Paradise Luxury Mansion -
Setelah seminggu akhirnya Luna bisa menghirup udara segar, ia tidak suka bau rumah sakit.
"Ini kamarmu, jika memerlukan sesuatu kau bisa memanggil para pelayan."
Mateen menjelaskan dan membantu Luna beristirahat di ranjangnya.
"Terimakasih Tuan Mateen."
"Tapi, saya lelah jika harus berbaring terus, sudah seminggu lebih saya berbaring."
__ADS_1
Luna merasa bosan dan badannya pegal karena terus-terusan berbaring, sebenarnya badannya sudah cukup sehat, dan trauma yang dialami sudah semakin membaik karena langsung di tangani dengan cepat dan Mateen mencarikan dokter terbaik.
"Ehem..."
"Aku datang..."
Amber datang membawa beberapa berkas dokumen untuk Luna.
Luna merasa dejavu dan ketakutannya mulai timbul lagi.
"Apakah untuk tinggal disini saya harus menandatangani perjanjian lagi Tuan, seperti perjanjian antara saya dan Jordan."
Amber seketika melihat berkas-berkas dokumen yang dia peluk, dan merasa tidak enak.
"Tidak, Amber membawa berkas dokumen untuk ku tanda tangani, beberapa hari ini aku terus menjagamu dan tidak pergi ke kantor, tenanglah kau aman di sini."
Mateen memeluk Luna yang sedang ketakutan mengingat kembali ketika ia dipaksa untuk menanda tangani perjanjian.
"Saya ingin secepatnya terlepas dari pria itu."
Luna melepaskan pelukan Mateen dan menatap Mateen seperti memohon.
"Baiklah, aku berjanji akan mengurus semuanya secepat mungkin."
"Tapi kau harus sehat dulu, dan kita akan membahasnya bersama-sama, oke?"
Mateen membelai kepala Luna dengan lembut.
"Ehem..."
"Kenapa kalian bermesraan di depanku."
Amber berlalu pergi dengan menggeleng-gelengankan kepalanya tak percaya mereka sudah mulai sedekat itu.
.
.
.
.
- Kota S-
Di sebuah rumah yang cukup mewah terjadilah pertengkaran hebat antara ibu dan anak.
Siapa lagi jika bukan Jenni dan Benni.
Mereka bertengkar hebat hingga Benni memukul ibunya sendiri.
"Dengarkan aku, jika aku tak bisa membawa gadis itu pulang, aku akan membongkar semua kebohongannya, informasi ini akan ku tukar dengan uang yang banyak."
"Jangan gegabah benni, pria kaya itu tidak akan memberikan uang kepada kita, kau salah orang, pria itu bukan Tuan Mateen, dia bernama Tuan Jordan."
"Kenapa kau tidak memberitahukan itu dari dulu, hahaha !!!"
"Sekarang aku tahu namanya."
"Tenanglah benni bukan seperti itu caranya, jika kau ingin uang biar aku yang menemui Rossalia."
"Baiklah kita akan bersama-sama menemuinnya, namun jika kau gagal mendapatkan uang, aku yang akan maju."
Sebelumnya Benni pernah menerobos Hotel Mateen, dia pikir Mateen lah yang membawa Rossalia.
"Hari ini juga ayo kita berangkat ke Negara K, cepat bawa semua uang yang tersisa."
"Baik lah nak..."
Jenni hanya menurut, karena memang Jenni sudah mempunyai rencana untuk menemui anak angkatnya yang telah di bawa oleh Jordan untuk meminta uang, karena uang kompensasi itu sudah habis untuk bermain judi Benni.
Sore hari mereka berangkat menuju Negara K dengan menggunakan bus, butuh waktu setidaknya 2-3 hari, karena mereka juga harus menaiki kapal untuk menyeberang.
Dalam perjalanan menuju Negara K, Benni mulai membuat rencananya sendiri, ia ingin mendapatkan uang namun juga tak ingin kehilangan gadis cantik yang selama ini ia dambakan.
"Bahkan aku belum sempat mencicipinya, tunggulah kedatanganku Rossalia."
Benni bergumam dalam hati nya, dan tersenyum licik.
.
.
__ADS_1
.
-Bersambung-