
-Beberapa jam sebelum penyerangan-
Mateen pergi dari kamar Rossalia, diikuti Angela yang sekilas melihat Rossalia, ada rasa kasihan dalam benaknya, dan ada pula penyesalan.
Wanita itu teringat akan anjing-anjing peliharaannya yang sangat menyayangi anak-anak mereka, memberikan kehangatan, kelembutan, dan selalu menjilati anak-anak mereka seakan memanjakan mereka.
"Cih, anjing saja tahu bagaimana merawat anaknya."
Angela mengeluarkan air mata, dan segera menghapusnya, ia berjalan dengan cepat mengikuti Mateen.
"Kau sedang apa?"
Angela berada di belakang Mateen.
"Diamlah kita harus mengendap-endap masuk ke ruang bawah tanah, aku dengar pembicaraan dari pelayan ada ruang bawah tanah, setiap hari mereka membawa makanan, dan juga sepertinya pusat kontrol ada di sana, aku harus menghubungi semua pengawalku dan Amber."
"Tapi Mateen, jika ketahuan, Peter akan membunuh kita."
"Sama saja bukan, kita juga akan menjadi kelinci percobaan mereka, sekarang atau besok sama saja, sama-sama akan mati, lebih baik mencoba dari pada kita hanya menunggu kematian, para pengawalku akan tahu titik lokasi kita, mereka akan datang menolong, Amber sangat pandai membuat kerusakan sistem."
Mateen mengendap-endap mengikuti para pelayan yang sedang membawa baki-baki makanan tertutup dengan meja dorong.
Para pelayan menoleh kekiri dan ke kanan memastikan tidak ada seorang pun yang mengikuti mereka.
Seorang pelayan wanita memberikan perintahnya,
"Kau periksalah jalan yang kita lewati tadi, aku merasa ada seseorang yang mengikuti, dan untukmu, kau tunggu di sini."
3 pelayan wanita kemudian berpencar dengan tugas masing-masing.
Mateen dan Angela dengan cepat mundur, mereka bersembunyi.
Setiap pintu Kastil di desain sedikit menjorok kedalam, mereka bersembunyi menekan punggung di pintu besar itu.
Terdengar langkah kaki semakin mendekat.
"Ya Tuhan, kita akan ketahuan Mateen."
Angela menangis dan berbisik.
"Aku takut kita akan lebih cepat mati dan dikuliti kemudian di masak untuk di berikan pada para tahanan."
"Shut up!!!"
Mateen dengan kasar menarik jepit rambut Angela di rambutnya, kepala wanita itu ikut tertarik ia merasakan sakit dan pedas di kulit kepalanya, rambut-rambutnya ikut rontok.
"Bisakah kau lebih lembut."
Angela mengeluh, kesal makin menangis, kalimatnya rancau.
"Tak ada waktu."
Mateen masih mencoba membuka pintu dengan jepit rambut Angela.
Ia berkeringat, dan tangannya semakin licin.
Terdengar pelayan itu menarik pelatuk pistolnya, sangat jelas di telinga Angela pertanda sudah semakin dekat.
"Mateen."
Angela menarik baju pria itu dengan kuat, tangan dan kakinya mulai gemetaran.
"Ah sial!!!"
Jepit rambut itu terjatuh. Mateen mengumpat, tangannya sangat licin karena keringat dingin.
Mateen menarik lagi 1 jepit rambut terakhir Angela, wanita itu kembali meringis karena sakit, apalagi ia masih memakai penyangga untuk rahangnya, ia terlihat kesal dan sangat marah.
"Ceklek."
Akhirnya pintu terbuka. Mereka masuk dan dengan cepat menutup pintu, mencoba sembunyi di manapun.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu tidak ada tanda-tanda pengawal masuk ke dalam ruangan.
Di dalam ruangan, banyak sekali lukisan-lukisan besar, dan terlihat masih dirawat.
"Lihatlah Mateen, lukisan ini aneh sekali."
"Mengerikan sekali, saat melihatnya."
Angela menyentuh dengan jari-jari lentiknya, kemudian ia menekannya.
"Ya Tuhan..."
Angela mengibaskan tangannya, ia merasa jijik.
"Teksturnya lembek sekali."
"Entahlah mungkin dibuat dari daging manusia."
Mateen menjawab sambil menempelkan telinganya di pintu, mencoba mendengarkan apakah sudah tidak ada lagi pengawal di luar.
"Iiiihhhhh..."
Angela mual membayangkannya.
"Ayo kita harus mengakhirinya, aku tidak mau menjadi lukisan seperti mereka, mungkin itu riset Peter dari sekian banyak risetnya."
Mateen membuka pintu perlahan, mengeluarkan kepalanya melihat situasi.
Angela masih merasakan mual di perutnya, berulang kali ia ingin muntah, dan berulang kali ia menggosok-gosokkan tangannya di dinding.
"Ayo kita keluar sudah aman."
Mateen menggandeng tangan Angela, wanita itu melihat tangannya yang tanpa sadar merasakan bahwa tangan Mateen besar dan kuat.
Angela terdiam melihat bagaimana Mateen dengan sikap nya sangat hati-hati dan terlihat sangat tampan.
"Ya Tuhan apa yang sedang ku pikirkan, bahkan 1 detik yang akan datang belum tentu aku selamat, mungkin saja akan mati."
Mateen berbisik.
"Ahh tidak."
Angela menggelengkan kepalanya, gugup, dan terkejut lupa akan rahangnya yang masih memakai penyangga, wanita itu kesakitan.
"Aaauhhhh..."
"Aku ingin cepat keluar dari tempat ini dan ingin tidur sepanjang hari, sepertinya keinginan biasa itu sekarang menjadi hal yang sangat mewah."
Angela berbisik, mata Angela berkaca-kaca.
Mereka masuk melalui lukisan yang bergeser, perlahan menuruni tangga besar.
Ruangan bawah tanah yang mewah, laboratorium mewah.
Angela melihat sekeliling, Mateen masih mencari-cari pusat pengendali.
"Sepi sekali, aku memiliki firasat aneh."
Mateen berbisik.
Angela masih mengikutinya di belakang, perpegangan baju milik Mateen dan mencengkramnya.
"Seharusnya di jaga pengawal bukan?"
"Kenapa sepi sekali."
Angela merasa seluruh badannya merinding.
Tak berapa lama pintu tertutup sendiri membuat Mateen dan Angela terkejut.
"Mateen apa yang terjadi."
__ADS_1
Angela panik.
Para pengawal keluar dari tempat persembunyian merek la membawa senjata-senjata besar.
"Ternyata anakku sendiri yang akan memberontak."
Terdengar suara seorang pria tua keluar dari pintu laboratorium.
"Ayah."
Kata Angela pelan.
"Baiklah, mungkin inilah saatnya riset obatku harus di uji coba."
"Pegangi mereka."
Para pengawal maju dan memegang Mateen serta Angela.
Mateen tak dapat melawan karena banyak senjata menodong ke arah mereka, bahkan angela yang masih memakai penyangga, rahangnya semakin sakit.
"Ayah, aku adalah anakmu."
"Aku selalu patuh dan menurutimu."
Angela menangis, ia tak lagi memikirkan rahangnya, hati nya lebih sakit saat melihat ayahnya sendiri menjadikannya sebagai alat percobaan.
"Aku selalu jadi anak baik."
"Ya teruslah menjadi anak baik.
"ALFRED AKU ADALAH ANAK KANDUNGMU!!!"
Angela berteriak, menangis, air matanya menetes mengaliri pipi, hingga rahangnya terasa sangat nyeri, dengan nada dan kalimat yang rancau.
"Lalu kenapa jika kau adalah anak kandungku?"
Alfred siap menyuntikkan obat ke dalam tangan Angela, tiba-tiba pintu di dobrak dan para pengawal Alfred di tembaki beruntun.
"DORR-DORR-DORRR"
Sangat cepat peluru-peluru ituberterbangan melesat jitu ke arah para pengawal yang sedang fokus pada Mateen dan Angela.
Pengawal-pengawal berpakaian serba hitam seperti ninja menerobos masuk.
Kemudian Lorez serta Nicholas masuk membidik setiap lawannya.
Alfred ketakutan ia menekan alarm tanda bahaya.
"Apa yang kalian lihat, dasar pengawal bodoh, serang mereka !!!"
Mateen kemudian melepaskan diri dari para pengawal yang sedang lengah, ia berkelahi dan merebut pistol para pengawal, ketangkasan dan keahliannya hebat, pelatihannya tak sia-sia, kemudian ia pergin ke pusat kendali menghubungi Amber.
"Kita bertemu lagi Alfred."
Nicholas melepaskan topengnya.
"Hari ini adalah hari kematianmu, kau harus membayar atas segala yang kau lakukan pada Lily."
Alfred ketakutan tidak sempat ia melarikan diri.
"DORRR"!!!
Dengan 1 tembakan Nicholas, tepat di jantung Alfred.
Angela menangis melihat ayahnya mati, memegang suntik yang akan di berikan padannya.
.
.
.
__ADS_1
-Bersambung-