CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 31- = KEKHAWATIRAN JORDAN


__ADS_3

Jordan terus merasa gelisah, ia tidak bisa tenang.


Paman Lee yang melihatnya mencoba untuk menenangkan namun tak berhasil.


Pria itu masih saja mondar-mandir, lalu duduk menggenggam tangan Rossalia, kemudian berdiri lagi, mondar-mandir lagi dan kembali duduk lagi di samping Rossalia.


Akhirnya Dokter Imanuel datang.


"Apa kau cucu dari cucunya siput, kenapa lamban sekali saat aku benar-benar membutuhanmu."


Jordan menarik nafasnya dalam, hingga dadanya terlihat membusung, ada kepanikan dan rasa lega di sana.


"Aku ada operasi hari ini dan Paman Lee menelpon ketika aku sedang membelah empedu seseorang."


"Aku tidak peduli dengan empedu, cepat periksalah, kenapa dia masih belum bangun."


Jordan masih merasa tertekan, ia menggosok-gosokkan tangannya sendiri, badannya berkeringat namun tangannya sedingin es.


"Baiklah-baiklah."


Dokter Imanuel mulai memakai stetoskop nya dan mulai menempelkan di dada Rossalia namun Jordan menahan tangan dokter itu.


"Kau saja yang periksa, mana bisa aku mendengarkan jantungnya jika tidak menyentuh dadanya."


Perlahan Jordan melepaskan cengkramannya, dan menyedekapkan tangannya, ia masih berdiri di samping ranjang Rossalia, mengawasi Dokter itu dengan mata elangnya.


Setelah beberapa menit Dokter Imanuel memeriksa, menekan ini dan itu, memeriksa nadi, mata dan mencoba mencari penyebab kenapa Rossalia masih belum sadar dari pingsannya, tentu dengan sikap Jordan yang sedikit-sedikit mengutukinya dengan kalimat-kalimat kasar.


"Sepertinya dia pernah mengalami trauma."


"Dan hari ini shock trauma itu bangkit kembali, masih sebatas shock belum benar-benar membangkitkan traumanya."


"Apakah dia akan seperti..."


Jordan tidak berani melanjutkan kalimatnya, ia tidak ingin Rossalia sakit.


"Seperti kau maksudnya?"


"Tidak separah kau, jika dia diobati dengan cepat, sepertinya pengobatan yang Mateen lakukan menekan trauma itu cukup berhasil tapi hanya sebatas menekannya agar tidak keluar atau bangkit kembali, jalan satu-satunya agar dia bisa terbebas ya menyembuhkannya."


"Mateen?"


"OKE !!!"


"Bahkan dia mengetahui Rossalia memiliki trauma, apakah mereka sudah sedekat itu !!!"


Jordan mulai mengangkat tangannya, berkacak pinggang.


"Aku bertemu dokter yang menangani Rossalia sewaktu ia dilarikan ke rumah sakit milik Mateen, kami sedikit berbagi pengetahuan, kami dokter terbiasa melakukan riset seperti itu untuk mempertimbangkan segala kemungkinan dan resiko bersama-sama, meski kami berada di perusahaan yang berbeda namun nurani kami tetaplah seorang dokter yang harus mengabdikan jiwa dan raga kami seperti sumpah kami."


Dokter Imanuel menjelaskan dengan santai.

__ADS_1


"Apa yang kau maksud trauma itu ia alami karena aku memukulinya?"


Jordan mulai merasa bersalah.


"Bisa jadi iya bisa jadi itu hanya salah satu faktornya, namun bisa jadi penyesalan dari dirinya sendiri atau bahkan menyalahkan dirinya sendiri, kita tak pernah tahu masa lalu nya seperti apa bukan?"


"Kita hanya bisa menduga-duga, jika ingin tahu kita harus mengoreknya lebih dalam lagi, namun presentasi keberhasilannya 50:50."


Dokter itu mulai duduk di sofa kamar Jordan, menyilangkan kakinya.


"Bisakah kau tidak berbelit-belit?"


Jordan mulai kesal karena ia harus bertanya dan bertanya.


"Baiklah, kita bisa mengorek masa lalu nya, apa yang menyebabkan luka trauma itu ada, namun itu akan kembali mengingatkan dia kejadian-kejadian yang membuat ia trauma, kemudian dengan mendoktrin pikirannya, kita berusaha agar ia mau untuk melepaskan luka itu, dan ia bisa sembuh terbebas dari traumanya, tapi keberhasilannya 50:50, dia akan bangkit atau justu akan semakin dalam terjerat, contoh kasusnya ada dalam dirimu."


"Metode ini justru membuatmu semakin dalam merasakan trauma."


Jordan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, ia duduk di sofa bersama Dokter itu, kedua sikut tangannya bertumpu di atas pahanya dan memegangi kepalanya, ia yakin gadis itu trauma karena dirinya.


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, kau juga punya trauma, itu diluar kendalimu ketika trauma di dalam tubuhmu bangkit."


"Mungkin sebentar lagi ia akan bangun, aku sudah menyuntikkan obat antidepresan, dosisnya cukup tinggi, kau harus menjaganya, tetaplah disisinya."


"Hubungi aku jika terjadi sesuatu."


Dokter Imanuel pamit pulang, diantar Paman Lee, yang sedari tadi Paman Lee hanya berdiri mencemaskan Rossalia, ia tahu gadis itu sangat polos, dan sejak pertama bertemu, Paman Lee sudah berharap gadis inilah yang akan mengubah Tuannya.


Jordan duduk di samping Rossalia, ia menggenggam lembut dengan kedua tangannya, sesekali tangan itu ia ciumi.


Jordan membelai kepala Rossalia.


Jordan sudah selesai mandi, ia keluar dengan memakai boxer tanpa baju, handuk berada di kepalanya, dan ia terkejut Rossalia sudah duduk menyenderkan punggungnya, dengan tergesa ia melemparkan handuk yang ada dikepalanya dan duduk di dekat Rossalia.


"Sayang kau sudah bangun?"


"Syukurlah, apakah ada yang sakit?"


"Sejak kapan kau bangun sayang?"


Jordan meraba seluruh tubuh Rossalia dengan panik.


"Tidak ada."


"Aku hanya sedikit aneh, jantungku seperti berdetak lebih cepat."


Rossalia memegangi dadanya dan wajahnya sedikit takut.


"Mungkin karena obat dari Dokter Imanuel."


"Itu akan membantumu pulih lebih cepat."

__ADS_1


Jordan memeluk Rossalia dan mendekapnya, bahkan ia lupa bahwa ia tak memakai baju, dadanya yang telanjang membuatnya merasakan lembutnya kulit gadis itu.


"Aku sedikit lapar."


Rossalia melepaskan pelukannya dari Jordan, mendorong lembut dada bidang yang telanj*ng itu dengan kedua tangan Rossalia.


Jordan merasakan siraman yang dingin di dalam dada, ketika kedua telapak tangan Rossalia menyentuhnya.


"Baik kau lapar, aku akan menyiapkan makanan yang paling enak."


Jordan sangat bersemangat karena ini kali pertamanya Rossalia mengatakan bahwa ia lapar, pria itu dengan cepat mengambil kimono nya dan turun ke dapur, lagi-lagi membuat semua pelayan shock untuk yang kedua kalinya, sepertinya dapur akan menjadi tempat yang sering Jordan kunjungi.


Jordan membawa baki yang sudah berisi makanan, ia membawa ke kamar dan Rossalia masih duduk bersandar.


Pria itu kemudian duduk di tepi ranjang tepat di samping Rossalia, sedikit demi sedikit ia menyuapi gadis itu.


"Aku akan makan sendiri."


Rossalia menarik sendok yang ada di tangan Jordan.


"Siapa yang menggantikanku pakaian?"


Rossalia masih melahap makanan di depannya, ia bertanya tanpa melihat Jordan.


"Para pelayan wanita."


Jordan merasa sikap Rossalia sedikit dingin, ("Apa mungkin karena ia terlalu lapar, sehingga sikapnya acuh dan dingin?")


Melihat Rossalia yang sangat lahap menikmati makanannya.


(" Ahhh yaa... gadis ini memang kelaparan, dari pagi belum makan dan sekarang sudah tengah malam.")


"Sayang apakah kau sangat lapar?"


Jordan mengambil sisa nasi di sudut bibir Rossalia.


Menu makanan Rossalia adalah Beef steak kualitas terbaik dengan nasi yang di bakar ala turkey.


"Iya aku sangat lapar, aku sudah merasa kelaparan saat kita akan pulang dari Panti Asuhan."


Jordan tersenyum dan merasa bahagia melihat gadisnya makan dengan lahap.


Rossalia dengan pelan menjilati sisa saus yang menempel di jari tengah nya .


Mata Jordan terpaku menatap bibir gadis itu, bibir yang ranum jari yang lentik, sedikit demi sedikit ia merasakan sengatan listrik yang aneh di dalam tubuhnya, gairahnya tak pernah hilang untuk Rossalia.


Pria yang kini hanya memakai boxer dan kaos hitam polos, masih setia menemani Rossalia yang menikmati gigitan terakhir steak kualitas terbaik.


Rossalia telah menyelesaikan suapan terakhir dan ia mengakhiri nya dengan meminum susu tanpa gula, kesukaannya.


.

__ADS_1


.


-Bersambung-


__ADS_2