
Mobil limosin mewah melaju dengan gagah memecah padatnya jalanan kota, hari minggu dimana semua orang ingin berlibur, atau hanya sekedar berjalan-jalan menyusuri menambah padatnya jalanan kota.
Seorang pria duduk dengan menyilangkan kakinya bertumpu di atas kaki yang satunya.
Pria dingin itu menyedekapkan tangannya dengan memakai setelan casual.
Celana panjang, sepatu casual, dan kaos berkerah lengan pendek berwarna putih yang semakin memancarkan ketampanannya.
Di samping nya seorang bidadari cantik, atau tepatnya gadis kecil Jordan yang sudah lama menghilang kini duduk bersama Jordan menuju Panti Asuhan yang dulu mereka tinggali.
Tak berapa lama mobil memasuki gerbang besar yang indah, dan mobil itu berhenti di halaman Panti Asuhan yang memiliki banyak pohon rindang.
"Kita sudah sampai Tuan."
Lorez membukakan pintu mobil.
"Ayo..."
Jordan mengulurkan tangannya, meminta Rossalia untuk keluar dari mobil dengan berpegang padanya.
Rossalia keluar dari mobil, berdiri sejenak, mematung, tak percaya, ia datang bersama Jordan.
Ada rasa haru, sedih, dan bahagia, semua tercampur menjadi satu.
Ya, inilah tempat tinggal mereka dulu.
Jordan berjalan dengan menggandeng tangan Rossalia.
Hari yang cerah dan Rossalia terlihat bercahaya, dengan dress merah jambu nya.
Mereka menuju ruangan Suster Kepala.
Jordan membuka pintu, namun Rossalia masih ragu, untuk melangkah masuk memikirkan semua berita yang akhir-akhir ini beredar sangat luas dan menghebohkan. Namun pada akhirnya Rossalia memilih untuk tetap masuk, kerinduannya pada Suster Kepala lebih besar.
Lorez menunggu dan berjaga di depan pintu bersama para pengawal lainnya.
Suster Kepala sedang membaca bukunya, ia mengangkat kepalanya dan menoleh.
Melihat anak-anaknya datang bersama, ada air mata yang menetes, ia merentangkan kedua tangannya menyambut mereka.
Rossalia bersimpuh di bawah kaki Suster Kepala, yang sedang duduk di kursi goyangnya memandangi anak-anak yang sedang asyik bermain.
"Aku sudah melihat semua berita itu."
"Jadilah anak baik dan ikuti hatimu."
Suster Kepala membelai kepala Rossalia dengan lembut, Rossalia menikmati setiap belaian tangan wanita tua yang penuh kasih itu.
"Bantu aku anak nakal, apa kau hanya akan berdiri saja di tempatmu seperti patung?!"
Suster Kepala memarahi Jordan, sontak membuat Rossalia kaget karena seorang Jordan hanya diam saat di perintah, dan ia melakukan perintah itu dengan tulus.
Jordan menggendong Suster Kepala untuk duduk di kursi rodanya.
Kini mereka keluar dari ruangan dan memandangi anak-anak yang sedang bermain di lapangan.
Mereka duduk di taman di bawah rindangnya pohon besar, angin sejuk menerpa wajah Rossalia, ia menghirup setiap udara yang masuk ke dalam paru-parunya. Merasakannya, betapa kerinduan itu kini terobati sudah.
Hanya Jordan berdiri sedikit jauh ditemani Lorez dan para pengawal yang masih berjaga-jaga di semua tempat.
"Suster...?"
Rossalia menahan kalimatnya.
"Yaa, aku tahu apa yang ingin kau tanyakan anakku."
__ADS_1
"Sudah hampir 1 tahun kakiku lumpuh, Jordan sudah mengupayakan banyak sekali dan berbagai pengobatan terbaik, semua sudah kujalani, namun aku sendiri yang memutuskan untuk tidak melanjutkannya, aku merasa hidup ku hanya untuk mengabdi disini dan waktuku pun sudah ku serahkan sepenuhnya di sini, aku tidak mau waktuku terbuang percuma hanya untuk berbaring di rumah sakit."
Suster Kepala menggengam tangan Rosalia dan menepuk-nepuk pelan, lembut dan tangan keriput itu menghangatkan, kemudian Suster Kepala melanjutkan kalimatnya.
"Awalnya Jordan marah, tidak mau jika aku memutuskan untuk berhenti melakukan perawatan, apa kau sudah tahu sifat Jordan yang sebenarnya?"
"Dia tidak bisa melawanku."
Suster kepala mengedipkan satu matanya kepada Rossalia.
"Panti Asuhan ini semua di dukung oleh Jordan, kau ingat bukit belakang Panti kita dimana kau tersesat?"
"Sudah 5 tahun berjalan, bukit itu sudah ramai, banyak sekali wisatawan berdatangan, Jordan membangun wisata di sana."
"Kau bisa melihatnya nanti, bukit itu sudah tak menyeramkan lagi seperti dulu."
"Aku tahu meski kau tak mau menceritakan hidupmu selama 13 tahun ini, tapi banyak luka yang kau alami dan rasakan, aku tidak ingin melihatmu tidak bahagia, pesanku untukmu anakku, pilihlah jalan sesuai hatimu dan yang membuatmu bahagia."
"Aku sudah tua, sudah saat nya ada yang lebih muda menggantikan aku, beberapa hari yang lalu kami sudah mulai mengadakan perundingan bersama Jordan pula, sepertinya kami sudah mendapatkan kandidat yang cocok menggantikanku."
"Tidak!"
"Kau tidak tua!"
"Kau tidak boleh bilang seperti itu!"
"Kau masih sanggup menjalankan semuanya."
Rossalia mulai menangis dan menyandarkan kepalanya di bahu Suster Kepala.
"Terimakasih anakku, kau memang yang paling nakal."
"Sekarang ketika aku tua, kau justru mengatakan aku tidak tua."
Suster Kepala tertawa namun terlihat ada titik air di sudut matanya yang keriput.
"Kau masih kuat..."
"Kau masih sehat..."
Rossalia memeluk Suster Kepala.
"Ingatlah pesanku, aku tidak akan tenang jika kau tidak bahagia di dunia ini, jalani dan pilih hidupmu sesuai kata hatimu, ingatlah saat kau pejamkan matamu ketika semua menghilang siapa yang paling ingin kau harapkan untuk tetap bersamamu."
Suster Kepala paling tahu dan memahami anaknya yang satu ini, dialah yang membesarkan Rossalia saat gadis itu masih bayi menangis di pinggir jalan tepat di depan gerbang Panti Asuhan.
"Baiklah Suster, kamu yang paling mengerti..."
"Tapi aku tidak mengijinkanmu menyebutkan kata tua lagi..."
"Baiklah, baiklah, aku tidak tua dan masih kuat..."
"Apa kau senang sekarang?"
Suster Kepala mencubit hidung Rossalia.
Rossalia memanyunkan bibirnya terlihat sangat imut dan Jordan melihat itu, membuat dadanya berdesir, seketika ia menggosok-gosok dadanya sendiri.
Lorez, apa kau tidak punya hati?
Jordan bertanya tanpa memalingkan wajahnya.
"Iya Tuan?"
Lorez tidak mengerti.
__ADS_1
"Baiklah ternyata kau memang tidak punya hati, jadi tidak tahu bagaimana rasanya orang yang sedang jatuh cinta."
Jordan menangkap jawaban Lorez adalah sebuah pengakuan dan bukan sebuah pertanyaan balik ketidak mengertian Lorez.
Jordan berjalan mendekati Rossalia dan Suster Kepala.
"Sepertinya sudah mulai sore, anak-anak jg sudah mulai bersih-bersih, kita harus pulang sayang."
"Suster Kepala juga harus istirahat."
Rossalia berpamitan dan memeluk Suster Kepala dengan erat, kemudian ia berdiri dan siap untuk pulang.
"Sayang kau pergilah lebih dulu, tunggu aku di mobil, jangan kemana-mana, ada sesuatu yang harus kukatakan dengan Suster Kepala."
"Lorez antar Rossalia ke mobil, dan jaga dia."
"Baik Tuan."
"Mari Nona."
Lorez mempersilahkan Rossalia untuk pergi lebih dulu.
Terlihat Rossalia berjalan semakin jauh.
"Anak nakal apa kau selalu memperlakukannya seperti itu?!"
"Apa kau menganggap Rossalia sebagai tahanan!"
Suster Kepala menepuk Kepala Jordan, namun tepukan itu tidak terasa sakit karena tangannya yang mulai melemah.
"Aku tidak mau mengambil resiko lagi Suster, aku sudah pernah kehilangan dia, dan aku hampir kehilangan dia lagi, aku tidak ingin dia menghilang lagi, kau tahu aku hampir gila, bahkan ketika aku bertemu dengannya namun tak mengenalinya, bahkan sampai detik ini pun aku tak bisa memaafkan diriku sendiri."
Jordan selalu memceritakan apa yang ia alami dengan Suster Kepala, ketika ia salah mengenali Rossalia, bahkan ketika ia mulai gila dan memukuli gadis itu.
"Jika Rossalia tidak bisa memaafkanku, aku tidak bisa memaksanya, namun aku tidak bisa melihatnya dengan orang lain atau pergi meninggalkanku."
"Aku benar-benar mencintainya, bahkan jika ia memintaku untuk memberikan seluruh dunia ini, aku akan berikan."
"Dia gadis yang polos, tidak akan meminta dunia, dasar bod*h!"
"Jaga dia jangan sampai ia terluka lagi, aku tidak akan memaafkanmu!"
"Tenang saja Suster aku akan menjaganya dengan segala kelembutan yang ada di dunia bahkan tidak akan menyentuhnya dengan kasar, dia seperti sutra terbaik di dunia."
"Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan Suster."
"Apakah kau pernah memberikan kalung kepada Rossalia bersama buku catatan sewaktu dia kesini dulu?"
"Yaahhh... aku memberikan apa yang seharusnya ku berikan dari dulu."
"Ketika Rossalia ku temukan di depan Panti, dia memakai kalung itu, karena kurasa itu adalah suatu pesan yang sengaja di berikan, aku berfikir pasti orang yang membawa Rossalia bermaksud ingin memberitahukan darimana Rossalia berasal, dan mungkin kalung itu akan membawa Rossalia ke asalnya yang sebenarnya, jadi aku menyimpannya dengan baik."
Jordan terdiam tanda mengerti maksud dari ucapan Suster Kepala.
"Baiklah, sudah mulai sore, angin sudah dingin mari kita masuk dan aku juga harus pulang, besok pagi ada setumpuk pekerjaan di kantor."
Jordan mendorong kursi roda Suster Kepala dengan pelan dan hati-hati.
"Ingatlah jangan terlalu memforsir dirimu, ingat untuk berlibur dan menikmati hasil jerih payahmu sendiri, ajak lah Rossalia berlibur bersamamu."
"Jangan lupakan pesanku, selalu jaga dan lindungi dia, gadis itu sangat polos dan lugu bahkan orang akan menganggapnya bod*h dan ceroboh."
Suster Kepala dan Jordan tertawa bersamaan, mereka bercerita di sepanjang jalan bagaimana cerobohnya Rossalia sewaktu masih kecil.
.
__ADS_1
.
.