
Di lain tempat pula, Jordan mendapatkan telepon dari penjaga gerbang dan juga para pengawal, bahwa Rossalia pergi menuju perusahaan untuk mengantarkan bekal Jordan yang tertinggal, pria itu kemudian memerintahkan para pengawal tetap menjaga jarak agar Rossalia tidak curiga bahwa ia sedang di awasi.
Jordan menanti begitu lama, tak sabar, dan tak tenang, hingga ia memilih untuk turun dan menyambut gadis itu di depan lobby.
Jordan memasuki lift khusus Presdir dengan diikuti Lorez, lift itu membawa Jordan turun, pria itu menunggu dengan kedua tangannya berada pada sakunya, dan kaki nya menghentak-hentak pelan, ia bernyanyi.
Lorez mengerutkan keningnya, melirik pada Jordan, tak percaya tuannya bernyanyi?
"Kenapa?"
"Suasana hatiku sedikit bagus saja."
"Tidak ada Tuan."
Lorez memalingkan pandangannya dari Jordan.
Lift terbuka, dan mereka berjalan keluar, namun baru beberapa langkah, mereka heran kenapa banyak sekali karyawan berkerumun di lobby.
Beberapa karyawan merasakan hawa dingin menerpa bulu kuduk mereka, dan perasaan merinding di sekitar punggungnya, pikir mereka apakah ada hantu.
Satu demi satu mereka menyingkir dan menunduk, memberikan jalan kepada Presdir untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Ketika Jordan melihat Rossalia yang sedang dalam keadaan tak baik, sama sekali tidak baik, badannya gemetar karena banyak sekali orang-orang menindasnya bahkan dari departemen dapur membawa beberapa telur untuk di lemparkan padanya.
Jordan merasakan kemarahan yang sangat dalam.
Jika di negara ini tak ada hukum, ia ingin menembaki mereka semua.
Amarahnya terlihat memuncak.
Jordan berjalan mendekati Rossalia dan berjongkok. Sepatu hitam yang berkilau dan mahal, menginjaki pecahan telur serta tepung, ia berdiri tepat di depan Rossalia yang duduk tak berdaya, kepalanya tertunduk, badan serta tangannya gemetar, kemudian Jordan berjongkok.
Para pembully mulai berbisik dan bergosip, mereka yakin Presdir akan mengusir wanita itu.
"Tuan, wanita ini memaksa ingin bertemu dengan anda, saya sudah usir, tapi dia justru menerobos masuk ingin memberikan bekal miskinnya pada anda, saya sudah mengusirnya namun ia bersikeras, mengatakan bahwa ia kenal dengan anda, banyak sekali wanita yang mengaku mengenal anda dan saya sangat muak setiap hari meladeni mereka sekali-sekali saya memberikan pelajaran, agar tidak ada lagi yang berani berpura-pura dekat dengan Presdir."
Sang Resepsionis berbohong untuk membela dirinya, yang sebenarnya ia hanya ingin membully Rossalia.
Rossalia dengan sekuat tenaga mengangkat kepalanya, ia melihat Jordan yang sudah berjongkok di depannya seketika air matanya keluar, tak bisa ia tahan lagi.
Jordan mengangkat dan menggendong Rossalia membuat semua karyawan tekejut tak percaya.
"Siapa namamu."
Jordan menatap Resepsionis itu dengan tajam.
"Sonia Tuan."
Resepsionis itu mengatakan dengan gugup dan takut.
"Kau beruntung kedua tanganku sedang menggendong gadis ini, jika tidak kau sudah ku cekik hingga terputus lehermu."
Jordan menendang wanita itu dengan sepatu kotornya.
__ADS_1
Semua karyawan tak percaya pada penglihatan mereka, Presdir yang agkuh dan dingin ternyata juga memiliki sifat yang kejam.
"Lorez suruh Freya membuat daftar siapa saja yang menyakiti Rossalia hari ini, perlakukan mereka sama seperti mereka menindas Rossalia, tambah hukuman yang lebih kejam, lalu pecat mereka dan blacklist, masukkan mereka dalam daftar hitam, agar mereka tidak dapat bekerja dimanapun."
"Baik Tuan."
Lorez kemudian menghubungi Freya.
Semua karyawan menjerit tak percaya sebenarnya ada apa, bahkan beberapa karyawan dari department dapur tiba-tiba pingsan.
"Pres-Presdir ta-tapi kenapa, mengapa kami...."
Jordan menatap tajam dan dingin, ia ingin sekali mencabik-cabik wanita itu.
"Kau menindas Nyonya Presdir."
Kemudian Jordan berjalan meninggalkan para pembully, yang mereka semua berteriak meminta belas kasihan serta meminta ampun.
Tidak jauh dari tempat kejadian Angela yang seharus nya sudah pergi namun kembali lagi karena penasaran kenapa di perusahaan yang sebesar itu ada masalah pembullyan, bahkan dilakukan oleh para karyawan.
Kini ia tahu alasannya. Pesona Jordan memang menjadi penyebab utama semua para wanita saling bertarung, menjadi iblis yang tak tahu malu.
"Untung saja aku menahan diri, hampir saja aku maju."
"Tapi kini aku tahu, gadis itu lemah."
Angela mundur dan ia benar-benar pergi meninggalkan perusahaan Jordan, masuk ke dalam mobil dan menginjak gas, dari balik kaca mata hitamnya ada sepasang mata yang siap membidik sasarannya pada setiap rencana-rencana nya. Angela tertawa sinis dan masih fokus menyetir.
Jordan masih mencoba memgendalikan dirinya dari amarah yang sebenarnya ingin ia luapkan, namun ia memilih menolong Rossalia terlebih dahulu, ia mengutamakan kekasihnya daripada keogisannya untuk melampiaskan segala amarahnya.
Kemudian pria itu melepaskan jas dan sepatunya, baju itu bau penuh dengan telur-telur yang menempel, kini tubuhnya hanya memakai boxer pendek yang ketat, badan Jordan yang tinggi dan kekar terlihat sempurna.
"Sayang lepaskan bajumu."
Jordan mendekati Rossalia, yang masih ketakutan.
"Tenanglah sayang, aku tidak akan melakukan sesuatu yang lain, aku hanya membantu membersihkan dirimu."
Rossalia duduk di dalam bathup ia melepaskan satu persatu baju yang menempel dalam tubuhnya hingga tak ada sehelai pun yang menutupinya, gadis itu malu menutup i badannya dengan kedua tangannya, wajahnya merah, Jordan menelan ludah nya, ia melihat ciptaan Tuhan yang sempurna, kulit putih mulus, leher jenjang, badan langsing dengan dada yang tak terlalu besar namun berisi, paha yang ramping, semua sempurna bagi Jordan.
Meski Rossalia dalam keadaan sangat kotor dan bau, kecantikannya tetap memancar.
"Sayang duduk lah di sini, aku akan membersihkan rambutmu terlebih dulu, sambil kita menunggu air bathup terisi."
Jordan mengambil tempat duduk bulat yang terbuat dari marmer.
Rossalia menurut, Jordan dengan telaten membersihkan rambut Rossalia yang penuh dengan tepung, telur, dan beberapa kertas sampah lainnya.
"Sayang kenapa kau tidak membalas mereka."
Kekesalan Jordan bangkit lagi.
"A-aku tidak tahu, aku pikir aku tidak punya keberanian itu, jika pun aku membalas aku takut jika itu sebuah kesalahan, atau memang aku yang bersalah telah lancang masuk kesini."
__ADS_1
Rossalia lugu, polos, dan beda tipis dengan kebodohannya, bahkan ia masih merasa bersalah.
"Mulai sekarang jika ada yang menindasmu, kau harus melawannya, aku tidak mengijinkanmu ditindas siapapun."
"Jika kau tidak bisa mengatasinya, kau bisa memanggilku."
Jordan mengambil shampo dan menggosok rambut Rossalia dengan hati-hati.
"Apakah tidak apa-apa?"
"Mereka semua karyawanmu, mereka lebih tahu perusahaan ini daripada aku."
"Apa kau tidak tahu? Nama perusahaan ini bahkan memakai namamu."
Jordan tak percaya Rossalia masih tidak sadar betapa berharganya ia untuk Jordan.
"A-aku tahu ketika saat itu kau menyiarkan kerjasama dengan UE Grup, namun aku tidak tahu alamat kantormu, aku hanya menyebutkan namamu, dan pak sopir membawaku kesini,.."
Rossalia tidak melanjutkannya.
"Jadi, kenapa kau takut dengan para karyawanmu sendiri."
Jordan menegaskan lagi.
"Karyawanku?"
Rossalia mendongak kan kepalanya keatas menatap Jordan.
Jordan terkejut melihat wajah imut Rossalia yang telanjang, bahkan kedua payudara itu terlihat kokoh.
Jordan berdehem pelan, dan memutar kepalanya melihat ke arah lain.
"Eghem..."
"Perusahaan ini ku runtis dari 0, dan ku beri nama Rossalia Grup."
"Aku ingin setiap kali bekerja, seolah kau bersamaku.
"Karena kau perusahaan ini ada, kaulah alasanku merintis perusahaan ini tanpa bantuan dari siapapun."
"Jika pun kau menyuruhku untuk melawan mereka, dan aku berkata aku adalah Rossalia, mereka tetap tidak akan percaya."
"Setelah kejadian ini semua akan menghormatimu."
Jordan meyakinkan gadis kecilnya, dan membilas kepala Rossalia perlahan, ia juga membilas badan Rossalia yang kotor.
Jordan masih sibuk mengalihkan pikirannya kemana pun, ia benar-benar berusaha menahan dirinya agar tak membuat gadis itu kembali membencinya.
.
.
.
__ADS_1
-Bersambung-