CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 78- = EDGAR MENANG?


__ADS_3

Mansion di hebohkan dengan Lorez yang membawa para pengawal masuk menggeledah seluruh ruangan.


Pria itu telah kembali ke Negara K bersama Edgar.


"Geledah semuanya."


Kata Lorez.


Para pengawal mengeledah masuk ke seluruh ruangan dan membawa Rossalia yang hanya memakai gaun malam berwarna putih sepanjang lututnya.


Sedangkan Sarah dan anak laki-lakinya duduk di sofa tak jauh dari Edgar yang duduk dengan menghisap rokoknya, saat Rossalia turun di jaga beberapa pengawal.


Edgar kemudian mematikan rokok dan berdiri memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


Rossalia menatap tajam Lorez, tatapan penuh kebencian, mata yang sangat menantang, dan garang.


Paman Lee yang sedang bertugas di dapur pun tak luput dari penyeretan.


"Jangan salahkan aku, jika kalian marah salahkanlah Jordan, kenapa ia selalu melawanku, di dalam bisnis tidak semuanya berjalan sesuai keinginannya apalagi kekuatan mafia turut andil dalam menjalankannya."


Edgar berjalan menghampiri Rossalia.


"Aku akan membuatmu menyukai permainan kita."


"Aku lebih pintar menyenangkanmu, apa kau mau mencobanya?"


Kata Edgar meraih dagu Rossalia.


"Sedikitpun aku tidak sudi kau sentuh!!!"


Rossalia memalingkan kepalanya, mencoba menjauhkan tangan Edgar dari dagunya.


"Di malam yang gelap itu, aku menciumi lehermu, dan kau menikmatinya, mendesah, bahkan meminta lebih kenapa sekarang saat didepan banyak orang kau berlagak suci?"


Edgar memasukkan kedua tangannya lagi ke dalam saku celanannya.


"Kau ketakutan ketika pelayan si pak tua itu datang."


"Menggelikan."


Edgar tertawa ringan.


"Jangan mengarang cerita."


Kata Rossalia geram dan melotot.


Lorez menatap Rossalia, entah apa yang ia fikirkan, namun tatapan itu menjadikan Rossalia seakan terintimidasi dan tersudut.


Paman Lee hanya menundukkan kepalanya, ia tak tahu harus bagaimana, apakah tuannya benar-benar sudah kalah dan mati.


"Aku akan melepaskanmu, tapi bersikap baiklah, aku tidak ingin memenjarakan wanita secantik dirimu, layani aku seperti kau melayani suamimu."


Edgar mendekatkan wajahnya pada Rossalia hingga hidung mereka bersentuhan.


"Bermimpilah!!!"


Teriak Rossalia.


"Bunuh pelayan yang paling ujung."


Perintah Edgar pada pengawalnya.


"Baik boss."


Salah satu pengawal menjawab.


"-DOOORRR-!!!"


Dan benar saja pengawal Edgar menembakkan pistolnya pada pelayan paling ujung. Edgar adalah orang yang kejam ia tidak pernah hanya mengancam belaka.


"AAAAHH!!!"


Rossalia berteriak diikuti para pelayan yang lainnya.


"Ya Tuhan..."


"Ya Tuhan..."

__ADS_1


"Ampunilah kamu tuan kami hanya pelayan tidak tahu apa-apa..."


Para pelayan berteriak dan memangis sambil memohon pada Edgar.


Jason menutup mata dan menutup telinganya sendiri dengan kedua tangan mungilnya.


"Apa kau sudah membuat keputusan yang bijak?"


Edgar bertanya kembali.


"Tidak akan!!!"


Rossalia masih tetap pada pendiriannya.


"Kau tahu, Jordan melawanku mati-matian saat aku akan mendirikan laboratorium di Kota S, menjegalku dan menggulingkan perusahaanku, dia bilang laboratoriumku hanya akan mencemari keindahan Kota S, ternyata dia sendiri yang mendirikan proyek nya di kota itu."


"Jika kau masih mengharapkannya kembali sepertinya itu cukup sulit, karena dia sudah mati di bunuh para pengawal-pengawalku, mayatnya telah terbakar habis di gedung tua."


Edgar membuat ekspresi prihatin di wajahnya.


"KAU BOHONG!!!"


Teriak Rossalia.


"Kau bisa bertanya pada Lorez, dialah yang membawa Jordan padaku, tubuh suamimu lemah, tak berdaya, para pengawalku memukulinya, bahkan Lorez juga ikut memukuli suamimu."


Edgar menunjuk pada Lorez.


Tatapan Rossalia kembali tertuju pada Lorez, tatapan yang nanar dan mengerikan.


"Jika kau masih menolak, aku akan membunuh pelayan-pelayan itu lagi."


Kata Edgar mengancam.


Pelayan-pelayan Mansion saling berteriak histeris, ketakutan, dan ngeri namun pengawal-pengawal Edgar segera menutup mulut mereka dengan mengacungkan pistol-pistol mereka tepat di hadapan wajah-wajah para pelayan.


"Apa kau mau melayaniku?"


Kata Edgar bertanya kembali.


"Pikirkanlah, jawabanmu menentukan nasib nyawa mereka."


"Terserah apa mau mu."


Rossalia menjawab lirih.


"Apa?"


Edgar mendekatkan telinganya di mulut Rossalia pertanda ia tidak mendengar dan menginginkan jawaban yang pasti.


"Terserah maumu asal bebaskan para pelayan."


Kata Rossalia lagi.


"Hmmm... itu bukan jawaban yang ku inginkan, tembak satu pelayan lagi."


Kata Edgar yang tidak puas dengan jawaban Rossalia.


"Baiklah, Baik..."


"Aku akan melayanimu..."


"Apa kau puas dengan jawabanku?"


"Tapi aku mohon jangan sakiti mereka..."


Kata Rossalia memohon.


"Kau cepat belajar."


Edgar membelai kepala Rossalia dengan lembut.


Lorez menelan ludahnya kasar, ia kembali memerintahkan para pelayan untuk secepatnya bubar, dan menyuruh pengawal membereskan pelayan yang sudah mati.


Paman Lee menatap Lorez, menerka dan menilik, membaca dan mencoba menerawang. Ada sesuatu di sana, namun Paman Lee hanya diam dan perlahan berbalik memutar tubuhnya kembali ke dapur dengan tubuh gemetar.


"Ah aku lupa dengan boneka ku yang lain."

__ADS_1


"Kau kembali ke kamar dan jangan keluar saat aku tidak menyuruhmu, bawa anakmu juga."


Kata Edgar pada Sarah.


Rossalia telah kembali ke dalam kamar, ia mengunci pintu nya dengan cepat dan mengamati apakah Edgar akan mengejarnya lalu masuk ke dalam kamar, ia hanya berdiri termenung menatap pintu, jantungnya berdegup kencang, ia gugup dan ketakutan.


Lama ia berdiri sembari mencubiti jari-jarinya sendiri hingga menimbulkan goresan-goresan luka di sudut-sudut jari kukunya.


Dirasa tak ada yang mendobrak pintunya, Rossalia melepaskan nafas panjang, tubuh mungilnya lemas tak bertenaga, ia menjatuhkan dirinya ke lantai duduk dengan lemas.


"Jordan..."


Rossalia menangis menatap lantai, tertunduk, duduk bersimpuh, kedua tangannya menopang tubuhnya yang lemas.


"Kau berjanji tidak akan meninggalkanku..."


Bisik Rossalia lagi.


"Aku harus bagaimana..."


Rintih Rossalia lagi.


"Maafkan aku..."


.


.


.


.


Perusahaan Rossalia Grup di landa krisis yang besar. Freya serta Sean bahkan tidur di perusahaan karena mereka harus setiap waktu menjaga dan mengendalikan perusahaan.


Kabar bahwa Mansion telah di ambil alih oleh Edgar telah sampai di telinga mereka.


Brida yang masih berada di markas besar entah sedang menyusun rencana apa namun ia memberikan peringatan agar Freya serta Sean tidak melawan tetap ikuti alur yang Edgar mau.


Freya dan Sean di landa ke khawatiran, serta duka yang dalam masih menyelimuti perasaan mereka.


Tentang apakah benar Jordan telah mati dan Lorez lah yang mengkhiatinya.


Tubuh mereka lemas seketika, tak berdaya hanya duduk termenung dalam kursi di balik meja yang penuh dengan tumpukan-tumpukan kertas pekerjaan.


Freya menghapus air mata yang menggenang, Sean kemudian berdiri dan menghampiri Freya.


Memeluk kekasihnya dari belakang.


"Kita bisa melewati ini semua."


Kata Sean menguatkan.


"Aku tidak tahu bagaiman kabar Nona Rossalia, semoga dia baik-baik saja."


Freya kembali menghapus air mata nya yang jatuh.


"Cobaan demi cobaan menghujami mereka secara bertubi-tubi."


Kini Freya menangis tersedu, membuat tisu nya semakin basah.


Sean hanya bisa memeluk dari belakang, punggungnya sedikit membungkuk.


"Sean cobalah lacak tuan Jordan dengan kekuatan yang kita punya."


Freya mulai tidak tenang.


"Tidak semudah itu, sekarang semua alat sedang di sadap."


"Lebih baik kita fokus menyelamatkan perusahaan dulu, aku menduga semua yang terjadi serta permasalahan yang kian melebar di perusahaan ada kaitannya dengan Edgar."


Sean membujuk Freya agar lebih berfikir tenang.


.


.


.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2