CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 14- = PERTEMUAN RAHASIA


__ADS_3

Di dalam cafe mewah bernama Bluesky, duduklah seorang gadis cantik dan laki-laki tampan.


Luna duduk di hadapan laki-laki yang memperlakukannya dengan hangat.


Bahkan saat pertama kali bertemu di Hotel Amour, Luna yakin dia laki-laki baik, sejak saat itu Luna selalu diperlakukan dengan lembut.


Badan Luna gemetar, dia sangat takut, wajahnya seketika menjadi pucat, tangannya pun dingin, dia meremas-remas kedua tangannya sendiri.


Mateen menggenggam tangan Luna, dan merasakan kehangatan di sana.


"Apakah namamu benar Rossalia?"


Luna hanya mengangguk.


"Siapa saja yang tahu kau berbohong ?"


Mateen masih menggenggam tangan Luna dengan lembut, sesekali dia mengelus lembut punggung tangan Luna.


"Mungkin hanya ibu saya, Tuan Herder mungkin tidak tahu jika saya berbohong..."


"Apakah kau tahu jika kakak tirimu kemarin mencoba menerobos Hotel kami?"


"Dia pikir akulah yang datang pada malam itu, pada saat memberikan kompensasi pada ibumu..."


"Karena disana orang yang paling mereka tahu di daerah selatan hanya aku..."


"Mereka pikir akulah pemilik wilayah daerah selatan..."


"Aku percaya Herder tidak akan membuka mulutnya tentang semua yang menyangkut Jordan, bahkan jika keluargamu bertanya pada Herder tentang kamu."


"Jadi apa yang seharusnya saya lakukan Tuan..."


Luna menatap Mateen, dia menangis.


"Saya hanya sudah lelah hidup dengan ibu tiri saya, dia sangat kejam."


"Saya pikir saya bisa lepas dari Tuan Jordan, dan menghidupi diri saya sendiri di sini."


Luna tak berdaya.


Mateen semakin ingin mendapatkan Luna dan melindunginya .


"Ini adalah pekerjaan sulit."


"Apa kau mempunyai salinan perjanjian kalian?"


"Aku akan mempelajarinya."


"Saya menyimpannya, waktu itu Nona Freya memberikannya ketika pertama kali saya tiba di Mansion.


"Dokumen itu juga berisi daftar tugas-tugas apa saja yang harus saya lakukan untuk melayani Tuan Jordan."


"Baiklah besok kau harus membuat alasan untuk keluar."


"Kemudian pergilah ke Taman Patung yang berada di tengah Kota."


"Aku akan menunggumu disana."


Mateen menyentuh pipi Luna yang penuh air mata, dan menyekannya dengan tangan kiri, tangan kanan masih menggengam tangan Luna.


Freya mendatangi dan memberitahukan kepada Mateen jika Luna harus kembali ke Mansion.


Dengan berat hati Mateen membiarkan Freya membawa pergi Luna.


.


.


.


.


-Mansion Pearl-


Luna masuk ke dalam kamar nya, dia mencari cari dokumen itu dan mengumpulkannya.


Semalaman dia merasa gelisah memikirkan alasan apa yang harus dia buat.


Kemudian dia memberanikan dirinya untuk keluar kamar dan mencari Jordan.


Luna menuruni tangga namun hanya terlihat para pelayan yang sedang bekerja.


Luna berjalan mengelilingi ruangan, disana ada Paman Lee.


"Paman Lee apakah Tuan Jordan sudah kembali ?"


"Tuan Jordan baru saja pulang, namun sepertinya mood nya kurang bagus."

__ADS_1


"Apakah saya bisa bertemu dengan nya ?"


"Mari ikuti saya, saya akan menanyakan nya dulu...?"


Paman Lee mengajak Luna mengikutinya.


Luna melihat sekeliling, mereka berjalan melawati lorong panjang, dia belum pernah datang kemari, lorong ini terlihat sepi namun terjaga kebersihannya.


"Nona Luna, Tuan ada di dalam ruangan ini, ruangan ini adalah ruangan terlarang, hanya saya dan tuan Jordan yang boleh masuk, saya pun hanya membersihkan ruangan ini."


"Saya akan masuk dan menanyakannya terlebih dahulu, anda tunggu di sini."


Paman Lee masuk ke dalam ruangan, dan beberapa menit kemudian Paman Lee keluar.


"Tuan Jordan akan menemui anda di ruang baca, mari ikuti saya Nona."


Luna hanya mengangguk dan mengikuti Paman Lee.


Di dalam ruang baca Luna duduk di sofa sendirian, Paman Lee meninggalkan nya.


Pintu tiba-tiba terbuka , dan itu adalah Jordan.


Jordan tidak melihat Luna, dia terus berjalan, kemudian duduk di kursi besarnya, membuka laptopnya.


"Kemarilah !!!"


Luna berdiri di samping Jordan.


Jordan menarik tangan Luna hingga terduduk dipangkuannya, sembari mencium tangan Luna, tiba-tiba Jordan mengernyitkan keningnya, dan membuang tangan Luna dengan kasar.


"Ada perlu apa?!"


Jordan berpindah menciumi leher Luna, sambil tangannya memeluk Luna.


"Tuan boleh kah besok pagi saya pergi ke toko buku di dekat Taman Patung?"


Luna menundukkan kepalanya, dia sangat takut.


"Baiklah, namun Freya tidak dapat menemanimu, dia sedang sibuk."


"Pergilah memakai sopir."


Jordan terus menatap Luna, entah apa yang sedang dia pikirkan.


"Apakah kau sudah mandi ?"


"Apakah saya bau tuan?"


"Bau mu seperti laki-laki itu."


"Mandilah sana !!!"


Jordan mendorong Luna untuk pergi, kemudian dia memencet tombol panggilan cepat.


"Paman Lee, siapkan sabun dan parfum terbaik untuk Luna, panggil beberapa pelayan untuk memandikannya."


Jordan terlihat marah dan melihat Luna.


"Kenapa masih disini, apa aku harus memandikanmu ?"


Jordan terlihat sangat sinis.


"Ti-tidak tuan maafkan saya..."


Luna dengan secepat mungkin meninggalkan Jordan dan keluar dari ruang baca yang mencekam itu.


Tengah malam Jordan keluar dari kamarnya dan menuju kamar Luna.


Dia melihat Luna sangat seksi memakai piyama warna merah.


P*yud*ranya sedikit terlihat dan sangat berisi.


Jordan mendekat dan berbaring di samping Luna, memeluknya dari belakang.


Menciumi tengkuk Luna, rambut Luna serta bahu Luna.


"Nyaman sekali tidur seperti ini."


Jordan menderita insomnia, gejala depresi dan penyakit merujuk pada borderline personality disorder, penyakit itu datang ketika Jordan sangat terobsesi dengan Rossalia, ketika tidak dapat menemukan Rossalia.


.


.


.


-Keesokan pagi-

__ADS_1


Luna terbangung dari tidurnya, dia merasa semalam ada yang memeluknya namun ketika dia bangun tidak ada seorang pun di kamarnya.


"Apakah aku bermimpi tidur dengan tuan Jordan?"


"Astaga, aku harus bergegas, tidak boleh memikirkan yang tidak perlu."


Luna bersiap-siap untuk pergi, dia membawa dokumen-dokumen itu di dalam tasnya.


Saat akan pergi Paman Lee menyuruh agar Luna memakai sopir karrna Jordan berpesan seperti itu.


Luna memutar kembali otaknya bagaimana dia harus lepas dari sopir dan pengawal-pengawal ini.


Di perjalananan Luna terus berfikir.


Sampai di toko buku dia terus diikuti oleh pengawal-pengawal yang serba hitam.


"Apakah saya boleh berjalan-jalan sebentar di sekitar sini?"


"Hanya sebentar saja, saya tidak akan kemana-kemana?"


"Baiklah Nona, namun kami harus tetap berada di sekitar Nona."


Salah seorang pengawal menjawab.


Luna berfikir jika dia berjalan-jalan di Taman Patung pasti Mateen akan melihatnya.


Benar saja , kini Mateen berada tak jauh dari Luna. Dia memakai celana panjang, memakai kaos oblong putih dengan jaket abu-abu dan topi hitam. Terlihat sangat tampan.


Mateen menelpon para pengawalnya pria dan wanita untuk menyamar menjadi pengunjung dan memadati taman.


Kemudian semua berdesak-desakan.


Luna merasa tangannya di tarik seseorang, kemudian Mateen memeluk Luna dengan erat dari kerumunan, yang sebenarnya kerumunan itu adalah pengawal-pengawal Mateen.


Akhirnya mereka tiba di suatu tempat yang sepi dan beberapa pengawal berjaga disana.


Mateen masih memegang tangan Luna.


Mereka duduk dan Luna memberikan dokumen itu pada Mateen.


"Ini adalah salinan dokumen nya Tuan Mateen."


Mateen memeriksannya dengan serius, dia terlihat sangat marah melihat isi perjanjian serta tugas-tugas Luna melayani Jordan, bahkan Mateen tidak bisa membayangkan ketika Luna harus melayani Jordan mandi.


"Apa kau melakukan semua ini?!"


Mateen mengangkat dokumen itu dengan marah dan membuangnya ke tanah, Luna yang akan mengambil dokumen itu seketika di tarik ke dalam pelukan Mateen.


Mateen mencium kepala Luna.


"Tu-tuan lepaskan saya, saya tidak bisa bernafas, kenapa anda memeluk saya..."


"Kau tidak usah mencari dokumen asli itu?"


Mateen masih memeluk Luna dengan erat.


"Sekarang jalan satu-satunya aku harus berperang dengan Jordan, entah sebagai sesama mafia atau pun pembisnis."


"Tidak tuan, jangan !!!"


"Saya tidak ingin menjadi pembawa bencana untuk siapapun."


"Saya akan mencari dokumen perjanjian nya yang asli."


"Luna, itu berbahaya untukmu."


"Tuan Mateen, saya harus segera kembali, para pengawal pasti menelpon Tuan Jordan."


"Baiklah ayo akan ku antar kau pulang."


"Tidak."


"Biarkan saya pergi sendiri, saya tidak ingin Tuan Jordan melihat kita."


"Tuan sudah banyak membantu saya."


"Baiklah, namun berjanjilah untuk menjaga dirimu."


"Baik tuan..."


.


.


.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2