CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 42- = MENYATU DALAM CINTA


__ADS_3

Jordan masih sibuk membantu Rossalia membersihkan kotoran yang melekat, ada banyak tepung, telur dan juga sampah kertas yang menempel di rambut gadis itu.


Setelah selesai dengan urusan rambut, Jordan beralih memberikan sabun beraroma wangi di bathup, hingga bathup dipenuhi dengan busa-busa lembut.


"Masuklah ke bathup, kau sudah bersih, aku akan membantu menyabunimu."


Jordan duduk lebih dulu menyenderkan punggungnya di ujung bathup, tangannya terulur menyambut Rossalia menanti ia ikut bergabung.


"Ke-kenapa kau juga ikut masuk."


Rossalia masih canggung memeluk lengan kirinya. Wajahnya merah karena malu.


"Aku juga terkena telur-telur dari badanmu saat menggendongmu, masuklah aku akan menggosok punggungmu."


Tangan Jordan masih terulur ke atas, meminta Rossalia masuk dan menyambut tangannya.


Rossalia memegang tangan kokoh itu, dan perlahan ia ikut duduk di dalam bathup.


Pria itu mulai menggosok punggung Rossalia pelan dan lembut menggunakan shower puff.


"Akhirnya alat ini berguna juga, Freya selalu meletakkan ini di kamar mandi, setahuku ini alat untuk wanita mandi."


Jordan masih menggosok Rossalia dengan telaten, dan shower puff itu berwarna pink, rambut basah Rossalia berada di samping bahu kanannya, membuat punggung itu terlihat indah.


Tangan kiri Jordan memegangi bahu kiri Rossalia.


Cukup lama mereka terdiam, Jordan merasakan tubuhnya mulai bereaksi karena Rossalia benar-benar menggoda, sedang kan Rossalia sedikit banyak kepalanya di penuhi pikiran bahwa Jordan akan menyerbunya dengan kasar seperti waktu-waktu sebelumnya.


Namun Rossalia kini sadar, perbedaan Jordan yang mengenalnya sebagai Luna dengan Jordan yang mengenalinya sebagai Rossalia. 1 pria dengan sikap yang berbeda.


Kini Jordan begitu lembut dengannya, ia ingat beberapa kali Jordan takut jika ia marah.


"Terimakasih..."


Rossalia membuka obrolan yang sekian menit mereka dalam keheningan.


"Hem?"


Jordan berhenti menggosok punggung Rossalia dan bertanya, karena ia tidak mengerti.


"Terimakasih kau menjadi Jordan yang aku kenal."


"Mungkin sekarang aku tidak lagi merasa kau seperti orang asing bagiku."


"Apa kau memaafkanku?"


Jordan mencoba melihat wajah Rossalia yang tertunduk, dari balik punggung gadis itu, dan Rossalia mengangguk.


"Benarkah, kau memaafkanku?"

__ADS_1


Kini Rossalia memutar badannya dan melihat ke arah Jordan.


"Aku memaafkanmu."


"Ohh shit !!!"


Jordan terkejut melihat Rossalia yang memutar badannya, kini ia menghadap Jordan, busa-busa halus menyelimuti tubuhnya hingga batas dadanya.


"Apa kau marah?"


Rossalia tak kalah terkejut.


"Tidak sayang, aku hanya tidak tahan melihatmu saat kita sedang seperti ini."


"Rasanya aku ingin berterimakasih dan memelukmu, karena kau sudah memaafkanku, tapi aku takut tidak bisa menahan diriku lagi."


"Ayo bilas badanmu, berdirilah aku akan menyalakan showernya, setelah selesai tunggulah aku di kamar, mungkin Freya sudah menyiapkan bajumu."


Jordan memalingkan wajah dan kepalanya melihat ke arah lain saat ia berbicara, ia benar-benar berjuang menahanya, bertarung dengan dirinya sendiri.


Rossalia menurut, ia berdiri di samping bathup badannya penuh dengan busa namun ketika ia hendak berjalan kakinya tergelincir karena licin, Jordan memegangi tubuh gadis itu menjaganya agar tak terjatuh sedangkan badan Jordan bersandar di dinding, paha panjang Jordan menahan tubuh Rossalia, tepat berada di tengah-tengah kaki Rosaalia, gadis itu diam tak bergeming mendadak tubuhnya terasa kaku. Sedangkan tangan Jordan melingkar mendekap erat gadis itu.


"What the f*ck, maaf sayang aku tak bisa menahannya lagi."


Jordan mencium gadis itu dengan rakus, nafsunya yang sudah ia tahan sejak lama kini pertahanan itu hancur seperti bendungan kokoh yang di jebol paksa oleh kekuatan air yang dahsyat.


Tangan Jordan membelai punggung Rossalia dengan lembut, sabun yang menempel membuat tubuh mereka semakin licin.


"Jo..Jordan... "


Rossalia tidak dapat mengatakan apapun, tubuhnya menikmati setiap sentuhan Jordan, tangan Jordan membelai lembut lekuk tubuh gadis itu.


Kemudian Jordan membawa Rossalia untuk membilas badan mereka, dengan berjalan perlahan ia tetap menciumi bibir gadis itu dengan lembut, tangannya memeluk erat Rossalia, pria itu menuntun langkah kaki Rossalia, kini mereka tepat di bawah shower, Jordan menghidupkan shower dan air menyiram mereka.


Gerakan Jordan makin liar saat tubuh Rossalia tidak ada penolakan sedikitpun.


Jordan menggendong Rossalia menuju kamar dan membaringkannya, ia mulai menciumi leher gadis itu lagi, dan mulai menuruni tiap inci nya


Perlakuan Jordan pelan, dan selembut mungkin.


Desahan dan nafas Rossalia terpacu saling beradu.


Kini tiba saat nya Jordan dengan gentle, mencoba menyatu dengan Rossalia.


Pria itu menahan tubuhnya dengan kedua tangan kokoh yang kekar, berada di atas Rossalia.


"A-aku takut, ini pertama kalinya untukku."


Mata Rossalia sendu, cantik dan penuh keringat.

__ADS_1


"Ini juga pertama kalinya untukku, aku akan melakukannya dengan pelan."


Jordan mengecup kening Rossalia.


Kedua tangan kokoh Jordan masih bertumpu di atas ranjang.


Rossalia menjerit, ia kesakitan, kepalanya menggelang kekiri dan kekanan, tangannya mencoba untuk mendorong Jordan untuk pergi menjauh, air matanya menetes, Jordan kembali menenangkan gadis itu, membelai rambutnya dengan lembut.


"Tenanglah sayang, rilex, rilex sayang..."


Jordan membelai kepala Rossalia dengan lembut.


Menciumi bibir gadis itu, dan dengan lembut menelusuri leher Rossalia memberikan sentuhan-sentuhan agar membangkitkan gairah gadis itu kembali.


Jordan mengatur ritme gerakan.


"Apa kah masih sakit?"


"A-aku tidak tahu..."


Rossalia menutup matanya dengan kedua tangannya.


Jordan meraih kedua tangan Rossalia dan ia arahkan untuk memegang i leher kokohnya.


"Jangan menutupi wajahmu, aku ingin melihat wajahmu yang cantik."


Sudah satu jam berlalu hingga entah berapa kali gadis itu mencapai puncaknya, mendesah dan mengerang lembut, Jordan yang melihat wajah polos Rossalia keletihan, matanya sendu, merasa tidak tega, ia mempercepat permainannya, ini pertama kalinya bagi mereka, Jordan tidak ingin serakah, masih ada waktu panjang bagi mereka.


Pria itu berbaring turun kesamping, mendekap Rossalia dengan erat dan menciumi wajah yang lelah, dan mereka memejamkan mata tidur bersama karena kenikmatan yang menjalar disetiap syaraf dan mengaliri di setiap darah mereka.


Waktu sudah menunjukkan jam makan siang, dan Rossalia masih belum bangun, Jordan sudah rapi memakai setelan jasnya yang telah diaiapkan oleh freya, ia sudah mandi terlihat tampan, gagah, dan kokoh menurut Rossalia.


Jordan melihat gadis itu menggeliat, ia membelai lembut kepala Rossalia, gadis itu membuka pelan matanya, memeluk selimut yang menutupi tubuhnya.


"Terimakasih sayang, kau memaafkanku, dan memilihku."


"Sayang bangunlah, dan mandi, Freya sudah menyiapkan bajumu."


Jordan masih duduk di samping Rossalia mencium kening gadis itu lagi.


"Aku akan menunggu mu di ruang kantor, ada sesuatu yang harus ku tunjukkan padamu."


Lagi-lagi Jordan mengecup kening Rossalia, betapa ia mencintai gadis itu, kemudian berlalu meninggalkan Rossalia.


.


.


.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2