
Mateen melihat Rossalia dalam pelukan Jordan, ia di selimuti rasa cemburu, bahkan takut Rossalia akan kembali pada lelaki itu.
Mateen ingin melampiaskan amarahnya pada Jordan, yang sudah cukup lama tertahan, namun ia ingat bahwa hari ini adalah hari bahagianya.
Jordan melihat Mateen yang sudah berdiri di depannya, ia melepaskan pelukannya, namun masih menahan tangan Rossalia.
"Sejak kapan kau tahu dia adalah Rossalia."
Tatapan Jordan serasa ingin membunuh Mateen.
"Bagiku tidak penting dia Rossalia atau Luna."
"Aku sudah memperingatkanmu, jika kau berani menyakitinya lagi, kau bahkan tidak bisa menahanku untuk merebutnya darimu."
Mateen meraih sebelah tangan Rossalia untuk mendekat dengannya, namun Jordan masih menahan sebelah tangan Rossalia.
"Lepaskan tanganmu, sekarang Rossalia adalah kekasihku."
Mateen masih menahan emosinya, yang siap meledak.
Jordan yang tak mau kalah tetap tidak mau melepaskan Rossalia.
"Dia masih terikat perjanjian tertulis denganku, apa kau lupa !!!"
"Amber dan para pengacara hebat MATH GRUP akan mengurusnya."
Mateen bersikeras.
Rossalia menahan sakit, tangannya ditarik kesana dan kemari.
"Aku mohon kalian jangan bertengkar."
"Bisakah kalian melepaskan tanganku, ini menyakitkan."
Para pria bersamaan melepaskan tangan mereka. Rossalia berjalan menjauh dari Jordan, namun kembali Jordan menahan tangan gadis itu, ia benar-benar tidak rela.
"Rossalia, aku mohon, aku bisa mati jika kau pergi meninggalkanku."
Rossalia membiarkan Jordan memegang tangannya, namun badannya tak berbalik ia tetap membelakangi Jordan, air matanya masih saja mengalir.
"Bukan aku yang meninggalkanmu, kau yang telah meninggalkanku, dan membuangku, bahkan ketika kau memukulku aku percaya kau akan berhenti dan akan mendengar penjelasanku."
"Ketika aku berada di rumah sakit, lagi-lagi aku masih berharap kau akan datang menemuiku."
"Ketika aku menghilang dari pandangan matamu aku masih berharap kau mencariku, namun kau tidak pernah datang."
"Aku hanya ingin menjelaskannya padamu, namun kau bahkan tidak pernah memberikanku sedikit saja waktumu."
"Kau benar, aku memang naif."
Rossalia memperkuat kakinya, badannya mulai lemas, dadanya begitu sesak, air matanya tak berhenti mengalir, dan suaranya parau.
Kini Rossalia menatap Jordan.
"Apa kau ingat, aku pernah tersesat di bukit belakang Panti Asuhan kita, kau lah yang p1 kali menemukanku, aku bilang padamu jika hingga tua aku tersesat disini apa kau akan mengenaliku, kau bilang akan langsung mengenaliku, bahkan jika wajahku berubah, namun saat kita p1 kali bertemu bahkan wajahku belum menjadi tua tapi kau justru menjadi monster yang tak pernah aku harapkan."
"Apa kau ingat ketika aku terjatuh dan kaki ku berdarah, kaulah orang yang paling khawatir, kau menggendongku di punggungmu, dan merawat luka di kakiku hingga sembuh."
__ADS_1
"Apa kau tahu seberapa dulu aku bergantung dan percaya padamu?"
"Apa kau tahu selama 13 tahun aku berharap kau menemukanku."
"Namun harapan dan kepercayaanku padamu kini sudah sirna."
Petir menggelegar pertanda akan turun hujan, kelap kelip langit membuat nya semakin menyeramkan.
Namun mereka tak berpindah sedikitpun.
Hingga hujan mengguyur badan mereka.
Rossalia sudah mengatakan apa yang ingin ia katakan, meluapkan segala isi hatinya.
Mateen memberikan jas nya kepada Rossalia, dan memeluknya.
"Aku tidak mau kau sakit, ayo kita masuk."
Mateen memapah calon tunangannya, mendekap badan Rossalia yang sudah basah kuyup, air matanya bercampur dengan hujan, badan dan jiwanya sudah letih, hatinya remuk dan sakit.
Dalam hati Rossalia berkata,
"Jika saja, kau mau mendengarkan penjelasanku, jika saja kau datang lebih awal disaat aku masih percaya dan berharap padamu."
"Bahkan ketika kau dengan buasnya memukuliku, saat itu aku masih mengharapkanmu."
Dibawah langit yang gelap, hujan lebat, dan kilat serta guntur terus saja bergemuruh. Jordan masih terdiam mematung, ia melihat telapak tangannya sendiri, baru saja ia menggengam tangan kekasih masa kecilnya namun tangan itu jugalah yang ia gunakan untuk memukuli gadis itu, dan kini gadis itu menghilang dari gengamannya, bahkan gadis yang ia cinta i mengganggapnya sebagai monster.
Hujan mengguyur badan Jordan, dengan lemah dan lunglai ia menuju mobil nya.
Tanpa ia memikirkan keselamatannya sendiri.
Emosi nya kian memanas ketika mengingat bagaimana ia memukuli gadis yang ia cintai dan ia cari selama 13 tahun.
Gadis yang dulu paling ingin dia lindungi, gadis yang paling ia sayangi, dan gadis yang paling ingin dia bahagiakan kini terluka karena kekejamannya.
Bertahun-tahun Jordan berusaha mencari Rossalia hingga dirinya depresi kini ia sendiri lah yang membuat gadis itu membencinya.
Jordan menghentikan mobil nya di pinggir jalan yang sepi, ia keluar dan melihat danau yang luas.
Hujan telah berhenti, namun mendung masih menyelimuti malam itu, guntur dan kilat masih saling bersahutan.
Dari nya berdiri ia bisa melihat gedung-gedung tinggi dengan layar tv yang sangat besar serentak menyiarkan berita-berita Mateen dan Rossalia.
Bahkan foto-foto mesra itu menjadi terpampang jelas dimana-mana.
"Pertunangan kalian 1 minggu lagi bukan?"
"Artinya aku masih punya waktu 1 minggu untuk merebut Rossalia kembali."
"Aku adalah Jordan, sesuatu yang ingin ku miliki harus ku dapatkan dan selalu ku dapatkan, meski harus menghancurkan segalanya, semua akan ku hancurkan."
Jordan bergumam sendiri di dalam kegelapan malam dan kesunyian.
Hanya samar-samar lampu-lampu besar dari gedung-gedung itu menyinarinya.
Jordan kembali melajukan mobilnya, memecah kegelapan malam kembali menuju Mansion.
__ADS_1
Mobil sport mewah berwarna hitam berhenti dan terparkir di halaman Mansion yang luas, di depan pintu yang besar para pelayan menundukkan kepala mereka pertanda mereka hormat pada sang pemilik Mansion.
Lorez, Freya, dan Paman Lee mengikuti Jordan, mereka heran Jordan basah kuyup, dan lebih heran lagi Jordan dalam suasana hati yang terkontrol, kemudian Paman Lee menyuruh pelayan mengambilkan handuk.
"Lorez periksa kamar gadis itu, bawa beberapa pengawal membantumu."
Jordan mengeringkan rambutnya dengan handuk, dan menuju kamarnya untuk mandi.
Setelah mandi ia turun menuju ruang baca, Lorez, Freya, dan Paman Lee sudah menunggu.
Jordan duduk di kursi nya yang besar, di mejanya sudah ada beberapa barang milik Rossalia.
Jordan melihat beberapa barang yang ia kenal dan yang asing baginya, ada dokumen perjanjian, sebuah buku catatan, dan sebuah kotak kecil.
"Kalian pergilah..."
Jordan menatap dokumen yang tak asing baginya.
"Baik Tuan..."
Mereka menjawab bersamaan, dan meninggalkan Jordan sendiri.
Jordan beralih membuka buku catatan, ia terkejut dengan buku yang berisi foto-foto dirinya dan Rossalia serta anak-anak lain di Panti Asuhan, setiap foto memiliki catatan-catatan sendiri, menceritakan apa yang sedang mereka lakukan hari itu.
Di akhir buku itu bertuliskan nama "Suster Maria"
"Ini buku catatan Suster Kepala sewaktu kami masih anak-anak, jadi Suster Kepala sudah mengetahui bahwa gadis itu adalah...."
Jordan tersenyum melihat foto-foto masa kecil mereka karena Rossalia terlihat menggemaskan, ia membaca setiap bait catatan itu mengingatkan kembali hamparan kenangan yang terukir di dalam benaknya.
Kemudian Jordan membuka kotak kecil yang terbuat dari kayu.
Sebuah kalung paladium kelas terbaik dengan liontin berbentuk separuh bulan, liontin itu kecil namun cukup berat saat Jordan memegangnya, bagian depan liontin terdapat permata berbentuk bintang kecil yang bersinar, kemudian Jordan membaliknya.
Liontin itu memiliki logo naga berwarna hitam, gambar naga yang hitam dengan kedua sayap besar, ekor yang panjang, dan gigi runcing, kepala yang menyeramkan dan mata merah menyala seakan menatap Jordan dan ingin menelannya, anehnya warna itu tak pudar sedikitpun, tetap menyala.
Jordan terkejut, karena simbol itu adalah logo Mafia tertua.
"Bukankah ini logo anggota Mafia Dark Dragon, Mafia tertua yang pernah menguasai seluruh dunia, namun di bantai secara tragis bahkan tidak menyisakan 1 orang pun."
"Sampai hari ini masih menjadi rahasia dan menjadi cerita layaknya dongeng, entah benar adanya ataukah hanya bualan orang semata, karena tidak ada informasi yang bisa di gali."
Jordan memasukkan kalung itu kembali ke dalam kotak.
Jordan bergumam dan kembali tenggelam dalam pikirannya.
"Kenapa Rossalia memilikinya, darimana ia mendapatkannya, apakah pemberian Suster Kepala? Aku harus bertemu Suster Kepala."
.
.
.
.
-Bersambung-
__ADS_1