
Mateen berjalan keluar dari kamar menuju ruang tengah dengan tongkat pendek untuk membantu menyangga tubuhnya, ia tidak bisa tidur, para pelayan telah selesai bekerja dan beristirahat.
Angela yang mengetahuinya segera berlari ingin membantu.
"Kau perlu apa aku akan menolongmu, atau kau mau kupanggilkan Amber?"
Angela memapah Mateen.
Namun Mateen berhenti dan mengibaskan tangan Angela dengan kasar.
"Aku bukan pria lemah."
Tatapan Mateen tajam.
"Oke baiklah, aku hanya sedikit khawatir."
Angela mundur perlahan.
Namun Mateen mencengkram lengan kanan Angela menggunakan tangan kirinya.
"Ada apa dengamu? Kau berubah perhatian."
Mateen menatap kedua mata Angela, mereka begitu dekat.
"Aku hanya membantumu apakah itu salah?"
Angela menatap balik, seakan ia menantang Mateen.
"Apakah kau merencanakan sesuatu?"
Mateen semakin mendekatkan wajahnya pada Angela.
"Tidak."
Jawab Angela singkat.
"Bisakah kau melepaskanku."
"Aku akan melepaskanmu namun kau tetap diam seperti ini, aku ingin memastikan sesuatu."
Mateen perlahan melepaskan cengkraman tangannya.
"Apa itu?"
Suara Angela tercekat bersamaan saat ia menelan ludah, ia gugup, wajah Mateen semakin mendekat hingga hidung mancung mereka bersentuhan.
Tangan kiri Mateen menelusup di sela-sela rambut wanita itu dan meraih tengkuk Angela,
Mateen perlahan mencium dan m*lum*t bibir Angela dengan lembut.
Entah mengapa ciuman yang lembut dan pelan sedikit demi sedikit semakin memanas.
Kemudian Mateen tersadar menarik ciumannya dengan cepat.
"Pergilah."
Mateen mendorong Angela dengan kasar.
Pria itu berbalik kembali ke dalam kamarnya.
Angela terdiam dan mematung, jemari lentiknya memegangi bibir yang telah memanas karena hisapan Mateen.
Malam terasa sangat panjang untuk Mateen, ia mencoba menutup matanya namun bayangan Angela selalu ada dalam pikirannya, bagaimana ia menikmati bibir wanita itu.
"Ini tidak mungkin, hatiku masih sama, aku hanya mencintai Rossalia."
Mateen meyakinkan dirinya sendiri sembari memukul-mukul dada atas nya.
.
.
.
Pagi telah tiba, sinar matahari semakin meninggi, burung-burung bercicit di pekarangan tepat di luar jendela kamar Mateen, namun pria itu masih juga belum bisa tidur, ada sesuatu yang masih membuat nya semakin ingin memastikan apakah hanya sebatas gairah yang tak pernah ia salurkan pada Rossalia atau karena belas kasihan pada Angela.
Mateen duduk di tepi ranjang, semalaman ia tak tidur, pria itu berjalan tanpa menggunakan tongkat, karena lukanya memang sudah sembuh, tubuhnya pun mulai melemas tak kaku lagi untuk bergerak.
Mateen berada di lobby, berdiri melihat kuda-kudanya. Ada perasaan ingin menunggang kuda, ia tahu batasan untuk tubuhnya.
__ADS_1
Ya, tubuhnya memang kembali pulih dengan cepat bahkan lebih cepat dari perkiraan.
Dokter dari Cina yang tergabung dalam tim mengatakan tubuh Mateen memiliki energi Chi yang kuat, membuat otot-ototnya cepat pulih, mungkin karena Mateen rutin melakukan latihan Tai Chi serta obat milik Math Grup yang sangat membantu proses pengeringan luka.
Angela datang membawa koper di tangannya.
"Emm... Aku hanya ingin berpamitan, aku akan pergi, kau juga sudah sembuh."
Mateen tak menjawab ia hanya melirik ketika Angela pergi dengan menarik koper nya.
"Ya seharus nya begini bukan? Kembali pada posisi nya masing-masing."
Mateen memasukkan kedua tangannya di saku celana memandangi kuda-kuda yang berlarian dan beberapa kuda lainnya memakan rumput.
Namun tiba-tiba Maten berbalik, ia berjalan menekan panggilan cepat.
"Tutup gerbang jangan biarkan seorang pun keluar dari Mansion."
Perintah Mateen pada para penjaga tepat ketika Angela sedang berjalan dan telah sampai di pintu pagar namun langkahnya terhenti melihat pagar perlahan menutup.
"Tunggu, tunggu dulu, aku belum keluar kenapa kalian menutupnya."
Angela berlari.
"Hey... Buka!!!"
Angela menggedor gedor pagar besar yang telah tertutup.
Tanpa berpikir wanita itu kesal dan melepaskan sepatu nya untuk memukul-mukul pagar membuat suara bising agar para penjaga mendengarnya berteriak.
"Dasar bodoh, aku belum keluar kenapa kalian menutup pagarnya, buka!!!"
-"Treng!!! Treng!!!"-
Suara Pagar di pukul dengan sepatu heels.
Setelah beberapa lama Angela berteriak dan mulai lelah, ia menyerah berbalik menuju Mansion, tanpa alas kaki ia berjalan terhuyung, para pelayan terkejut melihat Angela yang berantakan.
Wanita itu mengambil air minum dingin dan menegukkan dengan rakus hingga menimbulkan suara saat ia minum.
-"Gluk gluk gluk."-
Mateen memperhatikan dari kejauhan, kemudian
Angel kembali ke dalam kamarnya, wanita itu tak mengerti mengapa pagar yang sebelumnya telah terbuka saat ia mulai mendekat justru kembali menutup, kenapa para penjaga tidak mendengar teriakannya.
"Ah sudahlah aku mau mandi, terserah Mateen akan menganggapku bagiamana, karena aku kembali ke sini lagi, padahal sudah berpamitan."
"Persetan dengan sikap angkuhnya."
Angela mengomel dan memaki geram ia berjalan menuju kamar mandi untuk berendam.
Setelah selesai dengan ritual permandiannya, ia turun menuju dapur mencari sesuatu untuk di makan, kemudian duduk di sofa menyalakan tv dengan cemilan di tangan kirinya.
"Kau tidak jadi pergi?"
Mateen berdiri di samping sofa.
Angela melirik dengan ekor matanya, ia mengacuhkan Mateen dan menghabiskan cemilan terakhir, wanita itu mematikan tv dan berdiri hendak pergi ke kamarnya.
"Kau anggap aku hantu!"
Mateen kesal suara nya meninggi membuat para pelayan tersentak.
"Kau juga menganggapku apa?"
Jawab Angela santai dan pelan tanpa berbalik.
"Kau menyuruhku pergi aku pergi, sekarang mau mu apa, ketika aku akan pergi kenapa pagar justru tertutup."
Angela berbalik menyedekapkan tangannya.
"Kau pikir aku yang memerintah mereka?"
Kata Mateen tersenyum sinis.
"Lalu apakah para pelayan-pelayan ini yang memerintah mereka menutup pagar?"
"Lalu apakah para tukang kudamu yang menyuruh para penjaga untuk menutup pagar?"
__ADS_1
Angela menaiki tangga dan berhenti, ia memutar kepalanya melihat Mateen.
"Memangnya aku ini bodoh?!"
Kemudian Angela melanjutkan langkahnya.
Mateen menelan ludahnya, memukul sofa dengan ringan, ia sedikit kesal dengan sikap Angela, pria itu berjalan pelan menuju kamar Angela.
"Kau benar-benar berpikir kalau itu adalah perintahku?!"
Kata Mateen kesal.
"Kenapa kau masih membahasnya?"
Angela duduk bersandar di atas ranjang, menaikkan kakinya dan meraih bukunya, pura-pura membaca.
Mateen melangkah merebut buku itu dengan kasar, melihat sekilas apa yang wanita itu baca. Kemudian melemparnya ke ranjang.
"Lihat aku saat kita bicara."
"Kenapa denganmu?!"
Angela kesal dan ingin meraih buku itu kembali namun Mateen mencegah tangan Angela, menariknya berdiri hingga tubuh mereka bersentuhan.
"Kenapa kau sangat kasar seperti Jordan, bahkan kau juga aneh, menarikku, menciumku lalu mendorongku, kau pikir aku ini boneka atau apa?"
Kata Angela geram.
"Sejujurnya... Ada sesuatu yang aneh denganku."
Mateen masih mencengkram lengan Angela.
"Ayo kita pastikan bersama."
"Yang aneh adalah dirimu, bukan aku, kenapa memastikannya bersama."
"Kau juga merasakan sesuatu, jangan berbohong."
Angela diam mematung, tak percaya apakah sikapnya sangat terlihat.
Sedikit demi sedikit Mateen mulai mendekatkan wajahnya, menciumi Angela dengan lembut, ciuman yang pelan dan halus.
Wanita itu melingkarkan tangan ke tubuh Mateen yang memiliki punggung lebar.
Semakin lama semakin erat dan semakin memanas, hingga entah bagaimana kini mereka telah saling berguling di atas ranjang, saling menekan, saling mencium, Mateen perlahan menurunkan baju Angela tangannya bermain di dada Angela, wanita itu mendesah, dress pendek itu telah berada di tengah tubuhnya, ia setengah telanjang. Wajah Angela merah padam, berantakan dan tubuhnya penuh dengan tanda merah, ia berfikir Mateen laki-laki yang rakus bahkan melakukannya tanpa kelembutan, seakan hanya ingin melampiaskan gairahnya semata, namun anehnya angela tak keberatan dengan itu, ia dengan sukarela memberikan tubuhnya.
Mateen berdiri dan melepaskan celananya, kemudian perlahan mendekati Angela, ketika Mateen ingin mendorongnya, Angela menahan tubuh Mateen mata wanita itu sembab.
"Tunggu, berhenti, pelan sedikit, ternyata ini sangat menyakitkan."
Angela menggigit bibirnya, meringis dan matanya terpejam.
"Bahkan belum masuk, apa kau..."
Mateen menahan tubuhnya dengan kedua tangan nya yang kekar.
"Kau belum pernah melakukannya?!"
Mateen kembali bertanya, ia terkejut melihat Angela tipe wanita yang sangat berani.
"Aku memang terlihat seperti wanita yang liar, tapi aku belum pernah melakukannya, hanya pernah sekali telanjang di depan Jordan, itupun karena menuruti rencana dari ayahku dan Peter."
Angela membuang mukanya dari Mateen memandang ke tempat yang lain, namun Mateen sedang menatap nya tajam.
"Kau menyebut nama pria lain sekarang."
Mateen bangkit dan memakai bajunya.
Pria itu keluar dan membanting pintu kamar dengan kasar, Angela menghembuskan nafasnya kembali dengan pelan, sekilas ia melihat tubuhnya yang setengah telanjang dan berantakan, seluruh tubuh terdapat tanda merah karena hisapan Mateen, pria rakus yang melampiaskan gairahnya tanpa kelembutan sedikitpun.
"Aku mengharapkan apa? Dia hanya ingin melampiaskan gairah nya yang terpendam untuk Rossalia."
Angela menertawakan dirinya sendiri.
.
.
.
__ADS_1
-Bersambung-