
"Kenapa kau melakukan itu semua."
Jordan menyedekapkan tangannya memandangi istrinya yang sibuk melepaskan pakaiannya karena ingin mandi.
"Melakukan apa."
Jawab Rossalia ketus.
"Mengapa kau menyuruh Brida pergi, sedangkan kau justru mengundang kehebohan, apa kau tahu sekarang media semakin liar dan tak terbendung!!!"
"Lalu aku harus selalu menghindari mereka?"
"Aku tahu kau membuat keadaan sekelilingku senormal mungkin, kau menyisir jalanan agar mereka patuh padamu. Tapi apa kau tahu ini semua seperti penjara bagiku."
"Apa kau sadar kalimat yang barusan kau ucapkan padaku."
Jordan menarik lengan Rossalia yang kini hanya memakai handuk untuk menutupi tubuhnya.
"Aku sadar, kau seperti memenjarakanku, aku seperti tahanan, aku seperti boneka yang kau atur."
"Aku bahkan tidak memiliki akses apapun untuk melihat dunia, bahkan yang sebenarnya kau menciptakan dunia yang semu untukku, penuh kepalsuan!!!"
"Kau membohongiku, memang benar kau memberiku ponsel, bahkan ponsel keluaran terbaru, mewah serta ponsel pintar, namun itu hanyalah kedok, semua sistemnya kau yang atur!!!"
Rossalia meluapkan semua emosinya.
"Apa kau tahu ini semua ku lakukan untuk melindungimu."
Jordan mendekatkan wajahnya.
"Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal, tanpa tipuan mu, tanpa penjara, jika memang dunia ini menyakitkan biarlah aku merasakan sakitnya, kau menutup mataku dengan kehidupan yang indah namun dalam kenyataan semua orang sedang mencaciku, aku merasa bodoh, bahkan aku membayangkan semua pelayan di sini akan menertawakan kebodohan ku."
"Kau merantaiku dengan sangat kuat!!!"
Rossalia mengatakan kalimatnya demgan lantang dan tegas, menatap Jordan dengan berani.
"Tidak ada yang berani menertawakanmu di sini."
Jordan menahan amarahnya.
"Ya, karena mereka semua adalah bawahanmu, dan mereka takut akan kediktatoranmu!!!"
"Bisa saja mereka diam-diam bergosip dan membuat lelucon tentangku, saat mereka melihat banyak berita berseliweran di seluruh dunia sedang hanya aku yang tidak tahu."
Mata Rossalia tajam menusuk hati Jordan. Istri yang ia sayang i menatap nya dengan berani dan penuh emosi.
"Apakah itu yang selama ini kau rasakan saat bersamaku?"
"Apa kau tidak bahagia?"
Jordan menatap mata Rossalia, ia mencari jawaban yang jujur dari kedua mata istinya.
__ADS_1
"Aku merasa kau terlalu mengekangku, aku menginginkan kebebasan tanpa kebohongan apapun setiap aku berjalan ke luar, aku ingin melihat dunia yang sebenarnya yang selalu kau tutupi dari ku."
Rossalia menggertakkan giginya, pertanda betapa ia sangat marah.
"Apa kau tidak bahagia?"
Jordan mengulangi pertanyaan yang sama.
"Apa kau tidak bahagia!!!"
Pria itu berteriak, mereka masih saling memandang, wajah mereka sangat dekat.
Namun tidak ada kalimat apapun keluar dari mulut Rossalia.
Jordan melepaskan tubuh Rossalia, ia mundur perlahan dan kemudian meninggalkan istrinya sendiri.
Rossalia bersandar pada almari besar, sedikit demi sedikit tubuh nya merosot karena lemas, kemudian duduk menyandarkan tubuh dan kepala pada Almari, kaki nya terasa lemas, jantungnya berdegup kencang, tangan nya gemetar, ini kali pertama ia memberontak dengan sangat berani pada Jordan, sedangkan suaminya meninggalkannya tanpa sepatah kata pun.
"Apa yang telah ku lakukan..."
"Ya Tuhan..."
Rossalia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Di ruangan yang lain Jordan sedang berdiam diri duduk di bar mini miliknya, ia menuangkan botol Ballantine's Finest pada gelasnya hingga botol Whisky itu hampir habis, tingkat toleransi Jordan pada alkohol sangat kuat, ia tidak mudah mabuk.
Jordan hanya diam dan meminum setiap gelas demi gelas, ketika botol 1 habis ia mengambil botol yang baru lagi, kini giliran Chivas Regal XV. Paman Lee datang melihat Jordan yang tanpa henti meminum gelas demi gelas whisky nya, tanpa sepatah kata, ekspresi atau sikap yang tidak bisa di tebak maupun di baca, ia mencoba menyadarkan Tuannya.
Kata Paman Lee.
Jordan masih acuh dan meminum gelasnya kembali.
Kemudian Lorez datang, saat itulah Paman lee pergi meninggalkan Jordan, ia tahu situasi apa yang harus membuatnya undur diri.
"Tuan, Edgar mengirim pesan."
Kata Lorez.
"Katakan."
Jawab Jordan tanpa menoleh.
Lorez tidak berani mengatakannya, ia hanya menyerahkan ponsel pintarnya pada Jordan.
Melihat isi pesan Edgar membuat rahang Jordan bergerak semakin kuat, pertanda kemarahan nya mulai merasuki jiwanya.
"Maafkan kelancanganku yang telah mengganti pakaian istrimu, aku tidak memiliki pelayan sedangkan istrimu pingsan, ia terlihat sangat kotor dengan banyak telur di tubuhnya, tidak perlu berterimakasih padaku. Istrimu sangat cantik."
Jordan menggenggam erat ponsel itu hingga ingin meremukkannya namun kemudian ia melemparkan ponsel Lorez hingga ponsel itu pecah, kemarahan yang merasuki nya semakin membara, ia berjalan dengan langkah panjang menuju kamarnya.
Pria itu melihat Rossalia sedang tidur memiringkan tubuh mungilnya, ia ingin sekali menarik dan memeluk istrinya, mencumb*nya hingga pagi tanpa berhenti, namun niat yang telah mantap itu ia urungkan, ia menarik kembali tangannya kemudian menyentuh dan memijat tengkuk kepalanya menandakan betapa frustasi nya ia sekarang.
__ADS_1
Jordan keluar dan menutup pintu sepelan mungkin agar tidak membangunkan istrinya, Lorez yang menunggu di luar kamar mengikuti Jordan dari belakang, pria itu kembali menuju bar mini miliknya, melanjutkan meminum whisky.
"Informasi apa yang kau dapat."
Kata Jordan.
"Sepertinya Edgar mengincar Kota S Tuan."
Lorez menjawab dengan tidak yakin.
"Aku benci ketidakyakinanmu."
"Maaf Tuan."
Kata Lorez.
"Duduklah, temani aku minum."
Kata Jordan menyodorkan gelas yang sudah Jordan tuang dengan whisky.
Lorez duduk di samping Jordan menemaninya minum.
"Aku berusaha membuat istriku aman, tidak ingin berita yang mengucilkannya membuat pikiran dan hatinya resah, namun ternyata itu hanya membuatnya sedih, sekarang aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan dengannya, apakah aku harus marah atau menghukumnya karena kecerobohannya membuat laki-laki lain telah melihat tubuh istriku."
Jordan menenggak kembali gelas whisky nya.
"Mungkin Nona sedang bingung Tuan, dunia yang selama ini ia kira baik-baik saja ternyata ada banyak goncangan."
Jordan menarik nafasnya panjang ia mengangkat gelasnya dan memutar mutar es yang telah terisi dengan whisky.
"Saat aku bertanya, dia bahagia atau tidak, aku tak menemukan jawaban apapun, keinginanku hanyalah melihatnya bahagia, dengan dia tidak menjawab pertanyaannku sudah menandakan ia tak bahagia."
Kata Jordan.
Lorez hanya mendengar dan memperhatikan Jordan, setidaknya sudah 5 botol whisky sudah Jordan minum, kini pria itu terlihat sedikit mabuk.
Dengan langkah gontai Jordan berdiri, ia ingin keluar dari bar menuju kamarnya. Namun Lorez mencegah Jordan.
"Tuan sebaiknya malam ini anda tidur di kamar yang lain, Nona Rossalia pasti akan memarahi anda."
"Baiklaaahhh istriku memang manusia terimuuuutt namun ia sangat menyeramkan ketika sedang marahhh..."
Jordan melangkahkan kakinya dengan gontai, Lorez membantu memapah Tuannya menuju kamar yang lain.
.
.
.
-Bersambung-
__ADS_1