
Jordan sedang berada di minimarket yang pernah ia kunjungi, kali ini ia meminjam ponsel pegawai yang pernah memberinya beberapa lembar uang.
Terlihat pria itu menghubungi seseorang, setelah selesai ia segera memgembalikan ponsel tersebut pada pemiliknya.
Jordan duduk di kursi entah apa yang ia tunggu. Sesekali mata nya terlihat waspada.
"Tuan ini kopi nya."
Kata pegawai itu.
"Aku tidak pesan."
Kata Jordan sembari melirik tanpa menggerakkan kepalanya.
"Ini gratis, saya yang mentraktir anda."
Wanita itu tersenyum, terlihat senyuman tulus dan juga wajah yang polos.
"Terimakasih, saya sudah menikah."
Jordan mengerti isyarat gadis itu, tidak ingin membuang waktu pria itu dengan tegas memperlihatkan cincin yang ada di jari manisnya.
"Oh... Baiklah, tapi kopi ini tetap untuk anda."
Kata pegawai itu lagi.
"Tidak perlu, jemputanku sudah datang."
"Lain kali aku akan kembali ke sini bersama istriku dan memberikan mu hadiah."
Pria itu bergegas pergi meninggalkan wanita penjaga kasir yang masih terpesona dengan ketampanan Jordan.
Jordan masuk ke dalam mobil mewah, terlihat Moreno juga berada di sana.
"Apa rencanamu?"
Kata Moreno.
"Setidaknya Lorez sudah tahu markas Edgar, pria itu benar-benar pintar bersembunyi."
Jordan membenarkan duduknya.
"Kau bisa saja mati."
Moreno membelalakkan matanya sembari melemparkan botol whiskey pada Jordan.
"Mati? Di tempat seperti itu? Dengan pengawal-pengawal bodoh itu?"
"Kau lupa siapa aku?"
Jordan meminum whiskey dan melanjutkan kalimatnya.
"Tapi aku memang kuwalahan, untung saja peluru itu tidak melubangi perutku, hanya menggoresnya, tapi cukup membuatku kehilangan banyak darah dan membuat tubuhku demam."
"Sejak kapan kalian merencanakannya?"
Moreno penasaran.
"Sejak Rossalia menghilang, Edgar menghubungi Lorez akan memberikan bayaran yang besar asal dia mau bergabung denganya"
"Tapi Edgar bukan pria yang begitu mudah percaya, dia meminta Lorez untuk membiusku dan menyerahkanku pada Edgar."
Jordan tertawa licik.
"Tapi itu sangat berbahaya."
Moreno masih tak percaya mereka merencanakan ini semua.
"Ya itu jalan satu-satunya agar Lorez bisa masuk dan mengetahui markas Edgar, pria itu benar-benar pintar bersembunyi."
"Dia mengincar Kota S, kota itu sangat indah tapi Edgar justru ingin membuang banyak limbah di sana."
Jordan mengambil sandwich dan memakannya.
"Bagaimana tentang sarah?"
"Bukankah saat perayaan pesta Black Eyes kau mabuk?"
Tanya Moreno lagi.
__ADS_1
"Aku tidak benar-benar mabuk."
"Malam itu aku tahu Edgar ada di balik semuanya, mataku memang terpejam tapi aku tidak tidur."
"Kau masih meragukan toleransiku terhadap alkohol? Tidak semudah itu aku mabuk."
"Pada pagi hari Sarah memulai sandiwaranya melepaskan semua pakaiannya, dan menangis."
"Sarah hanyalah alat, ku pikir dia akan bekerja sama denganku tapi justru memilih membantu Edgar, aku sengaja membiarkan Sarah masuk ke dalam Mansion, karena aku tahu Edgar akan keluar."
"Lalu anak siapa yang bersama Sarah?"
Moreno bertanya.
"Anak Edgar."
Kata Jordan santai.
"Apa?!!"
"Bedebah itu keji sekali."
"Edgar memperkos* Sarah, wanita itu setengah sinting dan mereka hidup dijalanan, kemudian bertemu lagi dengan Edgar, mereka dipungut kembali sampai hari ini."
Kata Jordan sembari menyandarkan punggungnya.
"Lalu Lorez? Dimana dia sekarang?"
Moreno masih bertanya.
"Mungkin sudah berada di Mansion, rencana nya adalah Lorez menemukan titik markas Edgar setelah itu memasang alat deteksi serta bom, dan kembali ke Negara K."
"Aku hanya berharap dia menjaga Rossalia tetap aman."
"Kalian benar-benar gila."
Kata Moreno tak percaya.
"Kukira Lorez benar-benar berkhianat."
"Seharus nya bukan seperti ini rencananya, tapi kau sudah mengetahuinya, kamar hotel juga sudah terlalu banyak alat penyadap, sedangkan Edgar mulai meragukan Lorez."
Kata Jordan sembari membuang nafas panjangnya.
"Jika tidak sekarang di tuntaskan pria itu akan terus menjadi penghambat."
"Ya, itulah Jordan. Kejam dan tanpa ampun."
Moreno mengangguk tanda setuju.
"Lalu sekarang bagaiamana, apa yang akan kamu lakukan?"
"Kenapa bertanya? Apa lagi jika bukan kembali ke Negara K, Chicago hanyalah trik umpan agar Edgar keluar dari persembunyiannya."
Geram Jordan.
.
.
.
.
-Mansion Beverly Hill-
Edgar duduk di meja makan tempat biasa Jordan duduk, di temani Sarah dan juga Jason.
Rossalia sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka.
Hari ini adalah pertama kalinya tugas dimulai, Rossalia melayani Edgar untuk sarapan pagi.
Lorez berdiri di samping Edgar. Rossalia mulai mengambilkan nasi di piring Edgar, kemudian berpindah di piring Sarah ketika Rossalia mundur kaki Sarah sengaja menjegal Rossalia membuatnya tak seimbang Lorez dengan sigap menahan tubuh Rossalia dari belakang.
"Hati-hati Nona."
Kata Lorez sembari melirik tajam Sarah seolah mata pisau itu ingin mengiris kaki Sarah.
"Lepaskan."
__ADS_1
"Aku tidak perlu bantuan darimu, kenapa tidak kau biarkan saja aku jatuh."
Kata Rossalia ketus.
"Diamlah, duduk di sebelah kiriku."
Kata Edgar memberikan perintah.
Rossalia duduk di sebelah kiri Edgar berhadapan dengan Sarah.
"Makan dengan tenang."
Edgar melanjutkan sarapan pagi nya.
Selama sarapan tidak ada satupun diantara mereka yang berani bersuara, bahkan Jason memilih untuk diam dan menghabiskan sarapan paginya.
Rossalia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, ia takut pada Edgar seolah nyawanya selalu terancam.
Meskipun di dalam dapur banyak pelayan, namun tak ada satupun yang berani pada Edgar bahkan terakhir kali Paman Lee terkena pukulan di wajahnya saat menentang keinginan Edgar.
Saat Rossalia memasak pagi hari tadi, Edgar sempat memeluknya dan membuat Paman Lee yang geram memberikan peringatan pada Edgar agar melepaskan Rossalia.
Namun justru pukulan yang keras mendarat di wajah Paman Lee.
Lorez yang mengetahuinya segera berlari menuju pantry dan menahan Edgar.
Rossalia setengah berlari menuju kamarnya, ia ketakutan seakan sedang di kejar oleh monster.
Pintu seketika di tutup rapat, ia menyandarkan punggung serta menutup mata mengatur nafasnya yang tersengal.
"Kau kenapa?"
Kata pria itu.
Tubuh Rossalia tersentak karena terkejut, merasa tak asing dengan suara itu, ia membuka matanya melihat sekeliling.
Seorang pria duduk di atas ranjangnya.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?"
Kata Rossalia gugup
"Hanya melihat-lihat..."
Kata Edgar tersenyum.
Pria itu mendekati Rossalia yang masih bersandar pada pintu, tangannya berusaha membuka kunci namun kecepatannya kalah dengan Edgar yang sudah mengunci tubuhnya lebih dulu masuk ke dalam dekapannya.
"Apakah aku tidak cukup bersih, tidak cukup baik, dan tidak cukup kaya untuk menyentuhmu?"
Bisik Edgar mendekat kan bibirnya pada telinga Rossalia.
"Hal itu tak pernah menjadi masalah apakah kau tidak kaya atau tidak bersih, aku seorang wanita yang sudah bersuami."
Rossalia menata kalimatnya sehalus mungkin agar tidak menyinggung Edgar.
"Jadi, jika kau tidak memiliki suami, apakah kau mau denganku?"
Edgar kembali bertanya sembari menuruni lekuk leher Rossalia dengan mulutnya, menciuminya selembut mungkin.
"Bi-biarkan aku pergi, atau kau yang keluar dari kamarku."
Kalimat Rossalia terbata-bata.
"Kau berjanji akan melayaniku."
Edgar menatap mata Rossalia, sangat dekat, hidung mereka saling menyentuh.
Jantung Rossalia berdebar sangat kencang, kerongkongannya terasa kering, tetapi ia mencoba terlihat tetap tenang.
Sedangkan Edgar masih menahannya dan mengunci nya, tangan serta lengan besar Edgar memenjara Rossalia.
"Aku ingat foto-foto mu yang sangat jelas terpampang di semua media, kau menggunakan gaun yang indah, pundak dan punggunmu terbuka."
Tangan Edgar bergerak menekan salah satu pundak Rossalia, dengan jarinya pria itu melintasi dada Rossalia dan menuju pundak yang lain. Seolah menggambar gaun yang pernah Rossalia kenakan.
.
.
__ADS_1
.
-Bersambung-