
Paradise Luxury Mansion-
Mateen memakai setelan jas berwarna hitam, ia terlihat tampan, badannya tinggi semampai, dengan tubuh berotot ideal.
Seorang gadis cantik berjalan menuruni tangga secara perlahan.
Memakai gaun berwarna biru muda berkerlip, dengan bahu terlihat dan punggung mulusnya, kulit nya terekspose mulus.
Rambut panjangnya yang lembut ditata dengan rapi.
Sentuhan tangan Alex benar-benar membuat gadis itu bak bidadari.
Semua media dan wartawan, tercengang melihat betapa cantiknya gadis itu.
"Ternyata ada wanita secantik itu, jadi siapakah disini yang beruntung, Tuan Mateen ataukah wanita itu?"
Para wartawan saling bertanya. Mata mereka tak bisa beralih pandang dari cantik nya gadis yang sedang menuruni tangga.
Mateen menggandeng gadis itu dengan lembut.
Kini Mateen yang akan berbicara dan memulai acara Open House nya.
"Terimakasih kepada semua media, wartawan, serta para relasi yang sudah hadir."
"Saya akan memperkenalkan seorang gadis yang sangat cantik, tentu kalian juga memiliki pendapat yang sama dengan saya, bahkan saya terkejut saat ini dia berubah menjadi sangat cantik, dan terimakasih untuk sentuhan ajaibnya Alex."
Mateen menaikkan gelas wine nya kepada Alex, dan Alex membalasnya dengan perlakuan yang sama.
"Baiklah ini adalah Rossalia, yang menjadi kekasih saya selama ini, dalam waktu 1 minggu lagi kami akan melangsungkan pertunangan."
Mateen memberikan kode kepada Amber agar ia mengambil alih.
"Baiklah untuk para media mari kita mulai wawancaranya dan untuk para relasi silahkan menikmati jamuan dari kami."
Amber mempersilahkan para wartawan, kini Mateen dan Rossalia berpindah ke ruangan lain duduk di sofa mewah yang sudah di siapkan.
Para wartawan mulai bertanya.
"Selamat malam Tuan Mateen, Kami dari media NewstimeTV mengucapkan selamat atas kebahagiaan Tuan Mateen, dan berita bahagia ini kami tayangkan secara live."
"Kami ingin tahu, dan mungkin diluar sana juga bertanya-tanya, bagaimana kalian bisa saling mengenal?"
Mateen tersenyum dan melihat pada calon tunangan yang ia cintai, kemudian menggenggam tangannya.
"Aku sudah mengenalnya sejak dulu, mungkin ketika itu, ia masih berumur 6 atau 7 tahun."
"Rossalia hidup di sebuah Panti Asuhan kecil bernama Mutiara Hidup.
__ADS_1
"Saat itu aku sedang kabur dari rumah karena marah sekali dengan ayahku, yang tidak pernah punya waktu bermain denganku, kemudian ada gadis kecil yang menepuk punggungku ketika aku sedang duduk di pinggir jalan karena tersesat, ia memakan kue kismis di dalam kotak bekalnya, lalu menyodorkan kuenya yang saat itu hanya tinggal 3 buah roti kering kismis, saat itu aku sangat lapar, aku mengambil 1 namun gadis kecil itu memberikan semuanya kepadaku."
"Dan aku mengingat kata demi kata, kalimat demi kalimat yang ia ucapkan."
"Jangan pernah marah dengan orang tua kita, meski mereka bukan orang baik atau meski kita di telantarkan oleh mereka, karena tanpa mereka kita tak kan mengenal kehidupan, Tuhan punya caranya sendiri untuk melatih kita menjadi seorang manusia yang kuat."
"Apakah kalian semua percaya gadis sekecil itu bisa berkata seperti itu?"
"Bahkan aku menyadari, dari dia lah aku belajar lebih menghargai ayahku."
Rossalia terkejut, dan mulai teringat kejadian yang sudah berlalu sangat lama itu, ternyata Mateen adalah anak yang menangis di depan Panti Asuhan, ia tidur di Panti Asuhan beberapa hari, kemudian keluarganya menjemputnya.
Mateen mengerti gadis itu terkejut, dia memang sengaja tidak bercerita, bahkan dia sendiri pun tidak tahu jika gadis itu adalah Rossalia jika Suster Kepala tidak mengingatkannya ketika Mateen berkunjung ke Panti Asuhan mencari informasi tentang Rossalia.
"Tuan kami dari media asing TVt."
"Ingin bertanya, apakah seluruh keluarga anda akan setuju jika anda bertunangan dengan gadis dari Panti Asuhan, bahkan bibit bebet bobotnya yang tidak jelas, apakah nantinya gadis yang anda pilih bisa beradaptasi dengan lingkungan para elite?"
Rossalia meremas tangan Mateen, namun pria lembut itu menenangkannya.
Mateen tidak senang dengan pertanyaan seperti ini.
"Tidak akan ada yang tidak setuju, jika ada yang tidak setuju aku yang akan menghadangnya, berarti dia menentang keputusan apa yang aku ambil."
"Tuan Mateen kami dari media lokal MniTv."
"Dimanakah anda akan melangsungkan pertunangan?"
"1 minggu lagi kalian akan tahu, kami tidak akan merahasiakannya dari siapapun."
"Wawancara selesai, terimakasih untuk para media, kami harapkan kalian menulis dan memberikan informasi yang tepat, akurat, dan berpihak, jangan ada provokasi sedikitpun, karena ini adalah berita bahagia MATH GRUP."
Amber mengancam dengan senyuman khas nya, para wartawan mengerti bagaimana harus menyiarkan berita bahagia ini tanpa ada berita negatif di belakangnya.
Amber mengakhiri sesi wawancara, para media berebut meminta Mateen dan Rossalia untuk foto bersama.
Mereka sangat mesra dan hubungan mereka terlihat begitu intim.
Mateen mencium kening Rossalia dan memeluknya.
Foto-foto mereka akan menjadi berita terbesar dan berita nomer 1 di Negara K bahkan di seluruh dunia.
Acara Open House telah selesai para media akhirnya pulang dan relasi pun ikut pamit pulang dengan sebelumnya mereka berbasa basi sesekali menjilat Mateen mencoba peruntungan agar dapat naik jabatan.
Ketika para tamu sudah pergi, terlihat mobil sport mewah melaju melewati taman yang panjang, sorot lampunya menyala menerjang remang-remang lampu taman, dan berhenti tepat di depan Rossalia yang akan masuk ke dalam karena baru saja mengantar Alex, rem mobil berdecit.
Jordan turun dari mobil sportnya, ia terlihat emosi, karena terjebak macet sedangkan berita tentang Mateen dan Rossalia sudah tersebar secara live di seluruh Negara K.
Bahkan menjadi berita terheboh.
Rossalia yang melihat Jordan ada di depan matanya, kembali merasakan ketakutan, ia teringat kembali bagaimana Jordan menyiksa dan memukulinya, ia teringat bagaimana Jordan melecehkan dirinya, mempermainkannya, dan mencoba memperkos*nya.
__ADS_1
Jordan mendekat dengan cepat.
Rossalia sudah berada pada ujung tangga dan bersiap untuk mundur namun secepat kilat Jordan menaiki tangga yang hanya dengan beberapa pijakan, langkah kakinya sangat panjang, ia menarik tangan Rossalia ke dalam pelukannya, Jordan memeluk Rossalia dengan erat, kini air mata Jordan benar-benar jatuh, ia membenamkan wajahnya pada bahu Rossalia dan menciuminya.
"Maafkan aku."
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Jordan.
Rossalia mencoba melepaskan diri dari pelukan Jordan, ia tidak bisa bernafas.
"Aku mohon berikan aku kesempatan, aku terlalu bodoh."
"Aku sudah menunggumu selama 13 tahun, mencarimu hingga aku hampir gila."
"Aku akan mati jika kehilangan kau lagi."
"Aku mohon maafkan aku Rossalia."
Rossalia menarik nafas nya dalam dan menghela panjang, seperti ingin membuang gumpalan yang ada didalam dadanya yang terasa menyesakkan.
Kemudian air mata yang sudah ia tahan dengan segenap jiwanya akhirnya pertahanan itu runtuh, kini air mata itu mengalir juga.
"Kau sudah kehilangan aku sejak kau tidak percaya padaku, ketika aku ingin menjelaskan bahwa aku adalah Rossalia, kau memilih memukuliku dengan seluruh kekuatanmu."
Air mata Rossalia mengalir dengan deras, dan tenggorokannya terasa sakit, Rossalia masih dalam pelukan Jordan.
Dada nya berdesir-desir, jantungnya bergemuruh tak beraturan mengingat Jordan adalah orang yang sangat berarti dalam hidupnya, satu-satunya orang yang selalu melindunginya di masa kecil.
Satu-satunya orang yang paling ia tunggu dan harapkan.
"Aku mohon maafkan aku."
"Aku rela melakukan apapun asal kau mau kembali."
Mateen mencari Rossalia yang belum juga kembali ke dalam setelah mengantar Alex.
Melihat Rossalia yang sedang dalam pelukan Jordan, Mateen segera berlari.
"Bisa kah kau melepaskan calon tunanganku."
Mateen menahan kekesalan dan kecemburuannya.
Ingin rasanya ia menarik tangan Rossalia yang sedang dalam pelukan Jordan dan menghajar habis-habisan pria itu.
Namun ini adalah hari bahagianya, ia tidak mau merusak moment indah ini.
.
.
.
__ADS_1
.
-Bersambung-