CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 51- = BERKAH DAN TRAGEDI


__ADS_3

Hari ini Rossalia dan Brida keluar Mansion, merasakan tubuhnya tidak enak ia mengajak Brida untuk pergi kerumah sakit menemui Dokter Imanuel.


"Kenapa kau harus datang kesini Nona Rossalia."


"Aku bisa menemuimu di mansion, apakah Jordan mengetahui kau pergi?"


" Dengan sifatnya yang paranoid sepertinya kau kesulitan."


"Tidak, Jordan tidak tahu, dan aku sudah menyuruh Brida menutup mulut para pengawal Jordan yang selalu menguntitku."


"Jordan pikir aku tidak tahu selalu ada banyak pengawal di belakangku."


Rossalia tertawa kecil, mengambil camilan roti kering di atas meja Dokter Imanuel.


Dokter itu tertawa dan mulai mengarahkan Rossalia untuk berbaring.


"Kau tahu Jordan adalah manusia monster tapi ia luluh hanya dengan satu kalimatmu."


"Itu sungguh keajaiban."


"Oh... Ya Tuhan !!!"


"Aku tak percaya ini !!!"


"Secepat ini !!!"


Dokter Imanuel memeriksa tubuh Rossalia dan ia terkejut.


Rossalia tak kalah terkejutnya.


"Apa?!"


"Apakah aku sakit parah?!"


"Akhir-akhir ini aku memang sering pusing, tubuhku juga terasa lemah, aku selalu ingin berbaring, tapi nafsu makanku bertambah, bahkan aku suka makanan manis... ya ampun, dulu aku membenci sesuatu yang manis."


"Selamat kau hamil Rossalia, meski umur kandungannya masih kecil."


Rossalia tak percaya ketika Dokter Imanuel memberitahukannya, ia menutup mulutnya dan air mata mengalir.


"Benarkah?"


"Aku hamil?"


"Anak Jordan?"


Rossalia mengelus lembut perutnya,


"Di dalam perutku ada bayi Jordan?!"


"Brida aku hamil."


Rossalia melihat ke arah Brida, tubuhnya masih berbaring.


"Iya Nona, anda akan menjadi seorang Ibu dan saya akan memanggil anda Nyonya, Tuan Jordan pasti akan gembira."


Brida menyeka titik air di sudut matanya.


"Baiklah mari kita pastikan dengan alat ini."


Dokter Imanuel mengoleskan gel dingin di perut Rossalia, ia melakukan Usg.


"Kau lihat itu adalah kantongnya, sudah terbentuk sempurna."


"Itu anakku?"


Rossalia kembali menangis.


"Ya, kau harus makan yang banyak dan meminum vitamin agar perkembangannya bagus.


"Oh tidak !!!"


Dokter Imanuel membelalakkan matanya.


"Ada apa?!"


"Apakah anakku baik-baik saja?!"


"Kau menakutiku !!!"


Rossalia mendengus kesal.


"Kau akan memiliki anak kembar, lihatlah terdapat 2 kantong !!!"


"Jordan memang hebat, sekali tembak dapat 2 anak, ahh...tunggu... benarkan hanya sekali tembak, dengan kekuatan Jordan yang sepertinya banteng saja bisa ia kalahkan."


Dokter Imanuel tertawa lepas, kalimatnya membuat Rossalia malu dan tersipu bahkan Brida juga ikut malu mendengarnya ia tersenyum menutupi mulutnya dengan tangan kanannya.


"Ya Tuhan, kau benar-benar mengagetkan hidupku."


"2 anak sekaligus dalam perut ku.


"Ini adalah anak Jordan, mereka akan menjadi anak-anak yang manis dan lucu."


Rossalia berdoa dan membelai lembut perutnya yang ia tujukan untuk anak-anaknya.

__ADS_1


"Kapan kau akan beritahu pria hebat itu?"


"Hari ini aku akan ke kantor dan memberitahukannya, lebih cepat lebih baik."


Mata Rossalia berbinar.


"Baiklah aku akan menulis resep vitamin, ingat selalu menjaga dirimu."


Dokter Imanuel tersenyum dan memapah Rossalia turun dari tempat tidur, Brida pun mengenggam jemari Rossalia, untuk membantunya.


"Selamat Nona, saya ikut bahagia."


Brida memberi selamat.


Dalam perjalanan menuju kantor Rossalia tak henti-hentinya membelai terus perut nya.


Brida melihat dari kaca spion dan tersenyum.


Rossalia mantap menuju kantor suaminya, para karyawan menyapa dengan menundukkan kepala mereka dan Rossalia membalas dengan senyuman.


Sampai di atas ia heran mengapa tidak ada seorangpun assisten Jordan yang berjaga di depan pintu, Rossalia membuka pintu kantor namun wajahnya menjadi pucat pasi ketika melihat Jordan duduk di kursinya dan seorang wanita tel*njang duduk di atas pahanya, terlihat dari kejauhan wanita itu mulai melepas kancing kemeja Jordan.


"Jordaaaannn..."


kalimat Rossalia pelan bahkan hampir tidak terdengar, kedua tangan nya menutup mulut tak percaya.


"JORDAN !!!"


"Apa yang sedang kau lakukan !!!"


Kini Rossalia berteriak, memejamkan matanya, nafasnya terengah tak percaya, air matanya jatuh menggenang, tubuh nya lemas.


Jordan bangkit mendorong Angela hingga tersungkur jatuh ke lantai, pria itu membenarkan kemejanya.


"Sayangku..."


"Kau kemari..."


Pria itu melotot, jantungnya seakan berhenti.


"Aku akan jelaskan..."


"Aku tahu kau akan salah paham melihatnya..."


"Ini tidak seperti yang kau pikirkan..."


Rossalia masih menangis menggenggam tangannya sendiri. Mengepal, marah, sedih dan hancur.


"Aku... dia tadi..."


"Bangs*t !!!"


Jordan memaki dirinya sendiri, menjambak rambut dan mencengkram kepalanya.


"Cukup, aku percaya..."


Rossalia menahan dada Jordan untuk memeluknya.


"Kau percaya padaku sayang?"


Jordan kembali ingin memeluk Rossalia.


"Aku percaya pada mataku..."


Rossalia berlalu pergi namun Jordan menahan dalam pelukannya, pria itu memeluk istrinya dari belakang.


"Lepaskan aku, atau aku akan semakin marah dan membencimu," geram Rossalia.


Jordan dengan enggan dan terpaksa sedikit demi sedikit melepaskannya.


Rossalia pergi berlalu kembali ke mansion dengan hati yang hancur.


Brida tak tahu apa yang terjadi, kenapa majikannya menangis di sepanjang jalan, dalam kondisi seperti ini dia berani bertanya, atau menganggu, apalagi majikannya sedang hamil membuat hormonnya tak stabil.


.


.


.


-Sesaat yang lalu sebelum Rossalia tiba-


"Tuan hari ini kita harus melihat proyek di Kota S, galery sudah selesai di bangun, semua menunggu akan bagaimana Tuan mendekor ruangan itu."


Freya menjelaskan.


"Kau saja yang pergi aku ingin pulang lebih cepat."


"Kau ajak Sean, Lorez sedang sibuk dengan tugas yang ku berikan."


"Lihat dulu bagaimana hasil bangunannya, apakah sesuai dengan yang ku mau."


"Baik Tuan saya permisi."


Freya berjalan keluar meninggalkan Jordan pergi menuju Kota S bersama Sean.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Angela masuk dengan wajah sendu dan memohon.


"Aku datang meminta maaf Jordan."


Wanita itu berdiri di samping meja.


"Aku malas denganmu, pergilah!"


Jordan berbicara tanpa melihat Angela.


"Aku akan kembali ke Negara J."


"Pergilah jangan pernah kembali lagi."


Suara Jordan ketus.


"Aku meminta 1 hal untuk ku pastikan bahwa kau benar-benar tidak pernah memiliki perasaan apapun."


"Tidak ada tawar menawar di antara kita."


Jordan masih menatap layar laptopnya.


"Apa kau takut?"


"Apakah kau tidak yakin pada dirimu sendiri."


Angela memainkan jarinya di atas meja Jordan.


"Tidak ada di dunia ini yang membuat Jordan takut."


Jordan melirik sinis Angela.


"Kalau begitu terimalah tantanganku, jika kau menerimanya dan tak bergeming, aku akan membatalkan pertunangan kita, meminta nya kepada Tetua Mafia menjaminkan dan menyerahkan diriku sendiri menjadi budak untuk mereka."


"Apa kau puas dengan penawaran ini?"


"Apa yang kau inginkan?"


Jordan mulai tertarik.


"Berikan aku waktu 30 menit untuk menyentuhmu, jika kau tak menginginkanku aku akan benar-benar pergi dari hidupmu dan penawaran ku akan berlanjut."


"Waktu mu 10 menit, aku tidak suka di sentuh wanita lain selain istriku."


"Apa kau takut?"


"Kau akan menginginkanku lebih dari kau menginginkan istrimu?"


Angela tertawa sinis mengangkat sudut bibirnya.


"Terserah kau saja, tapi ingat janjimu."


"Aku tidak akan mengecewakanmu."


Angela mulai mendekati Jordan, ia memakai pakaian yang sangat minim dan ketat, wanita itu duduk diatas paha Jordan, menekan dengan gairah dan hasratnya, kaki-kaki jenjang wanita itu panjang terulur di sisi-sisi paha Jordan, dan melepaskan heels nya membuang sembarang hingga kaki nya melingkar di kursi besar Jordan.


Pakaian wanita itu sudah turun hingga dadanya terbuka, berharap Jordan akan tergiur hasratnya.


Namun Jordan justru merasa mual, ia terus merasa jijik, amarah nya kembali bangkit wanita ini liar, naif, dan kotor, mengingatkannya pada ibunya.


"Apa kau sudah selesai?"


Tangan Jordan mencoba melepaskan lengan Angela yang melingkar dilehernya.


"Perjanjian kita adalah 30 menit."


"Apakah aku boleh mencium mu?"


"Aku tidak ingin mengotori mulutku, aku hanya mencium istriku."


"Baiklah, kita tetap seperti ini hingga aku telanj*ng."


Wanita itu benar-benar membuang pakaiannya, ia kini telanj*ng, dan mencoba membuka kemeja Jordan.


Saat itulah Rossalia masuk melihat dengan matanya sendiri bagaimana kemesraan itu terjadi.


"Ya Tuhan, aku tidak percaya ini, semoga ini hanya mimpi."


"Bangunkan aku, bangunkan aku Tuhan."


Rossalia menampar pipinya sendiri berkali-kali hingga pipi itu memerah. Kiri dan kanan secara bergantian.


"JORDAN...!!!"


Seketika dunia Jordan runtuh dan hancur melihat istrinya berdiri di depan pintu kantornya, melihatnya seperti ini dengan wanita lain yang tel*njang di atas pangkuannya, sedang berusaha membuka kemejanya.


"Bangs*t kau !!!"


Jordan melempar tubuh Angela dengan sangat kasar mengejar istrinya yang pucat pasi seperti kehilangan nyawanya.


.


.


.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2