CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 75- = EDGAR MULAI MENGUSIK


__ADS_3

Perusahaan Rossalia Grup semakin memburuk dikarenakan berita yang terus menerus menyudutkan Rossalia yang kini juga memiliki saham di perusahaan itu dampak yang di timbulkan oleh berita liar itu semakin meluas, berita buruk berimbas pada saham yang beredar, sedangkan anak perusahaan terkena imbas nya juga, produk-produk komersil semakin merosot peminatnya.


Freya serta Sean semakin kuwalahan, Jordan yang pergi meninggalkan Negara K menuju Chicago selama 3 hari membuat para pegawai semakin kelabakan, Sean yang tak pernah marah kini emosi nya sering meledak membuat Freya menjadi khawatir.


Malam telah datang dan Rossalia baru saja terbangun dari tidurnya, ia merasakan kantuk yang luar biasa, tubuh yang semakin lemas membuatnya hanya ingin berlama-lama berbaring di atas ranjang.


Sesekali ia melihat ponsel nya untuk memantau berita atau perkembangan perusahaan, sesekali ia juga berharap Jordan menghubunginya.


Ponselnya berdering tanda pesan masuk, dan itu dari suaminya.


"Sayang bagaimana kabarmu, aku sudah berada di Chicago, aku sangat merindukanmu."


Jordan menulis pesan nya kepada Rossalia.


"Baik-baik saja, kau jaga diri juga."


Rossalia membalas nya kembali.


"Tunggulah aku sayang, aku mencintaimu."


Pesan Jordan kembali datang pada Rossalia.


Rossalia yang merasa lelah ia mencoba berendam dalam air hangat di bathup, mewangian bunga mawar membuat nya mengembalikan fikirannya yang sehat.


Kurang lebih 2 jam lamanya Rossalia berendam, hingga Paman Lee datang mengetuk pintu ketika ia sudah selesai dan memakai pakaiannya.


"Nona para pelayan mengantarkan makanan untuk anda."


Kata Paman Lee, sembari para pelayan datang membawa baki-baki berisi makanan.


"Aku akan ke bawah Paman Lee, seperti biasanya."


Kata Rossalia.


"Tidak Nona, ini perintah dari Tuan Jordan, para pelayan akan melayani anda, serta anda dilarang memasak sementara waktu, dan juga tidak di perbolehkan pergi kemana pun l, kondisi di luar tidak aman untuk anda."


"Apa maksud nya tidak aman?"


Kata Rossalia bertanya.


"Media dan paparazzi semakin mengganas, perusahaan sedang dalam kondisi tidak baik, para media yang berdemo tadi siang menerobos masuk dan merusak fasilitas kantor."


Paman Lee menerangkan sembari membenarkan kacamatanya.


"Ya Tuhan apakah ini imbas dari apa yang telah ku lakukan saat menantang mereka?"


Rossalia menutup mulut dengan kedua tangan mungilnya karena terkejut.


"Hari ini terdapat beberapa teror di depan gerbang Mansion, pelaku sedang di buru oleh para pengawal."


Kata Paman Lee.


"Baiklah Paman Lee. Lalu dimana Brida, suruh dia ke kamarku."


"Brida sedang berada di markas besar Nona, ada masalah di sana."


"Kenapa banyak sekali masalah."


Rossalia kembali khawatir, ia berharap Jordan segera kembali.


Malam ini Rossalia tidur sendiri, meski beberapa hari ia menghindari Jordan dan memilih untuk mengunci kamarnya dari Jordan, namun kali ini ia merasakan perbedaan, ia semakin merasa kesepian dan sendirian.


Rossalia mematikan lampu kamar, fikirannya melayang-layang membuatnya ingin menghirup udara segar di luar, ia mengganti lampu kamar dengan lampu malam yang redup, ia duduk di balkon dan memandangi malam yang gelap, sesekali ia menatap bulan dan bintang setelah kemarin malam hujan terus mengguyur.


"Apa kau bodoh!!!"


Terdengar teriakan dari bawah dan itu tepat di bawah balkonnya.


"Ibu, Jason tidak bisa lagi."

__ADS_1


Kata anak lelaki itu.


"Apa kau mau hidup di jalanan lagi, makan makanan sisa berebut dengan para anjing!!!"


Wanita itu membentak kembali.


"Ibu ayo kita pulang!!!"


Kata anak itu lagi.


"Pulang kemana, kita bahkan tidak punya rumah. Berhenti merengek atau ku pukul lagi!!!"


Suara wanita itu semakin keras.


"Apa yang dia lakukan dengan anaknya."


Rossalia berlari kebawah dan menuju taman belakang.


Setibanya disana ia melihat Sarah sedang memukuli anaknya Jason.


"Apa kau tidak waras, memukul anakmu sendiri."


Rossalia menarik Jason di pelukannya menjauh dari Sarah.


"Dia anakku bukan anakmu!!!"


Kata Sarah sembari pergi berlalu meninggalkan mereka.


Rossalia melepaskan Jason, ia menarik nafasnya panjang dan berbalik berjalan perlahan meninggalkan Jason.


"Terimakasih nyonya."


Kata Jason.


Rossalia berhenti melangkah dan berbalik.


"Aku hanya tidak tega dengan anak kecil."


Kalimat Jason terhenti.


"Jason kau bisa tidur di luar jika tidak segera masuk!!!"


Kata Sarah membuka jendela kamarnya.


Kemudian Jason berlari menuju kamar diama ibunya berteriak, ia ketakutan, anak itu berlari sembari menundukkan kepala.


Rossalia berbalik ingin masuk ke dalam Mansion namun tiba-tiba ada seorang lelaki bertubuh besar membuatnya menabrak dada pria itu.


Kemudian pria itu menangkap Rossalia yang hampir terjatuh mendekapnya dalam dadanya.


Merasa bahwa pria itu terasa asing baginya, Rossalia dengan cepat mendorong tubuhnya menjauh.


Samar-samar dalam remang-remang lampu malam, ia melihat sosok Edgar. Rossalia membelalakkan matanya. Namun Edgar dengan cepat menutup mulut Rossalia dan mendorong hingga membentur dinding di bawah balkon yang gelap.


"Aku merindukanmu."


Kata Edgar berbisik di telinga Rossalia.


"Aku benar-benar tidak dapat tidur karena terus memikirkanmu, awalnya aku hanya ingin menjadikanmu alat melawan Jordan, namun aku terjatuh dalam perangkapku sendiri."


Edgar menelan ludahnya kasar.


"Jangan macam-macam atau Jordan akan membunuhmu."


Kata Rossalia


"Dimana suamimu?"


Edgar kembali berbisik di telinga Rossalia.

__ADS_1


"Ada di dalam kamarku, menunggu ku masuk."


Rossalia berbohong.


"Aku merencanakan semuanya dengan matang, aku tahu Jordan akan ke Chicago untuk memastikan apakah anak itu adalah anaknya."


Edgar tertawa sinis.


Edgar semakin menginginkan Rossalia, tubuhnya kian memanas, ia merapatkan tubuhnya yang besar dan tinggi pada Rossalia. Pria gila yang semakin menggila.


Tubuh Edgar bergetar karena gairah, ingin sekali mencumbu Rossalia, bercinta dengannya hingga pagi, mencengkram rambut Rossalia , kulit putih halus di lehernya, puncak payudar* Rossalia yang menggoda.


"Nona Rossalia."


"Apakah itu anda?"


Paman Lee berjalan mendekat, ia tak bisa melihat dengan jelas karena Rossalia berada di bawah balkon yang gelap.


Edgar mencium leher Rossalia, sedang Paman Lee semakin berjalan mendekat dengan pelan dan sikap waspada.


"Nona?"


Paman Lee semakin mendekat.


"Lepaskan brengs*k!!!"


Bisik Rossalia dengan geram.


Edgar masih saja mencium dan memeluk Rossalia yang meronta mendorong bahu dan tubuh Edgar, memukul dan mencubit, namun kekuatan pria itu tak sebanding dengan tubuh kecilnya.


Paman Lee yang semakin mendekat membuat Rossalia semakin ketakutan, ia tidak ingin sampai Paman Lee salah mengira.


Kemudian Edgar melepaskan Rossalia, ia berbalik dan menempelkan punggungnya pada dinding agar tak terlihat, baju hitam topi hitam semua serba hitam membuatnya semakin mudah bersembunyi.


Rossalia semakin terkejut kala Paman Lee tiba-tiba sudah berada tepat di depan Rossalia.


"Paman Lee..."


Kalimat Rossalia gugup dan tercekat.


"Apa ada masalah Nona kenapa anda berada di tempat gelap?"


Paman Lee bertanya.


"Ada benda milikku yang tadi terjatuh saat aku sedang di balkon."


Kata Rossalia berbohong.


"Apa harus saya bantu untuk mencari? Akan saya utus para pelayan."


Paman Lee mulai mengeluarkan ponsel nya.


"Ti-tidak, bukan benda penting besok saja akan ku cari sendiri."


Rossalia gugup dan segera pergi namun langkahnya kembali terhenti.


"Paman Lee, ganti semua lampu taman yang redup dengan lampu yang lebih terang jangan ada sisi yang gelap."


"Baik Nona."


Jawab Paman Lee tanpa bertanya kembali.


Rossalia meninggalkan Paman Lee yang masih merasakan sesuatu, ia melirik ke sekeliling dan berjalan mendekati dinding namun tidak ada apapun di sana.


.


.


.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2