CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 73- = SALAH PAHAM


__ADS_3

Malam yang dingin, dan hujan turun dengan lebat.


Jordan menyendiri di dalam bar mininya, masih ditemani botol demi botol alkohol yang ia habiskan.


Pikiran dan hatinya terluka oleh perkataan Rossalia.


Pria itu mulai mengingat kembali sepenggal demi sepenggal cerita saat malam laknat itu terjadi, ya bagi Jordan itu adalah malam dimana kecerobohan terbesarnya.


Jordan dengan keras memukul-mukul kepalanya, ia hanya mengingat bagaimana mabuknya dia hingga saat terbangun ia telah berada di kamar Sarah, saat itu sarah menangis ketakutan bersandar pada ranjang, ia duduk di lantai tak berdaya.


Lorez kala itu sedang bertugas di perbatasan untuk pengamanan markas Jordan di Iran.


Tragedi terjadi ketika Jordan mulai meminum anggur pemberian Ketua Black Eyes, tenggorokannya terasa kering dan ingin terus dan terus meminum anggur itu hingga berbotol-botol.


Kali ini Jordan benar-benar diujung jurang, ia harus menggali lebih dalam lagi informasi yang sudah bertahun tahun lamanya terpendam.


Tiba-tiba pintu bar terbuka, seorang wanita masuk dan duduk di samping Jordan.


"Kau jangan terlalu banyak minum, kesehatanmu jauh lebih penting, jika kau tidak menginginkan aku dan anakmu, kami bisa pergi."


Kata Sarah.


"Cih."


Ejek Jordan pelan.


"Aku siap melakukan Tes DNA, aku tidak berbohong dia adalah anakmu."


Kata Sarah meyakinkan.


Jordan hanya diam dan terus meminum whiskey nya. Pria itu terlihat berfikir keras, rahang dan pelipisnya mengeras.


Sarah membelai tangan besar Jordan yang sedang memegang gelas alkohol diatas meja marmer hitam yang mewah, ia juga mendekatkan tubuhnya, perlahan menyandarkan kepalanya di tubuh Jordan.


"Namanya Jason. Dia selalu bertanya dimana ayahnya berada."


Saat itulah Rossalia masuk membawa selimut besar di tangannya, ia berfikir suaminya pasti tidur di Bar mini, seperti biasa saat bertengkar dengan Rossalia, Jordan memilih untuk tidur di ruang baca atau di bar mininya.


Jordan yang melihat Rossalia sontak mendorong Sarah, kemudian ia berdiri di depan istrinya yang berada di ambang pintu.


"Ku pikir kau akan kedinginan jika tidur di sini, tapi ternyata ada wanita lain yang sudah menghangatkanmu."


Rossalia tersenyum getir dan meremas selimut tebal yang ada di pelukannya, ia menyesali kalimatnya dan ingin meminta maaf pada Jordan.


Karena emosi sesaat yang telah membutakan pikiran serta hatinya ia melontarkan kalimat perceraian pada Jordan yang mengakibatkan keduanya saling merasa tersakiti.


Namun pemandangan yang ia lihat mungkin akan mengurungkan niatnya.


"Aku..."


Jordan tak bisa menjelaskan, ia serba salah, dan seakan waktu serta keadaan tidak pernah berpihak padanya.


Rossalia mengangkat telapak tangan kanannya, serta menganggukkan kepalanya pelan, memberikan isyarat bahwa ia tak memerlukan penjelasan.

__ADS_1


Kemudian ia berbalik pergi menuju kamarnya dengan perasaan yang tercabik.


"Haishh!!!


Jordan berteriak dan menendang pintu hingga pintu itu terpental menimbulkan suara yang menggema.


Pria itu berkacak pinggang, sebelah tangannya memeganggi tengkuk leher nya, ia mulai emosi, saat itulah Sarah mendekat serta memeluk tubuh besar jordan dari belakang.


Namun Jordan melemparkan Sarah dengan perasaan marah serta jijik.


"Jangan pernah lancang!!!"


Jordan pergi berlalu meninggalkan Sarah yang bersimpuh di lantai, ia mengejar Rossalia, namun kamar Rossalia terkunci dari dalam, pria itu mencari kunci cadangan dan segera membuka pintu kamar istrinya.


Setelah pintu dapat dibuka, kamar itu dalam keadaan gelap gulita, Jordan menghidupkan lampu malam, cahaya redup yang tak begitu terang membuat penglihatanya semakin jelas.


Rossalia duduk di sudut kamarnya menekuk kakinya dan memeluk tubuhnya sendiri, ia menangis melampiaskan segala emosi perasaannya yang tertahan sejak beberapa hari berlalu, dari media dan paparazzi, juga haters yang selalu menjatuhkannya, serta dari tipuan dunia palsu yang Jordan berikan, dan ketika Edgar menghubunginnya.


Tangisan terisak yang tak bersuara membuat Jordan melangkah dan bersimpuh di depan Rossalia, pria arogan kasar dan angkuh itu tersayat melihat Rossalia yang menangis memeluk kakinya di sudut ruangan dalam kegelapan.


Jordan memeluk tubuh istrinya yang semakin membuat Rossalia menangis meluapkan kesedihannya, tangisan yang sebelumnya tak bersuara kini mulai seperti raungan keputus asaan serta luapan ketidakberdayaan, suara tangisan itu membuat Jordan semakin mengutuki kebodohannya sendiri.


"Maafkan aku."


Jordan memeluk Rossalia, mendekapnya erat dalam tubuh besarnya beralaskan lantai yang dingin.


"Kenapa kau lakukan itu..."


Emosi Rossalia semakin menjadi, tangannya memukul mukul bahu Jordan.


"Kau jahat!!!"


"Kau penipu!!!"


Rossalia menangis dan terus memukul tubuh suaminya.


"Ya aku pria jahat dan bodoh, aku terlahir dari seorang wanita kotor dan darah itu mengalir di seluruh tubuhku, aku sama dengan wanita itu. Pukulah aku sampai kau puas, tapi ku mohon jangan tinggalkan aku."


Jordan memeluk rossalia dengan erat dan menciuminya.


"Kau pembohong..."


"Aku tidak bisa percaya, aku ingin menyerah..."


"Aku mohon jangan menyerah..."


"Aku akan buktikan aku tidak bersalah..."


"Sabarlah sayang, akan ku buktikan..."


Rossalia terus menangis di pelukan suaminya hingga ia merasa lelah dan mulai bertambah lelah.


Rasa kantuk kian merajai dirinya, jiwa yang penuh luka dan kesedihan telah membuatnya ingin menyerah.

__ADS_1


Entah mengapa seakan Tuhan tak berpihak pada hubungan mereka, selalu saja banyak luka datang merasuki hati yang kian tak berdaya.


.


.


.


.


Pagi yang tak bersahabat, Rossalia membuka matanya pelan dari rasa kantuk dan lelah, ia sudah tidur sepanjang malam namun entah mengapa ketika ia bangun tubuhnya justru merasa semakin lemah.


Matanya tertuju pada sosok pria tampan di depannya yang masih tertidur.


Hidung mancung, dan tubuh yang kuat.


Tiba-tiba air matanya mengalir, lebih deras dari hujan yang sedang turun pagi itu.


Jordan yang samar-samar mendengar isak tangis mulai terbangun, ia memeluk tubuh Rossalia, mendekapnya dalam kehangatan dadanya.


Kemudian pria itu melihat kembali wajah istrinya yang di penuhi air mata, ia menghapusnya dan menciumi mata istrinya.


"3 hari sayang..."


"Beri aku waktu 3 hari, akan ku buktikan aku tidak bersalah."


Kata Jordan meyakinkan.


Rossalia masih terdiam dalam kebingungan, ia linglung dan di penuhi oleh banyak ketakutan, serta kekalutan yang merajai pikiran serta hatinya. Kegundahannya terasa semakin membuat tubuhnya gemetar.


Pernikahan dan kebahagiannya, semua angan dan mimpinya seakan berada di tepi jurang kehancuran.


"3 hari saja sayang, tunggulah aku."


Kata Jordan mengulangi kalimatnya.


Sedangkan Rossalia hanya mengangguk pelan.


Jordan masih memeluk dan mendekapnya.


"Hari ini juga aku akan terbang ke chicago, aku tidak bisa hanya mengutus para pengawal untuk menggali informasi, aku harus memastikannya sendiri."


"Di dalam kamarku terdapat brankas, kau ingat dulu aku menyimpan dokumen perjanjian itu di balik lukisan abstak?"


Rossalia masih mengangguk.


"Kode nya adalah tanggal ulang tahunmu, di sana ada pistol, serta tombol ruang bawah tanah, jika terjadi sesuatu tekan tombol itu pintu akan terbuka, di sana juga terdapat jalur bawah tanah, kau bisa keluar dari sana menggunakan mobil, saat kau menekan tombol darurat semua pengawal akan menunggumu di ujung jalan lorong bawah tanah, bersembunyilah di markas besar bersama mereka, ingat dengan baik logo organisasi suamimu adalah elang terbang berwarna emas."


Jordan mendekap dan menciumi istrinya.


.


.

__ADS_1


.


-Bersambung-


__ADS_2