
Malam yang cerah secerah hati milik Jordan, kegersangan yang selama ini ia rasakan mulai merasakan siraman air yang menyejukkan di dalam hatinya, pertemuannya dengan gadis kecilnya yang penuh dengan drama membuatnya semakin menghargai Rossalia, gadis kecilnya yang ia cari lebih dari 13 tahun dalam kegelisahannya, dan kerinduannya.
Pria itu kini semakin menunjukkan kasih sayang dan kelembutannya, tak ingin melukai perasaan Rossalia meski hanya seujung kukunya, tak ingin membuat Rossalia membencinya, kejadian-kejadian awal pertemuannya dengan Rossalia memberikan pelajaran yang besar bagaimana ia harus memperlakukan gadis kecilnya itu dengan penuh kesabaran dan kelembutan bahkan seperti layaknya memegang sutra terbaik, penuh dengan kehati-hatian.
Malam ini begitu banyak bintang terlihat, bahkan bulan memancarkan sinarnya dari balik jendela dapur.
Remang-remang terlihat bayangan dua pasang manusia menjadi satu, bayangan dua sejoli yang semakin memanas, badan mereka saling berg*sekan dan saling menekan merasakan aliran listrik yang kian dahsyat.
Jordan masih memeluk Rossalia dari belakang, tubuh gadis itu merasakan panas kulit pria itu, ia bertanya dalam hatinya,
"Apakah pria ini mabuk? Namun tidak ada aroma alkohol."
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
Suara Jordan lirih, serak dan tercekat.
"A-apa itu?"
Rossalia masih menahan dirinya, ia mulai gemetar, merasakan ada aliran aneh di tubuhnya, pelukan Jordan lembut, membuatnya semakin ikut memanas.
"Aku tak akan melepaskanmu."
Jordan membisikkan kalimat itu di telinga Rossalia dengan lembut bahkan, udara yang keluar dari mulut Jordan terasa panas di telinganya, gadis itu terdiam, kepala Jordan menuruni setiap inci leher Rossalia menciuminya dengan lembut.
Jordan mendekap Rossalia erat-erat, tangannya naik dan turun dengan lembut di sekitar pinggul Rossalia, tubuh pria itu kaku dan bergairah, kemudian pria itu membalikkan tubuh Rossalia menekan punggung gadis itu menjaga agar tetap menempel di tubuhnya.
"Aku mencintaimu."
Jordan membisikkan lagi kalimat-kalimat yang ada di dalam hatinya, dan membenamkan bibirnya di rambut Rossalia dan wajah gadis itu terlihat merona.
Pelukan Jordan semakin erat, dan ia membenamkan kepalanya semakin dalam di tengkuk leher gadis itu.
Rossalia memejamkan matanya, wajahnya bersandar di dada Jordan, tangan pria itu bagaikan rantai yang mengelilinginya, tubuhnya terasa membara melalui lapisan pakaian kimononya yang tipis, sedang Jordan hanya memakai boxer tanpa baju.
Kaki-kaki mereka telanjang diatas lantai yang dingin, namun lantai dingin itu tak bisa menahan bara api di setiap pijakan telapak kaki mereka.
"Sayang jangan takut, percayalah padaku."
__ADS_1
Suara lirih Jordan semakin memanas dan seakan menggema di telinga gadis itu.
Rossalia merasa di dera ketidakberdayaan yang aneh, rasa yang tidak sanggup ia lawan, tubuhnya tak ingin menurutinya, sepertinya tidak ada pilihan selain hanyut serta membiarkan dirinya terbawa arus.
Ibu jari Jordan menyentuh lembut bibir Rossalia, dengan pelan Jordan menci*um bibir ranum tanpa pewarna buatan itu, dengan kekagetan yang s*nsual Rossalia merasakan bibir Jordan yang lembut, ujung lid*hnya menyentuh bibirnya ,menelusuri lekuknya selembut mungkin, kemudian Jordan menekan bibirnya dalam-dalam ******* habis bibir Rossalia dan menguncinya.
Tubuh Rossalia tiba-tiba goyah kehilangan kendali atas dirinya, ia merangkul leher Jordan untuk menyeimbangkan badannya, sedikit demi sedikit lidah Jordan meny*sup lebih dalam dan bergerilya di semua mulut Rossalia.
Rossalia merasakan kekuatan liar dari dalam tubuh Jordan namun juga merasakan kelembutan dari pria itu, bagaimana pria itu dengan hati-hati memperlakukan gadisnya, belaian Jordan yang tanpa henti setiap inci mengikuti lekuk tubuh gadis itu.
Jordan menghentikan ciumannya, namun tangannya masih membelai naik dan turun di tubuh gadis itu.
Rossalia merasakan tatapan Jordan tertuju pada kepalanya yang tertunduk, mendengar desah nafas Jordan dan merasakan dada pria itu yang naik turun mengontrol nafasnya yang kian memburu.
Gadis itu bertanya-tanya, mungkin Jordan akan melepaskannya dan membiarkannya pergi, kemungkinan itu memberikan Rossalia harapan untuk terlepas dari rasa takutnya dan kegugupannya untuk pergi ke kamarnya dan menguncinya, entah kenapa kini Rossalia merasa malu dan gugup dengan Jordan, pria yang selama ini paling ia harapkan dari semasa mereka masih kecil.
Jordan mendengar suara Paman Lee, terdengar langkah itu menuju dapur, dan Jordan tidak suka diganggu.
Secara tiba-tiba pria itu mengangkat tubuh Rossalia dan menggendongnya, membawa ke kamarnya.
Pria itu menurunkan Rossalia sampai gadis itu berdiri, tangan besar Jordan kembali menangkup di wajah Rossalia membelai dengan lemah dan lembut seperti sutra, kemudian Jordan memutar badan
Rossalia membelakanginya, dan gadis itu merasakan mulut Jordan ada di pundaknya, nafas Jordan berembus panas menjalar di seluruh pundak dan tengkuknya.
Dengan lembut tangan Jordan terulur ke depan, tangannya terjulur meraih dad* Rossalia, lantai seakan menggoyahkan kaki-kaki gadis itu dan membuatnya bersandar pada badan Jordan yang kokoh.
Rossalia nyaris tak berani bernafas, saat jemari Jordan merem*s dad*nya, dengan lembut tangan pria itu bergerak masuk ke dalam kimono tipis Rossalia membelai seluruh dad* itu dengan lembut.
Rossalia tidak sanggup lagi menahan nafasnya, ia mendesah dan membuat tubuhnya semakin bersandar dalam-dalam di tubuh berotot Jordan.Tangan telanj*ng Jordan menyentuh kulit tubuh gadis itu membuat hilang kontrol atas dirinya, kendalinya atas tubuhnya telah terenggut oleh nikm*tnya sensasi sentuhan lembut Jordan.
"Kau sangat cantik dan wangi."
Suara Jordan parau karena gairahnya yang besar, dan mulut pria itu berada di telinga Rossalia.
"Kau sangat cantik seperti boneka yang sempurna, aku tidak akan rela jika para pria menatapmu."
Jordan memutar tubuh Rossalia menghadapnya, tangannya menurunkan kimono Rossalia, hingga d*da itu meny*mbul kokoh kencang dan padat dari kimononya.
__ADS_1
Tubuh mereka bersentuhan, apalagi kini dad* Rossalia menempel dikulit Jordan yang tel*njang, Rossalia malu dan merasa tubuhnya memanas.
Tangan Jordan mencengkram lembut tubuh Rossalia, Jordan menikmati tekanan *ntim diantara mereka.
Gadis itu mendesah lagi, mengerang pelan, suaranya lembut nyaring dan merdu di telinga Jordan.
"Rossalia..."
Jordan memanggil nama gadis kecilnya menelus*pkan bibirnya ke dalam mulut gadis itu, dalam-dalam.
Rossalia menyerah pada serangan-serangan Jordan yang lembut, ia memeluk leher pria itu erat-erat.
Namun tiba-tiba Rossalia teringat kenangan yang tidak menyenangkan, ketika Jordan pernah menjadikannya mainan, menyebabkan tubuhnya merinding, ia sudah berusaha melupakan kenangan-kenangan buruk itu, tapi memori itu kini kembali melandanya, bagaimana Jordan dengan serakah dan kebringasannya mengger*yangi tubuhnya dengan kasar.
"Ti-tidak, aku tidak mau."
Rossalia menahan dada pria itu, dan mendoronganya.
Jordan mengerti dan kembali menahan gejolak di tubuhnya.
Kini gairah yang sudah memanas di kepalannya dan di seluruh tubuhnya harus ia padamkan dengan cepat, semua itu terasa menyakitkan ia harus menhaannya jauh ke dalam, namun tidak lebih menyakitkan jika ia memaksa Rossalia yang akhirnya akan membuat gadis itu membencinya.
Jordan membenarkan kembali kimono Rossalia dengan lembut dan merapikannya.
"Tidurlah dengan ku, aku janji tidak akan melakukan apapun padamu."
Jordan memeluk erat Rossalia dan menggendongnya membaringkan di ranjang besarnya.
Jordan tidur memejamkan matanya dengan memeluk Rossalia, gadis itu hanya diam memandangi bulan dan bintang yang terlihat dari atap kaca diatas tempat tidurnya.
.
.
.
-Bersambung-
__ADS_1