
Kekhawatiran Jordan semakin menjadi ketika mengingat para paparazzi masih saja menguntit Rossalia serta haters yang mulai semakin terang-terangan menghina istrinya.
Jordan sangat tidak tenang meninggalkan Rossalia, namun ia harus pergi untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang terjadi sampai pada akarnya.
"Ingat jangan keluyuran di depan publik, para paparazzi masih mengejar dan semakin liar."
"Mengerti."
"Aku mengerti."
Kata Rossalia pelan.
Pagi itu menjadi pagi yang dingin, kalimat Jordan membuat Rossalia semakin takut, namun ketakutan Jordan jauh lebih besar karena harus meninggalkan Rossalia di tempat yang masih kacau, Jordan ingin sekali membawa Rossalia kemana pun namun chicago adalah sarang para mafia, apalagi melihat perempuan seperti Rossalia mereka pasti akan lebih sulit di kendalikan.
"Percayalah padaku, sekalipun aku terlalu mabuk, aku tidak akan pernah mengkhianatimu."
"13 tahun kehilangan dirimu sudah menjadikanku mayat hidup."
Dengan sigap tubuh kuat Jordan telah berada di atas Rossalia, jemari Jordan menyentuh lembut nadi leher Rossalia.
Perlahan-lahan kelopak mata Rossalia terpejam, dan dia menyerah sambil mengerang.
Tangan dan mulut Jordan mulai bergerak, mengundang kenikmatan yang semakin membara yang tak sanggup Rossalia tahan.
Jordan menyiksanya dengan belaian lembut hingga tubuh Rossalia kian menegang, menunggu siksaan lembut Jordan berakhir sembari matanya terus terpejam.
Rossalia mengangkat tubuhnya ketika Jordan mulai beraksi, beban dan kekuatan Jordan melesak, sementara mulutnya menciumi Rossalia dalam ciuman yang manis.
Tubuh Rossalia bergetar diiringi desahan dan jeritan kenikmatan, ia mencengkram kuat-kuat bahu Jordan. Kemudian tubuhnya tersentak dan terengah ketika Jordan mencapai puncak.
Ditengah kepuasan yang kuat Rossalia mencoba mengatur nafasnya, Jordan melepaskan ikatan ikatan di pergelangan tangan Rossalia, dengan wajah yang sendu Rossalia melingkarkan tangannya di leher suaminya.
"Kenapa kau melakukannya."
Kata Rossalia lirih.
"Aku sangat merindukanmu, meski kita satu atap tapi beberapa hari ini aku merasa kau sangat jauh dariku."
Jordan mencium lembut leher istrinya.
Jam terus bergerak, Rossalia masih tidur dalam kelelahan, tangan dan dada Jordan menjadi selimut serta bantal baginya.
Tak berapa lama pintu di ketuk.
"-Tok-Tok-Tok-"
Jordan menaruh kepala Rossalia dengan lembut, dan menyelimutinya sampai batas dada, kemudian pria itu memakai celananya namun dada bidangnya masih terekspose tanpa baju, ia berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Makanan sudah siap, aku sudah memasak, ku lihat kau dan istrimu belum turun jadi aku mengetuk pintu."
Kata Sarah sambil menelan ludah nya melihat ketampanan Jordan yang hanya memakai celana panjang, ia masih memakai celemek dan beberapa saat kemudian Sarah melempar pandangan matanya pada Rossalia yang masih tidur di balik selimutnya.
"Istriku masih tidur, karena kelelahan, Paman Lee yang akan memasak dan mengantarkan sarapannya nanti."
Kata Jordan sambil menutup pintu.
Sarah menggertakkan gigi dan meremas celemeknya, dari kejauhan anak laki-lakinya datang memandangi ibunya.
__ADS_1
"Ibu apa kau marah lagi."
Kata anak lelaki itu.
Sarah melempar pandangan nanarnya pada anak laki-laki itu dan mencubit lengannya.
"Aah!!!"
"Tangan Jason sakit..."
"Tahan teriakanmu!!!"
Sarah membelalakan matanya dan menyeret anaknya kembali ke kamar.
.
.
.
.
Jordan yang telah siap memakai setelan jas dengan matel besar di bahu serta kemeja logo mafianya, ia berjalan mendekati istrinya.
"Sayang, bangunlah sebentar."
Kata Jordan duduk di tepi ranjang, tangannya menyibakkan helai-helai rambut Rossalia yang menutupi wajah istrinya.
"Emm?"
"Antar aku ke bawah, aku akan pergi selama 3 hari ke chicago."
Jordan tersenyum hangat dan masih membelai wajah Rossalia.
Kemudian Rossalia duduk, sedangkan Jordan mengambilkan piyama yang tergantung untuk istrinya.
Mereka turun ke bawah, Lorez dan Paman Lee sudah berjaga di halaman sedangkan Freya serta Sean masih di buat sibuk di perusahaan.
"Paman Lee tolong jaga Rossalia."
Kata Jordan
"Dengan segenap jiwa dan nyawa saya Tuan."
Kata Paman Lee sembari menundukkan kepalanya.
"Tunggu aku sayang."
Kata Jordan sembari mencium dan memeluk Rossalia. Pelukan yang lama dan ciuman yang lembut serta hangat. Sebuah kebiasaan ketika Rossalia mengantarkan Jordan untuk bekerja, namun kali ini dengan kesan yang berbeda. Kesan yang lebih pada kehilangan dan kesendirian.
Sarah yang memperhatikan dari balik jendela terlihat menghubungi seseorang sedangkan Jason masih menahan tangisnya karena cubitan ibunya.
Setelah kepergian Jordan, Rossalia masuk ke dalam mansion, ia berjalan untuk kembali ke kamar, tubuhnya terasa lelah dan terasa sangat tidak nyaman berulang kali kepalanya seperti berputar.
"Apa kau punya gaun? Aku kehabisan baju."
Kata Sarah.
__ADS_1
Rossalia yang saat itu menaiki tangga berhenti dan berbalik.
"Bukankah Paman Lee sudah menyiapkan semua keperluanmu."
Kata Rossalia sembari menelusupkan kedua tangannya ke dalam saku piyama nya.
"Ya tapi gaun-gaun itu tidak berkelas, kulihat kau memiliki baju yang lebih bagus."
Sarah mulai memprotes,melihat angkuh pada piyama Rossalia.
"Bagiku pakaian adalah sesuatu yang kita kenakan agar tidak terlihat telanjang, kupikir wanita sepertimu lebih tahu itu, meski orang memakai pakaian yang mahal namun jika dia tidak memiliki harga diri akan tetap terlihat telanjang."
Rossalia mulai berbalik dan menaiki tangga dengan perlahan.
"Bukan aku yang menyerahkan tubuhku tapi Jordanlah yang telah merenggutnya, dia berjanji akan bertanggung jawab, jadi apa yang kau miliki itu sebenarnya adalah milikku."
Sarah berjalan menaiki tangga menyalip Rossalia, dan menyenggol bahu Rosaalia.
Rossalia menarik nafas panjang dan mencoba menenangkan diri, kepalanya semakin pusing dan tubuhnya makin terasa lemas.
Kemudian ia berjalan menuju koridor untuk kembali ke dalam kamarnya, namun ketika ia membuka pintu Rossalia dikejutkan oleh Sarah yang dengan lancang telah membuka seluruh laci serta masuk ke dalam ruang ganti.
"Apa yang kau lakukan di kamarku!!!"
Bentak Rossalia, matanya melotot, wajahnya merah padam karena kemarahannya.
"Seperti yang kau lihat, milikmu adalah milikku juga, aku melahirkan seorang anak, Jordan telah merenggut masa depanku, dan sekarang aku ingin menjadi satu-aatunya nyonya di rumah ini."
Sarah mulai memicingkan matanya, kebenciannya pada Rossalia terlihat jelas.
"Kau benar-benar tak tahu malu. Keluar atau ku panggil pengawal kesini dan melemparmu dari Mansion!!!"
Kemarahan Rossalia semakin menggila.
"Silahkan, apakah kemarahanmu membuatmu lupa sekarang? Bagaiman Edgar akan menghabisi dan mencabik-cabik Jordan serta meratakan perusahaannya."
Sarah tertawa akan kemenangannya.
"Mungkin kau salah paham denganku Sarah, dengarkan aku baik-baik."
"Aku setuju membawamu kemari bukan karena takut pada Edgar, tapi karena anak itu membutuhkan ayahnya, dan juga jika anak itu tidak memohon waktu itu padaku agar kau ikut, aku bahkan tidak sudi kau menginjakkan kaki mu di halaman Mansion ku, bahkan aku rela mati di sana, jadi berterimakasihlah pada anakmu."
Sarah meremas gaun yang telah ia ambil dari almari Rossalia, setidaknya ada 5 gaun dan perhiasan yang wanita itu ambil.
"Tertawalah sepuasmu, karena bisa jadi kau tidak akan pernah bisa tertawa lagi."
Sarah meninggalkan Rossalia dengan membawa gaun serta perhiasan yg ia ambil.
Rossalia dengan cepat memeriksa brankas di balik lukisan bunga mawarnya, kalung zamrud nya masih tersimpan di sana, kemudian ia bernafas lega.
.
.
.
-Bersambung-
__ADS_1