
"Aku agak lapar."
Rossalia memegangi perutnya, kemudian menambahkan lagi kalimatnya, dengan malu-malu.
"Sangat lapar."
Jordan tersenyum melihat Rossalia yang tersipu.
"Aku bahkan dari pagi belum makan sama sekali, dan telah mengeluarkan banyak tenaga."
"Aku bisa melakukan sesuatu tentang itu, aku tidak ingin istriku kehabisan tenaga di ronde ke dua."
Pria itu berdiri kemudian berjalan masuk ke dalam kamar , menekan tombol panggil cepat yang berada di dalam kamar.
Tak berapa lama pelayan tiba dengan beberapa nampan dan piring bertutup seperti kubah, dan meletakkan di meja mereka yang sedang duduk di balkon.
Kemudian beberapa pelayan lain pun masuk membawa meja dorong yang juga berisi penuh makanan yang tertutup.
Setelah pekerjaan mereka selesai, para pelayan keluar.
Jordan duduk di samping istrinya dan mulai membuka piring yang tertutup, melihat ada apa di balik tutup itu, berbagai kue pate kecil dan puding, pria itu mengambil satu dan menyuapkan pada istrinya.
"Kurasa pasti melelahkan untuk para pelayan-pelayan yang bekerja di sini."
Rossalia berbicara setelah ia selesai mengunyah kue kecilnya, dan sesekali menyuapkan makanan lain ke mulutnya.
"Kenapa?"
Jordan menjawab dengan masih fokus pada hidangan yang akan ia santap.
"Mereka harus menghadapi tekanan diktator mu dan sifat menguasaimu serta semua bentakan dan emosimu."
Dengan fasih nya Rossalia mendiskripsikan suaminya, membuat Jordan tersenyum sedikit, mengangkat ujung bibirnya.
"Jika mereka tidak kuat, mereka bisa berhenti."
Tegas Jordan sambil menikmati makanannya, dengan cepat melahapnya.
Rossalia mengernyitkan dahinya.
"Susah mencari pekerjaan jaman sekarang, mungkin mereka bertahan karena keadaan."
"Terkadang aku tidak terbiasa jika mereka melayaniku dengan sikap yang sangat takut, kalau-kalau yang mereka kerjakan tidak sesuai harapanku, seakan-akan aku adalah jelmaan mu yang memiliki tempramen labil."
"Kau akan terbiasa."
Jordan menyendok kuah daging yang berbumbu rempah dengan jamur truffle.
"Bagaimana jika aku tidak terbiasa, aku lebih suka mengerjakan semua nya sendiri, kadang ketika aku menyuruh mereka untuk melakukan ini dan itu seperti tidak sejalan dengan hatiku, apalagi umur mereka jauh lebih tua di banding aku, akhirnya aku melakukan pekerjaan itu sendiri namun mereka tetap membantuku."
Rossalia mengeluarkan perasaannya yang dulu, ketika masih awal-awal berada di mansion akan kekikukkannya saat para pelayan membantunya mandi dan yang lainnya.
"Kalau kau tidak terbiasa dengan itu kita bisa berhentikan sebagian dari mereka."
Tegas Jordan sembari mengangkat kedua bahunya dan melengkungkan bibirnya, meyakinkan Rossalia.
__ADS_1
Rossalia membalas melengkungkan bibirnya pula, dan mengernyitkan dahi tanda ia tak setuju, sangat sulit mencari pekerjaan, apalagi dengan gaji yang besar, ia tahu karena Lolita sering menceritakan bagaimana ia membiayai seluruh keluarganya dari hasil gaji nya sebagai pelayan, bagaimana adik nya dapat bersekolah di perguruan yang bergengsi.
"Aku tidak bisa memecat siapapun, hati nuraniku sangat sedih mendengar kalimatmu."
Jordan geli dengan Rossalia yang mulai dilema.
"Berarti kita akan tetap memperkerjakan mereka."
"Kau akan lebih punya banyak waktu untuk melakukan semua hobi yang kau senangi tanpa memikirkan semua pekerjaan-pekerjaan di mansion contoh nya menanam lebih banyak bunga dan merangkainya."
"Benar juga." Kata Rossalia, senang membayangkannya.
Mereka melahap makan malam dengan santai.
Rossalia menyukai setiap masakan koki di mansion, Jordan mempekerjakan koki yang berlisensi.
Menu hidangan makan malam yang membuat Rossalia takjub dengan lobster gemuk dan daging sapi yang di oleh dengan banyak rempah-rempah, juga ada kue-kue yang tak terlalu manis sesuai dengan selera Rossalia yang tak terlalu suka dengan manis.
Kentang yang di oles krim susu asam, serta salmon yang di bungkus daun dengan segala rerempahan bumbu.
Jordan terus menenerus memaksa istrinya untuk mencicipi seluruh menu hidangan mereka.
"Apakah kau selalu makan yang seperti ini?"
Tanya Rossalia yang puas mengoleskan lobster pada saus nya.
"Aku tidak mengerti kenapa kau tidak bertambah gemuk, seharusnya perutmu membulat."
Jordan tertawa menarik Rossalia dan mencium leher istrinya yang putih.
"Aku jarang makan, dan aku rutin olahraga."
Rossalia mengelus perutnya.
"Apakah kau benar-benar pria terkaya di negara ini, benarkah kau punya banyak properti dan kekayaan lainnyaa.... aku hanya penasaran.... ohh lupakan saja."
Rossalia ragu-ragu, ia duduk di paha Jordan merangkulkan kedua tangannya di leher pria itu.
"Kau ingin tahu tentang apa sayang?"
"Berapa banyak hartaku?"
Jordan menarik Rossalia dalam pelukannya dan menciumi istrinya.
"Jika aku memberitahumu, ini tidak akan selesai sampai berhari-hari, dan ringkasnya ada beberapa perusahaan induk, dan ratusan anak perusahaan, real estat, mansion, tanah, pulau, pertambangan, saham, banyak lagi, dan juga memiliki setidaknya lebih dari 2000 pengawal yang sedang dalam pelatihan dan 500 pengawal unggulan."
"Apakah semua berada di Negara K?"
Rossalia tidak tahan ingin menggali lebih jauh.
"Tidak, semua tersebar di negara-negara lain juga."
"Aku baru menyadari, betapa kau sangat kaya, ini agak menakutkan."
Rossalia hampir kebingungan dirinya harus tertawa atau cemas.
__ADS_1
"Kau akan terbiasa."
"Kurasa sulit."
Rossalia menggelengkan kepalanya.
"Kau sudah tidak murni, sudah menjadi istriku, sudah terlambat berubah pikiran."
"Yang jelas kau terlambat untuk menyesalinya."
Suara Jordan ringan namun cukup menekan.
"Aku bisa hidup sendiri, mengasingkan diri, dan menua bersama anak-anak di panti asuhan."
Rossalia hanya bercanda, tidak menyadari wajah Jordan mendadak tegang.
"Katamu kau akan tetap bersamaku dan tidak meninggalkanku."
"Pada saat itu ku rasa kau hanya sosok Jordan yang dulu, aku tidak tahu kau hampir memiliki setengah dunia, ini hampir berat untuk ku terima."
Rossalia berdiri, ia berjalan mendekati pagar balkon, menggenggam besi-besi pagar itu dengan erat, pandangan tertuju betapa luasnya mansion yang kini ia tinggali.
Jordan mengikuti Rossalia, memutar tubuh istrinya agar mereka berhadapan.
Tangan Jordan menggenggam lengan atas istrinya dengan erat hingga terasa menyakitkan mungkin sedikit tambahan tenaga akan meremukkan tulang Rossalia.
"Ahhh... apa !!!"
Nafas Rossalia tercekat, ia terkejut.
"Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkanku !!!"
Suara Jordan datar namun cengkraman pria itu kuat dan menyakitkan, tatapannya seperti elang yang tajam.
"Aku tidak ingin meninggalkanmu, aku hanya menggodamu."
Rossalia melihat tatapan tajam Jordan dan mencoba menerobos ke dalam mata pria itu, dengan perkataan yang hanya asal-asalan, suaminya telah tersulut, tubuh Jordan diam dan mematikan, masih menatap istrinya, sementara Rossalia mencoba menenangkan suaminya.
"Aku tidak akan bercanda seperti itu lagi, dan tidak akan menggodamu seperti itu, jangan memegang lenganku sekuat ini."
Jordan mulai melonggarkan cengkramannya, dan ia mulai bernafas lagi, mengontrol ritme dada nya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu," gumam Rossalia.
"Terlalu banyak wanita penipu, tapi aku mohon jangan kau, 13 tahun membuatku gila, demi kau lah aku menggenggam dunia."
Jordan mulai menyentuh Rossalia, ia tak ingin berhenti.
"Aku menginginkanmu, dan selalu menginginkanmu."
Jordan membawa istrinya ke ranjang, memenjara tubuh Rossalia, melakukan kemesraan mereka lagi yang semakin panas.
.
.
__ADS_1
.
-Bersambung-