
Jordan terkepung di antara pengawal-pengawal Edgar yang siap membunuhnya, sialnya pistol Jordan hanya tersisa dua peluru, dan pria itu masih bersembunyi. Tak berapa lama para pengawal kian mendekati persembunyiannya.
Terdengar langkah-langkah puluhan karyawan telah berada di belakang tumpukan kursi yang ia gunakan untuk sembunyi, mereka mengendap endap.
Jordan dengan cepat melempari para pengawal dengan tumpukan kursi-kursi usang.
Saat para pengawal lengah, Jordan maju dan mulai menembak dua pengawal tepat di jantung mereka dan mengambil pistol mereka.
Dengan gerakan sangat cepat Jordan menembaki para pengawal tak berapa lama ke dua pistolnya pun telah habis pelurunya, pria itu bertarung dengan beberapa pengawal yang paling depan, mencuri pistol mereka.
Jordan berhasil mengambil dua pistol lagi yang kemudian kembali ia gunakan di tangan kanan dan kirinya, karena para pengawal mulai menembakinya ia mundur bersembunyi di balik tumpukan kursi lagi.
"-Dorr-Doorr-Dorr-!!!"
"DORR-DOORR-DORRR-!!!"
Tembakan demi tembakan yang brutal terus mengenai tumpukan kursi hingga membuat Jordan semakin terhimpit.
Entah keberuntungan atau Tuhan menyelamatkan lagi hidupnya, saat bertarung dengan para pengawal dan merebut pistol ia ingat melihat jerigen bensin yang sudah tak terawat di sudut dinding tepat di belakang para pengawal.
Jordan berguling ingin mendekat pada jendela namun untuk keluar melalui jendela ia harus melompat sedangkan jarak dari tempatnya bersembunyi lumayan jauh, ia harus menghentikan para pengawal untuk berhenti menembak.
Jordan mengarahkan pistolnya pada jerigen bensin itu dan menyebabkan ledakan cukup besar.
"-DDUAARR-!!!"
Membuat sebagian pengawal terkena ledakan, Jordan melompat melalui kaca jendela.
"PYAAARR!!!"
Jendela kaca pecah karena Jordan menabrak dan melompat dari jauh.
Jordan berguling, tubuhnya penuh luka karena pecahan kaca.
Pria itu bersembunyi, tiarap di balik semak-semak belukar saat para pengawal yang tersisa masih menembakinya.
Jordan menyembunyikan satu pistolnya di pinggang, dan membidik lurus para pengawal dengan pistol satunya.
"-DORR-!!!"
Tembakannya tepat di perut pengawal.
Jordan kemudian bernafas lega ia berbaring di rerumputan semak belukar.
Nafasnya tersengal tak beraturan, banyak luka di tubuhnya.
Pria itu berdiri melihat gedung yang masih terbakar, namun tiba-tiba seorang pengawal yang akan mati menembakan pistolnya dengan tangan gemetar, tembakan terakhirnya itu melesat kepada Jordan.
"-DORR-!!!"
"-SREETT-"
__ADS_1
Peluru itu mengenai sisi kiri Jordan, menggores kemeja dan perutnya.
Meski peluru hanya menyerempet namun lukanya cukup dalam.
"Haisshh!!!"
"Aaaggghhhh...!!!"
Kata Jordan terduduk kesakitan, membuang pistolnya, ia mendengus dan menekan perutnya menggunakan kedua tangannya.
Kemudian pria itu membungkukkan punggungnya berlari tergopoh menjauh dari gedung sambil menahan darah yang terus keluar dari perutnya.
Jordan terus berlari di antah berantah, lama ia berlari hingga tubuhnya semakin memutih dan pucat menahan sakit karena tembakan dan darah yang semakin tak terkendali.
Akhirnya sampailah ia dijalan raya, Jordan mengambil sebuah mantel yang berada di atas jemuran di belakang rumah seseorang, Jordan menerka sepertinya ia berada bukan di kota besar, hanya pemukiman miskin.
Jordan memasuki sebuah minimarket yang juga memiliki klinik sederhana, pria itu mengambil beberapa whiskey, disinfektan dan beberapa obat luka lainnya, ia juga memaksa seorang perawat untuk memberinya hecting set, guna menjahit luka di perutnya.
Sang pegawai minimarket menatap takut serta penasaran melihat Jordan yang sangat lusuh, tubuhnya penuh darah.
Jordan melepaskan jam tangan mahal nya.
"Jam asli, kau bisa membeli sebuah mobil dan rumah dengan itu."
"Anggap kau tak pernah melihat ku."
"Cepat bungkus semuanya."
"Ini tuan, apakah anda perlu bantuan saya?"
Kata pegawai itu kembali.
"Beri aku beberapa dolar."
Kata Jordan tak sabar lagi.
Sang pegawai perempuan memberikannya beberapa lembar uang dolar miliknya.
Jordan kemudian menggunakan uang itu untuk menyewa kamar dengan ruangan yang kecil dan kumuh.
Seorang kakek tua membukakan pintu untuknya, dan mempersilahkan Jordan masuk.
Pria itu berbaring di atas ranjang, seharian ia berjalan dan berlari tanpa alas kaki.
"Haisshh!!!"
"Bangsat!!!"
Jordan mulai meminum whiskey nya, ia kemudian membuka bajunya dan menyiramkan whiskey itu pada luka nya pula, dengan tangan gemetar ia membuka beberapa obat luka dan menempelkan obat pada perutnya, pria itu takut jika terlalu lama didiamkan akan menimbulkan infeksi.
"Aaarghhhh!!!"
__ADS_1
Jordan menahan teriakannya, suaranya seperti harimau yang menggeram, berkali kali ia mendengus-dengus.
Terlihat berkali-kali pula ia menelan ludah dengan kasar, pelipis dan rahangnya pun mengeras.
Pria itu kemudian berbaring sambil meminum whiskey nya lagi, nafasnya masih tersengol-sengol, dadanya naik dan turun.
"Luka yang cukup dalam aku harus segera menjahitnya, jika tidak darahnya tidak akan berhenti."
Bisik Jordan lemah.
Jordan meraih alat-alat yang telah ia beli di minimarket.
Pria itu mengambil kain menggulungnya menjadi sebuah gumpalan seperti buntalan bola dan menggigitnya, ia mulai menjahit lukanya sendiri.
Teriakan-teriakan dan erangan kesakitan, otot-otot kepala dan tubuhnya terlihat ketika ia mulai menusukkan jarumnya, satu demi satu tusukan, dan semakin lama wajahnya semakin merah menahan kesakitanya.
Tubuh berototnya bergetar dan menggigil, kain yang tadi kering mulai basah terkena air liurnya sendiri.
Darah semakin banyak, dan ia menyiram dengan disinfektan yang ia beli.
Botol demi botol whieskey telah habis, karena sesekali ia berhenti untuk minum dan membuka gumpalan kain di mulutnya.
Botol-botol disinfektan dan perban yang penuh darah tercecer di lantai.
Jam demi jam Jordan tersiksa. Wajahnya merah padam, keringat dingin bercucuran, tangannya gemetar, tubuhnya bergetar, otot-ototnya menegang.
Setiap tusukan Jordan menggigit kain yang ada di mulutnya, erangan, menggeram bak harimau yang marah mengisi ruangan tersebut. Akhirnya jahitan lukanya telah selesai, ia membalutnya dengan perban memutari perutnya, balutan yang rapi, tangannya sangat terampil meski bergetar hebat.
Jordan membuang gumpalan kain yang berada dalam mulut dan membaringkan tubuhnya dengan erangan panjang.
Pria itu merasa lemas, ia memejamkan matanya, kembali memutar ingatan demi ingatan di setiap kejadian yang terjadi.
Terlihat setitik air di sudut matanya, lehernya tercekat menandakan ia sedang menahan kesedihan.
"Ku harap kau baik-baik saja istriku."
"Aku sangat mencintaimu sayang."
Kata Jordan berdoa dan berharap istrinya akan baik-baik saja.
Jordan tertidur karena kelelahan, dan malam telah datang, kamar nya gelap tanpa penerangan. Pria itu kemudian melenguh, sekujur tubuhnya terasa sakit.
Jordan mencoba berdiri perlahan, berjalan terseok, ia mencari dan meraba-raba saklar lampu di dekat pintu kamarnya dan menekannya, akhirnya lampu menyala meski hanya redup dan tidak terlalu terang namun itu sudah cukup membuatnya dapat melihat dengan jelas.
Jordan mulai mengamati ruangannya dengan seksama. Kamar yang ia sewa bukanlah kamar kosong, ternyata ada beberapa baju yang tertinggal di almari serta ada sepatu usang berdebu meski tidak sebagus yang Jordan miliki namun alas kaki itu cukup muat untuk kaki nya, yang paling penting ia memerlukannya.
.
.
.
__ADS_1
-Bersambung-