
-Kota S-
"Mateen kau harus lihat ini."
Amber membuka pintu kantor dengan keras dan berjalan mendekati meja Mateen, kemudian memberikan beberapa dokumen.
"Apa ini?"
Mateen memegang dokumen pemberian Amber.
"Bacalah, kau akan mengerti, aku sangat pandai mencari informasi."
Mateen membuka dan membaca semua dokumen itu.
"Jadi Luna dijual kepada Herder oleh ibunya sendiri !!!"
"Ibu macam apa dia !!!"
Mateen meremas dokumen yang sedang di bacanya itu.
"Ya, tapi dia bukan ibu kandunganya, Luna hanyalah anak adopsi ilegal."
"... dan apa kau tahu?"
"Namanya bukan Luna..."
Amber kemudian duduk di sofa, nafasnya tak beraturan karena kelelahan, dia berlari menuju kantor Mateen.
Mateen memutar kursinya dan terkejut. Kening nya mengerut.
"Apa kau bilang... !!!"
Amber meminum segelas air putih dan melanjutkan kalimatnya.
"Aku menemui Kakek Herder, dan bertanya padanya, dia mengatakan kalau namanya adalah Rossalia."
"Jadi maksud mu Luna atau Rossalia berbohong pada Jordan?"
"Jadi siapa yang membohongi Jordan?"
"Ibunya atau gadis itu sendiri yang berbohong?" "Akan menjadi besar urusannya jika gadis itu terbongkar identitasnya."
Mateen kembali mengkhawatirkan gadis itu dan mencoba memikirkan sesuatu.
Kemudian Amber menceritakan kronologi kejadiannya hingga dimana Herder bertemu dengan Jordan.
Mateen dengan seksama mendengarkannya.
Cukup lama Amber bercerita, setelah Amber selesai menceritakan semuanya, Mateen hanya diam dan terus berfikir. Namun tiba-tiba Mateen berdiri.
"Siapkan Jet kita harus ke Negara K."
Mateen membuat keputusan dan bergegas pergi sembari menyambar jas nya.
"Tapi bagaimana dengan Hotel Amour ?"
Amber tak percaya Mateen di butakan oleh cintanya.
Lagi-lagi Mateen mengacuhkan Amber.
Kini dalam hati dan pikirannya hanya di penuhi bayangan gadis itu.
Mateen yang tak pernah bisa membuka hatinya untuk siapapun kini justru terperangkap dengan gadis milik Jordan.
Langkah nya kian di percepat, ia tak ingin melewatkan sedetikpun, bahkan Mateen melupakan tujuannya untuk melebarkan sayap Hotel Amour.
Helikopter sudah mendarat di atap hotel, Mateen dengan gagah masuk ke dalam heli diikuti oleh Amber.
Mateen duduk di depan, ia menggunakan belt safety nya dan memakai headphone.
Helikopter terbang menuju landasan dimana pesawat Jet pribadi sudah menanti mereka di sana yang akan membawa mereka pulang ke Negara K.
.
.
.
-Negara K-
"Ini adalah kamarmu."
"Paman Lee sudah menyiapkan semua keperluanmu."
Jordan berdiri di dekat pintu kamar dengan memasukkan kedua tangan di saku celana, badannya sedikit bersandar pada dinding.
"Tapii tuan..."
"Kamar ini terlalu besar dan mewah, bukankah kamar pembantu seharusnya hanya berukuran kecil?"
Luna melihat sekeliling ruangan dengan kepala mendongak dan berputar.
__ADS_1
"Ya kau memang pembantu, tapi pembantu pribadiku."
"Kau tidak boleh melayani orang lain, dan kau tidak boleh disuruh-suruh orang lain."
"Kau harus ingat, hanya aku tuan mu."
"Lalu apa pekerjaan saya tuan?"
Jordan mendekati gadis itu, memeluknya dari belakang.
Luna merasa semua badannya merinding.
"Ap-apa, semua pembantu selalu seperti ini tuan?"
"Diamlah aku hanya ingin memelukmu seperti ini..."
"Kau harum sekali..."
"Tu-tuan saya bukan gadis murahan."
Jordan membalikkan badan Luna dengan kasar, kemudian berbisik di telinga Luna
"Maka dari itu, jangan sampai kau di sentuh laki-laki lain."
Jordan mencium bibir Luna, hingga gadis itu tak bisa bernafas.
Kemudian Jordan menggigit bibir dan berpindah menggigit telinga gadis itu.
"Aauuwww !!!"
"Tu-Tuan sakiittt... !!!"
"Apa kau paham, bahkan aku akan menghukummu dengan sangat kasar jika kau melanggar aturan ku !!!"
"Sa-saya paham Tuan, to-tolong lepaskan saya, tuan, saya tidak bisa bernafas."
Karena pintu tidak ditutup suara langkah Freya terdengar oleh mereka. Seketika Luna ingin melepaskan pelukan nya, namun Jordan menolak.
"Tuan, Dokter Imanuel menunggu anda di ruang baca."
Jordan yang memeluk Luna dengan erat kemudian melepaskannya.
"Istirahatlah dulu, aku akan ke bawah menemui dokter Imanuel."
"Baik Tuan."
Freya kemudian masuk ke dalam kamar karena membawa beberapa dokumen untuk diberikan kepada Luna.
"Baik Nona Freya, saya akan mempelajarinya dengan cepat."
"Kalau anda sudah mengerti dan tidak ada pertanyaan saya permisi."
Freya menundukkan kepala dan meninggalkan ruangannya.
-Ruang Baca-
"Jadi kau bilang dada mu sering sakit, lalu ada rasa berdesir, dan kadang berdetak tak beraturan?"
Dokter Imanuel duduk di sofa tepat di depan Jordan setelah memeriksa keseluruhan fisik Jordan.
"Lalu, kapan itu terjadinya?"
"Ketika aku bertemu gadis itu, namun aku juga sangat marah padanya nya saat dia tidur di ranjang orang lain."
"Akhir-akhir ini pun mood ku seakan berubah-ubah, aku merasa lelah sendiri, kau tahu bukan aku paling benci pantai, entah kenapa malam itu aku justru mengajak gadis itu kepantai hanya karena dia suka dengan pantai."
"Siapa gadis itu Jordan?"
"Gadis kampung, wajahnya cantik, lugu, dan polos, namun juga bodoh."
Jordan kembali tersenyum.
"Aku sudah lama tidak melihat mu tersenyum, dan aku bahagia melihatmu yang sekarang, ini awal yang bagus untuk meredakan gejala depresi mu."
"Apa kau masih tidak bisa tidur setiap malam?"
"Ahhh,,, aku jadi ingat, akhir-akhir ini aku bisa tidur dengan baik bahkan aku tidur lebih awal dan bangun sangat siang tanpa meminum alkohol atau obat tidur."
"Apakah aku boleh berkenalan dengan gadis itu?"
Seketika Jordan merubah wajahnya menjadi tidak senang.
"Baiklah, baiklah jika tidak boleh..."
"Aku pikir kau tidak memerlukan obatku, jadi aku hanya berpesan mulai malam ini dan seterusnya cobalah untuk lebih dekat dengan gadis itu."
Dokter Imanuel meninggalkan ruang baca.
Jordan masih merenungi kalimat demi kalimat dokter nya itu, hingga dia kesal kenapa si dokter si*lan itu bukan memberinya obat tapi justru malah memberikan teka teki untuknya.
Jordan kemudian ingat mainan baru nya.
__ADS_1
"Sedang apa ya gadis itu?"
"Aku akan melihatnya..."
Jordan yang dengan tiba-tiba masuk ke dalam kamar, sontak membuatnya Luna kaget.
Luna sedang duduk di depan meja rias, menyisir rambut nya yang panjang.
"Apa kau harus se kaget itu?"
Jordan berjalan mendekat dan mengambil sisir dari tangan Luna , kemudian menyisir pelan rambut gadis itu.
Luna memakai piyama tipis yang mini.
Dia merasa tidak nyaman dan ingin pergi namun Jordan menahan bahu nya agar tetap duduk.
Sesekali dia mengelus-elus lembut kepala Luna sembari terus menyisir.
"Apakah tuan memerlukan sesuatu ?"
"Yaa... aku butuh kamu..." Jordan menghentikan aktifitas sisir menyisirnya, membungkukkan badan kemudian memeluk Luna.
"Tu-tuan apa yang anda lakukan ?"
"Aku merasa nyaman seperti ini."
Jordan merasa Luna benar-benar memberikannya energi positif, namun juga seperti candu baginya.
"Kali ini aku harus menahannya lagi."
Jordan membisikkan kalimat itu di telinga Luna, dan menghempaskan nafasnya.
"Apa Freya sudah memberikan salinan dokumen perjanjian kita padamu?"
Jordan masih memeluknya dengan membungkuk.
Mereka beradu pandang melalui pantulan cermin kaca, Luna merasa malu dan membuang mukanya.
Jordan tersenyum dan mengecup lembut pipi Luna.
"Sudah tuan..."
"Nona Freya membawa beberapa dokumen untuk saya."
"Hmmm..."
"Pelajari itu..."
Jordan membenamkan wajahnya di leher gadis itu.
Luna merasa sekujur badannya merinding.
"Kau Istirahatlah, aku akan tidur di kamarku."
"Jika terus disini, aku akan berubah menjadi binatang buas dan memakanmu."
Jordan melepaskan pelukannya, dan berlalu meninggalkan Luna yang duduk terdiam di depan kaca.
Dia benar-benar merasa malu.
Kedua tangannya menutupi wajahnya.
"Apakah Tuan Jordan kanibal?"
"Apa aku akan menjadi makanannya atau mainannya?"
Rasa sedih kembali hadir dalam benaknya.
Dia merasa menjadi wanita murahan, membohongi semua orang akan identitasnya dan sekarang dijadikan boneka oleh laki-laki.
Luna bangkit dari kursi dan meringkuk diatas ranjangnya, dia menarik selimut menutupi badannya.
kini ada perasaan kotor dan ternoda.
Namun jika membayangkan pria itu, dia benar-benar merasa nyaman dan ingin selalu berada di dekatnya.
"Apakah aku sudah menjadi wanita murahan?"
"Hingga rela diperlakukan seperti ini?"
"Tapi dia adalah penyelamatku, setidaknya aku harus membalas nya...."
Luna tenggelam dalam pikirannya dan ia bergumam sendiri, tanpa sadar matanya mulai menutup perlahan.
.
.
.
-Bersambung-
__ADS_1