
Di sisi belahan ujung Negara K, tepatnya daerah tak berpenghuni dimana terdapat Laboratorium yang besar berdiri dengan kokoh dan megah, ada seorang pria yang sedang di buat sibuk untuk memperbaiki kekacauan-kekacauan dalam perusahaannya, lebih tepatnya semua perusahaan yang berada dalam kendali dan naungan MATH GRUP.
Banyak berita bersliweran dimana-mana, berita yang memojokkan MATH GRUP dan segala hal tentang pertunangannya yang gagal, berita tentang Mateen yang menjadi pria ketiga dan sebagainya, bahkan banyak berita buruk tentang Rossalia.
"Sepertinya ini adalah rencananya membuatku sibuk sepanjang waktu agar aku tidak punya kesempatan untuk mendekati Rossalia."
Mateen tertawa getir melihat ponselnya yang berisi notifikasi semua berita miring tentang nya dan perusahaan.
Amber hanya mengusap punggung Mateen dengan halus.
Entah sudah berapa kali Amber menyarankan Mateen untuk kembali ke Eropa , bahkan terakhir kali mereka harus melewati hari demi hari dengan perasaan canggung karena perdebatan yang hebat.
"Siapkan Rapat Terbatas Pemegang Saham Luar Biasa."
"Aku akan melakukan vote, kita kembali ke perusahaan MATH GRUP."
Mateen memberikan instruksi kepada Amber, dan mereka meninggalkan laboratorium.
Dalam perjalanan mobil melaju dengan sedikit menbah kecepatan, Mateen masih memantau berita-berita itu.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan sekitar 2jam, mereka sampai di perusahaan MATH GRUP.
Mateen berjalan dengan cepat menuju ruangan untuk rapat terbatas, para pemegang saham inti sudah menunggu dengan segala kecemasan, penuh tanya, dan kekesalan.
Mateen masuk dan memimpin rapat, belum selesai ia berbicara para pemegang saham yang tidak suka dengan Mateen sudah tidak sabar.
"Bagaimana ini, kisah asmaramu yang kekanakan itu membawa dampak yang besar untuk perusahaan !!!"
Lalu pria yang wajahnya tidak enak dipandang entah siapa ikut memberikan makian.
"Kau masih sangat muda, aku heran kenapa Tuan Matheew memberikan posisinya padamu !!!"
"Siapapun yang tidak suka dengan saya bisa pergi dari ruangan ini, apa aku harus mengingatkan kalian bahwa aku memiliki 80% saham di perusahaan ini !!!"
"Aku mengundang kalian semua rapat bukan untuk memberikan usulan-usulan tak berkelas, jika kalian tidak bisa memberikan solusi lebih baik simpanlah mulut kalian dengan baik."
Setelah beberapa jam lamanya, hingga malam rapat baru saja selesai, seakan semua orang merasa di penjara, mereka tidak bisa pergi.
Berbagai keluhan seperti punggungnya pegal dan pant*t mereka panas dan sakit karena terlalu lama duduk.
Mateen akhirnya membentuk tim untuk menekan berita-berita miring dan para haters yang kian berani.
Kemudian ia akan menindak tegas para media ataupun jurnalis serta wartawan yang masih memberitakan sesuatu yang tidak benar.
Pengacara unggulan MATH GRUP sudah di siapkan.
Mateen duduk di ruang kerja nya, memutar kursinya menghadap kaca yang besar melihat gedung-gedung pencakar langit yang penuh lampu terang, serta kemacetan jalanan yang hanya terlihat lampu-lampu kecil dari ruangannya.
Malam kian larut namun Mateen masih termenung di ruang kerjanya, ia tidak ingin pulang, Luxury hanya akan mengingatkannya pada gadis itu.
__ADS_1
Bagian atas gedung perusahaannya adalah apartmen yang sudah lama Mateen tinggali.
Ponsel Mateen berbunyi, ia memasukkan tangannya ke dalam jas dan mengambilnya.
"Hmmm?"
Mateen menjawab dengan malas.
"Tuan, saya menginformasikan Nona Rossalia dan pria itu hari ini menjadi korban penyerangan, namun sampai informasi ini diterima belum ada yang mengetahui siapa dalangnya."
Mateen terperanjak seketika dari tempat duduknya, seperti tempat duduk itu terbuat dari trampolin yang membuatnya terangkat ke atas.
"Lalu, bagaimana Rossalia?"
Wajah Mateen yang awalnya malas seketika berubah menjadi wajah kepanikan dan kecemasan.
"Kabar yang saya terima hari ini Nona Rossalia sudah sadar, dia sempat pingsan dan dokter bilang shock trauma."
Dada Mateen mulai naik turun, mengambil nafas panjang dan mengatur nafasnya, memikirkan Rossalia, namun kembali ia teringat tidak akan menang melawan Jordan.
"Teruskan pekerjaanmu, jangan sampai tertangkap."
Mateen mematikan ponselnya dan melemparkan di atas meja, ia mengambil sebotol whiskey dan hendak menuangkannya di dalam gelas, namun tangannya berhenti.
( "Jangan terlalu banyak minum minuman keras, yang saya tahu Jus buah jeruk lebih bagus untuk kesehatan, karena mengandung vitamin c baik untuk imun Tuan Mateen." )
Mateen teringat kembali pesan Rossalia yang selalu melarangnya meminum alkohol, bahkan kini ia rindu buatan jus jeruk Rossalia.
Dengan malas dan menyeret tubuhnya karena merasa berat ia ambruk di ranjang yang empuk masih membayangkan Rossalia yang terlepas dari genggamannya.
Pikirannya makin kalut ketika hasratnya kian tinggi, gairah yang tak pernah tersalurkan pada gadis yang teramat mempesona, betapa Mateen ingin menjelajahi setiap lekuk tubuh gadis itu dengan segala kelembutan yang ada, menikmati lekuk tubuh gadis itu di setiap incinya.
"Mungkin aku perlu seorang wanita menemaniku malam ini."
Mateen tertawa entah menertawakan apa, ia meraih obat yang ada di dalam laci kamar tidurnya, lemari kecil dekat ranjangnya.
"Lebih baik aku tidur dengan ini."
Mateen meminum obat antidepresan serta obat tidur.
"Baru kali ini aku menggunakan obat untuk tidur."
Beberapa menit kemudian Mateen sudah tertidur di ranjangnya.
.
.
.
__ADS_1
Matahari sudah mulai menyinari apartmen Mateen, Amber sudah lebih dari 1 jam membangunkan adik sepupunya yang masih tengkurap memeluk guling.
"Hmm..?"
Mateen memicingkan matanya kemudian menutup mata lagi dan membelalakan kembali, mencoba sekuat tenaga untuk bangun.
"Kau minum obat tidur berapa butir !!!"
"Aku hampir pingsan tidak kuat menahan kakiku karena ketakutan."
Amber memeluk Mateen dan menangis.
Mateen mengusap wajah dan rambutnya dengan 1 tangan, sebelah tangannya memegangi punggung Amber yang sedang memeluknya erat.
"Aku hanya minum 1 butir obat antidepresan dan 1 butir obat tidur."
"Bahkan kau masih memakai baju kemeja yang kau pakai kemarin, sepatu masih terpasang, hidupmu benar-benar tidak teratur."
Amber melepaskan pelukannya dan berdiri menyiapkan baju untuk Mateen.
"Cepat mandi, hari ini kita harus pergi ke Rumah Sakit Dreams."
Mateen berjalan dengan terseok-seok menuju kamar mandi.
Setelah beberapa jam pria itu sudah siap dengan pakaian kerjanya seperti biasa, memakai setelan jas yang mahal dan terlihat tampan.
Di tengah perjalanan mobil yang dikendarai Mateen terkena macet, hari senin dimana banyak orang pergi dengan tergesa-gesa dan kesal, ada juga yang mengumpat serta mengutuki sesama orang, banyak orang membenci hari senin setelah mereka menikmati liburan weekend atau hanya sekedar bersantai, hari senin manjadi hari yang mengesalkan.
Mateen masih termenung melihat keluar jendela dari dalam mobilnya, sadar ia melihat Rossalia yang keluar dari mobil bersama Brida, Mateen secepat kilat keluar dari mobil menerjang jalanan yang padat, membuat Amber berteriak-teriak tak tahu harus bagaimana, dengan terpaksa ia pergi sendiri melanjutkan perjalanan karena mobil di belakang mereka sudah berteriak-teriak mengeluarkan amarah karena mobil Mateen tidak juga melaju.
Mateen menarik lengan Rossalia dengan cepat dan memeluknya dalam-dalam.
Menbuat Rossalia tersentak kaget.
"Aku merindukanmu..."
Mateen membisikkan kalimat itu di telinga Rossalia.
Entah apa yang ada dalam pikiran Mateen, mungkin karena kegilaannya yang sangat merindukan dan mencintai gadis itu hingga ia tak peduli sedang dimana dan siapa saja yang memperhatikan mereka.
"Tuan..."
Rossalia menahan pelukan Mateen namun kekuatannya tak cukup untuk melepaskan diri.
Dari kejauhan Jordan memandangi adegan itu dari dalam mobilnya, ia menyusul Rossalia yang sudah lebih dulu pergi ke toko bunga.
.
.
__ADS_1
.
-Bersambung-