
Mansion semakin kacau dengan pengawal yang saling bertarung, penuh tembakan serta perkelahian.
Paman Lee bersembunyi di ruang rahasia untuk para pelayan dan pekerja, tempat itu sudah Jordan siapkan jika terjadi sesuatu, Sarah dan Jason pun ikut masuk di dalamnya.
Jordan semakin cepat mengendarai mobilnya, hingga sampailah di tempat tujuan dan dengan cepat naik ke dalam kamarnya.
Isi kamar sudah berantakan, ia mengambil senapan besarnya bak ramboo yang siap membunuh siapa saja yang menentangnya.
Terlihat Lorez sudah babak belur, tubuhnya penuh darah, sudah tak terlihat lagi wajah tampannya.
Namun bukan pengawal Jordan jika Lorez menyerah, ia masih kuat bertahan dan menyerang.
Jordan memberikan tembakan peringatan. Semua orang melihat, kini Jordan menjadi pusat perhatian.
Edgar yang sedang memukuli Lorez pun berhenti, pria itu sedang menarik kerah baju Lorez tepat di bawah tubuhnya, kemudian melemparkan tubuh Lorez hingga membentur lantai.
"Kau sudah kalah masih saja berlagak."
Edgar tertawa, dan menghapus darah di sudut bibirnya.
"Kau mengarang cerita yang mana?"
Jordan masih berdiri di atas tangga, tepat di lantai dua.
Edgar berjalan terhuyung, ia mengambil pistol dari pengawalnya.
"Turun lah aku akan memberikanmu pelajaran agar pikiran mu kembali."
"Kau yang harus ku jernihkan lebih dulu."
Jordan menuruni tangga masih memegang senapan besarnya, ia mendekat pada Edgar.
"Lorez beritahu dia."
Perintah Jordan
Lorez yang masih terbaring di lantai, ada banyak darah di wajahnya, tak sedikit juga darah keluar dari mulut, pria itu justru tertawa.
"Hahaha... Di setiap sudut markas mu sudah ku pasangi bom."
Lorez tertawa dan terbatuk, tangannya yang penuh darah memegang dadanya.
"Brengsek."
Edgar mendengus melotot dan menggeram.
"Aku harus menerima pukulan-pukulan dan pengkhiantan palsu Lorez kemudian menerima tembakan dari pengawalmu, tersesat di antah berantah, beruntung perutku tidak berlubang, aku berjalan sejauh beberapa kilometer, hanya agar kau percaya pada Lorez, agar kau keluar dari persembunyianmu, dan agar Lorez dapat mengetahui dimana markas mu. Kau bodoh."
Kata Jordan sambil tersenyum.
"Kau lupa siapa aku?"
Edgar tak dapat mengontrol emosi nya yang kalap, ia harus mendapatkan perusahaan Jordan serta Kota S namun kini dia justru termakan oleh rencana nya sendiri.
Tak berapa lama pengawal Delta E datang mereka membawa Edgar serta pengawal-pengawalnya ke tahanan markas besar, kemudian Jordan mengonfirmasi jika ia telah mengambil alih markas Edgar, maka dari itu para pengawal wajib mematuhinya mulai sekarang.
Badai telah berlalu, Lorez di bawa ke rumah sakit Dreams terlihat Mateen yang sedang memeriksa para pegawainya di rumah sakit terkejut tanpa bertanya apapun ia membantu Jordan.
Kedua pria pemimpin perusahaan besar sedang berada di ruang tunggu.
"Pengawalmu akan baik-baik saja, semua dokter di sini punya reputasi terbaik."
Mateen menepuk bahu Jordan, kemudian pergi berlalu.
"Apa kau sudah menyerah pada istriku?"
Kata Jordan tiba-tiba.
"Aku selalu mencintainya, namun selama dia bahagia aku tidak ingin menganggunya."
Mateen berjalan meninggalkan Jordan.
.
__ADS_1
.
.
Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu, Mansion kembali tenang, para pelayan dibantu para pekerja membersihkan serta memperbaiki kerusakan.
Sedangkan Sarah karena kesalahannya Jordan ingin menghukumnya di markas besar namun Jason memohon agar ibunya di bebaskan, dengan kemurahan hati Jordan karena ia juga pernah mengalami hidup sebatang kara, Jordan menempatkan Sarah menjadi pelayan di Panti Asuhan sedangkan Jason mendapatkan pendidikan dan teman di Panti Asuhan.
Rossalia masih menjalani perawatan, ia berada di Mansion milik dokter Imanuel sedangkan Jordan sangat sibuk memperbaiki keadaan perusahaan yang semakin hari sudah semakin kondusif, dalang dari semua kekacauan itu adalah Edgar. Jordan juga sibuk pulang pergi untuk melanjutkan proyek nya di Kota S.
"Bagaimana jika hari ini kita beri tahu dia."
Kata Dokter Imanuel.
"Apakah ini waktu yang tepat?"
Rossalia masih terbaring di atas ranjang besar.
"Tenanglah, itu hanya kenangan buruk yang tidak akan terulang lagi."
Dokter Imanuel memegang tangan Rossalia.
"Apa kau mengambil kesempatan saat aku sedang tidak menemani istriku?"
Tiba-tiba Jordan datang dengan kecemburuannya.
"Hm kau datang."
Kata Dokter Imanuel berdiri.
"Ya aku datang, kenapa? Kau tidak senang?"
Jordan duduk di samping ranjang istrinya dan mengusap-usap pungung tangan Rossalia seolah sedang membersihkan sesuatu.
"Kau pikir aku virus?"
Kata Dokter Imanuel.
"Aku tidak suka ada bau laki-laki lain di tubuh istriku, apalagi lelaki bujangan sepertimu, itu lebih gawat."
"Sayang apa kau tidak terlalu... ehm sedikit berlebihan?"
Rossalia menutup hidungnya, kemudian memiringkan kepalanya, matanya menyipit, jari telunjuk dan jempolnya menyatu membentuk lengkungan, memberikan kode, kemudian tersenyum canggung.
Dokter Imanuel yang masih berdiri di samping jendela, menahan tawanya.
"Tidak untuk seorang serigala, kau tahu sayang dibandingkan suamimu, meski sikapnya lembut dia jauh lebih ganas saat bersama wanita."
Jordan berjalan mendekati istrinya sembari melirik Dokter Imanuel.
"Dia seorang dokter sayang, bukankah hal wajar jika dia lebih berpengalaman? Maksudku adalah dia jauh lebih mengerti daripada kau."
Jordan memandang istrinya, dan mengerutkan dahinya pertanda ia tak sejutu.
"Bisa kah kau keluar Dokter yang berpengalaman."
Kata Jordan.
"Baiklah aku akan keluar."
Dokter Imanuel tersenyum mengangkat kedua tangannya pertanda ia tak ingin ikut campur.
"Jadi kau menganggap dokter itu lebih berpengalaman dari pada suami mu?"
Jordan berdiri melepaskan jasnya, membuka dasi dan membuka kancing baju kerah serta kancing lengannya, kemudian ia sedikit menggulungnya keatas.
Pria itu berada tepat di atas tubuh Rossalia.
"Apa kau meragukan kemampuanku?"
Jordan membelai paha Rossalia, naik hingga ke pangkal.
"Aku tidak bermaksud begitu sayang."
__ADS_1
Kata Rossalia.
"Sekarang lidahmu sangat pintar bukan?"
Jordan membelai lembut, gerakan naik dan turun pada paha Rossalia.
"Bagaimana jika kali ini, hingga kau memohon untuk berhenti, aku tidak akan berhenti?"
Pria itu memberikan gerakan berputar pada keintiman Rossalia dengan lembut dan bibirnya mencium Rossalia, lidahnya mendesak masuk sangat dalam, menyapu seluruh rongga mulut Rossalia kemudian ia beralih menciumi leher istrinya.
"Ki-kita tidak boleh melakukannya sayang."
Rossalia menjawab terbata.
"Tidak boleh ada penolakan."
Lidah Jordan bermain di payud*ra Rossalia yang semakin berisi dan kencang.
"Sayang, dadamu semakin kencang dan berisi."
"Dokter Imanuel bilang, untuk beberapa bulan ke depan kita tidak boleh melakukan itu, ada bayi di perutku."
Bisik Rossalia dengan lembut tepat di telinga Jordan.
"Bayi?"
Jordan terkejut, seketika menghentikan aktifitasnya.
Rossalia mengangguk dan tersenyum.
"Beberapa hari yang lalu saat terjadi banyak kekacauan aku selalu merasa pusing dan lelah, setiap hari merasa mual, ku pikir hanya karena aku terlalu stress, aku tidak menyadari perubahan tubuhku juga karena aku terlalu fokus pada masalah-masalah yang sedang menimpa kita."
Kata Rossalia sedikit tersipu.
"Maafkan aku sayang."
Jordan berbaring di samping Rossalia dan memeluk tubuh istrinya.
"Maafkan aku telah membuatmu menderita, dan terimakasih kau telah mengandung kembali, mengandung anakku."
Pria itu mengecup kening Rossalia, mendekapnya erat ke dalam dadanya.
Kemudian menciumi perut Rossalia.
"Ayah akan selalu menjagamu."
.
.
.
Hari ini Mansion telah selesai diperbaiki, berita baik Rossalia hamil kembali telah menyebar ke seluruh Mansion semua pelayan dan pekerja menyambut dengan gembira dan rasa syukur, mereka saling berdoa.
Sebelum kembali ke Mansion dokter Imanuel memeriksa lebih dulu kondisi Rossalia dan kandungannya.
Terlihat Jordan menemaninya dan menggenggam tangan Rossalia.
"Ya ampun aku hanya ingin memeriksa istrimu, kenapa kau sangat khawatir, lepaskan tanganmu, kau pindah di sebelah kiri sana."
Kata Dokter Imanuel memerintah Jordan.
Dengan kesal Jordan pindah di sebelah kiri ranjang Rossalia berbaring.
"Ini demi kebaikan anak dan istriku, jika tidak kau sudah mati ku cekik karena memerintahku."
Kata Jordan geram.
.
.
.
__ADS_1
-Bersambung-