
Pagi yang cerah di kediaman Jordan, burung-burung mewartakan kedatangan matahari yang kian naik.
Seperti biasa setiap kali Jordan meliburkan diri dari pekerjaannya ia memilih untuk berolahraga.
Tidak ada kata libur bagi Jordan selama bertahun-tahun merintis perusahaannya, meliburkan diri adalah kata yang cocok untuk dirinya.
Pagi ini Jordan memilih jogging di luar area mansion, ia ingin melihat suasana bagaimana orang biasa menikmati hari minggunya.
Jordan mengitari taman dengan pelan, para wanita dan gadis mulai terpesona dengan Jordan, bukan hanya tampan tapi tubuhnya benar-benar memikat para wanita, ia memakai celana panjang hitam yang ketat sepanjang betis, memakai sepatu sport keren yang mahal berwarna putih, kaos oblong putih dengan jamper hitam, headset menggantung di kedua telinga yang tersambung di ponsel, mungkin orang akan mengira ia sedang mendengarkan lagu-lagu untuk menambah semangatnya, mereka salah, ia selalu mengikuti berita-berita ter-updet tentang segala bentuk bisnisnya bahkan saham-saham yang berterbangan di seluruh dunia, otaknya tak pernah ia ijinkan beristirahat.
Keringat mengucur deras membuat nya makin terlihat tampan dan sexy, jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, ia kembali ke mansion menuju taman belakang untuk melihat bunga-bunga yang Rossalia tanam, kini tanaman itu kian lebat dan bermekaran.
Rossalia sedang menyirami dan merawat bunga-bunganya.
Segala jenis bunga ia tanam, namun yang paling ia sukai adalah bunga mawar seperti nama depannya.
"Jam berapa kau bangun?"
Jordan duduk di dekat Rossalia yang sedang sibuk memindahkan kaktus-kaktus kecil yang mulai tumbuh membesar ke dalam pot berukuran lebih besar.
Sembari melepaskan headset dan Jamper dari tubuhnya, badan Jordan terlihat kencang dan berotot, membuat Rossalia melirik dengan ekor matanya takjup. Keringat yang menetes dan membasahi badan Jordan membuat jantungnya tak beraturan.
"Lebih pagi sebelum matahari bangun."
Rossalia masih sibuk menanam kaktus-kaktus kecilnya tanpa melihat ke arah Jordan.
Tangannya sibuk mengambil beberapa tanah, tanpa memakai sarung tangan membuat Jordan mengernyitkan dahi nya.
"Tangan mu akan kotor nanti, pakailah sarung tangan."
Jordan mendekatkan badannya, sedikit membungkuk ke arah Rossalia, Rossalia memang bertubuh pendek.
"Ti-tidak apa-apa aku sudah terbiasa seperti ini, tidak leluasa jika harus memakasi sarung tangan, dan kaktus-kaktus kecil ini butuh perhatian khusus serta sentuhan yang halus."
Rossalia semakin menundukkan kepalanya.
"Aku juga perlu sentuhan halus apa kau tidak mau menyentuhku?"
Jordan mulai menggoda Rossalia.
"Kau berkeringat..."
"Keringat membuatku terlihat lebih tampan, kau melirikku hingga lebih dari 3 kali, jangan kira aku tak tahu."
"Jika aku tak berkeringat apa kau mau?"
Jordan mendekatkan wajahnya di telinga Rossalia.
"Bisakah kau mundur sedikit, aku sedang sibuk."
Rossalia gugup, tanpa sengaja menumpahkan wadah yang berisi air kotor yang ia gunakan untuk mencuci tangan serta kaktus-kaktusnya, apesnya air itu jatuh mengguyur Jordan , pinggang dan celanannya basah.
"Ma-maafkan akuu, ehmm...sayaa... benar-benar tidak sengaja Jor... ehmm,, anu Tuan..."
Rossalia takut, menundukkan kepalanya, ia sudah siap jika Jordan memukulnya.
Namun Jordan justru panik, melihat Rossalia, apakah kaki nya terkena wadah air atau tidak.
"Apakah wadah air menimpa kakimu?"
"Biar ku periksa..."
Jordan berlutut di depan Rossalia dan memeriksa kaki gadis itu.
"Lain kali jangan pakai wadah besi itu, berbahaya."
"Untung saja tidak terkena kaki."
__ADS_1
"Apa kau sesuka itu menanam bunga, bagaimana jika kita membeli lebih banyak bibit dan perlengkapan bertanam?"
Jordan berdiri dan menatap Rossalia dengan tersenyum, ia sangat bersemangat.
"Ti-tidak !"
"Aku lelah hari ini, aku ingin tidur."
Rossalia berjalan meninggalkan Jordan yang mematung.
"Sepertinya belum memaafkanku."
Jordan mengambil nafasnya dalam, dan membuang nya.
Jordan sudah selesai mandi dan kini ia sedang duduk di meja makan, ia sedang menunggu Rossalia, namun seperti nya gadis itu masih belum mau makan.
Sejak kedatangannya ke Mansion Rossalia memang tak banyak makan, ia hanya sesekali memakan buah atau roti.
Jordan mengoleskan roti tawar dengan selai strawberry tapi ia menghentikannya dan membuangnya ke piring lagi, ia berdiri dan berjalan menuju dapur.
Para pelayan kaget tak percaya selama mereka bekerja baru kali ini Jordan memasuki dapur.
"Siapa di sini yang bisa membantuku akan ku beri bonus 3 kali lipat."
Setelah beberapa jam berlalu, Jordan seperti mesin pembuat onar, semua isi dapur seperti kapal yang porak poranda, sebentar lagi mungkin dapur itu akan meledak.
Akhirnya hasil karya nya dapat di makan.
Meski banyak para pelayan yang jantungnya mendadak berhenti karena Jordan yang sedikit-sedikit marah, padahal mereka hanya ingin memberikan arahan untuk Jordan.
Jordan menuju kamar Rossalia dan mengetuknya.
Banyak para pelayan hampir pingsan karena Jordan membawa baki.
Merasa tidak ada jawaban, ia khawatir apakah terjadi sesuatu, Jordan masuk dengan panik namun ia melihat Rossalia sedang duduk di balkon memandangi pemandangan yang sebenarnya bagi Jordan itu membosankan, mansion itu sangat luas hingga sejauh mata memandang hanya melihat taman-taman dan air mancur yang terawat dengan baik.
"Kau melamunkan apa?"
Jordan berdiri di samping Rossalia yang sedang duduk.
Rossalia kaget, ia tidak mendengar suara apapun.
"Aku sudah mengetuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada jawaban, aku kuatir kau kenapa-napa jadi langsung masuk."
"Aku membawakanmu sesuatu."
"Tetap duduk disini aku akan mengambilnya."
Jordan masuk dan mengambil baki, mengangkatnya perlahan.
"Kau belum sarapan, dan tidak mau makan, dulu ketika masih kecil saat kau tidak selera makan apapun, kau minta suster maria membuatkan kue kering kismis dan susu tanpa gula."
"Cobalah, aku sendiri yang membuatnya?"
"Kau pergi ke dapur, dan membuat ini ?!!"
Rossalia kaget membelakkan matanya tak percaya, sembari menunjuk ke arah kue kismis dan susu yang ada di depan nya.
"Iya..."
Jordan tersenyum, kemudian ia berjalan beberapa langkah untuk mengambil kursi yang agak jauh dari jangkauannya, agar bisa duduk di sebelah gadis itu, suara kursi berdecit ketika Jordan menyeretnya.
Rossalia mencicipi kue itu, ia mengangguk-anggukkan kepala.
"Bagaimana rasanya?"
Jordan sedikit menundukkan kepala untuk melihat ekspresi Rossalia saat memakan kue buatannya.
__ADS_1
"Lumayan,, ini bisa di makan, enak juga, tapi masih terlalu manis sedikit, mungkin dengan mengurangi gula nya 1 atau 2 sendok sudah seperti kue kismis buatan suster maria."
Rossalia terlihat senang dan menikmati kue kismis itu sesekali meminum susu tanpa gulanya.
"Baiklah, aku berjanji akan memberikan bonus untuk para pelayan yang bisa membantuku membuat roti ini."
Jordan menyenderkan punggungnya di kursi, menghela nafas kelegaan.
"Benarkah?"
Rossalia tertegun tak percaya, dalam pikirannya pasti para pelayan-pelayan Jordan seperti game fantasi yang harus membeli peralatan tempur terlebih dahulu, sehingga ketika nyawanya hilang mereka dapat hidup kembali. Rossalia tertawa dan tersenyum sendiri membayangkan para pelayan-pelayan yang kelabakan dan tegang, bingung memilih dan memilah kata yang tepat untuk mengajari Jordan.
"Apakah seenak itu, kau memakannya sambil senyum-senyum."
Jordan tak percaya.
"Enak, enak sekali."
Rossalia tersenyum, dalam hati nya ia berkata ( "aku menyelamatkan kalian dari amukan singa, berterimakasihlah kelak padaku, hihihi." )
"Apa kau mau ikut denganku ke Panti Asuhan?"
Jordan masih duduk dengan santai mengajak Rossalia.
"Apakah boleh brida kembali, aku ingin dia bersamaku."
Rossalia menghentikan memakan rotinya dan mulai berbicara serius.
"Untuk apa kau mau wanita itu kembali, sudah untung dia tidak bertemu denganku, aku bisa saja mematahkan kaki dan tangannya, ia berkhianat dan berpindah tuan."
Jordan masih dengan ketenangan menjawab Rossalia.
"Aku yang memintanya, dia sudah sangat cocok denganku, aku mohon."
Rossalia memohon menggosok gosokkan tangannya.
"Apa kau sudah memaafkan ku?"
"Aku akan mengabulkannya jika kau sudah memaafkanku."
Jordan menyedekapkan tangannya.
"Itu..."
"Baiklah..."
Rossalia menunduk tak berani menatap Jordan.
"Baiklah aku akan memanggil Brida kembali, jangan memaksa hatimu untuk memaafkanku jika kau belum siap."
"Aku akan tetap menunggumu sampai kau menerimaku."
"Tapi jangan pernah pergi meninggalkanku."
Jordan membelai lembut kepala Rossalia.
"Kau siap-siap lah."
"Aku akan menunggumu di bawah."
Rossalia mengusap kepala nya lagi bekas Jordan mengusapnya, apakah sikap Jordan ini akan selalu seperti ini atau ia akan berubah lagi menjadi monster yang siap kapan saja memukulinya lagi.
.
.
.
__ADS_1
-Bersambung-