CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 61- = LILY


__ADS_3

Tubuh wanita itu mungil, berkulit putih, wajahnya tak terlihat karena tubuh besar Nicholas namun sudah dipastikan ia sangat cantik, rambut panjang dan setengah rambutnya diikat dengan pita ke belakang.


Rossalia mengernyitkan dahinya, kemudian melempar pandangannya kepada Jordan, ia tak mengerti siapa mereka, yang ia ingat laki-laki itu juga berperan ikut melawan Peter dan menyelamatkannya.


Nicholas maju dan menggenggam tangan wanita di belakangnya untuk keluar dari persembunyian di belakang tubuh besarnya.


"Rossalia dia adalah Lily bibimu, dan juga istriku, dia yang membawamu pergi saat pembantaian terjadi."


Nicholas memperkenalkan wanita yang bersamanya.


"Oh Ya Tuhan!!!"


Rossalia menutup mulut dengan kedua tangannya karena terkejut, ia menangis.


"Bibi..."


Bahkan Jordan pun terkejut.


Lily masih menundukkan wajah dan kepalanya, ia sudah sadar dari koma panjang, tubuhnya pun sedikit demi sedikit berangsur pulih, namun mental dan kejiawaannya masih terganggu atas apa yang di lakukan Peter.


Wanita itu menjadi sosok yang paranoid, sangat agresif dengan lingkungan yang tidak ia kenal.


Tangan Lily mencengkram tubuh Nicholas dengan kuat.


"Sayang dia adalah Rossalia, lihatlah ia tumbuh dengan baik hanya saja ia sedang kelelahan setelah liburan panjang bersama suaminya, lihatlah keponakanmu sangat bahagia melihatmu."


Mata Nicholas berkaca-kaca.


Rossalia tak dapat menahan air matanya, melihat kondisi bibi nya seperti itu, antara gembira dan sedih, ia tidak ingin menyimpan dendam kepada siapapun, namun ia juga tak bisa memungkiri orang-orang yang ia sayangi adalah harta terbesarnya, pun jika harus dendam, orang yang telah melakukan perbuatan jahatnya telah mati.


"Bibi..."


Rossalia merentangkan kedua tangannya, ia ingin memeluk bibinya.


Namun Lily kembali bersembunyi di belakang Nicholas, ia mengintip di balik punggung suaminya.


Tiba-tiba perlahan Lily mendekat pada Rossalia, ia menyentuh pipi keponakannya dengan lembut.


"Rossalia..."


"Kau kah itu..."


Mulut Lily bergetar, ia mencoba mencari kepingan kepingan kisah yang sudah berlalu selama bertahun tahun.


Ingatannya mulai berburu, ketalutan, kelhawatiran kian merasuki tubuh dan jiwanya lagi.


"Yahh bibi, aku Rossalia, berkat dirimu aku hidup dengan baik."


Rossalia memeluk bibinya dengan erat.


"Terimakasih bibi, dan maafkan untuk segala nya."


Lily menangis memeluk erat tubuh keponakanannya, namun tiba-tiba matanya melotot memandangi seluruh ruangan.


"Tidak, kau tidak aman di sini, ada iblis yang ingin membunuh mu."


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, kau adalah keponakanku."


"Nicholas iblis itu sangat kejam, bahkan ia menyiksaku dengan bejat."

__ADS_1


Geram Lily, ia melempar pandangannya kepada Nicholas, matanya melotot dan ia panik.


"Rossalia ayo kita pergi dari sini, tempat ini dikutuk!!!"


Dalam pikiran Lily mereka berada di penjara bawah tanah, tempat Lily di sekap selama bertahun-tahun.


"Bibi tenanglah, kita aman di sini, banyak pengawal berjaga."


"Lihat lah aku bibi, aku baik-baik saja."


"Aku tumbuh dengan baik, aku memiliki suami yang baik."


"Lihatlah pria itu, dia adalah suamiku."


Rossalia menunjuk dengan mata dan menoleh pada Jordan, tangannya masih di genggam erat oleh Lily.


"Tenanglah Lily, kita aman di sini, iblis itu sudah kembali ke neraka, tidak akan ada yang mengganggu kita."


Nicholas memeluk Lily dari belakang menciumnya dengan lembut.


.


.


.


.


-Beberapa bulan kemudian di Kastil Alkambra-


Pertemuan Lily serta Rossalia di beberapa bulan yang lalu, menjadi titik awal Lily kembali menjadi dirinya sendiri, Lily sangat menyanyangi Rossalia, bahkan ketika Rossalia dilahirkan ia lah yang menggendongnya pertama kali.


Waktu terus berlalu, hari demi hari, minggu demi minggu, beberapa bulan hingga Rossalia pulih kembali sedangkan Lily kian menyadari bahwa ia telah menemukan keluarganya kembali, jiwanya yang hilang sedikit demi sedikit menyatu dengan tubuhnya.


Kemudian mereka mengunjungi makan keluarga Raiford, ditemani dengan para pengawal, serta penjagaan yang ketat, Lily serta Rossalia bergandengan tangan memakai baju serba hitam, dengan pita hitam di rambut panjang mereka, orang pasti akan mengira mereka seperti kakak beradik yang terlahir secantik bidadari.


Jordan serta Nicholas berdiri di belakang para istri yang menangis berdoa di dalam hati mereka masing-masing.


Kisah yang penuh dengan perjuangan, air mata, serta pertumbahan darah, membuat jalinan keluarga mereka semakin erat.


Meski pertemuan yang tidak lengkap, dimana banyak nyawa harus di korbankan, namun tetap ada rasa syukur di hati mereka.


.


.


.


.


-Setelah kepergian Lily dan Nicholas-


Rossalia masih ingin berlama-lama di kastil, ia memandangi hamparan pantai yang berkilauan dengan burung-burung putih berterbangan, pasir pantai yang putih dan bersih membuat Rossalia semakin ingin bermain air.


Setelah kepergian Lily dan Nicholas yang ingin mengelilingi dunia untuk kesembuhan istrinya, Nicholas ingin memberikan seluruh keindahan dunia kepada Lily agar ia kembali menjadi sosok yang periang, dan Rossalia masih ingin tinggal beberapa minggu di Kastil Alkambra, apalagi ia menjadi lebih tenang ketika mendapat kabar bahwa Mateen telah melewati masa kritis dan berangsur-angsur pulih.


Angin yang sejuk menyentuh wajah Rossalia, ia berdiri di jendela yang besar, kemudian menghirup udara dengan sangat dalam, mengisi seluruh paru-parunya dengan oksigen dan mengeluarkannya perlahan, angin semilir membuat sebagian rambutnya berterbangan.


"Baiklah aku ingin berenang."

__ADS_1


Rossalia menuju kamar ganti, ia mengganti pakaiannya dengan bikini yang seksi.


"Ya Tuhan, ini terlalu terbuka, apa bedanya dengan pakaian dalam."


Kemudian ia memakai jubah handuk untuk menutupi tubuhnya.


Rossalia berjalan keluar kastil, para pelayan menundukkan kepala mereka, kaki telanjang rossalia menyentuh pasir-pasir putih yang lembut.


"Aku akan berenang di sisi yang tak terlihat, Jordan bilang ini adalah kawasan pantai pribadi."


Rossalia berjalan menjauh dari kastil ia mencari tempat yang sunyi untuk berenang, di sisi-sisinya terdapat bebatuan karang yang besar, ia mulai melepaskan jubah handuknya, kakinya berjalan menelusuri bibir pantai, air yang bening dan tenang, di sisi-sisinya berdiri dengan kokoh batu karang besar membuatnya nyaman untuk berenang memakai bikini terbuka.


Setengah jam berlalu, Rossalia menyelam dan bermain di dalam air, ketika ia membasuh wajahnya, nalurinya terkejut merasa ada seseorang yang memperhatikannya.


"Siapa disana...!!!"


Rossalia menyimpan kedua tangannya di depan dadanya, berusaha menyembunyikanya, ia terdiam di tengah-tengah kolam yang bening, air pantai sedang surut membuat banyak kolam-kolam bening di sekitaran karang.


Jantung Rossalia berdegup kencang, ia sangat takut.


Kemudian terlihat sosok pria yang tak asing baginya.


"Sayang aku mencari mu hingga ku pikir kau melarikan diri!!!"


Jordan terlihat marah dan kesal.


"Ya Tuhan kau mengagetkanku, ku kira ada orang asing di sini."


Pertahanan Rossalia mulai mengendur, ia kembali membasuh tubuhnya dengan air.


"Tidak mungkin ada orang asing disini, ini adalah pantai pribadiku, sepanjang beberapa hektar adalah milikku."


Jordan melepaskan kaos nya dan melemparnya ke pasir, ia berjalan mendekat bergabung dengan Rossalia.


"Apa kah kau senang berenang di sini?"


Suara Jordan serak dan memeluk tubuh Rossalia.


"Ya , aku senang, saat pantai surut banyak kolam-kolam bening di sekitaran batu karang, ini indah sekali, dan hanya ada aku disini, ku pikir bikini yang kupakai terlalu terbuka jadi aku mencari tempat tersembunyi."


Jordan tertawa puas ketika melihat istrinya dapat menikmati apa yang ia miliki.


Perlahan Jordan mulai mencium bibir istrinya.


Api gairah mulai berkobar di tubuh Jordan, air yang dingin tak bisa menurunkan gejolak nya yang kian memanas.


Rossalia memejamkan matanya, membiarkan tangan suaminya meraba sekehendak hatinya, menyelidiki setiap inci tubuhnya dan mencintainya.


Tangan Rossalia menyentuh wajah Jordan, menyentuh mata, hidung dan tiap lekuk wajah Jordan, mulut pria itu terbuka mengulum jemari lentik Rossalia.


Tubuh mereka kian merapat, saling menekan satu sama lain, Jordan mencium Rossalia dan menelusuri leher jenjangnya, turun ke bahu dan menggigit lembut.


Rossalia mendesah dan memejamkan matanya, ia melingkarkan tangannya di tengkuk Jordan.


.


.


.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2