CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 08- = KOMPENSASI


__ADS_3

-Kafe Hotel Amour-


Jordan duduk menyilangkan kaki kanan bertumpu di atas kaki kirinya dengan meminum alkohol sedikit demi sedikit. Lorez berdiri disamping Jordan menemani Tuan nya dengan setia.


Setelah cukup lama menunggu, seorang gadis berjalan perlahan mendekati mereka, disampingnya ada Freya yang memapah.


Jordan menelan ludah, bagaimana tidak, gadis itu begitu cantik bak malaikat.


Kulitnya putih, memakai gaun panjang berwarna biru laut dengan hiasan bertaburan bintang bak galaksi, kain gaunnya yang lembut jatuh, membuat kulit gadis itu makin terlihat halus, dengan leher jenjang nya yang putih, bahunya yang ramping, punggungnya yang halus ter ekspose serta mulus tanpa celah, dagunya yang panjang, matanya yang indah, alis nya yang seperti bulan, bibirnya yang ranum berwarna merah dan bercahaya karena lipgloss, rambut yang berisi dan panjang tergerai ke bawah, dengan sedikit hiasan di kepalanya.


Lengan hingga tangannya benar-benar mulus tanpa ada goresan bekas apapun.


Gadis itu memakai heels yang lumayan tinggi namun tetap tidak bisa menyaingi tinggi Jordan.


"Tuan Jordan , Nona Luna sudah siap."


Freya kemudian mundur tepat di belakang Luna.


"Ma-maaf Tuan, apakah anda menunggu lama, Nona Freya membantu saya berhias."


Gadis itu sedikit takut, dan malu, kemudian ia menundukkan kepalanya, sedang tangannya meremas tas yang ia bawa.


"Freya kenapa kau dandani dia dengan pakaian yang serba terbuka, hingga belahan dad*nya juga terlihat !!"


Jordan terlihat marah, ia berdiri sembari melepaskan jasnya kemudian memakaikannya kepada Luna.


Ya, gadis yang berbohong kepada semua orang bahwa namannya adalah Luna.


"Apakah semua nya sudah siap Lorez?"


"Sudah Tuan, dengan 12 pengawal akan menemani kita, dan beberapa sniper sudah berada di sana untuk berjaga-jaga."


Lorez menjelaskan sembari memakai headphone di telinga sebelah kiri, pria itu memang memiliki wajah tampan tubuhnya pun setinggi Jordan, dia memakai jas dan kemeja serba hitam yang menambah ketampanannya.


"Ayo berangkat."


Jordan mengajak Luna dan memberikan kode agar tangannya memegang lengannya. Mereka pasangan yang sangat serasi.


Jordan memakai kemeja berwarna putih dengan logo organisasi Mafia miliknya yang bergambar Elang terbang, logo itu berwarna emas menempel pada kerah kemeja nya.


Sampai di Lobby, empat mobil sudah terparkir di halaman. Mobil paling depan pengawal empat orang, kemudian diikuti mobil Jordan dan Luna dengan dua pengawal, di belakangnya mobil assisten Jordan dengan dua pengawal, dan paling belakang empat pengawal. Mobil itu melaju dengan kecepatan normal menembus gelapnya malam dan angin yang dingin.


Sampailah mereka di daerah utara, tepatnya di Pantai Utara daerah kekuasaan Herder dan tepat di depan sebuah rumah kecil.


Luna mencengkram dan memegangi tas nya. Jordam yang melihatnya kemudian menggenggam tangan Luna.


"Jangan takut, ibu dan kakak mu tidak akan berani menyakitimu."


Namun Jordan tidak pernah tahu apa yang ada di dalam pikiran gadis itu.


Mereka semua turun, dengan raut muka yang pucat gadis itu bertemu kembali dengan ibu angkatnya.


Jeni saat itu sedang membersihkan kedai nya yang akan tutup, dia hampir pingsan melihat siapa yang datang membawa segerombol pengawal, bahkan Jeni berfikir dan berkata di dalam hati.


"Kenapa para pengawal ini memiliki wajah yang tampan mereka memakai jas dan baju serba hitam."


Apalagi ketika Jeni melihat anaknya menggandeng seorang lelaki kaya yang muda dan tampan.


"Ya Tuhan, apakah kau anakku?"

__ADS_1


"Apakah kau benar anakku?"


"Ya Tuhan, bagaimana bisa?"


"Apakah kau benar anakku?"


Berulang kali Jeni hanya bisa berkata seperti itu dengan mata nya yang melotot, tangannya tanpa ia sadari ingin menyentuh pipi gadis itu. Namun Lorez dan Freya mencegah nya.


"Nyonya Jeni, perkenalkan saya Lorez dan ini adalah Nona Freya kami adalah assisten pribadi Tuan Jordan, kami datang kemari untuk membuat kesepakatan dan memperjelas status Nona Luna".


Lorez mengisyaratkan pengawal yang membawa koper untuk maju.


Jordan serta Luna masih berdiri, namun sepertinya gadis itu mulai merasa lemas dan gemetar apakah hari ini dia akan mati karena berbohong pada semua orang, apalagi dilihat dari karakter Jordan serta begitu banyak pengawal yang dia punya pasti lebih kejam dari Herder, Jordan melihat Luna yang pucat mengisyaratkan pada pengawalnya untuk mencarikan dia tempat duduk.


Kemudian Luna duduk sedangkan Jordan masih berdiri dengan tangan kiri memegang rokoknya , tangan kanannya memegangi bahu gadis itu, kadang dia mengelus lembut kepala Luna mencoba menenangkannya.


Jeni masih tidak mengerti, siapa yang mereka sebut Luna.


"Apakah Rossalia sebenarnya adalah Luna, atau bagaimana."


Namun ia kembali untuk berfikir jernih, dan harus memastikannya terlebih dahulu, ia memilih untuk diam dan mendengarkan.


Pengawal disamping Freya membawa sebuah koper hitam, Freya membuka koper yang penuh dengan Uang dan menyodorkan pada Jeni.


Jeni memelototkan mata serta memegangi dada nya melihat uang sebanyak itu, seumur hidup ia tidak pernah melihat uang sebegitu banyaknya.


Kemudian pengawal itu menutup kembali kopernya.


Freya kembali duduk berhadapan dengan Jeni.


"Nyonya uang senilai 500juta itu akan menjadi milik anda, serta kami sudah membelikan sebuah rumah di daerah selatan dengan nama anda, ini adalah sertifikatnya silahkan anda baca terlebih dahulu, kemudian ini adalah cek senilai 200juta untuk modal anda memulai usaha di daerah selatan, namun ada syaratnya."


"Asalkan anda mau melepaskan anak anda yaitu Nona Luna, sekarang Nona Luna akan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Tuan Jordan, melihat anda bukanlah ibu kandung dari Nona Luna, dan anda mengadopsi nya secara ilegal tanpa ada surat-surat resmi, kompensasi ini sudah sangat sepadan bukan?"


"Maksud Nona dan Tuan, gadis cantik itu adalah anak saya?"


"Anak yang sudah saya rawat?"


"Anak saya yang itu?"


"Ma-maaf bukankah beberapa hari yang lalu dia bersama Tuan Herder."


"Ap-apakah saya boleh berbicara berdua dengan Luna?"


Jeni kembali ingin memastikan jika Luna yang mereka bawa adalah Rossalia.


"Maaf nyonya anda tidak berhak untuk tawar menawar disini, jika anda tidak menyetujui nya kita akan bertemu di pengadilan, dengan tuduhan mengadopsi anak secara ilegal, penelantaran anak, penyiksaan anak, serta memperdagangkan anak, tentu anda masih ingat bukan jika anda telah menukar Nona Luna dengan hutang-hutang anda kepada Herder."


Freya mempertegas kalimatnya.


Jordan yang melihat tersenyum sinis dan menginjak rokoknya.


"Biarkan mereka berbicara sebentar Freya, dia tidak akan berani menyakiti Luna."


Kemudian Ibu dan anak itu masuk ke dalam rumah.


"Apakah kau berbohong pada mereka jika namamu adalah Luna."


Jeni memegang tangan gadis itu dengan sangat kasar dan memelotinya.

__ADS_1


"Ma-maaf ibu, saya mohon ibu jangan bilang apa-apa dengan Tuan Jordan, dia lebih kejam daripada Tuan Herder, lagipula ibu sudah di beri uang begitu banyak serta rumah yang mewah."


Gadis itu mencoba meyakinkan ibunya.


Jeni berfikir benar juga, dan hal keji yang dia fikirkan saat ini adalah anak ini bisa menjadi sumber uang nya.


Tak berapa lama kemudian mereka keluar dari dalam rumah. Jeni kembali duduk dan ia mau menandatangani surat-surat itu.


Jeni bergegas menyelesaikan semuanya dan berharap mereka segera pergi agar Jeni dengan cepat bisa menyimpan uangnya, sebelum Benni kembali kerumah.


.


.


.


.


-Pantai yang Indah di perbatasan-


Di dalam mobil perjalanan pulang Jordan menghubungi Lorez menggunakan ponselnya.


"Apa ada masalah Tuan?"


"Aku ingin ke suatu tempat, biarkan sebagian pengawal untuk pulang bawa secukupnya."


Jordan menutup ponselnya.


Kemudian mobil terpecah, kini hanya ada dua mobil milik Jordan dan assistennya.


Mereka melaju dengan kecepatan normal menuju pantai di perbatasan.


Tibalah mereka di suatu villa yang tepat di perbatasan kekuasaan antara utara dan selatan.


Villa itu berada di atas tebing.


Luna masuk dengan menggandeng lengan Jordan melihat pemandangan laut yang luas serta penuh bintang di atas langit, ia takjub, hingga meneteskan air matanya.


"Apa kau sedih?"


Jordan menyeka air mata Luna yang mengalir di pipinya.


"Ti-tidak Tuan, saya bahagia melihat pemandangan ini, saya belum pernah melihat pantai malam yang seindah ini."


"Apa kau sesuka itu dengan pantai?"


"Iya Tuan, saya sangat suka pantai namun saya juga sangat takut dengan pantai."


"Jadi kau suka atau takut?"


Jordan mengernyitkan dahi nya.


"Saya suka Tuan tapi saya takut jika ada ombak besar."


.


.


.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2