CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 16- = MURKA


__ADS_3

-Perusahaan Rossalia Grup-


Pagi sekali Jordan sudah berada di kantornya.


Jordan tidak ingin membuat Luna takut ketika dia bangun dan melihat binatang buas sedang memeluknya sepanjang malam.


Jordan memasang cctv di setiap sudut Mansion nya, terutama di dalam kamar gadis itu, agar dia bisa mengawasi Luna setiap saat.


Jordan yang sedang sibuk bekerja, sesekali melihat apa yang Luna kerjakan, tiba-tiba saja Jordan tersenyum.


Dia sedang melihat Luna yang membersihkan kamarnya sendiri.


"Benar-benar gadis yang rajin."


Jordan bergumam dengan lirih.


Kemudian Luna mengoleskan salep di setiap luka nya, dia terlihat menyeka air matanya.


Jordan seperti melihat kucing yang sedih, dan merasa kasihan.


Jordan bangkit dan keluar ruangan,


"Lorez aku akan pulang, kau urus kantor dengan Sean."


"Baik Tuan..."


Saat akan pergi Mikaila datang dan memeluk Jordan dari belakang, Jordan reflek mendorongnya dengan kasar. Mikaila terjatuh dan tersungkur. Para karyawan menahan tawa mereka, seketika membuat Mikaila malu, dengan cepat dia berdiri dan merapikan pakaiannya


Jordan tidak suka di sentuh wanita manapun.


"Apa kau masih marah Honey..."


"Aku minta maaf..."


"Hari ini ayah mengundangmu datang untuk makan siang..."


Mikaila tampak takut dan pucat.


"Baiklah, aku akan datang..."


Jordan menjawab dengan berlalu, Mikaila mengekor di belakangnya.


"Honey berikan aku tumpangan yaa...?"


"Tadi aku datang kesini dengan sopir, karena aku pikir kau sedang sibuk aku meminta sopir untuk pulang."


Mikaila berbohong.


"Baiklah..."


Akhirnya Jordan tidak jadi pulang, dia harus menghargai undangan makan siang Tuan Federic Walikota Negara K.


Saat berjalan menuju mobilnya dia mencoba mengecek gadis itu dari ponselnya.


Dia melihat Luna sedang berada di taman menanam bunga, membantu para pelayan wanita.


Jordan sedikit tenang, dan menyimpan ponsel itu kembali.


Sesampainya di rumah Walikota mereka disambut oleh para pelayan.


"Selamat datang Tuan Jordan..."


"Selamat datang Nona Mikaila..."


"Tuan Federic sudah menunggu anda di ruang baca..."


"Mari saya antar Tuan..."

__ADS_1


Pelayan itu mengantar Jordan, Mikaila masih mengekor di belakang Jordan.


Saat masuk ke dalam ruang baca dan bertemu dengan Tuan Federic kini Mikaila mulai berani menggandeng lengan Jordan dan menempel seperti perangko hingga pay*dar*nya sengaja dia tempelkan pada lengan Jordan.


Di dalam hati Jordan benar-benar merasa jij*k , wanita ini mengingatkan nya pada seseorang yang telah membuang dan menelantarkannya.


"Kalian semakin akrab, kapan kalian akan meresmikannya."


Walikota tertawa hingga terbatuk-batuk karena sangat bahagia, Dia memang sudah semakin tua.


"Jordan, aku sudah tua, sudah tidak bisa menjaga kenakalan putriku lagi, aku memintamu untuk menjaganya menggantikanku."


"Maaf Tuan Federic, untuk seumuran Nona Mikaila seharus nya dia bukan lagi di sebut nakal, serta saya lihat umur nya sudah memasuki wanita dewasa, seharusnya dia bisa menjaga dirinya sendiri."


"Saya rasa tugas ini tidak pantas untuk saya, Nona Mikaila punya kemauannya sendiri, sedangkan saya adalah tipe pria diktator."


"Tenang saja Mikaila akan menjadi wanita yang penurut, mohon di maklumi, ibunya sudah meninggal sejak Mikaila kecil, aku lah yang patut disalahkan karena terlalu memanjakannya sehingga sekarang dia masih kekanak-kanakan."


Mikaila masih terus menempel pada Jordan.


Dia mulai membuat Jordan risih, Jordan benar-benar ingin melemparkan wanita itu.


"Mari kita makan siang sekarang, hari ini kita kedatangan tamu, dia adalah paman jauh dari Mikaila, perusahaannya memenangkan lelang proyek mega Rossalia."


Mereka berjalan menuju ruang makan.


Disana sudah menunggu Presdir Nathan Grup Tuan Naju dan putri nya Anna.


Jordan merasa muak dengan para penjilat ini.


Jika bukan karena Federic teman dekat Ayah angkatnya dia tidak ingin basa-basi.


Sedangkan Naju adalah Adik jauh dari Federic.


Anna mulai tidak bisa mengendalikan dirinya, dia seperti kucing yang sedang bir*hi.


Jordan duduk di apit 2 wanita tak tahu malu, mereka berebut dan saling memaki 1 sama lain, yang 1 nya menempel seperti perangko hingga sengaja menggesekkan pay*d*ranya pada lengan Jordan,


1 nya lagi seperti kucing yang sedang bir*hi.


Benar-benar mengingatkan Jordan pada wanita yang selalu menyiksanya, yang memaksa Jordan untuk terus menerus menyaksikan adegan menj*j*kkan ketika Jordan masih kecil.


Jordan merasa mual mengingatnya, wanita itu tak lain adalah ibunya sendiri yang dulu menjadi seorang pel*cur.


Kepala dan badan Jordan mulai panas, bukan karena tergoda namun karena dia sedang menahan emosi nya yang memuncak.


Jordan melonggarkan dasinya, dan membuka kancing kerah bajunya.


"Sudah malam, aku harus pulang."


Jordan berdiri namun para wanita menahannya, dan merengek pada Jordan.


"Ini masih sore Honey, baru jam 9 malam, kenapa harus buru-buru..."


Mikaila merengek pada Jordan.


Jordan menatap mereka dengan tajam dan menakutkan hingga para wanita itu menciut.


Dalam perjalanan pulang Jordan mengendarai mobil sport mewah nya sendiri, dia menghubungi assisten nya.


"Lorez batalkan semua perjanjian dengan Mikaila, blokir semua jalan masuknya menjadi artis."


"Sedangkan untuk Nath Grup tarik semua investasi kita, batalkan kerjasama dengan mereka, proyek Mega Rossalia akan kita tangani sendiri."


Jordan mengakhiri telponnya, kemudian dia mengendarai mobil sportnya dengan kecepatan penuh.


Sampailah Jordan di Mansion, dia keluar dari mobil dengan marah, saat masuk ke dalam Mansion dia membuang dasinya dang menggulung lengan kemejanya, kemudian mengambil stick golf nya dan memecahkan semua gucci serta vas.

__ADS_1


Semua barang dia pukul hingga rusak.


Para pelayan tidak berani mendekat.


Bahkan Paman Lee tidak berani.


Luna sedang berada di dapur membantu memasak, merasa heran kenapa di depan sangat ribut, kemudian dia keluar dari dapur dan terkejut melihat semua gucci besar yang mahal pecah berserakan, dan semua barang rusak.


Hingga suara nya saat pecah memekakkan telinga, membuat para pelayan dan Luna menutup telinganya.


Luna melihat Jordan yang memegangi stick golf tangan sudah penuh darah.


Dia melihat para pelayan juga ketakutan bahkan Paman Lee tidak berani mendekat.


Namun Luna tetap mencoba untuk menenangkan Jordan, dia takut Jordan akan lebih menyakiti dirinya sendiri.


Bahkan tangan yang terluka karena memukul kaca saat dikamar Luna mulai berdarah dan menetes.


"Tuan..."


Luna perlahan memegang tangan Jordan.


Mencoba mengambil stick golf nya.


Badan Luna gemetaran karena rasa takutnya.


Jordan mencengkram rahang Luna dan membenturkan ke dinding.


"Tuan, ini saya Luna..."


Luna mencoba berbicara dengan mulut yang di cengkram, air matanya kembali menetes.


Rahangnya benar-benar seperti akan patah, karena lebam nya belum sembuh.


"Tuan..."


"Sadarlah disini banyak yang menyayangimu..."


Luna mengulurkan tangan kanannya memegang i wajah Jordan dengan gemetar, tangan kirinya mencoba meraih stick golf yang masih di pegang Jordan di tangan kanannya.


Akhirnya Luna berhasil mengambilnya dan membuangnya, Jordan berangsur-angsur melemah, memeluk Luna.


"Tenanglah Tuan..."


"Tuan sudah melakukan semuanya dengan baik..."


Luna membalas pelukan Jordan dan mengelus punggung Jordan dengan lembut.


"Mari saya antar ke kamar..."


Luna memapah Jordan.


Paman Lee memanggil Dokter Imanuel sembari mengambil obat penenang, Luna meminumkannya pada Jordan, akhirnya Jordan tertidur.


Dengan cepat Dokter Imanuel datang, disana Lorez dan Freya sudah datang.


Mereka terkejut Jordan bisa luluh oleh Luna.


Bahkan dulu ketika Jordan mengamuk beberapa pengawal harus memegangi Jordan, dan Dokter Imanuel harus menyuntikkan beberapa dosis tinggi obat penenang.


.


.


.


.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2