
Edgar masih saja menggoda Rossalia, jarinya bermain-main kekiri dan kekana di atas dada Rossalia.
"A-aku tidak ingat."
Kata Rossalia.
"Kau pasti ingat, gaun pesta pertunanganmu dengan pemilik perusahaan farmasi, saat dimana kau kecewa dengan Jordan."
Edgar menjelaskan dengan berbisik.
"Kau memakai kalung yang indah di sini."
Jari pria itu menelusuri dasar kerongkongan leher Rossalia, jari Edgar tetap di sana dan terus membelai. Membuat Rossalia menahan nafasnya, ia memandang ke atas.
"Rambut panjang yang tergerai lembut."
Edgar menarik lembut seuntai rambut di sekitar wajah Rossalia hingga rambut itu terlepas dari tatanan yang rapi menyentuh pipinya.
"A-aku benar-benar tidak ingat."
Rossalia menyangkalnya segera ingin mengakhiri percakapan konyol itu.
"Ya kau ingat."
"Saat itulah aku mulai terpesona dengan kecantikanmu."
Edgar begitu dekat, tubuhnya begitu memaksa, begitu mendesak.
Edgar membalikkan tubuh Rossalia menghadap pintu kamar yang besar, membuat pria itu berhadapan pada punggung halus dan putih tanpa celah.
Rossalia merasakan nafas panas Edgar di tengkuknya, paha pria itu menempel pada bagian belakang pahanya, merasakan milik Edgar yang semakin menegang menekan ke arah bok*ngnya.
"Hentikan Edgar!!!"
"Itukah yang selalu kau ucapkan? Bagaimana jika Mateen sang raja farmasi menyentuhmu, apakah kau juga mengucapkan kalimat itu?"
"Kau bilang tidak namun tubuhmu tak ingin aku berhenti menyentuhmu, kau tidak benar-benar ingin aku berhenti."
"Kau menginginkan aku seperti halnya aku menginginkanmu."
Kata Edgar menyakinkan Rossalia, ia berbicara tepat di tengkuk Rossalia membuatnya semakin merinding, tangannya menggenggam erat menempel pada pintu, kuku-kukunya meremas dan mencengkram telapaknya sendiri.
"Jangan lakukan ini."
Rossalia memohon dengan kasar, kepalanya tertunduk namun justru itu membuat Edgar dapat menciumi bagian belakang lehernya.
"Mengapa tidak?"
Edgar masih menciumi Rossalia dengan lembut. Mata pria itu terpejam menikmati wangi tubuh Rossalia.
"Tidak!!! Hentikan!!!"
Rossalia menutup mata dan menggingit bibir bawah.
"Kau tahu yang ku inginkan."
Edgar masih terus mendesakkan tubuhnya pada Rossalia.
Tubuh pria itu mulai memanas, hasrat dan gairahnya mulai bangkit dan menguat merajai seluruh tubuhnya.
Edgar memutar kembali tubuh Rossalia membuat mereka saling berhadapan.
"Maksudmu bukan itu kan?"
Suara Rossalia lirih.
"Ya, maksud ku memang itu."
"Harus itu."
Edgar menekan tubuhnya, mendesak hingga Rossalia merasa tak bisa bernafas karena terhimpit tubuh Edgar yang besar.
Tubuh Rossalia menempel pada setiap inci bagian keras tubuh Edgar, ritsleting celana Edgar menekan pahanya mungkin menimbulkan sedikit bekas. Rossalia memakai dress longgar berwarna merah jambu sepanjang paha.
"Aku mohon jangan lakukan."
__ADS_1
Rossalia menangis, air matanya mulai jatuh mengalir di pipi.
"Sssttt..."
"Jangan menangis."
Edgar menekan jari telunjuknya di bibirnya.
"Aku akan melakukannya dengan selembut mungkin."
"Aku mohon Edgar jangan lakukan..."
Tangisan Rossalia semakin keras.
"Sssttt.. Ssssttt..."
"Jangan mengujiku, aku juga bisa marah."
Edgar menarik paksa tangan Rossalia namun sebelah tangan perempuan itu mencengkram gagang pintu.
Dengan satu kali tarikan Rossalia sudah berada dalam pelukan Edgar, pria itu melemparkan tubuh Rossalia di atas ranjang.
"Aku mohon..."
Rossalia duduk dan mundur menggunakan kakinya hingga tubuhnya membentur ujung ranjang.
Wajahnya telah basah penuh dengan air mata.
Tubuhnya dingin, gemetar, ketakutan.
Edgar menarik kaki Rossalia hingga tubuh perempuan itu terbaring, gaunnya tersingkap ke atas pahanya.
Pria itu membelai paha Rossalia naik dan semakin naik , kini gaun itu benar-benar tersingkap ke atas.
Edgar menciumi dada Rossalia membuka paksa gaun perempuan itu, hingga bagian depan gaunnya robek, saat itulah Rossalia meraih vas bunga miliknya yang selalu ia letakkan di samping tempat tidur.
Rossalia memukulkan vas bunga itu pada kepala Edgar membuat kepala Edgar mengalir darah segar.
Pria itu marah dan semakin ingin menyentuh Rossalia dengan paksa.
-"BRAAKK!!!"-
"Tidak sempat mengambil kunci cadangan."
Kata Lorez sambil menendang pintu.
"Hah!!!"
"Permainan berakhir boss."
Lorez maju dan meraih bahu Edgar memukulnya bertubi-tubi.
Rossalia yang ketakutan tanpa memakai alas kaki berlari meninggalkan Edgar dan Lorez yang sedang berkelahi, ia menuju kamar Jordan.
Terlihat di lantai bawah para pengawal yang berjumlah beberapa puluh orang sedang sibuk berkelahi.
Sampai di kamar Jordan, Rossalia masuk ke ruang kerja berlari dan menekan tombol di balik lukisan, membuat lukisan abstrak itu bergerak, ia kemudian memencet beberapa nomor tanggal kelahirannya.
Tangannya yang gemetaran membuat angka-angka yang ia pencet salah.
Terdengar langkah-langkah sepatu makin mendekat ke atas.
-"Tiitt"-
Akhirnya brangkas terbuka. Terlihat tumpukan berkas-berkas dokumen, emas batang, perhiasan, berlian, berada dalam brangkas itu.
Rossalia mencari-cari kunci mobil serta mengambil pistol dengan tangan gemetar, ia juga menekan tombol pintu ruang bawah tanah, lantai di bawah meja Jordan terbuka Rossalia mundur perlahan kemudian ia berjongkok mulai menuruni tangga dengan hati-hati.
Ruangan bawah tanah yang mewah, terlihat mobil sudah berjajar di sana, ia melemparkan pistol ke kursi samping. Rossalia masuk ke dalam mobil paling depan, tanganya gemetaran.
Dengan mantap ia melajukan mobil menekan gas lebih dalam, mengikuti lorong yang telah Jordan jelaskan, mengingat-ingat logo mafia milik suaminya.
Lorong itu memiliki desain klasik dengan bangunan batu bata merah yang mengkilat, memiliki lampu-lampu redup yang menempel, namun lampu mobil membuatnya terlihat lebih terang.
Dari kejauhan terlihat seorang pria berdiri mematung.
__ADS_1
Rossalia mengira pria itu adalah Edgar, ia menekan gas lebih dalam membuat mobil semakin cepat.
Namun seketika mata Rossalia terbelalak ketika mengenali pria yang tak asing baginya.
Dengan cepat ia menginjak rem mobil membuat decitan yang memekakkan telinga.
"CCiiiiiiittttttt...!!!"
Kepala Rossalia membentur kemudi, membuat dahinya memar.
Nafasnya tak beraturan, tangannya mencengkram kemudi dengan kuat. Perlahan cengkraman itu melemah, ia menyandarkan punggungnya di kursi bernafas lega.
Menangis sejadinya sembari membuang gumpalan pekat yang ada dalam hatinya. Sesak yang ia rasakan kini mulai teraliri siraman air yang menyejukkan.
Jordan melangkah perlahan menghampiri istrinya, ia memegang perutnya yang terluka, mantel yang besar berada di bahunya.
"Tenanglah sayang."
Jordan menenangkan istrinya. Melihat baju yang sobek dan wajah yang lebam Jordan melepaskan mantelnya dan memakaikan pada Rossalia.
"Ku pikir kau..."
Rossalia tak melanjutkan kalimatnya.
"Mati?"
Kata Jordan.
"Kau masih saja meremehkan suamimu?"
"Pindah kursi, aku akan mengemudi."
Rossalia mulai berpindah, sedangkan Jordan mulai menginjak gas melesatkan mobil sport mewah hingga tak berapa lama muncul titik cahaya yang semakin membesar.
Lorong itu menuju pantai yang sepi, pantai yang indah, pantai pribadi Jordan, Dari luar lorong bawah tanah di bangun bak rumah kecil yang pintu nya hanya bisa di buka otomatis oleh mobil Jordan.
Perlahan Mobil keluar dari lorong bawah tanah yang panjang, Jordan masih mengemudikan pelan menuju jalan mobil yang sengaja di buat di pinggiran pantai agar mobil dapat melewatinya.
Tak terlalu jauh ada mobil yang sedang berbaris, Brida, beberapa pengawal, serta dokter Imanuel juga berada di sana.
Jordan menghentikan mobilnya dan keluar.
"Ayo sayang."
Tangan pria itu terulur.
"Nona Rossalia, maafkan saya karena tidak menemani anda, saya harus menjaga markas besar selama Lorez menjalankan tugasnya."
Brida menundukkan kepalanya.
"Bawa Rossalia ke tempat aman, aku akan kembali ke Mansion, sepertinya Lorez butuh bantuan."
"Bukankah Lorez..."
Rossalia tak mengerti, kenapa Jordan masih saja memikirkan si pengkhianat itu.
"Nanti ku ceritakan."
Kata Jordan sembari mengecup kening istrinya.
"Berjanjilah kau akan kembali."
Rossalia menahan tangan kekar suaminya.
"Aku berjanji sayang."
Jordan kembali mengendarai mobil sportnya masuk ke dalam lorong bawah tanah untuk menuju Mansion, membuat pintu lorong yang tadinya terbuka kini telah kembali menutup.
.
.
.
-Bersambung-
__ADS_1