CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 72- = BERCERAI?


__ADS_3

Jordan terlihat mematung, ia hanya diam, berdiri, terpaku entah apa yang ia fikirkan kali ini, sembari menutup ponsel dan menyimpannya kembali ke dalam saku jas, pria itu menghela nafas panjangnya.


"Apa ada masalah Tuan?"


Kata Lorez bertanya.


"Kita pulang, bubarkan posko, Rossalia sudah kembali."


Kata Jordan berjalan cepat menuju mobilnya.


"Baik Tuan."


Jawab Lorez pada tuannya sembari memandangi punggung belakang Jorda yang berjalan semakin cepat.


Lorez menambah kecepatan mobilnya, sesekali ia melirik dari balik spion kemudi, pria itu tak bisa membaca ekspresi aneh dari Jordan.


Ini pertama kalinya ia melihat tuannya diam tanpa sepatah kata saat mendengar kabar baik tentang Rossalia, sepanjang perjalanan ekspresi pria itu datar, bukankah seharusnya ia terlihat senang atau setidaknya memperlihatkan ketidaksabarannya ketika ingin bertemu dengan istrinya.


Sikap seperti ini justru membuat Lorez serba salah, ia tak bisa menangkap apa yang akan Jordan lakukan atau apa yang sedang tuannya pikirkan.


Jalanan menuju kota sedikit lengang dan sunyi hanya lampu-lampu penerang jalan yang berjajar di pinggir-pinggir.


Jordan memandangi lampu-lampu yang seolah bergerak bergantian, tepatnya pria itu seperti sedang melamun.


Setelah satu jam lebih mobil mulai memasuki gerbang besar dan melaju melewati berbagai taman serta air mancur, ketika malam tiba lampu lampu hias Mansion menyala menyinari setiap taman.


Lorez menghentikan mobil tepat di halaman, kemudian ia membukakan pintu mobil, Jordan keluar dan mulai melangkah masuk menuju Mansion, Paman Lee menyambutnya, pria itu melepaskan jas dan Paman Lee mulai menyimpan jas itu di lengan kanannya.


"Dimana?"


Kata Jordan singkat.


"Ada di ruang baca tuan."


Kata Paman Lee ragu-ragu, ia takut tuannya akan mengamuk.


Pria itu berjalan pelan, kemeja putih yang berpadu dengan kulit putih Jordan membuatnya semakin terlihat tampan, kemeja itu memiliki logo mafia Elang berwarna emas terlihat gagah dan berani di kerahnya.


Jordan berdiri di depan pintu ruang baca, sesaat kemudian ia membuka kancing lengan dan menggulungnya naik sedikit, jam tangan mahal yang melingkar di tangan kirinya membuat penampilan Pria itu semakin terlihat gagah.


Jordan membuka pintu pelan, suara pintu membuat penghuni dalam ruangan menoleh.


Terlihat Rossalia duduk disana, ia hanya menoleh sesaat pada Jordan, kemudian menatap wanita yang ada di depannya lagi.


Jordan melangkah pelan dan hanya fokus pada istrinya, kemudian ia memalingkan pandangannya pada seorang wanita berambut panjang, tubuhnya mungil seperti Rossalia, dipahanya ada seorang anak laki-laki yang sedang tidur dengan melipat kaki nya.


Seorang anak laki-laki yang tampan.


Wanita cantik yang terlihat lemah lembut itu hanya menundukkan wajahnya.


Dada Jordan berdesir, tubuhnya berubah menjadi sedingin es. Pria itu tak tahu harus memulainya dari mana, ia tak tahu apakah kali ini Rosalia tetap akan mempercayainya.


Jordan bertanya-tanya dalam hati apakah kali ini Rossalia akan memaafkannya lagi seperti saat ia memaafkannya ketika menyelamatkan Peter pembunuh keluarganya.


Rossalia yang melihat suaminya hanya diam mematung dan wanita di depannya merasa canggung ia berdiri, berniat untuk pergi.


"Aku akan meninggalkan kalian berdua."

__ADS_1


Rossalia berjalan melewati Jordan, dengan cepat pria itu menarik lengan kiri istrinya, namun tak ada kalimat apapun dari mulut Jordan.


Tangan kanan Rossalia terangkat dan berusaha membebaskan lenganya dari cengkraman Jordan.


Perlahan Jordan melepaskannya. Rossalia keluar dan berlalu pergi menuju kamarnya.


Jordan mengambil nafas panjangnya, ia memasukkan kedua tangannya dalam saku celana, kemudian berjalan mendekati wanita itu dengan tatapan membunuh.


"Untuk apa kau datang kemari."


Jordan masih mencoba untuk tenang.


"Bukan kah anak ini mirip denganmu. Dia tampan, keras kepala dan juga punya pendirian."


"Beberapa hari lagi usianya sudah 7 tahun."


"Aku bertanya untuk apa kau datang?"


Jordan mengulangi kalimat nya lagi, suaranya sedikit lebih menekan.


Kemudian ia mengeluarkan tangan kanannya dari dalam saku celana dan memijit tengkuk leher nya sembari memejamkan mata seakan kepalanya sangat berat.


"Dia mencari ayahnya."


Kata wanita itu sembari menatap dengan iba ia menelan ludahnya, serta matanya ingin menangis.


"Bermimpilah."


Jordan menjawab singkat kemudian ia keluar dari ruang baca, meninggalkan wanita itu sendiri, melihat Jordan naik ke atas menuju kamar Rossalia, Paman Lee menghampiri wanita itu, dengan wajah tidak senang Paman Lee memberitahukan bawah kamar dan keperluan lainnya sudah di siapkan.


Kata Paman Lee.


Jordan sudah berada di kamar Rossalia, ia berjalan mendekati istrinya yang baru saja selesai mandi. Pria itu mendekat ingin membantu menyisir rambut panjangnya, namun Rossalia dengan cepat berdiri ia menjauh dari Jordan.


"Kau kemana saja."


Tanya Jordan.


"Tidak kemana-mana masih di Negara K."


Rossalia menjawab singkat, ia membenarkan selimutnya dan ingin segera tidur.


Namun Jordan menarik tubuh Rossalia dalam pelukannya.


"Kau bertemu dengan siapa saja?"


"Kenapa sikapmu semakin dingin sayang?"


Jordan membenamkan wajahnya pada rambut Rossalia. Pria itu merindukan istrinya, merindukan keharuman dan kelembutan istrinya.


"Kenapa sikapku semakin dingin?"


Rossalia mengulangi pertanyaan Jordan kembali seolah olah ia sedang berfikir.


"Jika kau bertanya padaku, lalu aku bertanya pada siapa?"


"Kenapa kau membawa mereka kemari."

__ADS_1


"Apa kau tahu siapa mereka."


Jordan kembali bertanya.


"Aku memang tidak mengenalnya, tapi anak itu butuh ayahnya, dan ibunya juga membutuhkanmu, kalian akan bersatu kembali menjadi satu keluarga yang harmonis dan bahagia, dia telah memberikanmu anak yang baik."


Kata Rossalia.


"Apa kau sedang mengarang cerita? kau satu-satunya istriku yang paling ku cintai. Aku akan melakukan Tes DNA, kita pastikan bersama."


"Sarah hanyalah sebuah kesalahan, saat itu pesta perayaan anggota baru di organisasi Black Eyes, aku terlalu mabuk dan ku pikir itu hanyalah cerita semalam."


Rossalia melepaskan pelukan Jordan, ia menatap pria itu nanar, tak percaya dengan kalimat suaminya.


"Sebuah kesalahan?"


"Kau menganggap anak yang sekarang berusia 7 tahun adalah sebuah kesalahan?"


"Anak itu bahkan tidak tahu apa-apa."


"Kau menikmati cinta semalammu, tapi saat anak itu ada kau sebut itu sebuah kesalahan?"


"Pergi dari kamarku."


Kata Rossalia, ia sudah berusaha dengan keras menahan amarah dan perasaannya.


"Sayang..."


Jordan masih ingin membujuk.


"PERGI!!!"


"Aku masih ingat pengacara yang dulu kau utus mengurus surat pernikahan kita serta perjanjian aset-aset milikku, mereka akan mulai membantuku."


Kata Rossalia menegaskan pada Jordan.


"Apa maksudmu!!!"


Jordan memicingkan matanya mencengkram lengan Rossalia dengan sangat kuat.


"Mari kita bercerai."


Kalimat haram yang paling Jordan benci keluar dengan mudahnya dari mulut Rossalia.


Jordan menatap Rossalia penuh dengan emosi, pikiran waras nya mulai tergantikan dengan kalimat bercerai yang bernaung naung di kepala dan hatinya.


"Apa kau mulai tidak bisa menjaga mulutmu!!!"


Suara keras Jordan menggelegar.


.


.


.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2