CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 07- = PERJANJIAN


__ADS_3

Matenn merasa dia harus mendapatkan gadis yang duduk di hadapannya, ketika Freya datang dan ingin membawanya Mateen tidak senang, ia keberatan, namun tidak bisa berbuat apa-apa setelah Freya menjelaskan bahwa yang membawa gadis itu adalah Tuannya, sedangkan saat ini Jordan menginginkan gadis itu untuk kembali ke kamarnya.


Mateen kembali tidak tenang, apa yang akan Jordan lakukan pada gadis yang baru beberapa jam lalu ia kenal, pria itu menyadari bahwa ia sudah mulai menyukai gadis yang baru saja membuatnya tertawa menikmati setiap obrolan yang sebenarnya hanya perbincangan sederhana namun pembawaan gadis itu membuatnya terpesona.


.


.


.


.


-Di dalam kamar Presidential Suit-


"BERANINYA GADIS ITUU....!!!!!"


Jordan melonggarkan dasinya dan membuangnya sembarang, tiga kancing baju ia buka, karena leher dan dadanya merasa sesak, Jordan menuang alkohol ke dalam gelas dan meminumnya dengan emosi yang tinggi kemudian ia membanting gelas itu hingga pecah.


Entah apa yang membuatnya semarah ini. Apakah karena Nathan grup yang meremehkannya hingga mengutus anak nya agar bisa merayu nya, atau karena gadis itu bercanda dengan Wakil Presdir Math Grup.


Terdengar suara mengetuk pintu, Jordan pergi membuka pintu.


"Tuan..."


"Nona itu sudah mandi dan sekarang berada di dalam kamarnya."


Freya menjelaskan.


"Bereskan kamarku dan kosongkan semua jadwal hari ini, aku sedang tidak ingin di ganggu siapapun."


Dengan kekesalan dan amarah yang memuncak, Jordan menuju kamar gadis itu, meski dia meminum alkohol namun daya tolerannya sangat kuat, ia tidak mudah mabuk meski ia minum hingga berbotol-botol, jadi sekarang ia masih sangat sadar dengan apa yang dia akan lakukan, hanya saja kemarahannya telah membutakannya.


Pintu kamar dibuka dan tutup dengan kasar oleh Jordan hampir seperti membantingnya.


"Tuann...!!!!"


"Kenapa anda.....?"


Luna terkejut dengan kedatangan Jordan karena ia masih memakai handuk kimono yang sangat minim namun tiba-tiba saja Jordan masuk tanpa mengetuk, dia berusaha menutupi dadanya dengan meremas handuk kimononya.


"Apa kau tidak senang, ternyata itu adalah aku?!!"


"Apa kau mengharapkan orang lain yang masuk ke dalam kamar ini?!!"


Jordan sangat kesal seakan-akan ia tidak diterima.


"Ti-tidak Tuan..."


"Sa-saya tidak begitu..."


Luna berjalan mundur perlahan-lahan karena Jordan melangkah begitu dekat dengannya.


Namun semakin Luna mundur semakin Jordan melangkah kan kakinya sedikit demi sedikit hingga Luna tak punya ruang lagi untuk melarikan diri.


Dia menutupi dadanya dan bersandar pada dinding.


Pria itu semakin menghimpitnya, hingga tubuh mereka semakin dekat tak berjarak. Tangan Jordan mengambil handuk yang melilit di kepala Luna, rambut nya yang basah setelah keramas jatuh tergerai membuatnya terlihat semakin menggoda.

__ADS_1


"Kau wangi sekali..."


Jordan mendekatkan kepalanya dan mencium rambut gadis itu, kemudian turun dan berhenti di bahu menciumnya lama, menikmati wangi tubuh Luna.


Gadis itu memiliki tinggi tubuh sekitar 160cm sehingga Jordan harus membungkukkan punggung dan tubuhnya. Telapak tangan pria itu menapak di dinding untuk menjaga keseimbangannya.


Jordan masih menciumi bahu Luna dengan pelan, kemudian ia menggerakkan hidungnya naik ke telinga Luna membisikkan sesuatu, pria itu sangat dekat hingga bibir dan hidung Jordan seperti menciumi telinga gadis itu.


"Aku paling tidak suka barang yang kotor, jangan sekali-sekali membuatku marah, bagian tubuhmu mana yang di sentuh olehnya...?"


"Maa-maafkan saya tuan, saya tidak mengerti maksud anda, apakah karena saya mengobrol dengan Mateen?"


"HA-HA-HA-HAA... "


Jordan tertawa namun ia kembali merasakan serangan kekesalan menyergap jiwanya.


"Kau bahkan baru dua hari disini, dan sudah berani memanggil Wakil presdir Math Grup dengan namanya."


Jordan melepaskan gadis itu kemudian membelakanginya, ia membuka kancing lengan bajunya dan menggulungnya sedikit keatas sembari kedua tangannya berpegang pada pinggangnya.


Menandakan ia sangat marah, pria itu mencoba mengatur nafasnya tidak ingin kemarahan membuatnya lepas kendali.


"Maafkan saya tuan, saya telah lancang memanggil Tuan Mateen."


"Saya-saya hanya ingin berjalan-jalan sebentar namun Tuan Mateen tiba-tiba mengajak dan meminta saya untuk menemaninya makan siang."


Luna mencoba menahan tangisnya, ia belum selesai menjelaskan namun Jordan terus mencercanya dengan pertanyan.


"Lalu kenapa kau memanggil dia dengan namanya !!"


"Bahkan makan siang dengannya, apa kau lupa statusmu !!!"


"Saya tidak tahu dia adalah Wakil Presdir, dia hanya memberitahukan namanya dan menyuruh saya untuk menemaninya makan."


Luna mengulangi kalimat penjelasanya dan mencoba menjernihkan kesalahpahaman itu.


Sebelum Jordan kembali bertanya, ada seseorang yang mengetuk pintu kamar. Pria itu berjalan dan membukanya, firasatnya memang benar.


Mateen pun juga tidak merasa kaget melihat Jordan yang membukakan pintu.


Mateen melihat Luna tidak berani beranjak, ia hanya berdiri tanpa bergerak sedikitpun, pria itu melihat Luna yang hanya memakai kimono minim, dada nya berdesir terasa panas, ada sengatan aneh yang mengaliri tubuhnya setelah sekian lama ia merasakan kesepian.


Jordan merasa di curangi oleh Mateen karena pria itu memandangi Luna yang tentu saja membuatnya marah kemudian Jordan keluar dan menutup pintu kamar agar Mateen tidak bisa lagi mencuri-curi pandang..


"Tuan Jordan kebetulan sekali, bisa kah kita berbicara antar sesama lelaki, melepaskan segala yang melekat dari diri kita, bukan sebagai presdir maupun wakil presdir."


Dengan tenangnya Mateen berbicara sembari menyelipkan kedua tangan di saku celananya


"Sepertinya tidak ada yang harus di bicarakan, bukankah tindakan ini tidak sopan, dan anda mengganggu privasi tamu anda."


Jordan semakin kesal dengan kedatangan Mateen, dia berpikir bagaimana jika ia tidak datang ke kamar gadis itu, pasti sekarang mereka sedang berdua dua an di kamar ini.


"Sial !!!!"


"Aku bahkan tidak tahu alasan kenapa aku sangat marah, dan kau ingin mengajakku negosiasi, aku tidak ingin terlihat bod*h olehmu !!!"


Dalam hati Jordan mengumpati Mateen.

__ADS_1


Jordan masuk ke dalam kamar meninggalkan Mateen dan menutup pintu kamar dengan kasar. Membuat Luna terkejut dan takut, ia berfikir baru saja keluar dari mulut buaya namun sekarang justru masuk ke dalam kandang singa.


Jordan menarik tangan gadis itu dan melemparkannya ke ranjang, Luna duduk sembari menundukkan kepalanya karena takut. Tangannya memegang kimono erat-erat menutupi dad*nya.


Jordan mengambil ponsel dari sakunya dan menelpon seseorang, yang ternyata assisten pribadinya.


"Lorez, bawa surat-surat itu padaku, bawa Freya juga bersamamu, aku menunggumu di kamar Luna."


Jordan mematikan ponselnya.


Pria itu hanya berdiri di samping ranjang, melihat Luna yang ketakutan, bahkan Jordan tidak memalingkan pandangannya sedikitpun, sembari kedua tangannya berpegang di pinggangnya.


Tak lama kemudian Lorez dan Freya tiba di kamar Luna. Mereka datang dengan membawa surat-surat perjanjian.


Kemudian Freya menjabarkan isi-isi surat tersebut secara garis besarnya, yang isinya menyatakan bahwa;


*Luna adalah milik Jordan sepenuhnya dan dia tidak boleh melarikan diri serta tidak diijinkan untuk memiliki teman manapun, berlaku selama Jordan mau*


Dalam surat-surat dokumen itu terdapat pula pasal-pasal yang jika Luna melanggar akan mendapatkan hukuman pidana.


Surat itu di buat karena Luna yang sudah tidak ingin kembali pada keluarganya dan atas janji gadis itu sendiri pada awal mula mereka bertemu bahwa setelah Jordan menolongnya dari Herder, ia akan membalas kebaikan Jordan yang telah menyelamatkannya.


"Perkenalkan Nona Luna saya adalah Lorez assisten pribadi Tuan Jordan, kita sudah pernah bertemu, silahkan anda menandatangani surat perjanjian ini, dan tentang keluarga anda, karena anda sudah tidak ingin kembali kami akan mengurusnya serta memberikan kompensasi, anda tidak perlu khawatir, serta keamanan anda berada di bawah perlindungan Tuan Jordan, tenang saja anda akan aman dari Herder."


Luna masih dalam perasaan bingung .


"Nona, ingat Tuan Jordan sudah menyelamatkan anda, bahkan anda menginap di hotel mewah jika kami menuntut anda dengan meminta semua biaya yang telah kami keluarkan apakah anda sanggup membayarnya ?"


Freya menjelaskannya agar Luna segera membuat keputusan.


Luna meremas handuk kimononya. iia benar-benar bingung.


"Apakah saya akan menjadi pembantu Tuan Jordan, atau saya akan bekerja untuk Tuan Jordan?"


"Tentang itu adalah hak Tuan Jordan dan anda tidak bisa memilih."


Freya kembali menjelaskan.


Karena tidak ada pilihan lain dan Luna pun telah berjanji akan membalas kebaikan Jordan yang telah menolongnya dari Herder ia pun setuju menandatangani perjanjiannya dengan tangan gemetar.


Setelah dirasa cukup dan telah selesai Lorez dan Freya meninggalkan mereka.


Jordan masih berdiri mengamati gadis itu, ia berfikir sejenak.


"Apakah aku bisa tenang sekarang?"


"Tapi, kenapa aku harus tenang, What the f*ck!!"


Dalam hati Jordan berdebat dengan dirinya, bahkan akhir-akhir ini ia me jadi seseorang yang berbeda, ia mulai sering memaki dirinya sendiri.


"Ganti bajumu, aku akan membawamu ke suatu tempat."


Kata Jordan, sembari pergi meninggalkan gadis itu, ia menuju kamarnya.


.


.

__ADS_1


.


-Bersambung-


__ADS_2