CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 19- = RUANG RAHASIA


__ADS_3


Paradise Luxury Mansion -



"Apa kau sudah datang ke Panti Asuhan itu ?"


Amber memakan sarapan paginya.


"Ya, aku sudah bertemu dengan Suster Kepala, memang Rossalia dari panti asuhan yang sama dengan Jordan."


"Keseluruhan Panti Asuhan itu kini di biayai oleh Jordan."


"Apa rencanamu sekarang ?"


Amber menyelesaikan roti terakhir dan meminum tehnya, Mateen masih terdiam.


"Aku sudah mengatakannya padamu, ini akan semakin rumit."


"Bahkan aku sudah memprediksi, sebelum aku tahu Luna adalah Rossalia gadis kecil nya Jordan yang selama ini dia cari."


"Aku hanya tidak menyangka, Jordan masih tidak mengetahui Luna adalah Rossalia gadis yang selama ini dia cari."


Mateen meminum alkoholnya, kini dia lebih sering meminum alkohol.


"Sebenarnya, semua informasi tentang Rossalia terenskripsi, bahkan intelijen pun tak akan bisa menemukannya, tapi apa yang tidak bisa dilakukan oleh Dewi Dunia."


Amber menyederkan punggung di kursinya, menyibakkan rambutnya dan menyedekapkan tangannya


"Bagaimana bisa terenskipsi, dia hanya gadis biasa."


Mateen masih tidak mengerti, siapa sebenarnya yang ingin menyembunyikan keberadaan Rossalia.


Mateen mengela nafas panjangnya.


"Entahlah, namun pada saat Lorez mencari informasi tentang rumah dan tempat tinggal Luna, ketika mereka akan memberikan kompensasi sepertinya dia hanya asal mencari saja, dia tidak mencarinya dengan detail, sekedar mendapatkan informasi dari rumor yang beredar ketika ada gadis yang di bawa oleh Herder, jadi mereka tidak mengetahui nama asli Luna."


Mateen kembali meminum alkoholnya, namun Amber mengambil gelas dan botol itu.


"Aku merindukan gadis itu, tapi jika dia tahu Jordan adalah teman masa kecilnya, apa kah dia tetap ingin pergi dari sisi Jordan?"


Mateen mulai ragu.


"Ingat Mateen, kau harus mengambil keputusan, waktu kita tinggal besok."


Amber tak bisa berbuat apa-apa, kali ini keputusan benar-benar berada di tangan Mateen, Amber sudah melakukan segala cara mencari informasi tentang Luna dan Rossalia.


Mateen masih terdiam, dia tenggelam dalam pikirannya, apakah harus memberitahu Jordan, bahwa Luna adalah Rossalia yang hilang, atau diam dan menutup rapat informasi ini.


"Lorez sudah mengirim pesan, besok pagi Jordan menunggu kita di Bluesky."


"Aku akan ke kantor, jika kau tidak enak badan istirahatlah dulu dirumah."


Amber mengusap punggung Mateen dan pergi berlalu.


.


.


.


.


- Mansion Pearl-


Luna telah menyelesaikan semua pekerjaannya, dia perempuan yang rajin, tidak sedikitpun waktu tersisa hanya untuk melamun.


Beberapa hari ini Jordan sangat sibuk dengan pekerjaannya, Luna mendengar pembicaraan mereka tentang proyek besar di kota S, ketika itu dia menyajikan teh dan kue saat Jordan mengundang para staff dan manager untuk rapat di Mansion.


Kali ini Luna benar-benar bosan, dia baru saja selesai menyiram bunga-bunganya.


Luna kemudian berkeliling melihat Mansion , sudah seminggu dia ada di sini namun belum mengenal keseluruhan bangunan.


Kemudian ia teringat ruangan terlarang, waktu yang tepat untuk melihatnya, Paman Lee sedang sibuk, Jordan pun beberapa hari ini jarang sekali pulang.

__ADS_1


Luna berjalan perlahan mendekati ruangan itu, ternyata pintu terkunci.


Kecewa lah dia, kini rasa penasaran itu kian mengganggunya.


"Yasudahlah aku akan ke kamar saja tidur siang."


Ketika Luna berbelok menuju kamarnya ada seorang pelayan yang memasuki lorong ruangan terlarang, pelayan masuk untuk membersihkan ruangan itu, dan pintu tidak ditutup, Luna menyelinap kemudian bersembunyi di balik tirai jendela yang besar di samping tempat tidur..


Setelah beberapa menit pelayan keluar dan mengunci ruangan itu.


"Ya Tuhan aku terkunci, dan sebenarnya setan apa yang merasuki ku !!!"


"Aku pasti akan di bunuh oleh Tuan Jordan."


Luna kalang kabut kebingungan tanpa sengaja badannya menyenggol foto bingkai kecil dan terjatuh.


"Ya Tuhan aku memecahkan bingkai foto ini, bagaimana ini ?!!!"


Luna panik dan mengambil bingkai foto kecil itu namun tangannya terkena serpihan kaca.


"Aaawwww !!!"


Saat membuka bingkai foto yang terbalik itu, dia terkejut melihat foto nya sewaktu kecil.


"Bukankah ini aku !!!"


Foto anak kecil memakai dress merah jambu dengan rambut di kucir 2, sedang memakan kue kismis.


Luna menjatuhkan bingkai foto yang sudah pecah itu, seketika ia merasa linglung, Luna berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan, dia terkejut banyak sekali bingkai bingkai foto anak kecil di dinding, itu adalah dirinya.


Dia melihat 1 bingkai foto, saat dirinya bermain lumpur dengan seorang anak laki-laki.


Luna tidak sadar ada seseorang masuk ke dalam ruangan.


Jordan melihat bingkai kecil yang jatuh dan pecah kemudian menggeledah ruangan dengan kemarahannya.


"BERANINYA KAU !!!"


"APA KAU MENGANGGAP DIRIMU NYONYA DI RUMAH INI !!!"


Luna masih dalam keadaan terkejut tidak bisa mencerna semua yang baru saja ia lihat.


Para pelayan dan Paman Lee mencoba menenangkan Jordan.


Paman Lee kemudian menelpon Dokter Imanuel.


Jordan yang mulai tak terkontrol meny*ret Luna dengan kasar, masuk ke dalam kamarnya, dan mel*mparkan Luna hingga badannya membentur meja.


Jordan berjalan mengunci kamarnya, kemudian ia membuka bajunya membuangnya disembarang tempat.


Dia berjalan mendekati Luna yang meringkuk ketakutan.


"Kau terlalu Naif !!!"


Jordan mencengkram pipi gadis itu, Luna menangis, ia tidak tahu harus mulai berbicara dari mana.


"Tuan, berikan saya kesempatan untuk menjelaskan."


Jordan mengacuhkan Luna, dan membuka ikat pinggangnya.


"Kau susah sekali di atur bukan, sekarang kau akan merasakan apa itu penyesalan !!!"


Jordan menggunakan ikat pinggangnya untuk memuk*l Luna.


Luna menangis dan menahan sakitnya.


"Tuan, saya adalah Rossalia....."


Luna berbicara sangat lemah, dia menahan sakit di tubuhnya.


"BERANINYA KAU, MENYEBUTKAN NAMA ITU !!!"


"DARI MANA KAU TAHU NAMA ITU !!!"


"APA KAU SUDAH SERING MENGACAK-ACAK RUANGANKU !!!"

__ADS_1


Jordan semakin tidak bisa terkontrol, nafasnya beradu dengan emosinya hingga tidak memperdulikan pintu kamar yang sedang di buka paksa oleh beberapa orang.


Jordan mencengkram r*mbut Luna, menyer*tnya ke kamar mandi dan mengguyurnya dengan air dingin dari shower.


Jordan kembali melayangkan puk*lannya kepada Luna beberapa kali dengan ikat pinggangnya, namun tiba-tiba dari belakang Dokter Imanuel menyutikkan obat penenang dosis tinggi.


Seketika Jordan terkulai lemah. Luna yang melihat itu pun mulai merasa tenang, karena ia sudah tidak bisa menahan tubuhnya lagi kemudian ia pingsan.


.


.


.


.


- Dreams Hospital -


Samar-samar Luna mencium bau yang asing dari hidungnya, dia tidak suka bau menyengat itu.


Ya, itu adalah bau disinfektan yang kuat.


Luna perlahan membuka matanya dan melihat sekeliling.


Selang infus terpasang di tangannya, ia juga memakai alat bantu pernafasan, Luna melihat seorang pria yang tak asing, seketika membuat hatinya tenang, pria itu sedang duduk di sofa dengan mata terpejam.


"Tuan Mateen..."


Suara Luna sangat lemah.


Mateen seketika membuka matanya, ia terkejut Luna memanggilnya.


"Tuaannn..."


Luna menangis , menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Tenanglah, aku disini, aku akan melindungimu."


"Aku tidak akan membiarkan laki-laki itu menyakitimu lagi."


"Aku sudah mendengar semua nya dari Brida."


Mateen menyeka Air mata Luna, dan membelai kepala Luna.


Mateen semakin tidak rela melepaskan Luna.


Beberapa hari Luna di rumah sakit, namun dia masih belum ingin membicarakannya.


Mateen selalu menghiburnya, dengan cerita-cerita konyol.


Namun Luna yang ceria kini berubah menjadi sosok yang sering melamun.


Dokter mengatakan pada Mateen psikis nya mengalami trauma dan penyesalan mendalam.


Ketika Mateen sedang mengupaskan buah apel untuk Luna tiba-tiba pertama kalinya Luna membuka suaranya lagi, setelah ia menangis di depan Mateen beberapa hari yang lalu.


"Tuan Mateen..."


Suaranya masih lemah, Luna menatap Mateen.


"Iya Luna..."


Mateen menggengam tangan Luna.


"Saya tidak ingin menggunakan nama Luna lagi..."


"Saya ingin kembali menjadi Rossalia..."


"Dan saya ingin memiliki kehidupan saya sendiri..."


.


.


.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2