
Rossalia ingin bangun sepagi mungkin sebelum pria di sampingnya sadar dari tidur pulas nya.
Belasan tahun Jordan tidak dapat tidur, kini ia merasakan apa itu tidur pulas, bahkan seperti orang mati.
Rossalia berusaha melepaskan tangan Jordan yang melilitnya begitu kuat, tangannya berat, berorot dan kencang.
Beberapa menit perjuangannya menahan nafas agar tak bersuara, akhirnya berbuah manis, ia turun dari ranjang, dan menghis*p kuat udara di sekitarnya seakan ia hampir mati karena terlalu lama menahan nafasnya.
Setengah jam Rossalia selesai mandi, saat ia keluar Jordan sudah bangun dan menatap jendela kamar memandang hamparan pemandangan yang indah,
bangunan-bangunan khas italy dan kastil-kastil kuno.
"Sayang kenapa kau bersemangat sekali, pagi-pagi sudah mandi."
Jordan menyedekapkan tangannya di dada dan menyenderkan tubuhnya pada kaca jendela.
"Bukankah kita akan pergi jalan-jalan hari ini, dan aku sudah sangat lapar."
Rossalia duduk di tepi ranjang memakai handuk kimononya, ia merasa malu karena Jordan menertawainya.
"Baiklah aku akan mandi kita sarapan di tempat yang bagus."
Jordan mengecup kepala Rossalia.
"Selamat pagi sayang."
Ketika Jordan masuk ke dalam kamar mandi, Rossalia membelai kepala nya sendiri, bekas Jordan melayangkan ciumannya.
Bibir gadis itu tersenyum, dan wajahnya tersipu malu.
Beberapa jam berlalu, pasangan yang banyak mendapat lirikan sekaligus pujian dari para manusia-manusia sudah turun dari hotel mewahnya, mereka terlihat serasi, pria tampan bertubuh sixpack dan kencang, sedang gadis yang bertubuh putih lembut, wajahnya cantik.
Limosin panjang yang mewah sudah menjemput mereka tepat di depan Loby, Lorez dengan cepat membuka kan pintu.
"Selamat pagi Tuan Lorez."
Rossalia tiba-tiba menyeletuk, mengucapkan selamat pagi sembari melemparkan senyuman manisnya.
"Selamat pagi Nona, selamat pagi Tuan Jordan."
Lorez menjawab tenang dan menundukkan kepala sedikit ragu karena Jordan mengernyitkan dahinya menatap tanjam Lorez, dingin dan seakan akan Jordan siap menerkam Lorez.
"Sayang sepagi ini kau sudah membuatku marah."
Jordan duduk menyilangkan kaki nya dan memberikan kode pada Rossalia untuk mendekat.
Pria itu kemudian memeluk Rossalia.
"Kenapa kau marah, apakah aku membuat kesalahan."
Rossalia menegakkan kepalannya dan mendongak memandangi Jordan dengan memelas.
"Ahhh sekarang mata cantikmu menggodaku."
Jordan memijit pelipis hidungnya.
__ADS_1
"Kau bahkan tidak membalas ucapan selamat pagiku, kenapa kau mengucapkan selamat pagi pada Lorez, dan kau semalam mengkhawatirkannya, akan tidur dimana dia."
"Aku hanya bersikap ramah dengannya."
Rossalia semakin memelas, matanya sendu.
"Ya Tuhan, jangan menatapku seperti itu, jangan menggodaku."
Jordan mengarahkan kepala Rossalia ke dadanya dan mendekapnya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa puluh menit sampailah mereka di salah satu restoran cukup mewah.
Jordan menggandeng Rossalia, gaun pendek berwarna dark grey memancarkan keindahan kulit putih gadis itu.
Seorang pelayan pria bersikap sopan dan membungkuk, dengan serbet di tangan kirinya, memberikan arahan dimana meja mereka.
Restoran itu memiliki pemandangan indah di Colosseum dan semua pusat sejarah kota. Koki Giuseppe memiliki hidangan yang akan membingkai pandangan dengan rasa yang unik.
Meja mereka mewah, dan berada di lantai atas berada di balkon namun dengan teras terlindung oleh kaca.
Rossalia merasa tidak nyaman dengan semua kemewahan-mewahan ini, ia merasa tertekan.
"Bolehkah aku meminta sesuatu?"
Rossalia menggengam tangannya yang dingin diatas meja.
"Katakan saja sayang?"
Jordan menggenggam tangan Rossalia.
"Aku tidak mengerti bahasa menu disini, bahkan aku tidak tahu harus memesan apa atau makan apa, aku tidak tahu caranya makan di tempat mewah, bahkan sekarang banyak disajikan sendok-sendok berbaris di atas meja tanpa makanan, bisakah kita makan di tempat biasa, di pinggir jalan tempat manusia normal lainnya?"
"Baiklah, tapi kita sudah sampai disini apa salah nya kita sarapan sebentar, setelah ini kau yang mengatur liburan kita."
Makanan sudah tiba, dan Rossalia tidak tahu carannya makan, banyak sendok dan garpu serta pisau, sendok berukuran besar, kecil, atau pun sedang, banyak pisau dan garpu yang terpajang diatas meja disusun dengan rapi, bunga di tengah meja mempercantik tatanan meja, namun tak sedikitpun membuat Rossalia takjub yang ada ia bingung memilih sendok yang mana."
Jordan dengan sigap membantu Rossalia, kini gadis itu sedikit merasa nyaman dan hangat, dia bersyukur dapat sarapan enak, bisa menyantap makanannya yang pada awalnya ia bingung bagaimana memakan makanannya nanti, dan masalahnya ia sangat lapar.
Pertama kali ia malu namun karena Jordan yang selalu mencairkan suasana, melakukan segala nya untuk Rossalia, membimbingnya dengan lembut, gadis itu merasa aman dan nyaman, tetapi dilain sisi ada rasa ketakutan dalam hatinya, jika ia akan terlalu nyaman mengandalkan pria di depannya itu dan menjadikannya sebuah kebiasaan baru.
Waktu terus berjalan, sarapan mereka telah selesai, kini giliran Rossalia yang menentukan gaya berlibur mereka.
Rossalia mengubah penampilannya dengan pakaian casual, ia memakai celana jins panjang, kaos putih lengan pendek bertuliskan ROMA yang bergambar bangunan kuno, jaket jins berwarna biru pucat, serta topi untuk melindungi kepalanya dari sengatan matahari, tak lupa ia mengikat rambutnya ekor kuda.
Jordan pun demikian hanya memakai celana jins dan kaos polos serta topi dengan sepatu casual berwarna putih, serta jam tangan mahalnya di pergelangan tangan kirinya.
Kali ini tempat yang akan mereka kunjungi adalah Koloseum, sebuah bangunan peninggalan tempat bersejarah berupa arena gladiator. Arena ini berbentuk elips dan dibangun oleh Vespasian.
"Wahh inikah bangunan yang ada di peta dunia itu?"
Mulut Rossalia menganga takjub.
" Ya, ini adalah Koloseum, salah satu tempat wisata terbaik di Roma, dibangun pada 72 M dan selesai pada tahun 80 M. Dahulu, tempat ini digunakan sebagai tempat pertarungan gladiator dengan hewan buas atau dengan narapidana."
Jordan berhenti sejenak dan meminum air botol kemasan nya.
__ADS_1
Setelah menutup kembali botolnya ia melanjutkan kalimatnya.
"Menurut Dio Cassius ahli sejarah, ada sekitar 9000 hewan buas telah terbunuh selama 100 hari pembukaan dan peresmian Koloseum.
Sekarang, penduduk lokal mengganti warna Koloseum di malam hari dari putih menjadi emas dengan menggunakan penerangan lilin dan lampu neon. Sehingga tidak heran saat malam hari pemandangan tempat wisata ini semakin menakjubkan."
"Kau tahu banyak?"
Rossalia heran.
"Kau belum benar-benar mengenalku sayang."
Jordan membelai kepala Rossalia dan tersenyum.
Puas mereka melihat-lihat, kini mereka melanjutkan tempat selanjutnya, sampailah mereka di Pantheon, sebuah bangunan kuil dan dikonstruksi pada tahun 27 SM.
"Kau tahu sejarah Pantheon sayang?"
"Pada tahun 609 sampai 1885 kuil ini dijadikan sebagai gereja. Struktur bangunan Pantheon terdiri dari beberapa bangunan utama yakni Portico (serambi depan), Rotunda (bangunan bulat), dan kubah. Selain itu, Pantheon dilengkapi dengan taman air dan tempat pemandian yang sangat istimewa."
"Kau belajar darimana, jangan-jangan kau bawa buku kesini ya?"
"Kenapa kau begitu tahu banyak."
Rossalia menyedekapkan tangannya.
"Kau lupa siapa aku?"
"Bahkan saham yang berterbangan di dunia saat ini bisa saja ku tekan dalam 1 menit."
"Sejak kecil aku belajar dengan keras, tidak ada semenitpun aku melakukan hal yang sia-sia."
"Alasan terbesarku adalah kau."
"Aku ingin segera menemukanmu."
"Usia 10 tahun aku sudah mempelajari tentang saham, ilmu pengetahuan, sejarah dunia, dan bertarung untuk menjadi yang terkuat."
"Namun orang lain tidak pernah tahu bagaimana aku berjuang melewati hari demi hari, yang orang tahu adalah aku yang sekarang."
Rossalia melihat wajah muram Jordan, sedikit demi sedikit gadis itu mulai merasakan apa yang Jordan rasakan semasa kecil, tumbuh dengan kekerasan, hidup dengan kaki dan kedua tangannya sendiri, serta kerasnya ia berjuang hingga sampai di puncak nya saat ini."
Namun itu hanya sekecil kisah sedih dan kelam Jordan, gadis itu bahkan tidak tahu berapa darah yang sudah Jordan tumpahkan untuk menjadi mafia nomer 1.
"Mari kita pulang."
"Kita lanjutkan besok lagi."
Rossalia memeluk Jordan, entah apa yang membuatnya ingin memeluk pria itu.
Jordan terkejut dengan gadis di depannya yang dengan inisiatifnya sendiri menjatuhkan badan mungil itu kepadanya.
.
.
__ADS_1
.
-Bersambung-