
-Panti Asuhan Mutiara Hidup-
"Benarkah ini Panti Asuhan itu?"
Luna melihat dari balik Jendela.
"Saya mengikuti Maps dan menunjuk disini Nona."
Kini Luna memiliki sopir pribadi seorang wanita, dia bahkan menjadi teman Luna berbagi cerita.
Ketika Luna keluar bahkan hanya sekedar menikmati angin, dia selalu di kelilingi para pengawal laki-laki bahkan sopirnya laki-laki, dia merasa risih, dengan mengumpulkan segala keberaniannya dia membicarakannya pada Jordan.
Akhirnya Jordan setuju mengganti semua nya dengan wanita yang ahli beladiri.
"Seingatku Panti Asuhan itu tidak sebagus ini, bahkan gerbang ini sangat indah dan besar, dulu gerbang nya hanya kecil sebatas besi yang usang.
"Mungkin pemerintah memperbaiki nya Nona."
"Apakah kita akan masuk Nona?"
"Baiklah mari kita pastikan lebih dulu."
Mobil melaju memasuki gerbang dan berhenti di halaman depan Panti Asuhan.
Luna tampak masih ragu untuk turun, ada rasa tak menentu di dalam benaknya.
Lama dia masih duduk termenung di dalam mobilnya.
Kemudian seorang biarawati menghampirinya.
Brida keluar dari mobil membukakan pintu, dan Luna keluar dari mobil.
"Selamat siang Nona."
Suster itu bertanya pada Luna sambil tersenyum.
"Suster apakah benar ini adalah Panti Asuhan Mutiara Hidup?"
"Benar Nona, apakah ada yang bisa saya bantu?"
"Saya..."
"Saya ingin bertemu dengan Suster Maria."
"Ohhh Suster Kepala."
"Mari saya antar, silahkan lewat sini Nona."
Luna mengikuti arahan suster itu, dibelakangnya Brida mengawal Luna, seragam nya serba hitam memakai celana hitam dan jas hitam, telinga kirinya memakai headphone dia terlihat cantik dan keren.
Luna melihat sekeliling, dari kejauhan dia melihat anak-anak kecil bermain dengan riang, pakaian mereka terlihat bagus dan mereka terlihat sangat terawat, berbeda dengan semasa kecilnya dulu ketika masih berada di Panti Asuhan ini.
"Silahkan Nona, beliau ada di ruangan ini."
"Saya permisi."
Luna menarik nafasnya panjang, dia membuka pintu dan berjalan pelan.
Terlihat seorang wanita paruh baya sekitar umur 70tahun sedang membaca buku menggunakan kacamatanya, badannya mulai terlihat membungkuk.
Wanita tua itu duduk di kursi goyang menghadap jendela, yang memperlihatkan pemandangan anak-anak kecil sedang bermain.
Tenggorokan Luna tercekat sakit menahan suara tangisnya, dengan cepat ia menutup mulutnya, air matanya berlinang, dan kaki nya lemas.
Brida dengan sigap menopang badan Luna.
Luna berjalan perlahan-lahan mendekati Wanita tua itu.
Dan duduk dibawah, bersimpuh mencium lutut Wanita itu.
Luna menangis dan terus menangis.
"Anakku, apakah kau sedang tersesat dalam hidupmu?"
Tangan yang mulai keriput, dan lemah karena umur yang kian menua itu membelai lembut rambut Luna.
__ADS_1
Luna masih menangis membenamkan wajahnya dalam pangkuan wanita tua itu.
"Kue kismis kering yang masih hangat dengan segelas susu tanpa gula, aku akan tidur jika Suster mendongengkan kisah Putri tidur."
Wanita tua itu terkejut dan menangis memegangi mulutnya serasa tak percaya.
"Anakku..."
"Rossalia..."
"Apakah kau benar Rossaliaku..."
Mereka berdua menangis tersedu-sedu.
Wanita tua itu turun dari kursinya, duduk bersama sambil berpelukan, lama mereka melepas rindu sambil menangis.
"Kemana saja kau nak..."
"Ibu, kenapa kau kurus, kenapa sekarang kau menjadi tua."
"Dan lihatlah, sekarang kau benar-benar menjadi Suster Kepala."
"Kau ini, anak tidak berbakti..."
"Aku tua karena menunggumu terlalu lama..."
"Dulu saat aku masih muda kau selalu mengejekku tua, sekarang aku sudah tua mengapa masih mengejekku..."
Suster Kepala dan Luna menangis dan tertawa bersama-sama.
Brida menyeka air matanya, dia keluar dan berjaga di luar ruangan, dia memberi kan waktu agar mereka dapat saling bercerita.
Lama mereka bercerita hingga sore hari Brida masuk dan mengatakan bahwa Luna harus segera pulang sebelum Tuannya kembali.
"Ibu..."
"Aku akan kembali, jangan katakan pada siapapun aku mengunjungimu..."
Suster Kepala memberi isyarat dengan tangan mengunci mulut dan membuang kuncinya.
Itu adalah permainan mereka dikala gadis itu masih kecil.
Dalam perjalanan Luna merenungi dan banyak melamun.
Matanya sembab karena terlalu banyak menangis.
Luna hanya bercerita singkat, dia tidak menceritakan penderitaan apa yang telah ia alami.
"Bahkan aku membohongi Suster Maria, aku berbohong banyak hal, aku berbohong kepada semua orang, semoga Tuhan tidak menghukumku."
Luna tenggelam dalam lamunan dan pikirannya sendiri.
Akhirnya mereka sampai, Luna dan Brida melihat mobil Jordan yang sudah berada di halaman.
Mereka bertukar pandang.
Peraturannya adalah Luna harus ada di Mansion saat Jordan pulang.
"Tenang lah aku tidak akan apa-apa."
"Kau pergilah kebelakang, aku tidak ingin Tuan Jordan melibatkanmu."
"Tapi Nona..."
"Turuti lah kata-kataku Brida, kau satu-satunya orang yang ku miliki dan ku percaya di sini."
Luna turun dari mobil dan menuju kamarnya.
Dia menaruh tas dan duduk di meja rias, melepas kan perhiasannya.
Luna masih duduk termenung menantikan kalau Jordan sudah berada di kamarnya.
Dia sudah siap untuk segala konsekuensinya.
Namun lama Luna menunggu tidak kunjung ada pergerakan.
__ADS_1
Kemudian dia keluar dan mencoba melihat situasi.
Para pelayan bekerja seperti biasanya, Luna mencoba mengelilingi Mansion.
Dia melihat lorong menuju ruangan terlarang.
Lama Luna berdiri di ujung lorong.
Perlahan dia memasuki lorong itu, sudah setengah jalan namun di berbalik dan pergi berlari.
Luna menyandarkan dirinya pada dinding.
Dan menarik nafasnya panjang.
"Ini bukan hari yang tepat."
Dia terengah-engah, karena berlari dengan cepat, takut Jordan melihatnya.
Samar-samar Luna mendengar Jordan berbicara, entah dengan siapa.
Dia hanya mendengar tentang Panti Asuhan dan tentang Mateen.
Tiba-tiba lengan nya di tarik oleh seseorang, dia adalah Jordan.
"Apakah menguping semenyenangkan itu !!!"
Jordan menyeret Luna dengan kasar. Para pelayan tidak berani melihat, mereka menundukkan kepalanya sembari terus bekerja.
Brida tidak mampu berbuat apa-apa, dia merasa khawatir.
Luna meronta meminta untuk di lepaskan, namun Jordan justru semakin marah dan terus menyeret Luna.
Jordan menyeret Luna masuk ke dalam kamarnya.
Kemudian ia mengambil sebuah pistol dan mengarahkan pada kepala Luna.
Badan Luna gemetar hebat.
"Aku sudah pernah mengatakannya, jangan pernah melakukan sesuatu yang membuatku marah !!!"
"Aku akan membunuh kekasihmu jika kau masih saja menemuinya."
Luna bingung dengan apa yang Jordan katakan.
"Setelah kau bertemu dengan Mateen di Panti Asuhan, sekarang kau menguping pembicaraanku !!!"
Jordan menurunkan pistolnya hingga menyentuh dada Luna, dan memainkannya disana, dia berhenti di dada kiri Luna.
"Kenapa kau menguping ?"
"Apakah kau sedang mencari informasi, apa yang akan aku lakukan pada kekasihmu."
"Jadi sekarang kau menjadi mata-mata nya !!!"
Kini Luna mengerti dan dapat menangkap maksud dari kemarahan Jordan.
"Tuan saya berani bersumpah demi apapun, hari ini saya tidak bertemu dengan Tuan Mateen."
"Saya memang pergi ke Panti Asuhan untuk melihat anak-anak disana."
"Namun disana tidak ada Tuan Mateen, Brida bisa bersaksi atau mungkin anda dapat bertanya pada Suster disana, saya hanya bersama Brida, dan juga saya tidak sengaja melewati Ruang baca, saat itu saya sedang mencari Tuan, namun sepertinya Tuan sedang sibuk, saya tidak berani masuk dan menunggu Tuan di luar."
"Lalu kenapa kau harus mengunjungi Panti Asuhan Mutiara Hidup."
"Kenapa bukan Panti Asuhan yang lain."
"Saya akan mengunjungi banyak Panti Asuhan Tuan, saya tidak tahu banyak daftar Panti Asuhan di sini, Brida hanya secara acak saja mencari nya di Maps."
"Saya tidak memiliki akses apapun mencari informasi."
Jordan mulai menurunkan pistolnya, yang dikatakan Luna memang masuk akal, bahkan Luna tidak memiliki handphone atau akses yang lain.
.
.
__ADS_1
.
-Bersambung-