
Danil sedang mengobrol bersama Mama Fina dan Bunda Rianti membahas mengenai persiapan pernikahan mereka, sambil menunggu Sekar yang belum selesai bersiap.
Kedua super mom ini sangat sibuk mengurus pernikahan kedua anak tunggal mereka yang hampir rampung, walau sudah menggunakan jasa Wedding Organizer tetap saja sifat perfeksionis keduanya yang membuat istri CEO Abadi Pratama dan Perkasa Jaya turun tangan untuk mengecek semua persiapannya, mereka tidak ingin ada yang terlewat.
Sekar menuruni anak tangga, menuju ruang tengah tempat bunda, calon mertua dan calon suaminya berada. Ia sangat cantik, menggunakan dress selutut dengan berwarna kuning pastel.
Rambut panjangnya di gelung, menampakkan leher jenjangnya yang dihiasi kalung emas putih dengan inisial SD. Ia memakai flat shoes berwarna hitam, dan membawa sling bag berwarna senada dengan sepatunya.
"Pagi menjelang siang bunda, Mama Fina," sapa Sekar, sambil mencium tangan kanan calon mertuanya.
"Pagi sayang, kamu cantik sekali," puji Mama Fina, menatap Sekar tidak berkedip dan memeluk dengan sayang.
"Mama nih, bisa aja," kata Sekar tersenyum malu. "Maaf ya mas, lama nunggunya." ucapnya meminta maaf pada Danil.
"Nil, kalau terpesona, di puji dong calon istrinya, jangan malah melamun seperti itu," Mama Fina, menggoda Danil.
"Berangkat sekarang mas?" tanya sekar, mengalihkan pembicaraan calon mertuanya.
"Kita berangkat ya mah, bun," pamit Danil, lalu mencium tangan kanan keduanya, diikuti oleh Sekar.
"Mas, tujuan pertama kita ke butik kan?" tanya Sekar, ketika mereka baru saja memasuki mobil.
Cup ...,
Pipi Sekar di cium Danil dengan gemasnya.
"Mas, kamu tuh ya nakal banget sih," Sekar sedikit protes.
"Tapi suka kan?"
"Kenapa kamu jadi genit gini sih mas?"
"Tidak tahu Bee, kamu harus tanggung jawab kenapa mas menjadi seperti ini."
"Kok aku yang harus tanggung jawab," Sekar memaju kan bibirnya, manyun.
Danil menggenggam tangan Sekar, "Semoga kamu merasakan apa yang mas rasakan saat ini, mas bahagia Bee."
"Sekar juga bahagia mas," katanya tersenyum manis pada Danil.
"Tapi kenapa Bee?" tanya Danil, menuntut jawaban.
"Tapi?" tanya Sekar
"Maaf mas," seketika dia mulai menyadari, tidak ada yang dapat dia sembunyikan, hal sekecil apapun dari calon suaminya.
Entah Danil itu cenayang, atau punya kelebihan membaca pikiran atau apapun itu sebutannya, dia selalu tahu bila ada sesuatu hal yang mengganjal yang ingin di sampaikan oleh Sekar.
"Katakan Bee, jangan takut."
"Mas, Sekar takut sama perasaan Sekar sendiri, takut apakah ini benar-benar Sekar merasakan hal yang sama, sama mas, atau perasaan ini ada karena Sekar lelah sama ulah Ryan," Sekar terlihat bingung.
__ADS_1
Danil memarkirkan kendaraannya. Ia langsung memeluk sekar. "Cinta ini milik kita. Mari mulai dari awal, mas tidak ingin ada keraguan sedikit pun di dalam hati kamu maupun hati mas."
"Iya mas."
"Jangan takut. Mulai detik ini, mas akan selalu ada untuk kamu," janji Danil.
"Bener ya mas, jangan meninggalkan Sekar seperti dulu."
"Bukannya kamu yang meninggalkan mas."
“Mas yang melakukan hal itu," ucap Sekar.
"Jangan saling meninggalkan," ucap Sekar dan Danil bersamaan.
"Iya."
"Sekar juga jangan melakukannya."
"Tergantung," jawab Sekar.
"Tergantung apa?"
"Tergantung, kalau mas buat kesal, aku akan meninggalkan mas."
"Kamu ya, mas janji tidak akan buat kamu kesal."
"Jangan janji, kita jalanin dulu ya mas," pinta Sekar.
“Kamu masih simpan kalung kita?” tanya Danil mengusap inisial nama mereka, pada kalung yang Sekar pakai, Inisial SD Sekar Danil, kalung pemberian Danil dua tahun lalu, ketika anniversary mereka yang ke dua.
“Iya mas, semua pemberian kamu masih Sekar simpan, mana mungkin aku buang semua itu,” jawab Sekar malu-malu.
“Pemberian kamu juga masih ada di kamar, tidak ada yang berkurang sedikit pun, termasuk kerinduanku,” ucap Danil tidak mau kalah.
“Peluk Sekar mas,” pinta Sekar tiba-tiba, membuat Danil menuruti permintaan calon istrinya.
“Terima kasih Bee, mas sayang banget sama kamu,” kata Danil mengeratkan pelukannya.
“Terima kasih juga mas, Sekar juga sayang banget sama Mas Danil,” ucap Sekar.
“Boleh memohon tidak ya?
"Memohon apa?"
"Pernikahan kita di percepat?" tanya Danil dihadiahi cubitan Sekar.
"Malam ini.”
“Mas, ayo jalan ah, nanti semakin siang."
"Siap tuan putri."
__ADS_1
Perjalanan menuju butik "Rumah Jahit" milik sahabat bunda Rianti dan mamah Fina ditempuh kurang lebih empat puluh lima menit.
Keduanya langsung memasuki ruangan yang nyaman, disambut gemerecik suara air dari pancuran air pemanis kolam ikan koi.
Tante Irma sendiri yang langsung menyambut calon pengantin ini. Dia adalah mantan model yang sekarang menjadi designer di butik tersebut. Untuk perempuan berumur empat puluh lima tahun, wajahnya masih bisa dibilang muda, terlihat sepuluh tahun lebih muda dibanding umurnya.
Postur tubuhnya sangatlah poporsional, mantan model ini pastinya menjaga asupan makanan, agar berat badan terlihat ideal.
“Selamat siang ratu dan raja ku, kalian memang cantik dan tampan, rasanya tante sudah tidak sabar melihat calon cucu, pastinya mereka akan terlihat sangat cantik dan tampan seperti papa dan mamanya,” kata Irma, membuat Sekar tersipu dan Danil tersenyum menatap calon istrinya.
“Siang tante,” sapa Sekar mencium tangan Tante Irma dan memeluknya, Danil pun melakukan hal yang sama.
“langsung fitting ya, katanya jadwal kalian padat, tidak terasa ya, seminggu lagi. Kalian ini nikah kok mendadak sekali?” kata Irma tanpa jeda dan hanya di jawab senyuman oleh keduanya.
Sekar tersenyum dan langsung pamit mencoba baju pengantinya, Danil pun melakukan hal yang sama. Tidak lama kemudian Danil keluar lebih dulu, menggunakan baju untuk akad nikah dengan warna putih, diia terlihat sangat tampan, membuat Irma sangat puas.
Sekar pun keluar sepuluh menit kemudian menggunakan baju adat dengan warna senada dengan Danil, membuat Danil dan Irma terpana. Calon istrinya terlihat sangat cantik, walau hanya dipoles make up tipis.
“Ya ampun sayangku, baru fitting saja kamu sudah terlihat sangat mempesona bagaimana pas akad nanti."
"Kalian berdua akan membuat iri semua orang,” ucap Irma, dia langsung menyuruh Sekar dan Danil berpose dan memfotonya, lalu mengirimkan kepada kedua sahabatnya.
Setelah mencoba baju untuk akad dan resepsi, mereka pamit. Irma terlihat sangat puas, begitu pun kedua calon pengantin.
“Bee, nikahnya di percepat ya," ucap Danil, terlihat tidak sabar.
"Sejak kapan mas Danil menjadi orang yang tidak sabar?”
“Semenjak kita bersama lagi.”
“Sabar mas, seminggu lagi. Biar kita semakin dekat.”
“Seminggu lama Bee.”
“Kembalikan Mas Danil ku yang super sabar, Tuhan,” doanya. Danil tertawa mendengar doa calon istrinya.
“Siap deh tuan putri. Sekarang, mari kita mencari sisa barang seserahan yang kurang, kalau pulang dengan tangan kosong kamu tahu kan kedua super mom kita seperti apa.”
“Baiklah.”
Danil dan Sekar mencari barang yang mereka inginkan. Sekar dan Danil tipe anak muda yang simple. Mereka sangat sederhana untuk ukuran anak muda yang memiliki segalanya.
Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka langsung pulang, karena perintah bunda Ria dan mamah Fina.
***
Terima kasih telah membacanya sampai disini, mohon maaf masih banyak kekurangan. Ditunggu komentar saran dan kritiknya agar novel ini bisa semakin diterima oleh kalian semua.
ditunggu like dan votenya juga
Terima kasih
__ADS_1