
Danil mengajak Sekar menuju lantai dua, dimana kamar tidur mereka berada. Sekar menatap beberapa pigura foto yang berisi foto mereka berdua.
Tiga pigura berwarna monochrome menghiasi dinding tangga. Foto pertama saat mereka berdua berada di bawah menara Eiffel. Pigura kedua foto resepsi pernikahan. Terpancar kebahagiaan yang nyata dari wajah pengantin. Sedangkan Pigura ketiga foto candid mereka ketika prewedding.
“Kapan pigura ini terpasang?”
“Mau tahu saja atau mau tahu banget?” tanya Danil sambil menarik hidung istrinya dengan gemas.
“Mas, sakit ih!” Protes Sekar. “Sudah berapa kali menarik hidung aku hari ini.”
“Salah sendiri, mengapa kamu begitu menggemaskan.”
Sekar kesal dan memajukan bibirnya. “Istrinya tuh di sayang gitu, di cium, jangan disakiti.”
“Kamu merasa tersakiti?”
“Sedikit.”
“Alasan saja. Manja banget sih.”
“Suka kan?”
“Kapan aku tidak suka dengan tingkah kamu Bee.”
“Jangan pernah berpikiran untuk menjauh dari aku mas.”
Danil berhenti tiba-tiba, dan langsung menatap istrinya. “Ada apa Bee?”
“Tidak ada apa-apa mas?”
“Kenapa sering sekali mengingatkan mas untuk tidak menjauhimu?” Danil menunggu jawaban istrinya, namun Sekar hanya diam menatapnya.
“Kamu perlu tahu, tanpa kamu suruh tidak pernah ada niat sedikit pun untuk menjauhi kamu.”
Danil terlihat sangat kesal. Dia memalingkan wajahnya, untuk meredam sedikit emosi. Sekar menyesal dan merasa bersalah karena membuat suaminya kesal.
“Maaf mas, jujur aku masih takut,” katanya menjelaskan.
Danil menghembuskan nafas beratnya. “Apa kamu tidak percaya dengan mas mu ini Bee, masih kurang bukti kah bagaimana aku sangat menyayangimu, mencemaskanmu?”
“Tidak mas. Maaf, aku pun tidak dapat menjelaskannya mengapa aku sangat takut dan cemas akan semua hal yang belum tentu terjadi.”
Sekar menahan emosinya, air mata mulai menggenang dipelupuk mata, sekali saja dia mengedip dapat dipastikan butir itu akan jatuh membasahi pipinya.
“Maafkan mas,” ucap Danil sambil memeluk Sekar dengan erat. “Kamu lelah sayang, kita istirahat dulu ya,” pintanya.
Danil membawa Sekar menuju kamar di paling ujung. “Sudah siap sayang?” tanyanya, Sekar mengangguk.
“Selamat datang nyonya Danil,” ucap Danil mempersilahkan Sekar memasuki kamar mereka.
Perempuan ini menatap kagum tata letak kamarnya. Mereka memasuki lorong kecil yang tidak panjang. Terlihat sofa berwarna abu-abu tua, lengkap dengan meja kotak. Disisi sebelah kanan terdapat Mini bar yang masih kosong, mesin kopi, microwave, dispenser.
Kamar mereka ini bagaikan president suite dalam hotel berbintang.
Matanya menyisir seluruh ruangan, terdapat tempat tidur yang cukup luas, lengkap di bagian kiri dan kanan terdapat meja kecil dan sofa.
“Mengapa ada sofa lagi di sini?” tanya Sekar bingung.
“Mas suka dekorasi seperti ini,” jawab Danil asal.
“Atas dasar?”
“Mas tidak ingin berdebat, kamu harus istirahat dahulu, mas tahu kamu lelah sayang.”
“Aku tidak akan tidur sebelum mas menjelaskan semuanya.”
__ADS_1
“Baiklah sayangku. Tidak ada penjelasan khusus mengenai keberadaan sofa coklat tua ini, hanya karena mas suka.”
“Se-simple itu?”
“Iya.”
“Ya ampun mas ku, kamu boros sekali.”
“Tidak ada perhitungan untuk membahagiakan istriku.”
“Bukan perhitungan mas, tapi ...,”
“Sayang bisakah kita tidak berdebat untuk masalah sofa?”
“Baiklah mas.”
“Kamu belum melihat walk in closet sayang,” ucap Danil mengajaknya memasuki pintu kayu di depannya.
Sekar memasuki ruangan yang untuk menyimpan pakaian, aksesoris dan sepatu. Terdapat pula meja rias. Dia menatap suaminya, tidak percaya.
“Terima kasih mas.”
“Berhentilah mengucapkan terima kasih Bee.”
“Kamu luar biasa mas.”
“Kamu baru menyadarinya kalau suami kamu itu sangat luar biasa?”
“Tidak mas, aku sudah menyadarinya sejak lama.”
“Termasuk pesona ku yang luar biasa kan?”
“Maksudnya kegombalanmu mas?”
“Tentu aku ingat, karena aku harus mengalaminya sepanjang sisa hidupku.”
“Jangan terlalu kejam bila berbicara sayang, perih hati ini.”
“Mas Danil!”
“Salah lagi?”
“Tidak. Aku hanya mencegah, mas melakukan kegombalan lagi,” katanya sambil tertawa menjauh, mengecek satu persatu lemari yang terdapat di dalam ruangan bernuansa putih.
“Bagian mana lagi yang belum aku lihat mas?”
“Sudah cukup sayang, sekarang kamu harus istirahat terlebih dahulu.”
“Tidak mas, aku ingin menuntaskan semuanya hari ini.”
“Bolehkah kita melihat dari arah balkon saja?”
Sekar menatap mas Danil yang tersenyum padanya. Terlihat gurat kelelahan dalam wajahnya, walau ia tahu suaminya berusaha menyembunyikan.
“Tidak perlu, masih banyak waktu untuk melihat bagian rumah lainnya," ucap Sekar. "Mas Danil lemari baju aku yang mana?”
Danil kemudian memberi tahu letak lemari baju Sekar berada di sebelah kanan, dan lemari baju beserta aksesoris miliknya di sebelah kiri. Dengan cetakan dia membuka seluruh lemari dan terlihat bahwa pakaian keduanya beserta barang kebutuhan sehari-hari sudah berada di dalam lemari.
“Siapa yang membereskan barang-barang kita mas?”
“Ibu Ita, dibantu oleh beberapa asisten.”
“Malu aku, sampai ibu Ita yang membereskan semua ini.”
“Kenapa harus malu, itu memang sudah menjadi kewajibannya.”
__ADS_1
“Baiklah ayo mandi dulu mas, aku sudah menyiapkan pakaiannya. Setelah ini mas mau aku dibuatkan apa?”
“Mas istirahat saja aku pergi sebentar ke supermarket,” Sekar meminta izin.
“Mas ikut, kamu tidak boleh pergi sendiri.”
“Baiklah, kita berangkat sekarang,” ucap Sekar tidak sabar.
Sekar terdiam, membuat Danil menghentikan langkahnya. “Apakah mereka akan ikut?”
“Sudah pasti sayang.”
Sekar menggerutu, Danil tidak mempedulikannya, inilah konsekuensi yang harus dijalankan olehnya sebagai istri seorang Danil. Di dalam mobil Sekar hanya terdiam dan tidak lama tertidur.
Mengapa akhir-akhir ini kamu mudah sekali tertidur Bee? Kamu tahu mas sangat mengkhawatirkan keadaan kamu sayang. Maaf membuat kamu tidak nyaman, percayalah mas melakukan semua ini demi keselamatan kamu.
Danil membangunkan Sekar ketika kendaraan mereka hampir sampai di lobby supermarket. Sekar membuka matanya perlahan dan disuguhkan pemandangan indah wajah suaminya.
“Maafkan aku tertidur mas.”
“Mimpi indah Bee?” tanya Danil sambil memberikan botol air mineral yang sudah di buka.
“Terima kasih mas, aku tidak bermimpi.”
“Sudah cantik sayang,” puji Danil, ketika melihat istrinya menatap wajahnya di cermin mini berwarna merah muda.
“Mas, hanya melihat apa ada yang kurang saja,” katanya tersipu.
“Perfect (sempurna).”
Danil menggenggam jemari istrinya ketika mereka turun dari mobil. Kembali Sekar di hadapkan dengan pengawalan ala suaminya. Banyak orang yang menatap keduanya sambil berbisik membicarakan pengantin baru tersebut.
“Salah kita berbelanja hari ini sayang.”
“Apa yang salah?”
“Disini terlalu ramai, dan aku benci melihat pria-pria disana menatapmu dengan penuh harap. Ingin mas lipat kamu dan masukan dalam tas, agar mereka tidak menatapmu.”
“Memangnya sepeda, main lipat dan masukkan ke dalam tas,” protes Sekar. “Enak di kamu mas, perempuan disana terang-terangan menatap mu dengan penuh harap, mendamba kamu sapa. Sedangkan aku, mau kamu masukan dalam tas, itu menyebalkan.”
“Istriku cemburu?”
“Memangnya hanya kamu yang boleh cemburu?”
“Mas senang mendengar kamu cemburu.”
Sekar berjalan mendahului Danil, kini suaminya terpaksa mengikuti kemana ia membawanya. “Pelan-pelan Bee, kamu tidak bisa jauh dari mas tahu.”
“Aku susah belanja mas, kalau tangan kamu menggenggam jemari aku terus.”
“Tidak bisa Bee, mas tidak ingin kecolongan.”
“Dengan adanya upin ipin dan dua srikandi mas masih takut kecolongan?” tanya Sekar. “Aku hanya minta lepaskan genggamanmu sebentar saja mas, bagaimana aku akan memilih sayur dan bahan lainnya jika kamu menggenggamnya kuat sekali.”
“Tidak ada bantahan Bee,” ucap Danil. “Pilihannya hanya ada dua. Satu, tetap berbelanja dengan syarat tangan kamu harus mas genggam atau kita pulang.”
“Baiklah tetap berbelanja mas.”
“Pilihan tepat istriku,” ucap Danil sambil tersenyum penuh kemenangan.
***
Ditunggu like, komen dan votenya.
Terima Kasih
__ADS_1