
Sekar meringkuk disofa bersandar pada bantal empuk berwarna abu-abu. Dia masih tidak habis pikir dengan kejadian yang baru saja dialami, kebahagian yang dirasa, seketika tertutup ketakutan.
Salahkah bila kita bersama, siapa yang tega memiliki niat memisahkan kita? Tanya Sekar dalam hati.
Ia merasa bosan, acara televisi yang dilihatnya juga tidak menarik. Bunda dan mama sibuk membicarakan masa-masa kehamilan mereka. Ayah dan papa masih semangat bersama Danil dan yang lainnya membahas perihal yang terjadi. Ia kemudian mengambil ponselnya dan mulai membuka satu persatu akun sosmed yang dimilikinya, hingga pesan Nia yang terkirim dalam aplikasi whatsappnya masuk.
Nia : Kamu kuat, kamu luar biasa. Peluk erat, maaf tidak bisa ikut sama Adit
Sekar : Kangen tahu! Bukannya ikut sama Adit, kesepian nih, mereka sibuk rapat.
Nia : Next, kita harus ketemu.
Sekar : Wajib!
Nia : Harus sehat ya!
Sekar : Pasti dong.
Nia : Oh my God, congratulation, selamat ya cinta, selamat menikmati sembilan bulan yang luar biasa. Love bumil sayang
Sekar : Love you too aunty.
Acara balas membalas pesan dalam aplikasi whatsapp membuat Sekar sedikit melupakan apa yang baru saja dialami. Dia kembali membaca satu persatu yang menanti dibuka, hingga terlihat sebuah pesan dari nomor yang tidak diketahui.
Sekar menatap ke arah suaminya. Danil pun menatapnya dan langsung tersenyum. “Mas Danil,” teriak Sekar, sambil melambaikan tangannya menyuruh suaminya datang.
“Ada apa Kar?” tanya bunda dan mama bersamaan.
“Ada apa Bee?” Danil bertanya, meskipun Sekar belum sempat membalas pertanyaan bunda dan mama. Sekar menyuruh suaminya duduk, dan memberikan ponselnya.
“Ini waktu kita di rumah sakit dong,” ucap Danil, memastikan waktu pesan terkirim.
Sekar menatap suaminya. Danil memeluk Sekar dengan lembut. “Kita bisa melewati semua ini, kamu percaya kan?” Sekar mengangguk dan membalas pelukan suaminya.
Ayah mengambil ponsel Sekar. “Lebih berhati-hati mas, sepertinya tidak main-main lawan kita.”
“Iya ayah, semoga semuanya segera mendapatkan titik temu. Danil tidak ingin Sekar tertekan, terlebih saat ini dia sedang hamil muda. Istri dan anak dalam kandungan Sekar menjadi prioritas utama”
“Kami semua akan menjaganya dengan baik, tidak mungkin hanya diam terpaku menunggu permainan mereka.”
“Terima kasih Papa,” ucap Danil.
__ADS_1
Ayah Bagas membawa ponsel Sekar, dan memberitahukan pada tangan kanan mereka untuk segera mencari pangkal permasalahan yang mereka hadapi.
“Apa isi pesannya mas?”
“Jangan dipikirkan sayang.”
“Sekar tidak akan memikirkannya mas. Jadi apa pesannya?” Danil tersenyum, memahami perilaku istrinya.
+6280123456789 : Sekar sayang, kamu membuatku cemburu! Dapat aku pastikan kalian tidak akan pernah bersama. Aku akan selalu berada didekatmu.
“Berarti tadi dia ada didekat kita mas?”
“Mungkin saja,” jawab Danil sambil mengeratkan pelukannya.
“Aku takut mas.”
“Kamu percaya sama mas?” Sekar mengangguk. “Meskipun nyawa mas taruhannya, kita akan selalu bersama.”
“Mas, kamu bicara apa sih,” ucap Sekar kesal. “Jangan pernah membicarakan masalah taruhan nyawamu mas. Di dalam sini ada buah cinta kita, aku tidak ingin memikirkan hal yang buruk.”
“Ketakutan hanya akan melemahkan kita, jangan pernah takut selama kita selalu bersama.”
“Kamu menyebalkan Mas Danil. Tentu aku mengerti mas, tapi jujur kamu menyebalkan ketika berbicara masalah nyawa.”
“Bohong kalau aku tidak takut mas, tapi aku percaya sama mas.”
“Selama kamu percaya sama mas, semua sudah cukup. Bantu mas dengan doa, agar semua ini cepat mendapat titik terang sehingga kami semua dapat berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikannya.”
Sekar menatap suaminya, sejujurnya rasa takutnya belum hilang terlebih motif dari semua ini belum terungkap. Jelas dia takut. Ia menatap suaminya yang sibuk membalas pesan masuk ke ponselnya.
“Begitu penting pesan-pesan itu dibanding aku mas?”
Danil terkejut, seketika menghentikan kegiatannya. Wajahnya tersenyum dan langsung memeluk istrinya. “Mengapa istri mas sekarang gampang marah, mudah sekali naik darah?” godanya.
Sekar tidak menjawab, ia malah membenamkan wajahnya pada dada bidang suaminya. “Cepatlah selesaikan masalah ini mas, sebelum anak kita lahir,” pintanya sangat memohon.
“Siap ratuku, laksanakan.”
Sekar menatap Mas Danil dengan wajah memohon. “Mas jangan mulai menggombal please, aku sudah cukup menghadapi mas jangan ditambah anak kita yang akan meneruskan kegombalan kamu.”
“Mas enggak sanggup penuhi permintaan kamu Bee, mas enggak mau kamu sampai kangen kegombalan mas ini.”
__ADS_1
Sekar menatap suaminya pura-pura kesal. “Mas, sudah belum meetingnya, ke kamar yuk,” pintanya.
Danil menatap istrinya dengan penuh sayang. “Mas pamit dulu ya,” pintanya. Sekar menjawab dengan anggukan.
Danil berjalan menjauh, pamit pada semua yang berada di teras samping. Tidak lupa pamit juga pada Ayah dan Papa setelah menyampaikan pesan pada orang-orang kepercayaannya. Kemudian mendekati Bunda dan Mama, pamit membawa Sekar ke kamar untuk istirahat.
Danil tersenyum ketika melihat istrinya tertidur di sofa. Perasaan dia hanya pamit dan meninggalkan pesan namun istrinya sudah terlelap dengan posisi menghadap kesebelah kanan.
“Hati-hati Mas,” ucap Ayah melihat menantunya sedang menggendong putrinya dengan penuh hati-hati.
“Iya ayah, maaf Danil sama Sekar duluan ke kamar,” ucapnya meminta izin.
Direbahkan tubuh istrinya diatas ranjang, tidak lupa mengelus lembut surai hitam yang ikal dan panjang. Kemudian mengelus lembut pipi istrinya, mencium mata, pipi, kening dan bibirnya. Sebelum beranjak tidak ketinggalan mencium perut rata Sekar.
“Tumbuh sehat di perut ibu ya sayang, baik-baik di dalam. Ibu dan Bapak sangat menyayangimu.”
“Mas ...” Sekar mengucek matanya. “Maaf aku ketiduran ya,” ucapnya sambil berusaha bangun.
“Kenapa bangun, bukannya tadi sudah pulas?” tanya Mas Danil. "Ayo tidur lagi," pintanya.
“Pengen dipeluk,” pinta Sekar dengan manja. Danil langsung tersenyum dan mendekati istrinya.
“Seperti ini?” tanyanya memeluk erat tubuh Sekar yang mungil.
“Mas enggak boleh pergi!” Pinta Sekar. “Kalau pergi ...,”
“Mas enggak akan pergi, sudah tidur jangan mikir macam-macam. Mas janji sepanjang malam akan memeluk kamu Bee”
“Pokoknya mas dapat hukuman kalau besok pagi pas aku buka mata enggak melihat mas.”
“Sejak kapan istriku manja seperti ini?” tanya Danil gemas.
“Mas ade ngantuk, peluk ya jangan ditinggal.”
“Ade?” Danil menatap bingung. Sejak kapan istrinya minta dipanggil seperti itu. Besok pagi ia akan menanyakan tentang ini. Sekarang ia akan memenuhi permintaan Sekar tidak meninggalkannya sendirian. Sudah pasti saat ini istrinya ketakutan, namun ia menutupinya agar tidak membuat khawatir orang-orang terdekatnya.
Tidurlah Bee, dengan nyenyak. Orang yang pertama kali kamu lihat ketika membuka mata adalah suamimu ini. Mas janji tidak akan pergi, maaf jika kita belum dapat mengungkap siapa dalang dibalik semua ini. Jangan pernah takut, tidak ada yang dapat memisahkan kita. Janjinya dalam hati.
***
__ADS_1