Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Episode 67


__ADS_3

Ryan menatap Renata dengan perasaan lega, sakit yang diterima atas pukulan Danil tidak dia rasakan, yang penting semua yang harusnya dibicarakan sudah dia kemukakan. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia merasa lega setelah menyimpan beban cukup lama.


Renata menatap suaminya dengan sedih, harga yang harus dibayar untuk sebuah kesalahan besar yang mereka lakukan. Tidak ada hal yang baik atau benar ketika melakukan sesuatu dengan cara menyakiti orang lain, terlepas masalah terdesak atau tidak.


“Jangan menatapku seperti itu sayang,” pinta Ryan sambil mengelus pipi istrinya.


Renata hanya mengeluarkan nafas beratnya, dia tidak menghendaki semua ini terjadi. Siapapun tentunya tidak ingin melakukan hal yang buruk, terlebih keterpaksaan membuat suaminya melakukan hal ini.


Keterpaksaan karena waktu yang terlalu sempit dan tidak berpihak pada mereka saat itu. Jalan pintas yang harus diambil, demi menyelamatkan seseorang yang dicintai, adalah harga mati untuk seorang Ryan.


“Semua ini terjadi karena aku ay, andaikan saat itu aku tidak...,”


“Sudah cukup, jangan berbicara mengenai masa lalu. Sampai detik ini, aku tidak pernah menyesal untuk menyelamatkanmu.”


“Tapi...,”


“Semua sudah terjadi, dan memang itu jalan yang harus aku ambil saat itu. Jangan membebani pikiranmu lagi, dengan masalah yang sudah lewat.”


“Andaikan waktu itu...,”


“Bagaimana hidupku tanpa kamu sayang?” tanya Ryan memotong ucapan istrinya.


“Tapi ay,” Renata kembali menghembuskan nafas beratnya.


“Sudah, biarkan aku membayar semua ini. Jangan memikirkan hal lain lagi,” pinta Ryan sambil tersenyum menahan sakit.


“Cukup kamu berada disisiku. Membantu suamimu untuk menyelesaikan semua yang sudah dimulai.”


Renata memeluk Ryan dengan hati-hati. Air matanya tumpah, ia rapuh saat ini. Tangisnya begitu pilu, membuat Ryan ikut meneteskan air mata. Seketika bayangan itu hadir mengingatkan dengan jelas perilaku mereka terhadap Sekar dan Danil.


Berulang kali, disela tangis penyesalan penuh pilu, keduanya memohon pada Tuhan Nya agar memafkan kesalahan yang pernah dilakukan. Manusia memang serakah, mengingat sang maha ketika mereka terpuruk, namun apa daya itu lah ujian hidup yang sesungguhnya.


Kenangan itu masih bertahan, dan nyata. Seakan enggan beranjak dan mengingatkan hal buruk yang telah ia lakukan bersama suaminya. Begitu penyesalan selalu datang di akhir.


“Maafkan aku melibatkan mu terlalu jauh dalam masalah ini sayang,” Ryan seketika bangun dari duduknya dan bersimpuh di kedua lutut istrinya.


Masih dengan tangis yang mulai mereda, Rena mengusap lembut rambut suaminya. Tidak tahu harus berkata apa. Keduanya terdiam lama menghabiskan malam dalam penyesalan.



Malam ini malam penuh penyesalan untuk Renata dan Ryan. Di sisi lain Danil pun masih berusaha berdamai dengan dirinya, menurunkan ego yang masih menguasai hatinya.


Jika bukan karena Sekar, istrinya yang memohon untuk bekerja sama dengan pasangan suami istri itu, mungkin dia tidak akan sepusing ini, memikirkan jalan apa yang harus dilakukan.


Sudah tentu dia tidak mau bekerjasama dengan Ryan dan Renata, hanya ingin menuntaskannya masalah ini bersama orang-orang kepercayaannya. Namun apa yang harus di lakukannya, justru karena kejujuran mereka berdua teka teki yang selama ini menjadi misteri mulai terbuka satu persatu.


Menatap Sekar yang duduk diam di sebelahnya, entah apa yang ada di dalam lamunannya. Satu yang pasti istri mungilnya tidak percaya hal ini terjadi, begitu pun dengan dirinya. Ujian datang tanpa diduga, memaksa untuk dijalani.


Danil kembali mulai mengurut satu persatu kejadian yang terjadi diantara mereka. Tidak habis pikir bahwa hidup yang dijalani bersama istrinya selama ini berada dalam genggaman seseorang yang sampai saat ini masih menjadi misteri, siapakah orang tersebut? Pikirannya hanya berputar disitu saja, lingkaran yang tidak ada ujung.

__ADS_1


Entah ini ujian dari sang maha mengetahui atau sebuah kesempatan yang dipermainkan melalui tangan manusia, sehingga pada akhirnya semua ini berujung pada takdir kehidupan yang harus dilewati.


Apakah big boss orang yang dia kenal, musuh kedua orang tuanya, atau seseorang yang membenci hubungan tulus antara dirinya dan Sekar?


Kembali pertanyaan muncul dalam diam, Hal ini begitu rumit untuk diselesaikan. Mengapa seorang big boss ini rela menghabiskan waktu untuk menghancurkan hidup keduanya.


"Apa salah kami?". Batin Danil ingin berteriak agar jawaban segera muncul. Namun sayangnya, ia harus bersabar untuk semua itu.


Bisma mulai mengerjakan tugas beratnya, menghubungi orang-orang terdekat untuk berbagi hal yang sedang di hadapi ke dua keluarga besar ini. Berbagai perintah keluar dari indera pengecapnya, apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan.


Bisma sudah lama menjadi tangan kanan anak semata wayang Papa Andi dan Mama Fina. Danil bagaikan seorang kakak baginya. Keluarganya sudah dianggap seperti keluarga sendiri, sebagaimana kedua orang tua Danil menganggap dirinya bagian keluarga.


Mulai dikerahkan pula penjagaan untuk seluruh anggota keluarga, seleksi ketat untuk semua yang bertugas langsung dilaksanakan. Dia sendiri yang memimpin setelah membicarakan dan bekerja sama dengan Indra dan Tara, orang kepercayaan Ayah Bagas dan Papa Andi.


Bisma melaporkan pada Danil apa saja yang telah dilakukannya tanpa terkecuali. Setelah menutup telepon ia pun segera beristirahat. Tubuhnya mulai menuntut untuk beristirahat.


Disaat Bisma mulai terlelap, lain halnya dengan pasangan suami istri ini. Sekar masih terjaga, begitu pula dengan suaminya. Danil belum dapat memejamkan matanya sebelum istrinya tidur.


“Mas..,”


“Bee...,”


Bersama keduanya saling memanggil.


“Ada apa Bee?”


“Mas duluan saja,” pinta Sekar mengalah.


“Baiklah,” jawabnya. “Ada yang bisa aku bantu untuk meringankan pikiranmu mas?”


Danil tersenyum, Sekar sangat perhatian. Begitu bahagia hanya mendengar pertanyaan singkat perempuan mungil yang sedang merebahkan kepala diatas pahanya.


Dia sudah mengkhawatirkan jalan pikiran istrinya, mengingat sore tadi dia begitu shock mendengar pengakuan keduanya. Namun sikap pemaafnya patut diacungkan jempol. Jika tadi tidak ada Sekar, entah apa yang akan terjadi pada pasangan itu.


“Apa yang harus diringankan selama ada kamu didekat mas,” ucap Danil sambil mengusap lembut rambut panjang istrinya.


“Aku sedang tidak ingin mendengar rayuan gombalmu mas,” Sekar menatap suaminya sambil tersenyum mengejek.


“Aku tidak suka senyuman mu Bee, cukup tersenyum manis tanpa embel-embel lainnya.”


“Aku pun hanya ingin jawaban jujur tanpa embel-embel kegombalanmu mas.”


“Pintar sekali istriku membalikan perkataan.”


“Aku belajar dari ahlinya,” ucap Sekar sambil memamerkan senyum penuh kemenangan.


“Aha, jadi istri mungil ku ini sudah berani ya,”Danil langsung mengelitik perut istrinya, Sekar berusaha memberontak dan membalas, namun pada akhirnya dia harus berteriak menyerah karena tenaga suaminya lebih besar.


“Tertawalah Bee jika ingin tertawa. Menangislah jika ingin menangis, jangan berusaha menutupi segalanya dari mas mu ini.”

__ADS_1


Sekar bangun dari tidurnya, langsung memeluk Danil dan suaminya pun membalas pelukannya tanpa diperintah. berbagai rasa yang  tertata rapih dalam hati, kini sudah tidak dapat di tahan lagi. Semua rasa tertumpah dalam tangisnya.


“Keluarkan semuanya Bee, aku tahu dalam hatimu menyimpan banyak sesak. Jangan di tahan lagi, ada mas disini,” ucapnya lembut menenangkan.


“Mas, ta-hu ba-gai-ma-na ra-sanya dipe-rmain kan o-leh tak-dir?” tanyanya dengan terbata.


"Jangan menyalahkan takdir Bee, ini sudah jalannya," Danil berusaha bijak, walau dalam hatinya tersimpan sumpah serapah yang ingin ditumpahkan.


“Kamu selalu membuat mas kuat Bee, jangan takut ada mas yang akan selalu melindungimu.”


Kesal, marah, sedih, kecewa, campur menjadi satu kesatuan, rasa sesak! Sakit hati Danil mendengar tangis istrinya. Dalam hatinya ia berjanji menyelesaikan semuanya, ia tidak ingin mendengar, melihat istrinya menangis pilu seperti saat ini.


Keluarkan semua tangismu Bee, cukup saat ini kamu menangis seperti ini. Dengan segala upaya mas mu ini akan menyelesaikan masalah ini secepatnya.


“Tuhan bantulah aku.” Permohonan dari relung hati terdalam seorang Danil.


 


***


Ditunggu like, komen dan votenya terima kasih


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2