Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Ancaman Sekar 2


__ADS_3

Danil mengejar Sekar, istrinya berjalan cepat tanpa merespon panggilannya. Sekar menjadi cengeng, ia tidak tahu mengapa seperti ini. Saat ini dia kesal sekesal-kesalnya pada suami gombalnya.


“Mas Danil menyebalkan,” ucap Sekar berkali-kali ia terus saja mengomel hingga masuk kamar dan menguncinya dari dalam. Tidak berhenti sampai disitu, Sekar menangis membenamkan wajahnya pada bantal, menumpahkan rasa sesak yang ditahan sejak tadi.


Lain halnya Danil, ia terlihat sangat panik. Selain ia mengecewakan istrinya ia pun takut Sekar melakukan hal yang dapat mengancam keselamatan diri dan anak yang sedang dikandungnya. Ia langsung meminta kunci kamar cadangan agar dapat membuka. Tidak membutuhkan waktu lama, ia membuka pintu setelah kunci cadangan dia dapatkan.


Melihat istrinya masih menangis di atas tempat tidur Ia segera menghampiri dan memeluk dengan lembut. “Maafkan Mas, Ade,” ucapnya masih terus mengusap dengan lembut rambut panjangnya.


“Berhentilah menangis De, dan jangan diamkan Mas. Tolong, jangan marah sama Mas ya,” Mas Danil berusaha membujuk istrinya yang merajuk.


“Please, “ Danil memohon untuk kesekian kalinya.


“Mas,” Sekar memanggilnya dengan serak.


“Iya De,” Jawab Danil dengan mesra.


“Ade lapar.”


“Ade mau makan apa?” tanya Mas Danil, masih mengusap punggung istrinya dengan lembut.


“Banyak. Kita pergi yuk,” ajaknya sambil menghapus sisa air mata diwajahnya.


“Lihat Mas dulu,” pinta Danil. Sekar menurutinya. “Maafkan Mas,” pintanya.


“Iya sudah Sekar maafkan.”


“Benar?”


“Mas ade lapar,” pintanya. “Ade, sudah maafkan Mas. Ayo pergi sekarang.”


Danil segera menuruti permintaaan istrinya dia tidak ingin Sekar marah dan menangis karena permintaannya tidak dituruti. Danil tetap membawa pengawal, ia tidak ingin keselamatan istri menjadi taruhannya.


“Mas.”


“Mas akan turuti permintaan Ade, dan meminta hal yang sama.”

__ADS_1


“Iya Mas,” jawabnya. Ia tahu sekali kalau suaminya tidak bisa di bantah untuk hal yang satu ini. Suka tidak suka ia harus menurut. Dalam hati kecilnya, ia takut jika Mas Danil marah.


Sekar minta berhenti ketika melihat toko kue langganannya sudah buka, Danil membuntuti di belakangnya. Menatap istrinya langsung mengambil kue kue tradisional kesukaannya. Tidak lupa mengambil satu baki lagi dan menatap kedua pengawalnya dan menanyakan apa kemauan mereka. Sontak keduanya saling pandang dan menatap Danil meminta izin untuk menjawab.


“Tidak perlu meminta izini, bos kalian yang tampan dan dingin itu baik hatinya kok.” Ucap Sekar menatap suaminya yang sedang tersenyum padanya. “Jadi kalian mau apa? Ayo pilih sendiri,” ucapnya.


Keduanya kompak menolak dan membiarkan istri bossnya memilih untuk mereka. Dengan cekatan ia memasukkan beberapa jenis kue dengan masing masing disesuaikan banyak pekerja di rumah.


Danil memeluk Sekar dengan posesif, mencium pipi istrinya dengan gemas. Perbuatannya menjadi tontonan para pegawai dan beberapa pengunjung yang menatap iri kearah mereka berdua. Para pengawal sudah biasa melihat rasa cinta Boss pada istri mungilnya.


“Mba, aku tambah ini satu,” pinta Sekar sambil memasukkan gemblong kedalam keranjangnya.


“Untuk siapa, sudah banyak loh Ade membeli kue,” ucap Danil hati-hati, takut menyinggung.


“Untuk Mas, itu kan kue kesukaan Mas. Maaf Ade baru lihat, bukan karena tidak ingat kesukaan Mas.”


Danil mencium kening istrinya. Istrinya luar biasa, dia bisa hafal kesuakaan semua penghuni rumah, sampai pengawal yang baru bekerja beberapa hari pun dia sudah mengetahui apa yang disukai atau tidak.


Sekar seseorang yang perhatian pada setiap anggota keluarga, tidak pernah membedakan siapapun. Tidak sungkan untuk bersenda gurau, ada pun mengobrol, terkadang ia setia mendengarkan curhatan pengawalnya sendiri. Semua yang berada di dalam rumah berarti anggota keluarga, karena itu juga ia disayang oleh semua pekerjanya.


“Kartu yang dari Mas mana?” tanya Danil bingung.


“Ade enggak bawa dompet,” ucapnya sambil memamerkan senyum manisnya.


“Modus! Ini enggak gratis De,” goda Danil.


“Siap nanti di rumah ya,” jawab Sekar enteng, sambil menenteng kantong belanjaan yang segera direbut oleh si Upin.


Danil bernafas lega, ia tidak ingin keceplosan bicara, tidak ingin jika tiba-tiba Sekar kembali merajuk dan membiarkan dirinya tidur sendirian nanti malam.


Perempuan Mungil yang membiarkan rambut panjangnya dicepol seadanya dengan jepitan membuat Danil kesal, pasalnya dengan santai ia menggunakan kaos yang pas ditubuh dan celana pendek, meskipun dia menggunakan outer tetap saja membuat Danil semakin posesif jika ada yang manatap istrinya tanpa berkedip.


“Ade, ini terakhir kali keluar pakai baju seperti ini. Mas tidak akan mengizinkan Ade pergi seperti ini.”


“Iya Mas Danil sayang,” jawabnya sambil tersenyum melihat suaminya kesal. “Cemburu ya?” tanya Sekar sambil mencolek dagu Danil.

__ADS_1


Suaminya sontak terkejut melihat sikap istrinya yang berubah. Tidak lama Sekar membuka outer dan menyimpan diatas paha mulusnya.


“Adeeeeee,” Danil memanggilnya dengan menahan emosi.


“Mas marah?”


“Jangan menguji kesabaran Mas.”


“Mana bisa Ade menguji kesabaran Mas. Ini tuh gerah, kepanasan.”


Danil membuang mukanya menahan kesal karena istrinya sudah mulai berani. “Ade boleh membuka outernya kalau di kamar, selain itu tidak boleh. Mas tidak suka dibantah, dan Ade tidak boleh merajuk.”


Sekar menurut dan memakai kembali outernya, menuruti permintaan suaminya, dan perlahan wajah tegangnya mulai berubah menjadi senyuman tulus. “Terima kasih Ade, cintanya Mas,” ucapnya sambil mengelus perut istrinya.


“Nanti malam Mas tidur sendirian!” Bisik istrinya membuat tubuhnya yang menegang.


“Tidak! Kalau Ade tidak tidur sama mas, sekarang juga kita pergi ke hotel dan tidak akan pulang ke rumah sebelum Ade mencabut ancamannya.”


“Selalu seperti ini, kapan sih mas manjain Ade. Ade enggak boleh begini, begitu harus ini harus itu. Mas benar-benar menyebalkan, kenapa harus mas yang selalu memerintah.”


“Nanti malam Ade boleh memerintah Mas apa saja, asalkan kita tidak tidur terpisah.”


Sekar tertawa mendengar permintaan suaminya. Begitu takut bila jauh dari dirinya membuat wajah mungil merona. Mas Danil tipe suami yang sangat perhatian dan tidak bisa jauh dari istrinya. Dalam hati dia bersyukur bisa menjadi bagian dari hidup suaminya.


Sekar membenamkan wajah pada dada suami dan memeluk erat pinggangnya. “Terima kasih Mas, Ade mencintai Mas. Sangat mencintai Mas.”


Danil sumringah, pernyataan cinta yang tulus diucapkan istrinya membuat dia bersyukur dan berjanji akan selalu menjaga, melindungi dan membahagiakan wanita dan calon anak yang ada dalam kandungannya. Fokusnya keselamatan keluarga besar dan menyelesikan kasus yang mulai menemukan titik terang.


Pagi ini begitu indah untuk keduanya meskipun Danil tidak tahu sampai kapan ini bertahan mengingat Bunda dan Mama sudah mewanti-wanti emosi ibu hamil yang tidak stabil. Sebisa mungkin dia meredam sikap posesifnya demi istri yang sangat dicintainya. Rasanya pelukan ini tidak ingin cepat berakhir.


“Mas, kita sudah sampai...”


Celetukan Upin membuat dia menahan emosinya....


Selamat menjadi calon Ayah, Mas Danil. Selamat bersabar menghadapi emosi Ibu hamil yang tidak stabil.

__ADS_1


***


__ADS_2