
Sekar terbangun dari tidur nyenyaknya, Danil dengan posesif selalu memeluknya erat, seakan istrinya akan menghilang tiba-tiba. Ia tersenyum menatap wajah suaminya, jemarinya mengusap lembut seluruh wajah. Hingga kecupan pada telunjuknya yang sedang bermain disekitar bibir Danil membuat terkejut.
“Sudah bangun mas?” tanyanya manja.
“Mas sudah bangun semenjak istriku yang cantik ini memainkan jari-jarinya dengan nakal di wajah suaminya,” jawab Danil mencubit hidung mungil Sekar dengan gemas, dan mencium keningnya.
“Kok nakal?”
"Apa namanya jika bukan nakal?"
"Sayang," jawab Sekar.
“Kamu tidur nyenyak Bee?”
“Adik mas, panggil adik,” pintanya hampir menangis.
Danil membuka matanya, ingin memastikan karena kaget mendegar suara istrinya yang setengah menangis. "Kenapa Bee?”
“Kan semalam adik sudah bilang sama Mas, mau dipanggil itu saja enggak mau yang lain,” jawabnya.
“Iya tapi kenapa?” Danil bingung dengan permintaan istrinya.
“Kalau mas enggak mau panggil adik, ya sudah. Kita enggak usah satu kamar, aku mau tidur dikamar sebelah,” ancamnya.
Tidur di kamar sebelah, NO! Danil panik mendengar ucapan dari bibir mungil istrinya. Ancaman Sekar sama dengan membuatnya mati perlahan. Sakitnya melebihi kebuntuaan pangkal masalah yang sedang dihadapi. Bagaimana ia bisa tidur nyenyak jika tidak ditemani Sekar. Perempuan yang sudah menjadi istrinya.
Danil rela kehilangan kerjasama dengan perusahaan besar, asalkan ia dapat selalu bersama istrinya, jika diperbolehkan oleh orang tua mereka kekantor pun ia akan membawa istri tercintanya.
Tiba-tiba sekarang ancaman terucap dari bibir perempuan disebelahnya karena ia bertanya mengapa tiba-tiba Sekar ingin dipanggil Adik. Sukses membuat si raja gombal ini kalang kabut.
“Kamu tega sayang. Mana bisa mas tidur sendirian,” jawabnya sambil memeluk istrinya yang sudah siap beranjak dari kasur mereka.
“Adik kan enggak minta macam-macam mas, cuma pengen dipanggil itu saja.”
“Baiklah Bee, Mas akan memenuhi permintaan kamu.”
“Adik mas, jangan panggil Bee!”
“Baiklah Adik, cintaku, sayangku, manjaku,” ucap Danil sambil memaksa Sekar untuk kembali merebahkan tubuh mungilnya.
“Akhir minggu, ayo kita tidur lagi Bee, eh... Dik,” ucap Danil sambil mengecup lembut bibir istrinya, mengantisipasi ancaman yang terucap dari bibir mungilnya.
“Mas.”
“Iya Be, eh Dik,” ralatnya. “Maaf Mas belum terbiasa,” ucapnya takut dengan ancaman istrinya.
Sekar menenggelamkan wajah pada dada suaminya, dengan reflek Danil mengelus lembut punggung istrinya. “Terlentang Dik,” pintanya, Sekar pun menurut. Danil kemudian mengelus perut rata istrinya.
“Kamu mau dipanggil apa sama anak kita nanti?”
__ADS_1
“Ibu,” jawab Sekar.
“Kenapa?”
"Indah mendengarnya Mas."
"Tanpa panggilan Ibu, kamu selalu indah dimata Mas," ucap Danil.
"Mulai gombal deh."
“Bagaimana kalau dipanggil Mommy dan Daddy, Ambu dan Abah atau Abi dan Umi?”
Sekar tertawa menatap suaminya, Danil yang bingung jadi ikut tertawa melihat istrinya yang sangat menggemaskan, terlihat sangat ceria setelah beberapa hari ini dia selalu murung.
“Yakin mau dipanggil Umi sama Abi, memang ilmu Mas sudah banyak?” tanyanya masih sambil tertawa. “Bukan maksud merendahkan, Adik tahu Mas genius. Tapi, menyangkut masalah agama kita sama-sama masih minim ilmu, malu ah menyandang panggilan itu. Danil berpikir kembali dan mengangguk setuju dengan alasan yang dikemukakan istrinya.
“Ambu sama Abah?”
“Adik saja panggil Mas sama ayahnya calon anak kita. Jomplang banget sih mas, kalau kita panggil Ambu dan Abah, iya enggak?”
“Bisa saja kalau memberi alasan.”
“Kalau Mommy dan Daddy, ya ampun orang tuanya warga negara Indonesia, masa dipanggil itu sih mas.”
“Masalahnya sudah ada Bunda dan Ayah, ada juga Mama dan Papa. Kedua orag tua kita pasti punya panggilan khusus kan. Belum tentu keduanya ma dipanggil kakek nenek atau opa oma.”
“Kalau menurut Mas panggilan yang cocok untuk kita apa?”
“Ada-ada saja deh Mas, bule bukan, kelakuan sok-sok bule.”
“Bagaimana Mimi dan Bibi? Mas ambil dari Umi dan Abi. Mengingat ilmu kita belum cukup maka kita singkat saja panggilannya Mimi dan Bibi.”
“Agak janggal sih ...,” ucap Sekar masih sambil berpikir.
“Bagus kan, jadi beda sama yang lain.”
“Mimi, Didi?”
“Dari Mommy dan Daddy ya?” Sekar mengangguk. “Sudah lah Mas, panggil bunda sama ayah saja. Pasti Ayah sama bunda sudah menyiapkan panggilan khusus, jadi kita dipanggil itu saja ya.” Danil setuju dengan keputusan istrinya.
“Assalamualaikum anaknya Ayah,” salam Danil berbisik di perut rata Sekar.
“Waalaikumsalam ayah,” jawab Sekar.
“Baik-baik didalam sana ya, Ayah dan Bunda berharap bisa segera bertemu.”
Danil mencium perut istrinya dengan sayang, dia tidak menyangka hubungan dengan Sekar berlanjut dengan sangat membahagiakan. Dalam doanya ia selalu berharap agar masalah yang dihadapi segera berakhir dan dia akan hidup harmonis dengan keluarga kecilnya.
“Mas.”
__ADS_1
“Iya Bee, eh ... Bun, eh ... Dik,”
“Panggil Adik atau ade, Mas.”
“Iya sayang.”
“Mas.”
Danil menepuk jidatnya dengan tangan dan langsung mencubit pipi istrinya. “Ada apa Adik sayang?”
Danil benar-benar pusing dengan nama panggilan yang diminta istrinya. Beruntung Sekar sedang hamil dan membuat sang CEO ini mati kutu. Jika tidak pasti dirinyalah yang membuat Sekar pusing dengan gombalan receh ala dirinya.
“Mas bangun,” pinta Sekar
“Mau kemana?”
“Mau buat sarapan,” jawabnya.
“Enggak, kamu disini saja. Tidak boleh cape!”
Sekar menatap suaminya yang tiba-tiba semakin posesif. “Mas mau makan apa?”
Danil pura-pura tidur, berharap Sekar mengikuti jejaknya. Ia ingin istrinya dalam kondisi yang baik-baik saja, mengingat kehamilannya masih muda, dengan adanya kasus yang belum mendapatkan titik terang, ia tidak ingin ada kejadian baru yang dialami istrinya.
Sekar memanggilnya berulang kali, jemarinya pun terkadang mencubit pipinya, hidung, bermain-main di sekitar kening, atau bibir, sukses mengusik ketenangan Danil.
Melihat Danil yang tergeming dengan kelakuannya, Sekar mulai kesal. Ia merasa diacuhkan oleh suaminya. Tiba-tiba saja air matanya mengalir, menangis dalam diam. Hingga isaknya terdengar ditelinga suaminya.
Danil yang mendengar suara tangis langsung membalikkan badannya. Kini, dia terkejut melihat wajah Sekar dibasahi air mata.
“Ya ampun cintaku, kamu kenapa?”
Pertanyaan Danil membuat Sekar semakin menangis. Raja gombal yang hanya melakukan hal itu pada istrinya semakin panik. Panik dan bingung sama dengan nol besar, serba salah. Didiamkan semakin menangis, dibujuk jadi marah-marah, digombalin semakin marah. Satu-satunya cara hanya memeluk dengan lembut sambil mengusap punggungnya. Cara paling ampuh yang dilakukan oleh Danil
“Ada apa Bee?” tanya Danil ketika nangisnya Sekar mereda.
Bukannya menjawab Sekar menatapnya dengan pandangan tajam dan memanyunkan bibirnya. Untuk Danil dia tidak bisa mengendalikan dirinya melihat istrinya sangat menggemaskan.
“Malam ini Mas tidur sendiri!”
Ucapan istri dengan nada keras membuat suaminya mematung, terdiam cukup lama sampai dia sendiri tidak sadar jika Sekar sudah meninggalkan kamarnya.
“Ya Tuhan, ****!”
Dia berlari keluar kamar dengan kecepatan penuh. Semua tenaga dia fokuskan mengejar istrinya, ketakutan semakin dalam ketika tidak menemukan Sekar dikamar sebelah.
“Adik ..., Adik ..., Adik!”
"Adeeeeeeeeeeee!"
__ADS_1
***