
“Masih ada segalanya yang lain?” tanya Sekar penasaran.
“Untuk saat ini cukup dulu, terlalu lama kita ngobrol bisa-bisa kita balik lagi ke dalam kamar,” kata Danil menggoda Sekar.
“No, ayo kita pergi mas.”
“Baiklah mas mu ini akan menuruti apa kata cantik ku ini,” kata Danil yang hari ini sangat senang menggoda Sekar.
“Ya ampun suami aku mulai menggila,” Sekar menutup kedua matasambil menggelengkan kepalanya.
“Masa dibilang gila, mengagumi istri sendiri?”
“Geli enggak sih mas, kamu ngomong kayak gini?” tanya Sekar.
“Sedikit,” jawab Danil ikut tertawa melihat istrinya yang sedang tertawa, terlihat manis tanpa beban.
“Baiklah kembali ke topik awal mas,” kata Sekar agar suaminya berhenti menggombal.
“Apa?”
“Mas Danil ngeselin,” jawabnya. “Makanya jangan suka gombal, jadi lupa apa yang sedang kita bicarakan.”
Danil senang sekali membuat Sekar kesal dan marah-marah, baginya kecerewetan istrinya adalah hal yang ingin selalu dia dengar setiap saat. Pagi, siang, malam, setiap hari, sampai habis waktunya. Dia ingin suara istrinya memenuhi seluruh jiwanya. “Baiklah nyonya banyak mau, kamu mau pergi kemana saja hari ini?”
“Tidak boleh protes ya,” ancam Sekar.
“Baiklah nyonya penuh ancaman, tidak, tidak, tidak,” Danil sedikit berfikir, kemudian dia tersenyum menatap istrinya. “Ok tidak ada protes, jadi mau kemana kita?”
“Hari jadwal anda akan padat sekali tuan Danil, karena nyonya ingin menghabiskan waktu romantis bersama tuan berdua saja.”
“Dengan senang hati nyonya, jadi rencana kita kemana?”
“Selama di Paris, kita belum nyemil nyemil cantik di sini. Masa sudah jauh-jauh sampai di kota pusat mode dunia, belum nyobain minum teh atau secangkir coklat panas di cafe, sambil makan macaron yang warna warni itu, nyobain eclair, pokoknya Sekar mau makan kue enak.”
“Deal, sesuai permintaan mu nyonya,” kata Danil sambil menarik hidung Sekar dengan gemas.
“Kita juga belum ke sungai Seine mas, nanti sore ke sana ya, katanya indah kalau menikmati sungai dikala sore menjelang malam. Romantis katanya,” Sekar mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum jahil.
“Baik nyonya, mari kita lihat seromantis apa sungai Seine pada saat twillight.”
“Twillight hmmmm,” senyum jahil Sekar semakin melebar. “Semanis cintanya Bella Swan sama Edward Cullen, nah cinta kita semanis mereka tidak?”
“Tidak, kecuali kamu mau aku gigit sekarang dan berubah menjadi vampire,” jawab Danil tersenyum geli menatap istrinya.
“Sayangnya ini masih siang tuan vampire, dan aku tidak mau kulit ini menjadi merah dan merusak kecantikan aku.”
Danil tertawa ngakak, membuat Sekar ikut tertawa. “Apa Sekar sudah seperti mas Danil? gombal tiada akhir.”
Danil mengusap pipi Sekar dengan lembut. “sayang banget sama istri ku ini,” katanya gemas sambil mencubit lembut pipi istrinya.
“Sayang banget juga sama suami aku si raja gombal.”
“Catat, raja gombalnya hanya untuk istriku seorang.”
“Berarti hidup aku kedepannya akan tersiksa oleh kegombalan mu ya mas,” kata Sekar sambil memainkan kedua bola matanya.
__ADS_1
“Sayangnya iya, jadi harus tahan ya.”
“Sekar menganggukkan kepalanya. “Baiklah,” jawabnya.
“Sekarang tujuan kita ke mana?
“Apa pagi ini ke Jardin du Lexumbourg?” tanya Sekar meminta persetujuan.
“Siap nyonya banyak mau dan sering mengamcam,” Danil lansung menyetujuinya, dan ketika Mas Hadi datang, mereka langsung menuju tempat yang di tuju.
Setengah jam kemudian mereka sampai di taman Lexumbourg, terletak di jantung Left Bank Paris, biasa sebut sebagai “paru paru Paris” taman yang luasnya mencapai 23 hektar ini terkenal dengan hamparan bunga, jalan setapak dan Air Mancur Medici yang fenomenal dibangun tahun 1630 kurang lebih delapan tahun setelah taman ini berdiri.
Taman ini sangat indah, pemandangan yang ada begitu memanjakan mata. Ratusan patung menghiasi taman ini. Di tengah-tengah taman terdapat kolam segi delapan yang terkenal dengan sebutan Grand Bassin.
Galeri Marionette adalah salah satu tempat hiburan untuk anak-anak selain kuda poni dan komedi putar, dimana disana disuguhkan pertunjukan boneka yang dikendalikan dengan tali.
Terlihat Perempuan mungil sedang mengabadikan keadaan taman. Gayanya yang casual memakai kemeja putih lengan panjang yang di gulung sampai siku dipadu dengan celana jeans, tidak ketinggalan sneakers putih menutupi telapak kakinya dan tas postman bag setia menggantung di bahu.
“Bee, yang di foto itu kita dong, masa dari tadi fotoin tamannya saja,” protes Danil.
“Sini mas, fotonya disini angle aku bagus kalau dari sebelah sini,” Sekar meminta Danil mendekatinya.
“Terus yang fotoin siapa?”
“Selfie saja, eh Mas Hadi ikut kesini enggak?”
“Enggak,” jawab Danil.
“Tenang aku bawa tongsis,” kata Sekar tersenyum bahagia.
“Tidak berat mas, biasa saja,” jawab Sekar.
“Sayang, nanti pulang kita timbang di hotel ya, berapa kilogram isi tas kamu ini,” Perintah Danil.
“Mas, ini tuh penting semua. Lagian ini isi wajib tas Sekar.”
“Kamu tahu tidak, tas ini berat, dengan tubuh mungil ini dan kamu membebankan pada satu bahu, yang ada bahu kamu bisa tinggi sebelah, kamu bisa sakit punggung.”
“Ya ampun mas Danil ngomel panjang kali lebar kali tinggi sama dengan menyebalkan mas,” kata Sekar.
“Terserah kamu mau bilang mas ribut, menyebalkan, mau bilang mas cerewet, mau bilang mas apapun, ter ser rah, tapi yang harus kamu tahu, mas sayang sama kamu Bee, mas enggak mau kamu sakit di kemudian hari.”
“Sekar menatap Danil, dan langsung memeluknya erat. “Maaf mas, bukan maksud Sekar marah sama mas.”
“Mas mengerti sayang, mas tidak marah, hanya khawatir. Sekarang kita ambil foto yang banyak terus lanjut, makan siang ya,” kata Danil dan disetujui Sekar.
“Mau makan dimana Bee?’ tanya Danil setelah mereka puas mengabadikan banyak pose dalam kamera mereka.
“Sekar belum terlalu lapar mas,
“Sudah pukul setengah satu Bee, masa tidak lapar,” kata Danil. “Bee ... Bee ... Bee,” setelah panggilan ke tiga Sekar baru menoleh. “Melamun apa?” tanya Danil sambil membalikkan badan istrinya.
“Mas, perempuan tadi ngeliatin mas terus,” tunjuk Sekar pada seorang perempuan yang menggunakan dress hitam selutut, rambut pirang panjang, dan bertubuh sexy.
“Cemburu?”
__ADS_1
“Tentu tidak.”
“Ya sudah biarkan saja, mas enggak perduli.”
“Kalau Sekar cemburu?”
“Wow mas, senang sekali. Tandanya Sekar tidak mau kehilangan mas,” kata Danil dengan percaya diri.
“Nyebelin banget sih mas.”
“Apa sih yang kamu cemburuin? Jelas-jelas istriku ini paling cantik, tidak ada siapapun yang bisa mengalahkannya. Perempuan seperti itu tidak masuk dalam hitungan mas Bee, jadi tenanglah sayang.”
“Sekarang ngomongnya gini nanti beda lagi,” nyinyir Sekar.
“Lelaki di depan kamu ini Bee, sudah ada stempelnya di jidat ini, ‘MILIK SEKAR!’, gitu katanya,” Danil menggoda Sekar, tetap disambut cubitan mesra ala Sekar.
“Lagian apa yang harus kamu takutin sayang, ada juga mas yang takut. Cukup ya tiga tahun mas tersiksa kehilangan kamu, dan tidak ingin mengalami hal itu lagi.”
“Sekar juga tidak ingin mengalaminya mas.”
Danil semakin erat memeluk Sekar. “Kita tidak akan pernah mengalaminya, kalau pun ada yang berani melakukannya ingatlah satu hal bahwa di dalam sini,” Danil menunjuk dada bidangnya. “Hanya ada satu nama dan itu kamu.”
Sekar memeluk Danil dengan erat, “Semoga tidak pernah ada yang bisa memisahkan kita ya mas, rasanya tidak akan sanggup jika harus berpisah kembali.”
“Itu tidak akan terjadi,” bisik Danil.
“Janji,” kata sekar sambil memberikan kelingkingnya pada Danil.
“Janji kelingking,” kata Danil sambil menautkan kelingkingnya pada Sekar.
***
Bersambung...
Masih setia mengikuti kegombalan mas Danil?
Jangan lupa like, vote dan komen...
Terima Kasih
__ADS_1