Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Ujian Tanpa Batas


__ADS_3

Danil memeluk Sekar berjalan meninggalkan supermarket. Di Lobby, kendaraan berwarna hitam sudah menunggunya. Tanpa melepaskan pelukan mereka masuk mobil.


Pak supir seakan sudah mendapatkan komando, dia langsung menjalankan kendaraan tanpa bertanya lagi.


Danil menggenggam jemari istrinya, tubuh yang di peluknya bergetar, dia tahu Sekar dalam keadaan tidak baik, shock.


“Kita pulang saja ya Bee?” tanya Danil, meminta persetujuan Sekar. Danil sangat khawatir melihat keadaan istrinya.


“Tidak perlu bertemu jika belum siap, kamu pulang saja Bee. Biar mas yang menemui mereka.”


“Tidak mas, aku ikut.”


“Kamu serius?” tanya Danil. “Keadaan kamu tidak baik-baik saja, apakah sanggup bertemu dengan mereka?”


“Aku baik-baik saja mas.”


“Apanya yang baik-baik saja?”


“Kamu nanti pulang duluan. Mas di drop saja.”


“Tidak, aku tidak mau sendirian mas,” Sekar menolak keras rencana suaminya.


“Iya sayang, tapi aku tidak tahu apa rencana mereka.”


“Tidak peduli apa rencana mereka, jangan tinggalkan aku sendirian mas,” pinta Sekar hampir menangis.


“Baiklah, jangan menangis. Mas tidak akan meninggalkan kamu, kamu boleh ikut. Dengan catatan harus nurut sama mas ya, tidak boleh macam-macam.”


“Iya janji, Sekar janji mas,” ucapnya dengan wajah berseri.


Tersenyumlah cantik, aku tidak ingin melihat kamu menangis. Buang semua ketakutanmu, ada aku disini. Hentikan tangismu, karena melihat air matamu turun, berarti aku gagal membahagiakanmu.


Sekar menatap Danil. “Aku takut mas, tapi aku tidak mau jauh dari mas.”


“Selama ada Mas Danil mu tersayang, tidak ada yang perlu kamu takutkan,” godanya, namun Sekar sedang tidak bersemangat meladeni godaan suaminya.


"Mas ah, jangan mulai."


"Kamu pun jangan seperti ini."


“Apa mas sudah mendapatkan bayangan, apa yang ingin dibicarakan oleh mereka?”


Danil menatap Sekar dan menggelengkan kepalanya. “Tidak ada gambaran sama sekali, tapi mas pastikan, mereka tidak akan macam-macam dengan kamu.”


“Aku percaya sama mas,” ucap Sekar semakin mengeratkan pelukannya pada perut Danil.


Dua puluh menit kemudian, mobil berwarna hitam itu telah sampai di sebuah coffe shop, mereka memasuki ruangan yang telah disediakan.


Baru saja mereka duduk, Bisma sudah memasuki ruangan. Berjalan dengan cepat menghampiri Danil.


“Apa yang sebenarnya terjadi?”


Bisma tampak ragu, dan menatap Sekar sambil tersenyum. “Bicaralah Ma, aku tidak akan menutupi apapun dari Sekar. Tidak ingin melihat wajahnya khawatir karena memikirkan hal ini.”


“Kemarin, Ryan menguhubungi saya, dia ingin membicarakan sesuatu yang penting dan akan langsung berbicara dengan mas, tanpa perantara.”


“Sekarang dimana mereka?”


“Sebentar lagi mereka datang, karena Ryan sendiri yang meminta untuk bertemu di tempat yang tidak terlihat banyak orang."


"Seperti ada sesuatu hal yang sangat penting, yang ingin dibicarakan langsung dengan mas.”


Tok ..., Tok ...,


Pintu di ketuk dua kali, kemudian pelayan cafe menyembulkan kepalanya, dan mempersilahkan tamu yang baru datang untuk masuk.


Wajah Danil diam tanpa ekspresi, dia menatap Sekar tersenyum dan mengelus pipi istrinya dengan lembut seakan berkata “Tenanglah sayang.”


“Sore Nil,” sapa Ryan dan Renata.


Danil hanya menganggukkan kepalanya, dan menatap tajam keduanya. “Sore. Ada hal penting apa yang ingin kalian bicarakan dengan saya?”


“Baiklah, saya bingung sebenarnya akan memulai cerita dari bagian mana ...,” Ryan menghembuskan nafasnya perlahan, menatap Rena kemudian perempuan itu menganggukan kepalanya.


“Baiklah ...,” Ryan berusaha mengumpulkan kekuatan.


“Pertama-tama kami ingin meminta maaf kepada kalian berdua, terutama kamu Sekar,” ucap Ryan membuat Danil dan Sekar saling menatap kemudian dengan kekuatan yang di dapat dari suaminya Sekar menatap Ryan dan Renata.


“Maaf?”


“Danil, Sekar, sebenarnya kita ...,”


Danil masih menatap tajam ke arah Ryan. Pria tempramental dan psikopat itu tampak putus asa dan tidak berdaya.


Ryan menatap Rena dan mendapat anggukan untuk melanjutkan ucapanya yang masih menggantung.


“Danil, Sekar, hubungan saya dan Rena adalah suami istri.”


Danil tidak mengedipkan matanya sedetik pun, hanya Sekar yang terkejut dan kini pandangannya terfokus pada pria yang suka menyiksanya.


Danil mengelus lembut punggung tangan Sekar dan menahannya, memberi kode untuk tidak melakukan apapun saat ini.


“Kami sudah menikah sejak masih kuliah ...,” Danil kemudian menceritakan perjalan hidup mereka berdua.


Rena yang duduk disamping Ryan menangis tanpa suara. Sekar pun ikut menangis mendengar kisah keduanya.


“Danil,” Ryan memanggil nama suami Sekar dengan sedikit bergetar.


“Ada seseorang yang menginginkan kalian berpisah,” beban berat itu akhirnya terlepas sedikit.


Ucapan Ryan sontak membuat Danil menegakkan posisi duduknya, Bisma pun melakukan hal yang sama.


“Siapa?”


“Kalau itu saya juga belum tahu.”


“Lantas, atas dasar apa kamu dapat berbicara seperti itu?”


"Saya akan melanjutkan ceritanya dahulu."

__ADS_1


“Setelah kami menikah, dan saya mendapatkan pekerjaan yang layak. Saya bersyukur saat itu karena Tuhan begitu baik pada kami. Namun saat malam naas itu terjadi semua berubah.”


“Malam itu sehabis hujan deras, saya dan Rena sedang dalam perjalan pulang menuju kontrakan kami, tiba-tiba mobil dengan kecepatan tinggi menyerempet dan langsung pergi meninggalkan kami."


"Kondisi Rena saat itu sangat mengkhawatirkan. Dia terjatuh dari motor, dengan usia kandungan tujuh bulan. Saat itu dia langsung tidak sadarkan diri.”


“Entah dari mana datangnya bantuan, tiba-tiba sudah ada seorang pahlawan mendatangi kami, membawa ke rumah sakit, mengurus biaya administrasi hingga biaya kelahiran anak kami.”


“Rena kehilangan banyak darah saat itu, saya harus menandatangani surat persetujuan untuk proses operasi.”


“Jujur saya tidak berdaya saat itu ...,”


*Flashback*


“Bapak mohon menandatangani persetujuan operasi untuk tindak lanjut proses persalinan istri bapak,” ucap seorang suster bernama Rita, yang tertulis di name tag bajunya.


Ryan menatap nanar lembar kertas putih yang disodorkan kepadanya. Biaya yang tertera saat itu hampir menunjuk angka dua puluh lima juta.


Dari mana ku dapatkan uang sebanyak ini untuk biaya persalinan?


“Ada apa?” tanya seorang laki-laki yang tadi mengantarkan keduanya ke rumah sakit.


Belum sempat mengatakan apapun, laki-laki itu menarik kertas yang ada dalam tangan Ryan. “Tandatangani saja, saya yang akan menanggung semuanya.”


Ada secercah harapan ketika mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh laki-laki yang menggunakan kemeja batik tersebut.


“Tapi ...,”


“Jangan memikirkan apapun. Saat ini saya menjadi dewa penolong anda dan istri anda, tapi suatu hari nanti mungkin andalah yang akan berada di posisi saya.”


“Terima kasih pak ...,”


“Heru.”


“Terima kasih Pak Heru.”


“Saya tinggal dulu ya,” ucapnya pamit.


“Bagaimana saya bisa menghubungi bapak?”


“Jangan panggil bapak, panggil mas saja. Kita akan sering berhubungan nantinya.”


Pria misterius bernama Heru itu pergi meninggalkan Ryan, dengan senyum penuh kemenangan.


Ryan menatap punggung Heru yang berjalan perlahan meninggalkannya. Kedatangan dan kepergiaan sosok misterius ini menyisakan banyak tanya dalam benaknya. Ada ragu yang memenuhi relung hatinya, “Siapakah dia?”


Dalam diam, di depan ruang bersalin. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan seseorang yang mendatanginya. Seorang kakek sangat ramah tersenyum padanya. “Tenanglah, wajar bila menunggu seorang istri melahirkan.”


"Iya Kek."


"Istrimu sedang berjuang, berdoalah!"


“Iya Kek,"


"Atas izinnya, istrimu akan baik-baik saja.”


“Semoga kek.”


Ryan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Ada sakit yang tertusuk dalam hatinya, mengapa dia harus dijauhkan dari buah hatinya.


“Kenapa?”


Namun Ryan kembali terkejut, sang kakek yang tadi duduk di sampingnya sudah tidak berada disana, dia menatap area rumah sakit, bagaimana bisa seorang kakek tua yang berjalan sedikit tertatih tiba-tiba menghilang. Tubuhnya kaku, bulu kuduknya berdiri, dadanya berdetak lebih cepat. merinding!


Siapakah kakek itu?


Apakah aku harus melaksanakan perintahnya?


“Ryan, sedang apa disini?” tanya Fajar yang baru saja keluar dari ruang operasi.


Ryan menceritakan kejadian yang mereka alami, hingga pertemuannya dengan kakek tua baru saja.


“Siapa Heru?” Danil mengangkat bahunya.


“Harus hati-hati Yan, zaman sekarang harus waspada bila orang tiba-tiba baik sama kita. Semoga yang gue takutkan tidak terjadi. Bukannya langsung telepon gue,” ucap Fajar.


“Panik tadi.”


“Kalau ada apa-apa hubungi gue. Oh iya, Saran aku, lakukan apa yang kakek itu bilang.”


“Kenapa?”


“Entah lah hanya feeling (perasaan) saja,” jawab Fajar.


“Apa yang harus aku lakukan?”


“Tenanglah, aku akan membantunya.”


“Membantu?”


“Aku akan bercerita nanti, tidak di sini!” tegas Fajar. “Sekarang pilihanmu hanya dua, akan melakukannya atau tidak?”


“Baiknya?”


“Ikuti hati nuranimu.”


“Bisakah membicarakan ini dengan Rena terlebih dahulu?”


“Tidak bisa, tidak punya banyak waktu. Kita berpacu dengan waktu saat ini.”


“Aku percaya padamu Jar, semuanya kuserahkan asalkan anakku selamat.”


“Baiklah, aku akan melakukan yang terbaik. Nanti kita akan bicarakan hal ini tapi tidak disini.”


“Baiklah aku percaya.”


Fajar pamit dan memasuki ruang operasi Rena. Ryan berfikir dengan keras ada peristiwa apa yang akan terjadi, hal itu membuatnya semakin tidak karuan, hati dan otaknya dipenuhi pertanyaaan yang terus bertambah hingga pintu ruang bersalin terbuka dan keluarlah seorang suster dengan wajah datar tanpa senyum.


“Keluarga Ibu Renata,” Teriaknya seorang suster.

__ADS_1


Ryan segera menghampiri pintu ruang bersalin. “Tunggu sebentar bapak, dokter akan berbicara,” ucap suster berwajah datar.


“Malam bapak Ryan,” salam dokter Venus yang menangani operasi persalinan Rena.


“Mohon maaf, kami sudah berusaha namun Tuhan berkehendak lain. Ibu Renata dalam keadaan pemulihan, namun dengan sangat menyesal kami harus memberi tahukan bahwa anak kembar bapak dan ibu, tidak dapat kami selamatkan.”


Luluh lantah Ryan mendengarkan ucapan dokter Venus, anak yang mereka pertahankan, pergi meninggalakan bapak dan ibunya sebelum sempat mereka bertemu.


Ryan menangis dalam diam, begitu kejam ujian lika liku perjalanan hidup yang mereka jalani, dengan langkah gontai dia duduk di kursi semula. Mencoba mencerna semua yang terjadi.


Tulilit ..., pesan masuk dalam aplikasi whatsappnya.


Fajar


“Temui aku dua jam lagi di rumah makan penghapus lapar, langsung masuk saja bila pintunya tertutup.”


Dua jam kemudian, Rena masih dalam ruang isolasi. Ryan pergi ke tempat tujuan, untuk menemui Fajar. Tidak sampai sepuluh menit dia sampai, dan langsung masuk. Di dalam ada seorang ibu yang menuntunnya memasuki lebih dalam rumah makan itu.


Fajar tersenyum dan memeluk sahabatnya, maafkan aku harus berbuat seperti ini. Mendengar cerita tadi, akhirnya jalan ini yang aku ambil.


“Ada apa sebenarnya?” tanya Ryan masih bingung.


Dua orang mendatangi mereka, masing masing membawa bayi berselimut kain berwarna biru.


“Azani mereka dahulu,” Fajar menyuruh Ryan yang masih mematung.


“Dua bayi kembar kalian telah lahir. Sekarang Azani dan aku akan menceritakan sedetailnya setelah itu.


Ryan melaksanakan perintah Fajar sahabatnya. Air mata membasahi pipinya, teringat perkataan dokter yang menyatakan bahwa kedua bayi kembarnya tidak dapat diselamatkan.


Ryan telah menyelesaikan tugas awal sebagai orang tua. Kedua perempuan tadi mengambil kembali bayi dalam selimut biru, dan membawa masuk ke kamar yang berada di depannya.


“Maaf aku menyetujui permintaan Gara, tapi mungkin ini yang terbaik untuk kalian.”


“Gara?”


“Gara mencium ada sesuatu besar yang akan kalian hadapi, dia memohon untuk menyelamatkan buah hati kalian. Mungkin kamu lebih mengerti hal ini dari pada aku,” ucap Fajar.


“Dengan persetujuan kalian, Gara akan mengambil anak ini dan menitipkan di kampung halamannya.”


“Tidak ada waktu Ryan, aku harus cepat menjalankan ini semua. Gara yang memintanya.”


“Apakah ini berhubungan dengan ucapan seorang kakek yang tadi mendatangiku?”


“Kalau masalah itu, jujur aku tidak tahu.”


“Aku hanya menjalankan instruksi Gara. Kalian akan menyelamatkan anak ini, atau akan berjuang melindunginya?”


Ryan menatap Fajar. “Hanya ada dua pilihan, dan kamu harus berfikir cepat. Waktu kita sangat berharga Ryan.”


“Selamatkan keduanya, aku percayakan pada kalian,” ucap Ryan mengambil keputusan atas buah hatinya.


“Mas,” tiba-tiba seseorang mendatangi Ryan dan Fajar.


“Ini utusan Gara, ucap Fajar.”


“Baiklah, aku mengenal kamu, kamu yang bekerja di bengkel Gara kan?” tanya Ryan dan pria itu mengangguk.


“Tidak mudah bagiku untuk mempercayai semuanya, namun bila Gara sudah memutuskan, aku mempercayainya. Titip anakku, semoga kalian selamat sampai tujuan.”


Ryan mencium dua bayi laki-laki dalam selimut biru, diusap kepala keduanya dengan penuh sayang. “Bapak dan ibu menyanyangi kalian,” bisiknya.


Tanpa menoleh mereka berjalan, Ryan menatap kepergian anaknya dalam diam, pikirannya melayang entah apa yang harus dia ucapkan pada istrinya.


“Sebentar lagi Renata akan di bawa menuju ruang perawatan, sebaiknya kamu cepat kembali ke rumah sakit, berhati-hatilah jika berucap,” pesan Fajar.


“Terima kasih Jar,” ucap Ryan.


“Cukup selalu menjadi sahabatku Ryan, kita hidup saling berbagi, tolong menolong. Tanpa kuasanya aku juga tidak mungkin ada disini. Cepatlah kembali Renata butuh dirimu.”


Ryan melangkah dengar berat, isi otaknya di paksa berpikir keras. Dia harus menyiapkan jawaban untuk Renata, sebelum itu dia masih harus mencerna apa yang sedang terjadi pada keluarga kecilnya.


Tuhanku, begitu beratkah dosa yang kita perbuat? hingga ujianmu terus datang bagaikan air bah.


Ryan berdiri di depan ruang operasi, belum dia bertanya pintu ruangan sudah terbuka. Terlihat Renata masih belum terlalu sadar berada di atas tempat tidur, mereka akan membawanya ke ruang rawat inap.


“Ay, bagaimana anak kita?” tanya Rena, sambil memaksakan tersenyum. Ryan membalas senyum istrinya.


Perawat yang mengantar menyelesaikan tugasnya, mereka mengecek semua alat dan obat-obatan yang diperlukan, kemudian pergi, tinggallah mereka berdua.


Ryan menatap Renata penuh cinta, perempuan hebat di hadapannya telah berjuang melahirkan buah hati mereka.


“Aku baik-baik saja ay, bagaimana anak kita, setampan dirimu kah?”


Ryan menatap istrinya, ia ragu untuk menceritakan apa yang sedang terjadi. “Sayang, anak kita setampan diriku, sesuai yang kamu inginkan.”


“Betapa beruntungnya aku dikelilingi oleh jagoan.”


“Kamu dikelilingi tiga jagoan sayangku.”


“Tiga?”


“Anak kita kembar sayang, namun ...,”


“Kenapa anak kita ay?”


“Anak kita hanya bertahan sebentar sayang,”


Brak!!!


***


Selamat Idul Adha untuk yang merayakannya


Taqaballahu Minna Wa Minkum


Mohon maaf lahir dan batin


Suara apakah itu? Sabar ya, penasarannya tidak akan lama kok...

__ADS_1


Ditunggu like, komen, boom like dan votenya


Terima kasih.


__ADS_2