Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Nisa Sabian


__ADS_3

Ibu hamil, ditambah akhir pekan dengan cuaca yang mendadak berubah, menjadi mendung dan gerimis diluar sana. Sama dengan mager, malas gerak! Setelah melewati pagi dengan membeli berbagai macam kue. Kini ia berbaring di sofa, kepalanya beralaskan paha suami. Danil mengusap lembut rambut istrinya sambil mengecek email masuk dari ponsel.


Sekar terlihat sangat nyaman, sesekali Danil mengelus lembut rambut panjang perempuannya atau sekedar memaninkan jari telunjuk membuat pola acak pada wajah mungil istrinya.


“Mas,” panggil Sekar tanpa menoleh, matanya masih fokus menatap film yang sedang ditonton. Drama Thailand yang sedang digemarinya.


“MMM ...,” Danil masih fokus pada kesibukannya.


“Mas,” Panggil Sekar kedua kalinya, jawaban dari Danil masih sama.


Sekar memanggil ketiga kali dan masih mendapat jawaban yang sama. Ia membalikkan tubuhnya, matanya menatap suaminya yang masih setia menatap layar ponselnya.


“Mas tuh nikahnya sama Ade loh, bukan sama Nisa Sabian,” sarkas Sekar menyindir suaminya.


Danil yang mulai mendengar nada tidak bersahabat dari istrinya segera mengalihkan pandangan, membalas tatapan yang mulai membesar dari netra perempuan mungilnya. Menyadari kesalahannya, dia langsung menyimpan ponsel dan fokus mendengarkan.


“Ada apa sih sayangnya Mas,” ucap Danil, jemarinya masih mengelus lembut pipi Sekar. “Kenapa De?” tanyanya lagi, takut jika ucapannya salah. Tidak ingin akhir pekan menjadi berantakan karena emosi istrinya yang tidak stabil.


“Menurut mas, lenih baik istri yang selingkuh atau suami yang selingkuh?”


DUARRR!


Pertanyaan Sekar membuat Danil membeku, bagaikan petir di siang bolong, jawabannya mudah saja. Namun, ia harus waspada jangan sampai jawabannya menjadi bumerang, membuat hari ini menjadi kelabu.


“Tidak ada yang ada yang lebih baik sayang. Ketika salah satu selingkuh baik suami maupun istri, tentunya mereka sudah melanggar ikrarnya pada Sang Pencipta. Menurut Mas siapapun yang melakukan itu sudah pasti salah.”


“Kenapa?”


Danil terlihat ragu, dia takut jika salah menjawab. Ibu hamil emosinya tidak dapat diprediksi, begitu pun Sekar. Baru kemarin kabar bahagia itu terdengar, ia harus bersabar karena rasa sensitif istrinya sudah muncul.


Danil menarik nafas, berharap penjelasan dari jawaban yang diberikan nanti tidak merubah suasana hati istrinya.


“Karena sekali berbohong tentu dia akan terus berbohong. Menutupi satu kesalahan dengan kesalahan baru.”


“Ade pasti tahu kalau laki-laki diuji oleh tiga perkara harta, tahta dan wanita. Papa dan mama selalu bilang, jika nanti kamu berumah tangga pasti akan diuji dengan itu semua. Mereka pun sudah merasakannya. Satu hal yang harus dicamkan, jangan pernah bermain api. Mas pun tidak pernah berpikir untuk melakukannya.”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Ade, Mas belum selesai menjawab yang tadi.” Sekar mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum, Manis!.


“Harta harus diraih dengan kerja keras, sedangkan tahta buah hasil dari kita menanam. Semua itu tentu didapat karena berusaha dengan keras. Tidak ada hasil yang sia-sia jika kita jujur dan berusaha dengan baik. Satu lagi wanita,” Danil menatap Sekar yang serius mendengar ucapannya.


“Wanita itu ...,”


“Ade takut seandainya ...,”


“Jangan pernah berandai-andai. Mas sayang sama Ade, tidak ada yang bisa memisahkan kita.”


“Jangan terlalu percaya diri Mas, di luar sana pasti banyak yang mengagumi Mas,” Sekar cemberut.


Danil menatap istrinya, Sekar terlihat menggemaskan disaat cemburu seperti ini. Membuat ia melanjutkan menggoda istrinya.


“Awas saja kalau macam-macam,” ancam Sekar.


“Mas enggak akan macam-macam, satu macam saja,” jawabnya santai, tanpa menyadari bahwa ia sedang membangunkan macan tidur.


“Maksudnya?”


“Ade, Mas!”


“Iya Ade sayang, namanya juga pemimpin perusahaan, Mas tentu bertemu banyak orang. Rekan kerja dikantor, sudah pasti para artis dibawah naungan label, dan banyak lagi. Tidak bisa memilih cuma bertemu laki-laki saja tentu bertemu perempuan juga, tidak sedikit yang seksi, banyak malahan.”


Sekar menatap tajam suaminya, kata SEKSI yang diucapkannya membuat emosi ibu hamil sedikit naik. Danil menatap istrinya tanpa ekspresi padahal di dalam hati dia bersorak, bahagia melihat reaksi yang sedikit berlebih dari perempuan yang dicintainya.


“Seksi?”


“Namanya artis De, penampilannya pasti totalitas dong, Ade tahu sendiri mereka seperti apa.”


“Ade tahu Mas, tapi kamu menyebutnya seksi tuh beda.”


“Beda?” tanya Danil, bingung. “Maksudnya beda gimana sayang?”

__ADS_1


“Ade, Mas.”


“Iya Ade sayang, beda gimana?”


“Pas bilang seksi itu, mas seakan sedang memikirkan wanita lain.”


Danil terkejut mendengar ucapan istrinya. Cintanya sama Sekar tidak pernah berubah sedikit pun, sejak pertama kali mereka berpacaran. Perpisahannya keduanya dulu karena kesalahpahaman, berdampak keterpurukan untuknya.


Cukup dia merasakan hal menyedihkan itu satu kali saja, tidak ingin merasakannya untuk kedua kali. Ucapan istrinya saat ini membuat dirinya sangat terkejut. Tidak pernah terpikir wanita lain selain Sekar. Istrinya gambaran wanita idaman, tidak ada perempuan lain. Untuknya tidak ada kamus berbagi hati karena dia pun tidak ingin perempuan mungil yang sedang cemburu ini membagi hatinya untuk laki-laki lain.


“Tidak ada wanita lain selain Ade.”


“Mas ngomong seperti itu ke perempuan mana saja?”


“Ade, lihat Mas,” pinta Danil dengan tegas, tidak ingin kesalahpahaman ini berlanjut. “Hanya ada satu perempuan dalam hati mas yaitu kamu. Hanya ada satu ibu untuk anak-anakku dan itu hanya kamu. Hanya ada satu wanita paling seksi dan itu Ade.” Danil menatap Sekar tanpa berkedip, dia sangat bersungguh-sungguh berbicara pada istrinya.


“Gombal! Sama Ade aja kamu gombal banget Mas, pasti sama perempuan lain juga seperti itu.”


“Jangan pernah meragukan cinta Masmu ini De,” pintanya.


Sekar menatap suaminya, calon bapak dari anak yang dikandungnya. Ia tahu Mas Danilnya ini sangat berbeda sekali jika di kantor. Menurut semua orang, suaminya itu serigala musim dingin. Julukan itu didapat karena jika di tempat kerja Danil berubah seratus delapan puluh derajat. Meskipun dia selalu berhubungan dengan banyak artis dilabelnya, tapi tidak ada satu pun yang dapat mengambil hatinya.


“Jangan pernah berpikiran macam-macam Ade. Kamu tahu kan bagaimana Mas terpuruk saat kita pisah dulu, pelajaran berharga untuk tidak gegabah menyimpulkan satu hal. Bisa mendapatkanmu kembali anugerah buat Mas. Jadi jangan pernah berprasangka buruk terhadap suamimu ini.”


Perempuan mungil ini menatap suaminya, mencari titik kegombalan dan mendeteksi kebohongan namun, mata teduh itu terlihat tulus, banyak cinta yang dipamerkan.


Sekar memeluk Danil dengan erat. “Ade sayang sama Mas.”


“Terus kenapa nangis kalau sayang?”


“Ade takut kalau mas meninggalkan Ade untuk perempuan lain. Sesak rasanya disini,” ucap Sekar menunjuk dadanya.


“Jangan pernah meragukan Mas,” pintanya. “Hanya satu perempuan selain Mama dan Bunda yang ada dihati Mas, yaitu Ade.”


Sekar mengucap syukur dalam hatinya, meski tangisnya malah semakin kencang. Ia sangat beruntung memiliki suami seperti Danil, yang begitu tulus mencintainya.

__ADS_1


“Ngomong-ngomong Nisa Sabian siapa?” goda Danil dibalas cubitan kecil ibu hamil.


***


__ADS_2