
Ryan menatap Renata penuh cinta, perempuan hebat di hadapannya telah berjuang melahirkan buah hati mereka. Betapa kagum dirinya, setelah kejadian yang mereka alami tadi, dia masih diberi kesempatan untuk berkumpul bersama istrinya.
Tuhan masih berbaik hati, masih memberinya kesempatan menjadi seorang suami dan ayah bagi anak kembarnya. Terlepas bagaimana proses melahirkan yang Rena perjuangkan. Proses melahirkan normal atau operasi seperti dirinya, sama-sama berjuang diantara hidup dan mati.
Pertaruhan hidup dan mati Renata menjadi bukti bagi Ryan bahwa perempuan memang mahluk Tuhan paling sempurna. Mungkin itu sebabnya, surga pun berada di telapak kaki seorang ibu.
“Aku baik-baik saja ay,” ucapan Rena membuyarkan lamunannya. “Bagaimana anak kita, setampan dirimu kah ay?”
Ryan menatap istrinya, ia ragu untuk menceritakan apa yang sedang terjadi. “Sayang, anak kita setampan diriku, sesuai yang kamu inginkan.”
“Betapa beruntungnya aku dikelilingi oleh jagoan.”
“Kamu dikelilingi tiga jagoan sayangku.”
“Tiga?”
“Anak kita kembar sayang, namun ...,”
“Kenapa anak kita ay?”
“Anak kita hanya bertahan sebentar sayang,”
Brak!!!
Keduanya terkejut menatap seseorang yang masuk ke dalam ruangan tanpa permisi.
“Pak Heru,” sapa Ryan terkejut menatap laki-laki dengan kemeja yang masih sama saat menolongnya.
Namun Heru yang datang kali ini berbeda seratus delapan puluh derajat. Dengan angkuh dan di temani beberapa pria berbaju hitam, ia langsung duduk di hadapan Ryan dan Renata tanpa permisi.
“Malam ibu Renata dan bapak Ryan,” ucapnya dengan bahasa formal seakan mereka belum pernah berkenalan.
“Ada yang bisa saya bantu pak?”
“Saya hanya ingin kalian bekerja sama dengan kami.”
“Kerjasama, maksud bapak?”
“Cukup panggil saya mas saja, saya belum terlalu tua untuk di panggil bapak. Baik, saya akan berbicara langsung dan tidak bertele-tele.”
“Saya tahu pekerjaan kalian, Ryan baru lulus, dan baru saja diangkat sebagai karyawan swasta di perusahaan, ekspor import bahan tambang. Sedangkan kamu Renata masih menjadi mahasiswa dan sebentar lagi akan lulus.”
“Tujuan saya menemui kalian adalah, ada beberapa hal yang harus kamu lakukan maka aku akan membebaskan kalian dari pembayaran biaya rumah sakit.”
“Apa yang harus kami lakukan?” tanya Ryan, menatap pasrah laki-laki di depannya.
Jantungnya berdetak cepat, begitu mudah Tuhannya mempermainkan ujian hidup untuk keluarga kecilnya. Renata meremas jemari suaminya, ia mulai ketakutan atas apa yang akan di ucapkan oleh pria yang tidak dia kenal.
“Mudah saja, kalian harus menghancurkan hubungan Sekar dan Danil,” ucap Heru tanpa basa basi dengan tatapan siap membunuh.
__ADS_1
“Ada apa dengan hubungan mereka, mengapa kita harus menghancurkan hubungan mereka?”
“Tidak perlu banyak cakap dan banyak tanya. Tugas kalian hanya membuat mereka berpisah.”
“Sampai kapan kami harus melakukan hal ini?”
“Itu tergantung big boss.”
“Siapa big boss?”
“Jangan banyak bertanya, lakukan saja, atau ...,”
“Atau apa?”
“Atau kalian akan aku kembalikan kepada orang tua kalian, saat ini juga.”
“Siapa kamu sebenarnya?”
“Siapa aku itu tidak penting.”
“Sampai kapan kita harus melakukan hal ini?”
“Batas yang tidak di tentukan.”
“Batas yang tidak di tentukan? Kami bukan budak kalian.”
“Pada kenyataannya kalian sudah menjadi budak kami, semenjak kamu menandatangani surat persetujuan operasi kelahiran Renata.”
“Tidak bisa! kalian berdua harus bekerja sama, karena big boss menginginkan perpisahan Sekar dan Danil, jadi kalian harus bekerja sama untuk mewujudkan misi tuan besar.”
“Tapi ...,”
“Anggap saja kalian membayar hutang budi, karena tuan besar sudah menyelamatkan kalian berdua. Walau, harus menerima kenyataan kehilangan anak kembar kalian.”
“Mengapa kalian begitu tega, menolong dan meminta imbalan dari kami yang tidak berdaya.”
“Hidup adalah pilihan!”
“Ini bukan pilihan!”
“Saya kembalikan pada kalian berdua. Kalian boleh menolak permintaan kami dengan catatan, malam ini saya pastikan kalian berdua akan di jemput keluarga masing-masing, dan bukan hubungan Sekar dan Danil saja yang akan kandas, namun hubungan kalian berdua secara perlahan akan sama dengan mereka.”
Ryan dan Renata saling menatap dalam diam, hati mereka berdua berontak. Ingin rasanya menyalahkan Tuhannya bagaimana ujian yang dahsyat ini harus mereka hadapi. Renata menitikkan airmatanya, Ryan langsung merengkuh dalam pelukannya.
“Cukup sudah kalian bertangisan layaknya telenovela, drama korea atau sinetron stripping yang tak kunjung usai itu. Saatnya menentukan jawaban, aku tidak mempunyai waktu lama untuk menonton kisah sedih kalian.”
Ryan masih ragu, dia menatap Renata yang masih mengeluarkan air mata tanpa bersuara. Sakit hatinya, sebagai laki-laki dia tidak dapat berbuat apapun untuk menolak permintaan Heru.
“Baiklah ...,”
__ADS_1
“Apa yang kamu minta?” tanya Heru seakan dia mengetahui kebimbangan hati Ryan.
“Berapa lama harus melakukan hal ini? Biar bagaimana pun, saya dan juga istri, ingin terlepas dari hutang piutang ini, baik hutang nominal, hutang budi, hutang jasa, atau hutang hutang lain nya.”
“Membayar hutang saja belum, sudah ingin bernegosiasi. Hei bung kamu pikir kamu siapa bisa seenaknya bernegosiasi.”
Ryan mengepalkan jarinya, dia sudah sangat kesal karena tidak dapat berbuat apa-apa, cukup mendengar hinaan dari mulut pria yang belum lama di kenalnya.
“Apa imbalan dari setiap pekerjaan yang kami lakukan?”
“Sudah saya bilang ini bukan ajang negosiasi!”
“Namun saya harus tahu, berapa lama saya harus terkekang dalam lingkaran hutang piutang ini. Semua jenis hutang, akan selesai jika sudah ada pembayaran, begitu pun dengan pekerjaan yang saya lakukan.”
“Terlalu banyak bicara, saya hanya butuh jawaban!”
“Sudah tentu saya harus sepakat dengan permintaan paksa yang anda tawarkan, namun saya hanya minta waktu akhir untuk piutang saya.”
“Bagus, saya hanya butuh jawaban singkat kalian. SEPAKAT!”
Ryan menghembuskan nafas beratnya, dia menatap laki-laki di depannya tanpa berkedip, mengapa Tuhan menciptakan berbagai macam manusia, terutama manusia tidak punya hati yang berada di depannya, terlepas dia hanya menjalankan perintah big boss atau siapapun itu.
“Baiklah, seminggu lagi, kita akan berjumpa disini, cepat pulih Renata.”
Lelaki itu berdiri dari duduk manisnya, berjalan menuju pintu didampingi oleh para tukang pukul yang setia.
“Kalian berdua jangan pernah berpikir untuk kabur! Aku pastikan dimana pun kalian bersembunyi, di belahan dunia mana pun, atau bahkan lubang semut sekalipun, Kalian pasti akan aku temukan.”
Heru meninggalkan ruangan dengan tawa mengerikannya. Ryan meremas rambutnya dengan kasar, retina matanya berwarna merah menahan amarah yang sejak tadi di tahannya.”
“Maafkan aku ay,” ucap Rena dengan suara seraknya. Dia menangis menumpahkan semua kekesalannya, dia merasa menjadi penyebab semua ini terjadi.
Ryan tersenyum, dia sangat menyadari bila istrinya terpukul atas kejadian ini. Jangankan istrinya, dia sendiri pun belum sempat mencerna sampai akhir, apa yang terjadi dalam hitungan jam ini.
Kembali mempertanyakan, mengapa Tuhan sungguh kejam. Meluluh lantahkan hati sepasang suami istri ini. Satu masalah terselesaikan sudah datang masalah baru, Ujian datang dan pergi tanpa jeda. Maksud hati ingin berteriak menghempaskan asa yang sesak, namun Rena dan Ryan hanya pasrah dan tidak berdaya.Kembali permainan takdir begitu dahsyat bagi mereka.
***
__ADS_1