
Sekar masih merasa sangat kecewa dan sakit hati atas perlakuan Ryan, namun dia tidak bisa meninggalkan Ryan.
Dibalik sifatnya yang tempramental, Ryan selalu memberikan perhatian lebih pada Sekar, memanjakannya.
Walau hal itu sangat langka, tidak setiap saat namun membekas di hatinya dan Sekar selalu merasa bahagia bila Ryan melakukan hal itu.
Jujur selain Danil, Ryan yang bisa memberi perhatian lebih pada dirinya saat ini.
Sekar menjalankan mobilnya dengan cepat, pikirannya sangat kacau. Ia ingin cepat sampai di rumah, menceritakan semua yang terjadi pada Nia.
Ia menambahkan kecepatannya, beberapakali hampir menabrak mobil di depannya. Beruntung ia masih selamat sampai di rumah.
Setelah menghapus air matanya dan merapihkan make upnya, Sekar keluar dari mobil dan berusaha bersikap sewajar mungkin, agar tidak ada penghuni rumah yang curiga.
Tampaknya hari ini, dewi fortuna tidak berpihak padanya. Keberuntungan hilang bersamaan dengan amarah Ryan.
Di ruang tengah bunda sedang berbicara dengan Mama Fina dan Danil. Mereka menyadari kedatangan Sekar, yang sudah mereka tunggu-tunggu dari tadi.
Danil menatap Sekar tanpa berkedip, pada saat itu Sekar pun menatapnya, mereka saling menatap, Danil mencurigai ada yang tidak biasa dari calon istrinya.
Sekar mengalihkan pandangannya, dia takut Danil menyadari bahwa telah terjadi sesuatu padanya, namun sayang, Danil lebih peka hanya saja dia tidak menunjukan kecurigaannya.
“Siang bunda, tante Fina” sapanya sambil mencium tangan kanan dan kedua pipi mereka.
Sekar tidak menatap bunda dan calon mertuanya ketika bersalama, dia takut keduanya menyadari ada yang salah dengan anak perempuannya.
“Kok masih panggil tante, panggil mamah sayang” kata Fina sambil memeluk calon menantunya.
Sekar yang masih menunduk “Iya tan, eh mah” katanya kikuk
“Apa kabar mas?” tanya Sekar sambil duduk di sebelahnya.
“Kabar baik sayang,” jawabnya dengan mesra, memeluk pinggang Sekar.
Sekar sedikit meringis kesakitan dan menjauhkan tubuhnya, ketika Danil memeluk pinggangnya agak kencang, menyadari ada yang tidak beres, Danil melepaskan pelukannya, menatap penuh tanda tanya pada calon istrinya.
“Sekar, kita berdua akan ke tempat catering dulu. Kamu sama Danil, mencari barang-barang untuk seserahan. Saat ini kita bagi-bagi tugas dulu. Bisa kan sayang?” tanya Rianti dengan senyumnya yang paling manis dan ia tidak membutuhkan jawaban dari anak semata wayangnya itu..
Tidak kuasa Sekar menolak permohonan bunda tercintanya “Iya bunda,” jawabnya menahan nyeri yang tiba-tiba datang.
Bunda dan mamah Fina pergi tanpa menoleh, langsung meninggalkan mereka berdua. Kedua super mama ini sibuk dengan urusan persiapan pernikahan yang lainnya.
“Kita berangkat sekarang?” tanya Danil.
Sekar mengangguk. “Ayo, nanti takut terlalu sore. Sayang kalau waktunya terbuang sia-sia.”
Danil membukakan pintu untuk Sekar dan memastikan perempuan yang telah duduk di kursi navigator itu, duduk dengan nyaman.
Masih saja seperti ini mas, selalu perhatian. Walaupun kamu tahu aku tidak suka jika kamu memperlakukan aku berlebihan. Kamu memang Mas Danil, dan tidak pernah berubah. Kenapa jadi merindukan sifat kamu yang penyayang mas.
Danil telah duduk di belakang kemudi, dia sudah menggunakan safety beltnya, untuk urusan keselamatan dia sangat teliti. Dia pun melihat ke sebelah kiri, memastikan Sekar sudah menggunakan sabuk pengamannya dengan benar.
Sekar dan Danil pergi mencari barang-barang yang di perlukan untuk seserahan. Biasanya dalam upacara pernikahan adat Sunda selalu ada acara seserahan. Dimana pihak calon pengantin pria memberikan berbagai barang yang dibutuhkan oleh calon pengantin wanita, begitu pun sebaliknya.
“Sekar” panggil Danil, tanpa jawaban.
“Sekar” untuk kedua kalinya Danil memanggil, masih tetap tidak ada jawaban.
“Kamu baik -baik saja Sekar?” tanya Danil sambil menyentuh tangan Sekar.
“Aouuw, sakit mas” jawab Sekar, kaget tangan nya di sentuh.
Danil kaget, sudah dua kali dia menyetuh Sekar dan calon istrinya selalu meringis, kesakitan. Dia tidak bisa tinggal diam.
Danil merasa ada yang tidak beres, dan ditutupi oleh perempuan yang duduk di sebelahnya.
“Apa yang sakit?” tanya Danil khawatir.
“Tidak ada mas, aku enggak apa-apa kok,” jawab Sekar panik.
“Tidak apa-apa bagaimana? Buka jaketnya,” perintah Danil tegas.
“Buat apa mas?” tanya Sekar keberatan.
“Sekar, buka jaket nya, sekarang” perintah Danil.
“Mau ngapain sih mas?” tanya Sekar takut, Sekar sangat tahu, kalau Danil menyadari dia menutupi sesuatu darinya..
“Buka sekarang, atau mas yang buka dengan paksa?”
__ADS_1
Danil tidak sabar, dia menarik lenggan panjang jaket yang menutupi tangan Sekar.
“Ini apa?” tanya Danil, menunjuk biru lebam pada tangan Sekar.
“Kejeduk meja” jawab Sekar cepat.
“Imposible.” ucap Danil. “Kalau mau bohong sama mas, cari alasan yang masuk akal,” ucap Danil, sambil memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Mas tidak akan meneruskan perjalan kalau kamu tidak menceritakan hal yang sebenarnya. Aekarang jawab pertanyaan mas, kenapa bisa ada memar di tangan kamu?”
“Terus apa peduli kamu mas?” tanya Sekar.
“Of course (tentu saja), aku peduli. Kamu calon istri mas, Bee,” Danil terlihat sedikit marah, Sekar meragukan perhatiannya.
"Mas tidak ingin calon istri mas kenapa-kenapa sampai pernikahan, sampai ijab kabul, sampai selama sisa hidup kamu. Kamu membuat mas khawatir Bee."
"Now, tell me what problem do you have (sekarang katakan padaku, masalah apa yang sedang kamu hadapi)?” tanya Danil tidak sabar.
*S*ampai sebegitunya kah Mas Danil memperhatikan aku?
Mas Danil melakukan semua ini atas dasar apa. Hanya bagian dari tanggung jawab saja kah atau ritual yang harus dia jalani sebagai calon suami?
Kenapa di saat-saat seperti ini kamu kembali memberi perhatian yang lebih mas?
Mengapa kamu menjadi Mas Danil yang sangat peduli lagi?
Mengapa kamu datang dan menjadi Mas Danil ku yang dulu?
Kamu sendiri yang bilang kalau semua ini hanya pernikahan sandiwara yang harus kita jalani, lantas mengapa kamu begitu perhatian pada ku*?
“Di tanya malah diam, bicara Bee,” pinta Danil, yang hampir habis kesabarannya.
Sekar masih ragu-ragu untuk bercerita, tapi dia sudah tidak kuat menahannya, dia sudah tidak kuat dengan perlakuan Ryan.
“Di tarik Ryan mas,” jawab Sekar cepat, sebelum Danil menanyakan untuk kesekian kalinya.
"Ryan?” tanya Danil antara percaya dan tidak percaya.
“Iya.”
“Di tarik bisa menyebabkan memar?” tanya Danil penuh selidik.
“Ini buktinya,” kata Sekar
“Iya ditarik, di dorong, di pukul tongkat.”
“Ini gila Bee,” Danil terlihat menahan emosinya.
“Iya.” Jawab Sekar dan membuka jaketnya, dia menunjukan tanda lebam di tubuhnya.
“Malah tidak hanya di sebelah situ. Di sini juga,” tunjuk Sekar pada tangan atasnya “di sini” tunjuknya pada tangan sebelah kiri “Lebih banyak sih, di paha dan punggung, cuma aku enggak mungkin tunjukkin yang di sebelah sana kan mas?”
Danil menatap tunangannya dengan wajah yang menakutkan.
"Oh paling sering di sini” tunjuk Sekar pada pinggulnya “Sekarang aja masih ada bekasnya, nih” kata Sekar memperlihatkan memarnya sedikit pada Danil.
“Kok bisa ada memar di bagian paha, punggung?” tanya Danil.
“Di pukul pake payung, kadang-kadang tidak sengaja kepukul sama tongkat. Ryan, kalau sudah marah, pasti menghancurkan benda apapun yang berada di dekatnya.”
“Sakit jiwa, dan kamu diam saja?”
“Semakin aku teriak dan minta ampun, semakin kuat pukulannya. Ryan bisa semakin menggila mas.”
“Kamu tahan?”
“Tidak juga.”
“Terus kenapa masih bertahan?”
Sekar diam, tidak menjawab pertanyaan Danil.
"Kamu tuh mas sayang-sayang malah disakitin sama orang," kata Danil marah.
*Sayang?
Apa Mas Danil tidak salah bicara*?
"Cepet selesaikan hubungan kalian berdua. Mas tidak akan tenang kalau kamu masih sama dia, taruhannya nyawa. Hubungan kalian tidak sehat Bee."
__ADS_1
“Dia mengancam mas,”
“Mengancam apa?”
“Mau ngomong sama bunda dan ayah, kalau aku udah tidak virgin” jawab Sekar seperti berbisik, namun masih terdengar oleh Danil.
“Memang kamu sudah tidak..”
“Mas Danil! aku masih virgin mas, gila apa. Kamu tahu kan aku tidak mungkin melakukan hal itu sebelum nikah,” teriak Sekar.
"Lantas untuk apa kamu takut?"
“Kamu seperti tidak mengenal Ryan mas. Dia akan melakukan apapun untuk mencapai sesuatu yang di inginkan."
“Iya aku tahu banget, sakit jiwa itu orang”
“Aku todak mau membuat bunda dan ayah kenapa-kenapa,” kata Sekar, menghapus air mata yang turun.
Danil langsung memeluk Sekar, dan Sekar tidak menolaknya, saat ini dia butuh tempat bersandar, dia butuh seseorang yang mengerti dirinya, butuh dukungan dan pelukan Danil, yang membuatnya nyaman.
“Maaf, mas ingin tahu banyak tentang masalah ini,” ucap Danil, dengan perasaan bersalah.
“Tidak apa-apa mas. Mas, Boleh ...,"
“Boleh apa?” tanya Danil.
“Tolong, jangan lepas pelukannya” pinta Sekar, malu sebenarnya, namun pelukan Danil sangat nyaman.
“Mas tidak akan melepaskan pelukannya sayang,” kata Danil, dia sangat marah, perempuan dalam pelukannya, menjadi korban kekerasan dari musuh bubuyutannya.
“Maaf ya mas, sebentar saja,” pinta Sekar.
“Lama juga mas tidak masalah.”
Danil memeluk Sekar dengan lembut, dia takut kalau pelukannya akan menyakiti calon istrinya. Namun Sekar malah semakin memeluknya erat, membuat Danil memeluk tubuh mungil itu dengan erat.
Sepuluh menit kemudian Sekar mulai melepaskan pelukannya, Danil sedikit kecewa, namun dia tetap memeluk erat Sekar, hingga perempuan itu sendiri yang melepaskan pelukan Danil.
“Sekar mau rebahan dulu ya,” pinta sekar.
“Kamu sakit?” tanya Danil cemas.
“Sedikit pusing, tadi enggak sengaja kepala kejeduk lemari," jawab Sekar.
“Tidak mungkin hanya kejeduk.”
“Iya.”
“Jangan berbohong sama mas Sekar.”
Sekar menghembuskan nafasnya dengan berat “Iya tadi Danil ngedorong aku, akunya kaget dan enggak siap, jadi nabrak lemari” Sekar menjelaskan sambil tersenyum.
“Dan kamu masih bisa tersenyum,” kata Danil, membantu Sekar menurunkan jok mobil ke posisi yang nyaman agar Sekar bisa tidur.
“Mas, maaf enggak ada maksud apa-apa dari cerita ini semua. aku juga enggak tahu, kenapa bisa menceritakan ini semua sama kamu, Sekar rasa cuma Mas Danil yang mengerti Sekar.”
“Kalau kamu butuh tempat curhat atau tempat cerita, kapan pun kamu bisa hubungin mas seperti dulu. Lagian sebentar lagi aku akan jadi suami kamu, walau aku hanya jadi suami sementara,” Kata Danil.
Suami sementara!
Istri sementara!
Aku tidak ingin hanya sementara menjadi istrinya.
Aku tidak ingin hanya sementara menjadi suaminya.
Keduanya mengucap dengan sedih dalam hati mereka masing-masing.
“Terima kasih mas,” ucap Sekar sambil kembali memakai jaketnya.
“Kita kemana sekarang?” tanya Danil.
“Ke tempat teman aku aja, di daerah Slipi”
“Kamu tidur dulu, kasih tahu alamatnya, nanti kalau sudah sampai aku bangunin” kata Danil.
Setelah memberitahukan alamat, dan mengirimkan data lokasi yang dituju pada Danil, Sekar memejamkan matanya.
Danil mengamati perempuan yang tidur disebelahnya
__ADS_1
Kamu masih seperti dulu Sekar, gadisku yang cantik dan selalu pasrah. Aku tidak rela, tidak akan pernah rela bila Ryan selalu menyakitimu. Aku sangat kecewa dia memperlakukan kamu seperti ini.
***